Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Misi Kelompok Atau Misi PDKT?
Senin pagi.
Rendra Adijaya memasuki kelas XI-A dengan satu tujuan sederhana: menjalani hari tanpa membuat masalah.
Tidak membeli apa pun.
Tidak mengancam siapa pun.
Tidak membuat Naya kesal.
Tiga target yang seharusnya bisa dicapai manusia normal.
Sayangnya, dia adalah Rendra.
“PAGI, CALON MENANTU KELUARGA ADIJAYA!”
Rendra berhenti di ambang pintu.
Aldi berdiri di samping papan tulis sambil melambaikan tangan.
Rendra memejamkan mata.
“Gue baru datang.”
“Dan kami sudah merindukanmu.”
“Gue pulang aja, ya?”
“Jangan! Naya belum datang!”
Rendra langsung menatapnya.
Aldi menyeringai lebar.
“NAH, KAN! REFLEKS LO!”
“Gue akan menghapus nomor lo dari seluruh peradaban.”
“Silakan. Nomor gue sudah tersimpan di ponsel Naya juga.”
Rendra terdiam.
Aldi menepuk bahunya dengan penuh simpati.
“Tenang, bro. Gue akan tetap menjadi teman lo meskipun nanti lo ditolak.”
“Siapa bilang gue mau nembak dia?!”
“Belum. Kata kuncinya BELUM.”
Rendra menarik kursi dan duduk, memutuskan bahwa membungkam Aldi secara verbal membutuhkan energi yang tidak ingin dia keluarkan pagi itu.
Beberapa menit kemudian, Naya datang.
“Pagi,” sapanya singkat.
Aldi langsung berdiri.
“NAY, ADA YANG MAU GUE SAMPAIKAN!”
“Kalau lo mau pinjam uang, nggak.”
“Bukan!”
“Kalau mau minta contekan, juga nggak.”
“INI SOAL REN—”
Naya mengangkat telunjuk.
“Kalau soal rumor pacaran, gue lempar lo pakai kamus.”
Aldi perlahan duduk kembali.
“Baik. Kebebasan berpendapat sudah mati.”
Naya meletakkan tasnya, lalu mengeluarkan buku catatan.
“Ren, tugas Bahasa Indonesia kita sudah selesai?”
Rendra langsung membuka map.
“Sudah. Gue sudah menyusun kerangka argumentasi dan membagi materi presentasi.”
Naya menerima beberapa lembar kertas.
“Bagus. Nanti sepulang sekolah kita latihan.”
Rendra membeku.
“Berdua?”
“Kelompok kita berempat.”
“Oh.”
Naya menyipitkan mata.
“Kenapa? Kecewa?”
“Nggak.”
“Bagus.”
Rendra menunduk, menyembunyikan wajahnya.
Berempat.
Tentu saja berempat.
Kenapa pula dia mengharapkan berdua?
Kenapa otaknya selalu mengubah tugas sekolah menjadi simulasi hubungan romantis?
Dia perlu diperiksa.
Mungkin bukan ke UKS.
Mungkin ke bengkel.
Pukul 10.30 WIB.
Pak Arman membagikan instruksi presentasi Bahasa Indonesia.
“Setiap kelompok akan mempresentasikan teks argumentasi tentang masalah sosial di lingkungan remaja. Kalian harus menyertakan pendapat, alasan, dan bukti pendukung.”
Naya membaca lembar tugas mereka.
“Topik kita penggunaan media sosial secara bijak.”
Aldi mengangkat tangan.
“Pak, boleh topiknya diganti menjadi cara menghadapi teman yang terlalu kepo?”
“Boleh. Silakan jadikan pengalaman pribadimu sebagai sumber data.”
Kelas tertawa.
Aldi perlahan menurunkan tangannya.
“Baik, Pak. Saya menarik usulan.”
Naya mulai membagi tugas.
“Aldi cari contoh kasus. Keysha bikin bagian pembuka. Gue susun kesimpulan. Rendra, lo cari data pendukung.”
Rendra mengangguk.
“Siap.”
Aldi menatapnya curiga.
“Tumben nggak minta bagian yang sama dengan Naya.”
Rendra berhenti menulis.
“Kenapa memangnya?”
“Biasanya lo langsung menawarkan diri menjadi pasangan kerja—”
Naya melempar penghapus kecil ke arah Aldi.
“SELESAIKAN TUGAS LO!”
Penghapus itu mengenai bahunya.
Aldi memegang bahunya dramatis.
“Aku terluka. Baik secara fisik maupun emosional.”
“Bagus. Sekarang kerjakan tugas.”
Rendra menahan tawa.
Naya meliriknya.
“Lo juga jangan senyum.”
Rendra langsung memasang wajah datar.
“Gue sedang bersedih.”
“Sedih karena apa?”
“Melihat masa depan pendidikan Indonesia.”
Naya menatapnya tiga detik.
Lalu tertawa kecil.
Rendra terdiam.
Sial.
Dia suka suara tawa itu.
Namun, kali ini dia tidak mengatakannya. Dia kembali membaca instruksi tugas, membiarkan momen tersebut berlalu tanpa membuat Naya merasa harus menanggapinya.
Kemajuan kecil.
Sangat kecil.
Tetapi setidaknya bukan pembelian satu gedung sekolah.
Pukul 14.15 WIB.
Perpustakaan sekolah menjadi tempat latihan kelompok mereka.
Keysha sedang mengetik bagian pembuka, Aldi sibuk mencari contoh kasus, sedangkan Naya memeriksa materi yang dikumpulkan Rendra.
“Data ini sumbernya jelas?” tanya Naya.
“Sudah. Ada nama lembaga dan tanggal publikasinya.”
Naya memeriksa tautan yang dicantumkan.
“Oke. Ini bisa dipakai.”
Rendra mengangguk puas.
Lima detik kemudian, dia mulai gelisah.
“Kenapa?”
Naya tidak mengangkat wajah.
“Lo menggerakkan kaki terus.”
“Gue tidak.”
“Mejanya sampai bergetar.”
Rendra langsung menghentikan gerakannya.
“Maaf.”
Naya menatapnya sebentar.
“Lo gugup?”
“Sedikit.”
“Kenapa? Presentasinya minggu depan.”
Rendra mengusap tengkuk.
“Karena nanti harus bicara di depan kelas.”
Naya terdiam.
Dia tahu Rendra pandai menjawab pertanyaan guru dan memiliki nilai akademik yang hampir selalu sempurna. Namun, kemampuan mengerjakan soal ternyata berbeda dengan menghadapi banyak pasang mata.
“Lo bisa latihan dulu di sini,” katanya. “Nggak harus langsung sempurna.”
Rendra memandangnya.
“Kalau gue salah?”
“Ya, diperbaiki.”
“Kalau gue lupa semuanya?”
“Gue kasih petunjuk.”
“Kalau gue pingsan?”
“Gue panggil petugas UKS.”
Rendra mengangguk pelan.
“Kalau gue meninggal?”
Naya menutup bukunya.
“GUE PANGGIL PENGURUS PEMAKAMAN, REN!”
Aldi langsung tertawa sampai hampir menjatuhkan ponsel.
Rendra mengangkat kedua tangan.
“Gue cuma mempertimbangkan kemungkinan!”
“Pertimbangkan kemungkinan nilai lo gue kurangi kalau masih ngomong begitu!”
Keysha menggeleng sambil tersenyum.
“Kelompok ini nggak akan pernah normal.”
“Memang tidak pernah,” jawab Naya.
Mereka kembali bekerja.
Setelah beberapa menit, Rendra akhirnya berdiri untuk mencoba bagian presentasinya.
Suaranya sempat pelan dan tangannya terlihat kaku. Dia beberapa kali berhenti untuk mencari kata yang tepat.
Namun, Naya tidak menertawakannya.
Dia hanya memberikan petunjuk saat Rendra kehilangan urutan pembahasan.
Pelan-pelan, penjelasannya menjadi lebih lancar.
Ketika selesai, Rendra menatap ketiga temannya.
“Gimana?”
Aldi mengangkat jempol.
“Lumayan. Masih seperti robot yang baru belajar berbicara, tapi robot berpendidikan.”
“Terima kasih atas penghinaan yang konstruktif.”
Keysha tertawa.
Naya mengangguk.
“Bagian isinya sudah jelas. Tinggal latihan intonasi dan jangan terlalu cepat.”
Rendra tersenyum kecil.
“Noted.”
Dia tidak langsung meminta pujian tambahan.
Tidak juga menganggap bantuan Naya sebagai tanda bahwa mereka punya hubungan khusus.
Dia hanya merasa sedikit lebih percaya diri.
Dan untuk saat ini, itu cukup.
Pukul 15.20 WIB.
Mereka selesai merapikan materi.
Aldi dan Keysha pulang lebih dulu, meninggalkan Naya dan Rendra di dekat pintu perpustakaan.
“Gue ke gerbang dulu,” kata Naya.
Rendra mengangguk.
“Oke. Hati-hati.”
Naya berjalan beberapa langkah sebelum berhenti dan menoleh.
“Ren.”
“Hm?”
“Besok kita latihan lagi, ya. Biar lo lebih siap.”
Rendra terdiam sesaat.
Kemudian dia tersenyum tipis.
“Oke.”
Naya mengangkat tangan sebagai salam, lalu melanjutkan langkahnya.
Rendra tetap berdiri di tempat sampai sosoknya menghilang di ujung koridor.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Aldi.
Aldi: Gimana rasanya dibantu gebetan?
Rendra: Gue blokir lo.
Aldi: Silakan. Tapi jangan lupa, besok latihan presentasi jam dua.
Rendra memasukkan ponsel ke saku.
Hari ini dia tidak membeli apa pun untuk Naya.
Tidak membuat kejutan.
Tidak mengatur siapa yang boleh berbicara dengannya.
Dia hanya mengerjakan tugas, berlatih menghadapi ketakutannya, dan menerima bantuan dari teman-temannya.
Ternyata, menjadi dekat dengan seseorang tidak selalu harus dilakukan dengan cara besar.
Kadang cukup dengan duduk bersama di perpustakaan, mengerjakan tugas, dan berusaha tidak mempermalukan diri sendiri.
Rendra mulai berjalan menuju gerbang.
Lalu ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari ayahnya.
Papa: Papa menemukan resep kue stroberi yang mudah.
Rendra berhenti.
Rendra: Pa, tolong jangan kirim kue ke sekolah.
Papa: Papa belum bilang mau mengirimnya.
Rendra menghela napas lega.
Kemudian pesan berikutnya masuk.
Papa: Papa cuma mau mengirim resepnya ke wali kelasmu.
Rendra mendongak ke langit.
“PAPA, KENAPA WALI KELAS GUE IKUT DILIBATKAN?!”
Dari kejauhan, satpam sekolah menoleh.
“Den Rendra, ada masalah?”
Rendra tersenyum kaku.
“Tidak, Pak. Masalah keluarga.”
Dia melanjutkan langkahnya.
Satu hal mulai jelas dalam hidupnya.
Belajar memahami perasaan sendiri ternyata sulit.
Belajar berbicara di depan kelas ternyata menegangkan.
Namun, menghadapi ayahnya yang terlalu bersemangat?
Itu membutuhkan mata pelajaran tersendiri.