Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Merasa Diawasi
Galih melangkah menyeret kakinya menembus temaram malam kota menuju kosan. Setiap inci tubuhnya terasa amat gatal dan lengket oleh peluh yang mengering usai seharian bekerja di warung makan Pak Susilo. Namun, kelelahan fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan luka di hatinya. Wajah Mila, gadis yang dulu begitu lembut dan tulus, kini menatapnya dengan tatapan jijik dan malu di depan pacar kayanya, terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak.
"Sudahlah, Galih... Kamu di sini buat bertahan hidup dan sukses, bukan buat meratapi cewek yang udah berubah," gumam Galih menyemangati dirinya sendiri saat melangkahkan kaki memasuki pelataran kosan yang dinaungi pohon mangga besar.
Suasana koridor kosan sudah sangat sunyi. Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Bau lembap kayu tua bercampur aroma minyak goreng samar tercium dari arah dapur. Galih merogoh kantongnya, mengambil peralatan mandi dan handuk kusam yang tergantung di sudut kamarnya, lalu bergegas menuju kamar mandi umum di bagian belakang.
Kamar mandi kosan itu berukuran dua kali dua meter, dengan dinding kayu kasar dan pintu papan yang menyisakan sedikit celah di bagian bawah serta samping engsel. Suara gemericik air yang menetes dari kran tua menjadi satu-satunya bunyi yang membelah keheningan malam.
Galih melepas pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari gayung. Sensasi segar seketika menyapu kulitnya, membantu meredakan sedikit beban pikiran yang menumpuk. Namun, saat Galih baru saja mengusapkan sabun ke area dadanya, pendengarannya yang tajam menangkap bunyi gesekan halus dari luar pintu kayu.
Galih mendadak membeku. Gerakan tangannya terhenti. Ia menahan napas seraya menajamkan pendengarannya di tengah gemericik air yang mengalir.
Dari celah kecil di dekat engsel pintu papan, sebuah lubang bekas paku yang agak membesar, Galih menangkap bayangan hitam. Saat ia memicingkan mata, jantungnya seketika berdegup kencang. Di balik celah itu, terlihat pantulan sebuah bola mata manusia yang sedang menempel ketat, mengintip setiap gerak-gerik Galih di dalam kamar mandi!
"Siapa di luar?!" teriak Galih refleks, suaranya menggelegar menembus keheningan malam.
Dalam hitungan detik, bayangan mata itu menghilang seketika. Terdengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa berlari menjauh menelusuri lantai semen koridor.
"Woii! Siapa itu?!" bentak Galih marah.
Dengan sigap dan penuh rasa murka, Galih dengan cepat melilitkan handuknya di pinggang tanpa sempat membilas sisa sabun di tubuhnya. Ia menarik slot pintu kayu dan memburu keluar ke lorong belakang.
Namun, lorong yang remang-remang itu sudah kosong melompong. Pintu kamar mandi lainnya tertutup rapat, begitu pula lorong menuju dapur. Hanya lampu bolam lima watt yang bergoyang pelan tertiup angin malam, menciptakan bayangan-bayangan menakutkan di dinding papan.
Galih berdiri di tengah lorong dengan napas memburu. Dadanya berombak menahan kekesalan. Siapa bedebah yang kurang pekerjaan mengintip cowok mandi? batinnya heran bercampur jijik. Apakah itu Adit yang masih menyimpan dendam padanya? Atau penghuni kostan lain yang punya kelainan mental?
Merasa tidak ada petunjuk sama sekali, Galih terpaksa kembali ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya secepat mungkin. Rasa aman yang sempat ia rasakan di kostan murah ini seketika menguap begitu saja, berganti dengan kewaspadaan tinggi.
Usai mandi dan berpakaian kaos oblong serta celana pendek, Galih melangkah cepat kembali ke kamarnya di ujung lorong. Setiap kali melewati kamar-kamar penghuni lain, perasaan aneh yang mengganggu mulai merayapi tengkuknya. Galih merasa ada sepasang mata yang terus mengikuti langkah kakinya dari balik celah-celah papan kayu. Sensasi diawasi itu begitu pekat, seolah-olah seluruh dinding koridor itu memiliki mata yang tak berkedip memandanginya.
Galih buru-buru masuk ke kamarnya, mendorong pintu kayu rapat-rapat, lalu memutar kunci ganda dari dalam. Ia menghela napas panjang, bersandar pada pintu kayu yang dingin.
Kamar berukuran dua kali tiga meter itu terasa jauh lebih sempit dan mencekam malam ini. Bau kayu lapuk dan debu tipis tercium makin menyengat. Galih mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu tidur kecil di sudut meja plastik untuk menghemat listrik.
Ia merebahkan tubuhnya secara terlentang di atas kasur lantai yang keras. Mengingat kejadian mengintip tadi, pikiran Galih mendadak terlempar pada perkataan Fika kemarin malam.
"Sebenarnya... kostan ini berhantu, Galih... Penghuni lama sebelum kamu itu sering banget diganggu. Kadang ada suara langkah kaki di lorong, atau suara ketukan dari bawah lantai..."
Galih memiringkan posisinya menatap dinding sekat kayu. Kemarin malam ia tertawa geli dan menganggap ucapan Fika hanyalah bualan wanita penakut. Namun sekarang, berada di tengah ruangan remang dengan sensasi tak nyaman yang tak kunjung hilang, bulu kuduk di lengan Galih perlahan bergidik berdiri.
"Nggak mungkin ah... Hantu mana ada yang ngintip orang mandi?" bisik Galih mencoba merasionalisasi keadaan di dalam hatinya.
Namun, tepat saat Galih memejamkan matanya mencoba mengusir segala kecemasan dan bersiap untuk terlelap, suasana hening di kamar itu mendadak dipecahkan oleh sebuah bunyi.
Suara pelan namun sangat jelas itu berasal dari lantai semen koridor di luar kamarnya.
Galih mendadak membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya membeku kaku di atas kasur. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya sekuat tenaga.
Itu adalah suara langkah kaki seseorang! Langkah kaki yang amat lambat, berat, dan terseok-seok, merambat makin mendekat menyusuri lorong temaram dari arah depan menuju ke ujung koridor, tepat ke arah kamarnya berada.
Jantung Galih berdegup kencang bagai derap genderang perang. Darahnya berdesir hebat. Setiap pijakan langkah di luar sana menyalurkan getaran samar pada dinding kayu tempat ia bersandar.
Langkah kaki itu mendadak berhenti.
Suasana seketika hening mencekam. Tepat di balik pintu kayu kamar Galih yang hanya berjarak satu meter dari kasurnya, sosok yang melangkah itu kini berdiri diam.
Galih menegakkan posisinya secara perlahan tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Matanya melotot memandangi celah bawah pintu kayu yang temaram. Dari balik celah kecil itu, ia melihat bayangan dua pasang kaki yang berdiri mematung di luar.
Tidak ada suara ketukan pintu. Tidak ada panggilan nama. Hanya ada helaan napas berat dan panjang yang terdengar amat tipis, menembus sekat papan kayu yang melapuk.