NovelToon NovelToon
SEESAW

SEESAW

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.

Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.

Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.

Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#4

Gedung ballroom milik keluarga Ashford malam itu memancarkan kemewahan yang menyilaukan mata.

Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit membiaskan pendar keemasan, memantul pada pilar-pilar marmer dan gelas-gelas sampanye yang dipegang oleh para bangsawan serta elit bisnis New York.

Suasana pesta berlangsung sebagaimana mestinya di kalangan kelas atas.

Gelak tawa halus yang dibungkus kepura-puraan menggema di setiap sudut.

Pria-pria bersetelan jas mahal saling berjabat tangan erat sembari membicarakan pergerakan saham, sementara para wanita bergaun haute couture saling melempar senyum manis, berpelukan hangat, dan melakukan tradisi menempelkan pipi kiri dan kanan dengan kehangatan palsu yang menguar tebal.

Di tengah-tengah ruangan, Tuan Kaetos Ashford berdiri gagah mendampingi istrinya, Parrie Ashford.

Parrie tampak begitu anggun dengan gaun beludru biru tua dan kalung zamrud yang melingkari lehernya, tersenyum ramah menyapa para tamu VIP yang terus berdatangan memberikan penghormatan.

Namun, perhatian sebagian besar tamu undangan malam itu diam-diam tertuju pada sosok pria tinggi berjas hitam yang berdiri tak jauh dari sang pemilik acara.

Diedrick Glodereus Ashford

Pria itu berdiri angkuh, membiarkan jemari seorang wanita bergaun merah ketat melingkar mesra di lengan kekar milik-nya.

Lagi dan lagi, Diedrick menggandeng wanita yang berbeda ke pesta megah keluarganya.

Bagi kalangan elit New York, pemandangan ini bukan lagi hal baru atau mengejutkan.

Jika itu berkaitan dengan Diedrick—sang putra Ashford yang paling dipenuhi rumor gonta-ganti pasangan dan kisah ranjang—semua orang hanya bisa berbisik-bisik maklum sembari menggelengkan kepala.

Lexana Nycekerh, yang malam itu berdiri anggun beberapa meter dari sana sembari menyesap sampanye, mengutuk pelan dalam hati melihat wanita bergaun merah itu.

Namun, dia menahan diri karena tahu statusnya sebagai "kekasih resmi" Diedrick baru saja dimulai dan dia tidak boleh terlihat murahan di depan calon mertuanya.

Tiba-tiba, daun pintu ganda ballroom yang terbuat dari kayu mahoni berukir dibuka lebar oleh para penjaga.

Atmosfer riuh di dalam ruangan mendadak lengang sejenak. Sepasang suami istri melangkah masuk dengan anggun, menjadi pusat perhatian seketika.

Arthur Bond melangkah tegap, mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik Savile Row. Di sampingnya, jemari Rexana bertengger kaku di atas lengan Arthur.

Rex tampil memesona dalam balutan gaun sutra tanpa lengan yang melekat sempurna di tubuh rampingnya.

Potongan rambut pendek barunya yang jatuh kaku di atas bahu justru semakin mempertegas leher porselennya yang jenjang serta garis wajahnya yang dingin dan tak tersentuh.

Namun, mereka tidak datang berdua saja.

Tepat di belakang mereka, melangkah seorang wanita bergaun sangat minim dengan belahan dada rendah—asisten pribadi Arthur yang terkenal seksi dan provokatif.

Arthur secara terang-terangan membawa wanita itu ke dalam pesta resmi keluarga Ashford.

Sembari menggandeng tangan Rex dengan genggaman yang sengaja dia tekan kuat hingga memar, Arthur melangkah mendekati Diedrick.

Senyum miring yang penuh intrik terukir di wajah tampan Arthur.

"Diedrick," sapa Arthur dengan nada suara berat yang sarat akan dominasi.

Dia melepaskan cengkeramannya dari lengan Rex secara kasar, lalu menarik asisten seksinya maju ke depan.

"Sudah lama kita tidak bertemu di pesta seperti ini," lanjut Arthur santai, menyuguhkan asisten pribadinya tepat di hadapan Diedrick.

"Aku membawakan sedikit 'hadiah' untuk menyegarkan malammu. Aku yakin kau tidak akan kecewa pada pelayanannya. Dia sangat mahir menyenangkan pria berkelas sepertimu."

