Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
"Tunggu sebentar, Arabella," bisik Christian tepat di dekat telinga Bella, membuat napas gadis itu kembali tercekat di tenggorokan.
Bella menegang seketika di tempatnya. Pergelangan tangannya terasa terkunci dalam genggaman hangat sang paman. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menarik tangannya pelan-pelan namun gagal total di hadapan cengkeraman pria itu yang begitu kokoh.
"O-Om, lepas..." cicit Bella dengan suara bergetar halus, kepalanya menunduk dalam-dalam tanpa berani menatap langsung manik mata pria di hadapannya. "Aku mau balik ke kamar."
Christian tidak langsung melepaskan cengkeramannya. Pria itu justru melangkah maju perlahan, mempersempit jarak di antara mereka hingga tubuh bagian belakang Bella hampir bersentuhan dengan dada bidangnya yang basah. Aroma maskulin yang bercampur dengan kesegaran air kolam langsung menguar memenuhi indra penciuman Bella, menciptakan getaran asing di dadanya.
"Hanya karena sebuah handuk, kamu kembali menemuiku di sini, Arabella?" suara bariton Christian mengalun rendah, bernada menggoda namun penuh selubung bahaya. "Bagi seorang pria yang sedang menahan diri, tindakan kecilmu ini sama saja dengan kamu kembali menyerahkan dirimu padaku secara sukarela."
Mendengar kalimat itu, darah Bella mendadak berdesir ketakutan. Wajahnya sontak memucat, matanya membelalak lebar menyadari arah pembicaraan sang paman yang mulai melenceng jauh dari batas kewajaran.
"Me-menyerahkan diri?!" sergah Bella panik, suaranya meninggi karena rasa syok yang teramat sangat. "Om ngomong apa sih?! Aku cuma mau nganterin handuk pesanan Bi Rina! Nggak ada maksud apa-apa!"
"Oh, benarkah?" Christian mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang misterius. Jemarinya yang bebas terulur, dengan lembut menyentuh dan menyelipkan helaian rambut basah Bella ke belakang telinganya. "Kalau memang tidak ada maksud apa-apa, kenapa napasmu berdegup sekencang ini saat aku mendekat, hm?"
Bella meronta pelan, mencoba melepaskan pergelangan tangannya. "Lepasin, Om! Aku mau balik sekarang!"
Belum sempat Bella melangkah, Christian bergerak jauh lebih cepat. Dengan satu sentakan halus, pria paruh baya itu memutar tubuh Bella dan menuntunnya mundur hingga punggung gadis itu membentur dinding pilar marmer taman belakang yang sepi.
Dalam sekejap, Christian sudah mengungkung tubuh Bella. Kedua tangan pria itu terbentang menahan dinding di sisi kanan dan kiri kepala Bella, menjebak gadis itu sepenuhnya dalam dekapan bayangan tubuh atletisnya.
"O-Om! Jangan kayak gini!" protes Bella terbata, napasnya naik-turun menahan rasa gugup yang luar biasa saat menyadari wajah mereka kini berada dalam jarak yang sangat dekat. "Minggir, aku mau masuk!"
Christian menundukkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Bella yang bergetar hebat. Sorot mata pria itu menggelap, memancarkan hasrat mentah yang sulit disembunyikan lagi.
"Aku sudah berusaha menahannya sejak di kolam tadi, Arabella," bisik Christian dengan suara serak yang begitu berat dan mengintimidasi. "Tapi kamu sendiri yang datang menguji kesabaranku. Milik ku sudah bangun karena ulahmu... jadi sekarang, kamu harus bertanggung jawab penuh untuk menidurkannya kembali."
Deg!
Darah Bella mendadak tersirap naik ke wajahnya. Pipi gadis itu memanas hingga terasa seperti terbakar. Ingatan tentang bagaimana tubuh mereka menempel ketat di air kolam tadi kembali berkelebat di kepalanya, membuat ia sangat paham apa maksud dari kalimat blak-blakan sang paman. Rasa ngeri dan malu bercampur aduk menjadi satu.
"Om bener-bener sudah gila!" pekik Bella tertahan.
Karena panik yang teramat sangat, Bella langsung mengangkat tangan kanannya dan membekap mulut Christian dengan telapak tangannya, berharap pria itu berhenti mengucap kalimat-kalimat terlarang tersebut.
Christian tertegun sejenak. Alih-alih marah atau menepis tangan itu, pria paruh baya justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan di balik bekapan tangan Bella. Lesung pipit samar tercetak di sudut bibirnya, sementara matanya menatap Bella dengan kilatan geli sekaligus penuh puja.
Sentuhan kulit lembut Bella di bibirnya justru semakin memicu gelombang gairah di dalam diri Christian. Perlahan, Christian mengangkat tangannya, menggenggam pergelangan tangan Bella yang membekap mulutnya, lalu menurunkan tangan itu secara perlahan sambil mengecup lembut bagian dalam telapak tangan gadis tersebut.
Bella terkesiap, menarik tangannya seolah tersengat aliran listrik. "Om..."
Christian memanfaatkan lengah itu untuk semakin mendekatkan wajahnya. Ia berniat melumat bibir merah muda yang sejak tadi menghantui isi kepalanya.
