Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Kabut Berbisa dan Ilusi Sang Dewa
Hutan Misti tidak pernah melepaskan mangsanya dengan mudah.
Cassvia memacu kudanya di garis depan, memimpin formasi baji yang membelah jalur sempit di antara pepohonan kuno. Zirah peraknya bergemerincing seirama dengan derap langkah pasukannya. Ksatria wanita itu tetap waspada, namun keangkuhan seorang bangsawan membuat kewaspadaannya difokuskan pada ancaman langsung-tombak kasar atau lemparan batu dari gerombolan makhluk hijau bodoh.
Ia tidak pernah menduga bahwa musuh yang dihadapinya kini menggunakan taktik isolasi.
Tiba-tiba, arah angin berubah drastis. Udara yang semula hanya berbau lumut basah mendadak menjadi pekat. Kabut tebal berwarna keunguan bergulung dengan kecepatan tidak wajar dari kanopi hutan dan semak belukar, menelan barisan kavaleri itu layaknya mulut raksasa.
"Hentikan pasukan! Tutup hidung kalian, ini kabut beracun!" teriak Cassvia, menarik tali kekang kudanya hingga binatang itu meringkik keras.
Namun, semuanya sudah terlambat. Jarak pandang menyusut hingga kurang dari satu meter. Suara derap langkah kuda yang teratur berubah menjadi kekacauan absolut. Kuda-kuda perang yang biasanya berani itu mendadak panik, menendang ke segala arah seolah digigit oleh bayangan tak kasat mata.
"Lady Cassvia! Kami tidak bisa melihat-"
Jeritan seorang ksatria di sayap kiri terputus seketika, digantikan oleh bunyi debuk pelan jatuhnya tubuh berlapis baja ke tanah berlumpur. Tidak ada suara auman, tidak ada sorak-sorai menjijikkan seperti kebiasaan goblin saat menyerang. Semuanya terjadi dalam keheningan yang mencekam.
Di balik kabut, Goblin Blackhand-unit pembunuh senyap yang baru diciptakan Altair-bergerak lincah seperti bayangan. Mereka tidak menyerang para ksatria yang berzirah tebal; senjata mereka mengincar urat nadi di kaki-kaki kuda.
Kuda putih yang ditunggangi Cassvia tiba-tiba kehilangan keseimbangan, kaki depannya terlipat karena urat tendonnya dipotong dengan presisi klinis.
"Ugh!" Cassvia terlempar dari pelana. Refleks ksatrianya yang terlatih membuatnya berguling di tanah dan langsung bangkit dengan pedang panjang terhunus.
"Siapa di sana?! Tunjukkan diri kalian, monster menjijikkan!" bentak Cassvia, napasnya memburu di balik pelindung wajah. Matanya menyapu kabut ungu yang berputar mengelilinginya. Ia menduga seekor Goblin Fighter yang liur dan darahnya menetes akan melompat keluar untuk mencabiknya.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat seluruh insting bertarung sang Ksatria Perak hancur berantakan.
Kabut beracun itu perlahan membelah, seolah tunduk pada otoritas seseorang yang melangkah di tengahnya. Suara langkah kaki yang terdengar bukanlah derap kasar kaki telanjang monster, melainkan langkah sepatu bot kulit yang sangat ringan, terukur, dan elegan.
Sebuah siluet tinggi melangkah keluar dari balik kabut.
Mata biru Cassvia terbelalak lebar. Otot-otot lengannya yang kaku memegang pedang mendadak kehilangan tenaga. Ujung pedangnya perlahan turun ke arah tanah.
Itu bukanlah goblin hijau berkutil. Itu adalah sosok yang seolah langsung keluar dari lembaran buku dongeng kuno yang selalu ia baca di masa kecilnya secara diam-diam.
Rambut pirang keemasan yang berkilau di tengah suramnya hutan. Kulit pucat tanpa cela yang memancarkan pendar keagungan. Fitur wajah yang begitu sempurna, tajam, dan rupawan hingga melampaui batas akal sehat manusia. Dan yang paling mengunci pandangan Cassvia adalah sepasang telinga panjang yang meruncing elegan di balik helaian rambut keemasannya.
E-Elf...? batin Cassvia, jantungnya berdebar dengan kecepatan yang menyakitkan.
Semua kenangan masa kecilnya, obsesi rahasianya terhadap ras Elf, dan kekaguman fanatiknya pada keindahan mutlak, berbenturan keras dengan realita medan perang. Pikirannya mengalami malfungsi total. Kenapa makhluk seagung dan semulia ini ada di tengah sarang monster terendah?
"Kau tersesat terlalu jauh dari duniamu, Ksatria Kecil," suara Altair mengalun rendah, memancarkan pesona magis yang membuat lutut Cassvia terasa lemas.
Altair melangkah semakin dekat, sama sekali tidak memedulikan pedang baja yang masih berada di tangan wanita itu. Ia tahu betul, dari nilai Harapan dan gejolak emosi di mata Cassvia, bahwa wanita angkuh ini tidak akan mampu mengayunkan pedangnya ke arah sosok yang merepresentasikan puncak obsesinya.
"S-Siapa kau...? Apa yang dilakukan ras bangsawan sepertimu di tempat kotor ini?" Cassvia terbata-bata, suaranya kehilangan seluruh otoritas militernya. Ia bahkan lupa pada pasukannya yang perlahan tumbang di belakangnya.
Altair tersenyum, sebuah senyuman yang begitu indah namun menutupi lubang neraka tak berdasar. Jari-jarinya yang ramping dan dingin perlahan terulur, menyentuh ujung pedang Cassvia dan menurunkannya sepenuhnya, menaklukkan sang ksatria wanita tanpa perlu menumpahkan setetes pun darahnya.
"Aku ada di sini," bisik Altair, menatap tepat ke dalam mata biru Cassvia yang kini dipenuhi puja dan kebingungan, "untuk menagih takdirmu."
Sebelum Cassvia bisa memproses makna dari kalimat itu, kabut sihir di sekelilingnya semakin pekat, mengaburkan kesadarannya, dan menarik sang ksatria wanita jatuh ke dalam pelukan makhluk yang akan mengubah seluruh hidupnya.