Sebuah basa-basi kasar khas transaksi rekan bisnis tingkat atas, di mana wanita hanyalah barang pajangan yang bisa ditukarkan kapan saja.

Diedrick tidak langsung menjawab.

Matanya yang tajam bagai elang mengabaikan wanita seksi di depannya, mengabaikan Arthur, dan justru tertuju lurus pada sosok wanita yang berdiri membeku di sebelah Arthur.

Ballerina.

Dua pasang mata itu saling bertabrakan di udara. Di antara bisingnya musik klasik dan gelak tawa tamu pesta, ada keheningan yang memekakkan telinga di antara mereka berdua.

Mata Diedrick memancarkan badai yang membakar—sebuah adonan beracun antara benci yang mendalam dan cinta yang tak pernah benar-benar mati.

Sementara mata Rex yang redup memancarkan luka yang mendalam, kerinduan yang ditahan mati-matian, serta keputusasaan yang tak terobati.

Kenapa kau menatapku seperti itu, Bellerina? jerit Diedrick dalam hatinya yang terluka.

Setelah kau meremukkan jantungku dan mengandung anak pria lain, kenapa matamu masih menyimpan duka yang sama seperti saat kau memelukku dulu?

Sementara Rex hanya sanggup menahan napasnya yang terasa berdarah di dalam dada.

Pria yang pernah berjanji Mencintai seumur Hidup... kini berdiri di sini, menggandeng wanita lain, dan menerima tawaran menjijikkan dari suamiku tanpa sedikit pun Menolak.

Diedrick tersenyum dingin, memutus kontak mata itu secara paksa. Pria itu menyambut asisten Arthur dengan mengusap pinggang wanita itu kencang.

"Tawaran yang menarik, Arthur," sahut Diedrick dengan suara serak yang memikat.

"Tapi selera kulinerku malam ini sedang tidak ingin hidangan yang terlalu mudah ditebak."

Arthur tertawa pelan, tawa yang menusuk pendengaran Rex. "Ah, sayang sekali. Padahal aku tahu kau paling suka mencoba barang baru."

Rex merasa lambungnya berguncang hebat. Rasa mual yang membakar menjalar hingga ke tenggorokannya.

Dihina oleh suaminya sendiri, ditatap dengan kebencian oleh pria masa lalunya, dan dikelilingi oleh kebohongan keluarga Nycekerh... dinding pertahanan Rex yang kokoh runtuh seketika.

"Arthur... aku izin ke toilet sebentar," bisik Rex pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari Arthur yang masih sibuk tertawa, Rex menarik gaunnya sedikit lalu membalikkan badan.

Dia melangkah cepat meninggalkan kerumunan pesta, membelah lautan manusia yang wangi parfumnya kini terasa memabukkan dan mencekik.

Diedrick melihat punggung rapuh itu menjauh. Rasa panas di dadanya meluap menjadi kegilaan murni yang tak tertahankan.

Mengabaikan wanita di sampingnya, mengabaikan Arthur, dan mengabaikan pandangan mata sang Mommy dari kejauhan, Diedrick memutar tumitnya dan melangkah lebar-lebar menyusuri koridor mansionnya sendiri.

Rex memutar kran air di dalam toilet VIP yang sepi dan luas.

Air dingin mengucur deras.

Rex menangkupkan air itu ke wajahnya yang pucat, mencoba menghapus rasa panas akibat air mata yang menumpuk di balik kelopak matanya.

Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah porselen, rambut pendek kaku, dan bibir yang bergetar hebat.

Diedrick... kenapa harus di depan semua orang?

KLIK.

Suara kunci pintu toilet yang diputar dari dalam mengejutkan Rex.

Belum sempat Rex memutar tubuhnya, sebuah bayangan besar menyergapnya dari belakang.

Lengan kekar yang beraroma kayu cendana dan hujan musim gugur—aroma yang sangat dia kenali—melingkar kencang di pinggangnya, memutar tubuh Rex secara kasar hingga punggungnya menabrak dinding marmer yang dingin.

"Died—"

Suara Rex terpotong habis.

Bibir Diedrick menyambar bibirnya secara brutal.

Penciuman itu tidak memiliki sedikit pun kelembutan.

Itu adalah ciuman yang dipenuhi kemarahan, keputusasaan, dan dahaga liar yang telah dipendam selama empat tahun pengasingan.

Diedrick mengunci tubuh Rex di antara dinding dan dada bidangnya, memiringkan kepalanya demi memperdalam ciumannya yang menderu, menuntut balasan dari bibir yang dulu selalu menyebut namanya dengan penuh cinta.

Rex meronta, jemari tangannya mendorong dada kemeja Diedrick dengan sisa tenaganya, namun pria itu bagaikan dinding batu yang tak bergerak sedikit pun.

Ciuman panas itu bergeser ke rahang Rex, lalu turun menelusuri leher jenjangnya yang terbuka akibat potongan rambut barunya.

"Nngh... lepaskan... Diedrick, lepaskan!" histeris Rex bertarung menahan napasnya yang terengah-engah.

Diedrick sama sekali tidak mendengarkan.

Pria itu telah dirasuki oleh iblis cemburu dan dendam. Jemari Diedrick yang kasar dan panas dengan lancang menyusup masuk ke balik kain sutra gaun Rex, merayap naik menelusuri paha mulus wanita itu tanpa belas kasihan.

"Kau merindukanku, bukan? Jangan berbohong, Bellerina!" bisik Diedrick lirih, suaranya parau dan bergetar tepat di depan telinga Rex, hembusan napas panasnya membakar kulit leher wanita itu.

Jemari Diedrick bergerak kasar di balik gaunnya, memajukan dan mengeluarkan tangannya dengan gerakan dominan yang memicu desah napas tertahan dari mulut Rex.

"Kau bahkan masih menikmati rasa tanganku, Bellerina..." bisik Diedrick semakin lirih, tatapan matanya menggelap penuh dengan kegilaan murni.

Pria itu sudah kehilangan kewarasannya, menggeser tubuhnya semakin merapat, berniat melakukan penyatuan terlarang dan liar di atas lantai toilet malam itu juga.

PLAK!

Suara tamparan keras memecah keheningan toilet.

Kepala Diedrick terlempar ke samping.

Pipi kirinya terasa panas membakar.

Napas Rex memburu kencang, dadanya naik turun tak beraturan.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipinya yang pucat. Dengan tangan yang gemetar hebat, Rex menarik turun gaunnya yang berantakan, menatap Diedrick dengan pandangan paling hancur yang pernah ada.

"Bukankah kau kekasih Lex, kakakku?!" gertak Rex dengan suara bergetar yang sarat akan rasa jijik dan kesakitan yang mendalam. "Berhenti bertingkah menjijikkan, Diedrick!"

Deg.

Kata-kata itu menghantam kesadaran Diedrick bagaikan sebuah godam raksasa.

Rasa panas di pipinya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa dingin yang tiba-tiba menyiram seluruh tubuhnya.

Jemari Diedrick yang masih berada di bawah gaun Rex membeku seketika.

Dia perlahan menarik tangannya keluar, menatap jemarinya sendiri lalu menatap mata Rex yang dipenuhi air mata kekecewaan.

Gila.

Diedrick baru saja sadar dengan apa yang telah dia lakukan.

Dia telah melupakan segala batas kewarasan. Dia mengabaikan statusnya, mengabaikan keluarganya di luar, dan secara gila mengikuti kata hatinya yang terluka demi menyusul wanita ini ke dalam toilet seperti seorang penjahat.

"Rex..." gumam Diedrick lirih, nama itu meluncur dari bibirnya tanpa sadar—bukan Bellerina, melainkan nama aslinya.

Tok! Tok! Tok!

Gedoran keras pada pintu toilet luar menyentakkan mereka berdua dari pusaran emosi yang pekat.

"Rex? Kau di dalam? Kenapa pintunya dikunci?" suara Lexana memanggil dari balik pintu dengan nada curiga dan tidak sabar.

"Astaga, kau lama sekali di dalam! Keluarlah, Mommy mencari kita!"

Diedrick terperanjat.

Kepalanya dengan cepat berputar menatap pintu yang terkunci.

Melihat Rex yang masih berdiri kelayapan dengan gaun yang tersingkap dan air mata yang mengalir di pipi, kepanikan murni menguasai Diedrick.

Pria itu melangkah maju dengan gerakan cepat namun hati-hati.

"Jangan bersuara," bisik Diedrick panik.

Dengan jemarinya yang gemetar—jemari yang tadi berlaku kasar—Diedrick kini justru merapikan lipatan gaun Rex dengan sangat lembut.