Namun, di detik-detik terakhir sebelum bibir mereka bersentuhan, gelombang rasa bersalah dan ketakutan menyentak kewarasan Bella. Dengan gerakan cepat, Bella memalingkan wajahnya ke samping dan memejamkan mata rapat-rapat, menolak ciuman terlarang itu dengan seluruh sisa tenaganya.
"Jangan, Om... kumohon..." bisik Bella lirih dengan suara bergetar, air matanya nyaris mendesak jatuh di pelupuk matanya.
Melihat penolakan telak itu, Christian menghentikan gerakannya. Pria itu menarik napas dalam-dalam, menegakkan kembali tubuhnya, lalu mundur selangkah untuk memberikan ruang bagi Bella bernapas. Ia menyadari dirinya hampir kehilangan kendali sepenuhnya.
Christian mengusap wajahnya sekilas, lalu berdehem pelan untuk menjernihkan suaranya yang parau. Namun, alih-alih memberikan jarak atau teguran pada nya, sudut bibir pria paruh baya itu justru terangkat membentuk senyuman miring yang sarat akan muslihat.
Ia tahu betul betapa kacaunya pikiran gadis di hadapannya saat ini.
"Kenapa tegang begitu, hm?" suara bariton Christian mengalun rendah, terdengar begitu santai namun sukses membuat bulu kuduk Bella meremang.
Bella mengerjap gugup, masih merapatkan lilitan handuk di tubuhnya dengan jemari yang gemetar. Ia menatap curiga ke arah sang paman. "O-Om mau apa lagi? Aku beneran mau masuk kamar!"
Christian tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan yang sangat tenang dan tanpa diduga-duga, pria itu tiba-tiba membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu menyambar tangan kanan Bella yang sedang memegang erat handuk.
Deg!
Jantung Bella seolah copot seketika. Sebelum ia sempat menarik tangannya, Christian menuntun telapak tangan Bella untuk diletakkan tepat di atas dada bidangnya—tepat di atas kemeja basahnya yang masih menyisakan debar jantung pria itu yang bergemuruh kuat.
"Rasa takutmu berlebihan, Arabella," bisik Christian tepat di depan wajah Bella, suaranya berubah menjadi desisan halus yang memabukkan. "Kamu pikir aku akan menerkammu di tempat terbuka seperti ini?"
Sentuhan telapak tangan Bella yang langsung merasakan bidang dada dan ritme napas Christian membuat seluruh darah di tubuh gadis itu mendesak naik ke wajahnya. Pipi Bella memerah padam hingga panasnya menjalar sampai ke telinga. Ia merasa salah tingkah setengah mati, terjebak di antara rasa malu yang teramat sangat dan sensasi hangat dari tubuh pria di hadapannya.
"O-Om... apa-apaan sih?! Lepasin!" rona merah di wajah Bella semakin pekat, suaranya parau karena panik. Ia berusaha menarik tangannya, namun genggaman Christian di pergelangan tangannya terasa kokoh namun lembut, tidak memberinya celah untuk kabur.
Christian justru semakin mendekatkan wajahnya, sengaja mempermainkan mental gadis itu hingga napas mereka kembali bergesekan. "Kenapa dilepas? Bukankah kamu sendiri yang dari tadi mondar-mandir mencari perhatianku dengan pakaian seperti ini?" pancing Christian dengan nada mengejek yang manis.
"Aku nggak cari perhatian!" protes Bella setengah merengek, matanya berkedip-kedip salah tingkah menghindari tatapan tajam dan memuja dari sang paman. "Sumpah, aku cuma mau nganterin handuk! Lepasin tanganku, Om, malu kalau keliatan Bi Rina!"
Melihat wajah Bella yang sudah merah padam seperti kepiting rebus, Christian akhirnya terkekeh pelan—sebuah suara tawa rendah yang terdengar sangat maskulin dan seksi di telinga Bella. Pria itu melepaskan genggamannya, lalu dengan gerakan lembut merapikan sisa handuk yang melilit di tubuh Bella agar menutupi bahu gadis itu dengan sempurna.
"Baiklah. Aku lepaskan," ucap Christian dengan senyuman penuh kemenangan terukir jelas di wajah tampannya. "Tapi ingat, Arabella... saat kau mengenakan pakaian seperti tadi, pastikan kamu siap dengan segala konsekuensinya."
Bella tidak menunggu waktu sedetik pun lagi. Begitu tangannya terbebas, ia langsung melompat mundur selangkangan, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang kadung merona parah.
"Aku masuk dulu!" seru Bella terbata-bata.
Tanpa menoleh lagi, gadis itu langsung berbalik dan berlari kencang menerobos pintu kaca, meninggalkan Christian seorang diri di tepi kolam.
Pria paruh baya itu berdiri tegak, menatap kepergian keponakannya dengan sorot mata menggelap penuh minat. Sudut bibirnya masih menyunggingkan senyuman tipis. Permainan baru saja dimulai, dan Christian menikmati setiap detik bagaimana ia berhasil membuat gadis itu tak berkutik di dalam genggamannya.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang