Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Suasana di ruang utama yang berdekorasi elegan itu mendadak hening seketika. Semua mata tertuju ke meja akad nikah tempat Pak Darmawan, Zaky, para saksi termasuk Wisnu, serta Paman Adrian duduk melingkar. Arumi duduk anggun tepat di samping Zaky dengan jemari yang saling bertaut erat, menahan riak dada yang bergemuruh.
Pak Darmawan menjabat erat tangan Zaky. Napas Zaky tertahan sejenak, menetapkan seluruh fokus dan cintanya pada momen ini.
"Bismillah..." ucap Pak Darmawan menuntun, sebelum mengucapkan kalimat ijab dengan suara bergetar haru. "...Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Zaky Tanuwijaya bin Almarhum Hendra Tanuwijaya, dengan putri kandung saya, Arumi Anggraini Binti Darmawan, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Tanpa jeda dan tanpa ragu sedikit pun, Zaky menyambutnya dengan suara membahana yang lantang serta mantap.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arumi Anggraini binti Darmawan dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.
"SAH!" seru seluruh saksi dan tamu undangan serentak.
Alhamdulillah...
Ucapan syukur menggema memenuhi ruangan. Arumi tak kuasa lagi menahan haru, air matanya menetes membasahi pipi. Impian mereka yang sempat hancur dan terhempas 12 tahun lalu, kini benar-benar terwujud secara sempurna. Bagi Zaky, rasa sakit, perih, dan kehampaan yang membelenggu batinnya belasan tahun lamanya menguap tak berbekas. Wanita yang selalu bertahta di hatinya kini resmi dan sah menjadi istrinya.
Di barisan depan, Azzam dan Azzura ikut menangis haru. Wajah mereka berseri-seri menyaksikan wali kelas sekaligus guru matematika kesayangan mereka kini sah menjadi ibu sambung mereka.
Zaky kemudian menyematkan cincin berlian yang berkilau indah di jari manis Arumi, lalu mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri. Arumi mencium takzim tangan Zaky, menandai awal pengabdian sukacitanya.
Prosesi berlanjut ke acara sungkeman. Tangis bahagia kembali pecah tak terbendung saat Zaky dan Arumi berlutut memohon doa restu kepada Pak Darmawan, Bu Aminah, dan Nyonya Maya. Setelahnya, Azzam dan Azzura berhambur memeluk kedua orang tua mereka secara bergantian.
"Selamat ya, Papah... Selamat, Mamah Arumi!" bisik Azzura penuh kasih.
Di tengah kemeriahan ucapan selamat dari para kerabat, Wisnu melangkah mendekat dengan senyum tulus yang terkembang di wajahnya.
"Selamat untuk Mas Zaky dan Arumi," tutur Wisnu penuh keikhlasan seraya berjabat tangan. "Semoga rumah tangga kalian selalu dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan hingga akhir hayat."
"Terima kasih banyak, Adikku... Ini semua tak lepas dari kebaikan hatimu," balas Zaky seraya memeluk hangat Wisnu.
Tak lama berselang, Paman Adrian melangkah menghampiri bersama putrinya, Indah. Paman Adrian menepuk bahu Zaky dengan raut bangga.
"Akhirnya kalian menikah juga! Memang benar kata orang, yang namanya jodoh itu tidak akan lari kemana-mana," ujar Paman Adrian tertawa lebar.
Namun, di samping Paman Adrian, fokus Indah sama sekali tidak tertuju pada jalannya percakapan. Sejak tadi, mata gadis itu terus melirik mencuri pandang ke arah Wisnu yang berdiri tegap dan anggun dalam balutan batik khasnya. Wisnu sendiri tetap tenang dan berwibawa, seolah tak menyadari perhatian intens yang tertuju padanya.
Indah menggigit bibir bawahnya, kedua pipinya mendadak merona merah seperti buah tomat matang.
'Ya ampun... Di desa terpencil seperti ini ternyata masih ada stok pria tampan dan berkarisma seperti Kak Zaky? Wah... wah... Aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama!' batin Indah bersorak kagum, tak bisa mengalihkan pandangannya dari sang Kepala Desa yang tampan itu.
Setelah seluruh rangkaian acara akad dan resepsi sederhana di desa selesai dengan penuh kehangatan, Zaky memutuskan untuk langsung memboyong Arumi beserta Azzam dan Azzura menuju Jakarta hari itu juga. Terlebih lagi, dua hari mendatang Arumi sudah harus kembali mengajar di sekolah.
Sesuai rencananya, Zaky akan mengadakan pesta resepsi pernikahan yang teramat megah di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Pak Darmawan, Bu Aminah, beserta beberapa sanak saudara dan warga kampung dipastikan akan hadir memenuhi undangan khusus tersebut.
Indah yang mendengar kabar bahwa rombongan desa akan diboyong ke Jakarta seketika membelalakkan matanya girang.
'Itu artinya... gue bakalan ketemu sama Mas Kades tampan itu lagi dong di Jakarta? Yes!' batin Indah tersenyum-senyum sendiri, membayangkan wajah teduh Wisnu.
Sementara itu, Wisnu mendatangi Zaky dan Arumi untuk pamit terlebih dahulu karena ada urusan mendadak di kantor desa yang harus segera ia selesaikan. Setelah melepas kepergian sang Kepala Desa, kini giliran Arumi yang berpamitan kepada kedua orang tuanya bersama Zaky, anak-anak, dan keluarga besar Tanuwijaya.
Pak Darmawan menggenggam erat kedua tangan putri semata wayangnya itu dengan mata berkaca-kaca. "Jaga diri kamu baik-baik ya, Nduk... Nanti Bapak sama Ibu menyusul mu ke Jakarta."
Zaky tersenyum mantap, melangkah mendekat lalu merangkul hangat bahu Arumi. "Tenang saja, Pak. Arumi akan baik-baik saja bersama saya di Jakarta. Saya berjanji akan selalu membuat putri Bapak ini bahagia lahir dan batin."
Arumi mendongak, menatap wajah tampan suaminya sejenak lalu mengukir senyum manis yang paling tulus.
Pak Darmawan mengangguk-angguk lega. "Bapak percaya penuh sama kamu, Nak Zaky... Ya sudah, kalian hati-hati di jalan, ya."
"Bapak dan Ibu tidak usah pusing memikirkan perjalanan," tambah Zaky penuh perhatian. "Nanti ada anak buah saya yang khusus menjemput dan mengantar Ibu dan Bapak ke Jakarta. Sedangkan untuk saudara dan warga yang ingin hadir ke acara resepsi kami nanti, saya sudah menyiapkan bus pariwisata khusus dari sana."
Bu Aminah menepuk pelan lengan menantunya. "Terima kasih banyak ya, Nak Zaky... Kamu sungguh berhati mulia."
"Sama-sama, Pak, Bu," jawab Zaky penuh rasa hormat.
Setelah sesi pamitan yang diwarnai tangis haru, rombongan akhirnya bergerak menuju landasan penerbangan tempat pesawat jet pribadi mereka bersiap.
Di dalam mobil sedan mewah menuju bandara, suasana terasa begitu tenang dan syahdu. Arumi tak henti-hentinya menggenggam jemarinya Zaky. Sesekali, Zaky membalas genggaman itu dan mendaratkan kecupan-kecupan lembut di punggung tangan istrinya.
"Rum... rasanya sampai detik ini masih seperti mimpi bisa menikah sama kamu," bisik Zaky dalam, menatap lekat paras cantik di sampingnya. "Aku sempat berpikir... aku benar-benar bakal kehilangan kamu selamanya."
Arumi menyunggingkan senyum hangat. Ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu tegap Zaky, menghirup aroma maskulin suaminya yang sangat menenangkan.
"Aku juga merasakan hal yang sama, Mas... Tak kusangka, setelah belasan tahun terpisah, kita ternyata masih berjodoh," balas Arumi lembut.
Zaky merangkul erat tubuh Arumi, membiarkan wanita yang sangat dicintainya itu bersandar nyaman di dadanya. Di sepanjang jalan menuju bandara, takdir yang sempat terputus itu kini merekat sempurna, membawa mereka menyongsong masa depan bahagia di Jakarta.
Bersambung...
mungkin dulu yudi miskin makanya citra ninggalin yudi?
achh penasaran bgt
mana si citra udah meninggal lg jd ga bisa nanya
berarti dulu si citra jebak zaky untuk tanggung jawab sm anak yg di kandung, kasian zaky 🥹
Wisnu Ama indah?
apakabar tu berdua
cieeeee
pak Arya
Ama pelakor jaman sekarang
udah pada rada lain yaa
🤣
bisa jadi perang dunia ke 2 ini
kalau nemuin lipstik di jas nya 😱