Dia menaikkan tali gaun yang merosot di bahu Rex, membetulkan potongan gaun di bagian paha, lalu dengan hati-hati mengusap air mata yang mengalir di pipi porselen wanita itu dengan ibu jarinya.

Rex hanya berdiri kaku bagai patung, menatap jemari Diedrick yang gemetar saat merapikan pakaiannya.

Ada kepedihan beracun di dalam hatinya melihat pria yang dulu dicintainya setengah mati kini harus bertingkah panik merapikan gaunnya demi menyembunyikan dosa mereka dari Lexana.

"Sudah... kau sudah rapi," bisik Diedrick dengan suara yang hampir runtuh.

Matanya menatap Rex penuh dengan penyesalan yang tak terucapkan.

Tok! Tok! Tok!

"Rex! Kau mendengarku tidak?!" gedor Lexana lagi, gagang pintu mulai diguncang kasar dari luar.

Diedrick menghela napas panjang, memasang kembali raut wajah dingin dan angkuh yang menjadi topeng lamanya.

Pria itu memberi isyarat mata agar Rex berdiri di balik cermin, sementara dia sendiri melangkah mantap menuju pintu dan memutar kuncinya dari dalam.

Pintu terbuka.

Lexana yang berdiri di luar dengan wajah bersungut-sungut mendadak membeku saat melihat siapa sosok tinggi berjas hitam yang keluar dari dalam toilet wanita tersebut.

"Di... Diedrick?!" teriak Lexana kaget, matanya membelalak tak percaya.

"Kenapa kau ada di dalam toilet wanita?!"

1
Mei TResna Rahmatika
banyak bgtt tantangan hubungan mereka thor
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗
winpar
smngt kk 💪
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
terus semangat berkarya Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak reader 🫶 sehat selalu Dimana pun berada 😍
total 1 replies
Yusry Ajay
ya gpp thor dimaklumi 🤗🤗🤗
Yusry Ajay
up lg Thor kurang...
Rosdianah 🌷: huhu maafkan author 🙏🏻 beberapa hari ini author sibuk dunia nyata
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
ugal"an bangettt cinta nya pria ashford satu ini😍
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru kali ini keturunan asford jd gembel,, 😌
Rosdianah 🌷: ya Tuhan nggak jadi dramatis saya🤣🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
🤣 diedrick malang sekaliii
Rosdianah 🌷: author baru update 🤭🙏🏻
total 1 replies
Yusry Ajay
menegangkan thor bacanya 🤗🤗
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Mei TResna Rahmatika
nanggung kak, penasaran 🤣
Rosdianah 🌷: siap kak, Ma'aciww sudah stay baca cerita ku🌷
total 3 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh gercep ini sophi,pliss kak jangan pisahin rexana sama diedrick lagi kesian banget kisah mereka 😭
Mei TResna Rahmatika: keturunan ashford yg kisah cintanya gak banyak hura hara cuma leander sama pearl
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
dari berita ini semoga kembarannya rexana tau keberadaan rexana🤭
Mei TResna Rahmatika: udah mulai klimaks ini ceritanya, tambah penasaran apakah deidrick bakalan dapet bogeman dari kaetos🤭
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
ceritanya agak mirip sama kisahnya aurora,braxley sama jonathan bedanya disini ternyata Arthur terobsesi sama rexana, lanjut kak penasaran 🤭
Mei TResna Rahmatika: soalnya aku udah baca semua karya mu kak jadi inget🤣
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
gak pernah gagal karya" mu kak
love sekebon
Rosdianah 🌷: Lopyuu Setaman kak🤭🌷
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kisah cinta rexana dan diedrick kaya nya penuh liku nih kaya kisahnya emak bapaknya
Mei TResna Rahmatika: banyak bangett yg perlu di bahas di kisah mereka🤭selalu nunggu up nya kak😍
total 2 replies
Debu Nakal
bunga n like q kirimkan sebagai ucapan terimakasih krn dikau sdh mbuat karya yg woowwww
happy graduation eh happy birthday mksdnya
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii ma'aciww kak reader 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
up lagi thor kurang ihh🤭
Asriani Rini
Arthur yg bodoh kamu sudah trrlambat rexena sudah kembali kepelukan diedrick kamu tidak akan parrnah ada lagi kesempatan untuk memilikinya
Rosdianah 🌷: Nah Arthur terlambat 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!