Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu kamar Dewi terdengar sangat brutal pagi ini, seolah ada rentenir yang sedang menagih hutang.
Dewi yang masih memakai piyama bergambar beruang kuning terpaksa bangun dengan mata setengah tertutup.
"Iya sebentar, siapa sih pagi-pagi buta sudah menggedor pintu orang," gerutu Dewi sambil menguap lebar.
Ceklek.
Begitu pintu terbuka, sosok Raka langsung menerobos masuk ke dalam kamar Dewi dengan wajah sedikit panik.
Pria itu sudah rapi dengan kemeja kasual berwarna putih, tapi napasnya terdengar sedikit memburu.
Brak.
Raka menutup pintu kamar Dewi kembali dan menguncinya dari dalam dengan cepat.
Dewi langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan tatapan curiga tingkat tinggi.
"Bos, kau mau apa masuk ke kamarku pagi-pagi begini? Jangan macam-macam ya, aku bisa teriak nih!" ancam Dewi.
Raka memutar bola matanya malas dan langsung menjitak pelan dahi Dewi.
"Pikiranmu itu kotor sekali, siapa juga yang mau macam-macam dengan wanita berwajah bantal sepertimu," balas Raka ketus.
"Ibuku sedang berkeliling memeriksa kamar di lantai dua pagi ini."
Raka berjalan mondar-mandir di dalam kamar Dewi sambil memijat pangkal hidungnya.
"Kalau ibuku tahu kita tidur di kamar yang terpisah, dia pasti langsung curiga kalau pernikahan kita ini palsu," jelas Raka.
Mata Dewi seketika membulat sempurna mendengar penjelasan bosnya itu.
"Oh iya benar juga! Di mata ibumu, kita ini kan pasangan suami istri yang baru menikah," ucap Dewi tersadar.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana Bos? Apa kau mau bersembunyi di bawah kasurku?" usul Dewi asal mangap.
Raka menatap Dewi dengan pandangan seolah wanita itu baru saja kehilangan akal sehatnya.
"Aku ini CEO Grup Lentera, mana sudi aku bersembunyi di bawah kasur seperti pencuri ayam," tolak Raka mentah-mentah.
"Cepat mandi dan ganti bajumu. Kita harus keluar dari kamar ini berdua seolah-olah kita baru saja bangun tidur bersama."
Dewi menelan ludah mendengar ide gila yang keluar dari mulut pria kaku ini.
"Kau yakin Bos? Akting mesramu kan kaku sekali seperti kanebo kering, nanti ibumu malah tambah curiga," ejek Dewi.
"Lakukan saja apa yang kuperintahkan, gajimu ada di tanganku," ancam Raka menggunakan senjata andalannya.
Dewi mendengus sebal, tapi dia tetap menurut dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Dewi untuk mandi kilat dan mengganti piyamanya dengan gaun santai selutut.
Rambut panjangnya dia sisir rapi dan dibiarkan tergerai menutupi punggungnya.
"Nah, aku sudah siap. Ayo kita keluar dan hadapi nenek sihir seniormu itu," ajak Dewi dengan penuh semangat tempur.
Raka menghela nafas panjang untuk menyiapkan mentalnya sendiri.
Pria itu lalu mendekati Dewi dan tanpa aba-aba langsung menggenggam telapak tangan kanan Dewi dengan sangat erat.
Deg.
Jantung Dewi seakan melompat dari tempatnya saat merasakan kehangatan tangan besar Raka.
"Bos, pegangannya tidak usah erat-erat begini juga kan? Tanganku rasanya mau remuk," protes Dewi dengan wajah yang mendadak panas.
"Diamlah, kalau pegangannya longgar ibuku pasti tahu ini cuma sandiwara," bisik Raka dengan telinga yang juga mulai memerah.
Klek.
Raka membuka pintu kamar dan mereka berdua melangkah keluar secara bersamaan ke lorong lantai dua.
Tepat pada saat itu, Nyonya Widyawati sedang berdiri di ujung lorong bersama Bi Dina, salah satu pelayan mansion.
Mata tajam Widyawati langsung tertuju pada tangan anak laki-lakinya yang menggenggam erat tangan Dewi.
"Selamat pagi, Mama. Tumben Mama sudah bangun jam segini," sapa Raka dengan nada suara yang dibuat seramah mungkin.
Widyawati menatap Dewi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai.
"Tentu saja aku bangun pagi. Aku tidak seperti istri barumu ini yang baru keluar kamar jam tujuh pagi," sindir Widyawati tanpa basa-basi.
Dewi hanya tersenyum manis, tidak berniat membalas sindiran itu karena ingat misi utamanya hari ini adalah bertahan hidup.
"Maafkan saya Nyonya Besar, semalam saya dan Mas Raka tidurnya agak larut karena mengobrol banyak hal," jawab Dewi dengan sangat sopan.
Raka hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar Dewi memanggilnya dengan sebutan Mas Raka.
Genggaman tangan Raka di tangan Dewi refleks semakin mengerat karena menahan rasa geli dan salah tingkah.
Widyawati mendengus pelan, sepertinya tidak terlalu percaya dengan alasan itu.
"Sudahlah, cepat turun ke ruang makan. Sarapan sudah kusiapkan sendiri hari ini," perintah Widyawati sambil berbalik pergi.
Begitu Widyawati turun dari tangga, Dewi langsung melepaskan genggaman tangan Raka dan mengusap dadanya.
"Gila, akting jadi istrimu ternyata lebih menguras tenaga daripada jualan kue di pinggir jalan," keluh Dewi pelan.
Raka menatap tangannya yang kini kosong, ada sedikit rasa kehilangan yang menyelinap di hatinya, namun segera dia tepis jauh-jauh.
"Panggilan Mas Raka tadi... jangan diulangi kalau tidak ada ibuku. Terdengar sangat aneh," tegur Raka salah tingkah.
"Siap Bos! Tadi itu kan cuma improvisasi biar ibumu percaya," jawab Dewi sambil tertawa cengengesan.
Mereka berdua lalu berjalan menuju kamar Elvan untuk menjemput bocah kecil itu.
Elvan sudah dimandikan oleh pelayan dan terlihat sangat segar dengan kaus bergambar mobil kesukaannya.
"Papa! Mama!" seru Elvan riang dan langsung meminta digendong oleh Raka.
Raka mengangkat putranya itu dengan mudah dan mereka bertiga turun menuju ruang makan utama di lantai bawah.
Sesampainya di ruang makan, Dewi seketika merasa ada yang tidak beres dengan pemandangan di atas meja panjang itu.
Biasanya sarapan mereka hanya terdiri dari nasi goreng, roti selai, atau bubur ayam buatan Dewi.
Tapi pagi ini, meja makan itu dipenuhi oleh puluhan jenis piring kecil, mangkuk, dan deretan sendok garpu yang sangat banyak.
Di tengah meja terdapat hidangan berupa daging asap, telur rebus setengah matang, sosis panggang, dan roti croissant.
Widyawati duduk di ujung meja dengan postur tubuh sangat tegak bak seorang ratu Inggris.
"Duduklah. Pagi ini kita sarapan ala bangsawan Eropa," ucap Widyawati sambil menunjuk kursi di sebelah kanan dan kirinya.
Dewi duduk di sebelah Raka dengan perasaan was-was yang mulai memuncak.
Dia melihat ada tiga jenis garpu dengan ukuran berbeda di sebelah kiri piringnya, dan tiga jenis pisau di sebelah kanannya.
Belum lagi ada sendok kecil, sendok besar, dan penjepit aneh yang tidak Dewi ketahui apa fungsinya.
"Astaga naga, ini mau makan sarapan atau mau operasi bedah? Kenapa alatnya banyak sekali," batin Dewi merinding.
Widyawati mengambil serbet putih dari atas meja dan meletakkannya dengan anggun di atas pangkuannya.
Wanita paruh baya itu lalu menatap Dewi dengan senyum miring yang penuh jebakan.
"Silakan dicicipi makanannya, Dewi. Raka bilang masakanmu sangat enak, aku ingin tahu apakah cara makanmu juga seanggun masakanmu."
Itu dia! Ini adalah ujian meja makan alias table manner yang sengaja disiapkan Widyawati untuk mempermalukan Dewi.
Widyawati tahu persis wanita dari kalangan bawah tidak akan mengerti urutan penggunaan pisau dan garpu ala Eropa ini.
Raka yang menyadari jebakan ibunya langsung mengerutkan kening.
"Mama, ini cuma sarapan pagi. Tidak perlu membuat susunan meja serumit ini untuk makan sosis," protes Raka membela Dewi.
"Biarkan saja Raka, aku hanya ingin istri kesayanganmu ini merasa seperti di rumah sendiri," kilah Widyawati dengan nada menyindir.
Keringat dingin mulai menetes di pelipis Dewi.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