NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:34.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Sang Mayor part 1

Pagi itu, suasana Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) di Jakarta Pusat tampak sibuk seperti biasanya. Para prajurit dan perwira berlalu-lalang menjalankan tugas masing-masing, sementara sejumlah kendaraan dinas terparkir rapi di halaman gedung.

Di salah satu ruangan kerja yang tertata rapi, Mayor Abimanyu Wicaksono duduk di balik meja kerjanya. Seragam dinas yang dikenakannya tampak rapi dan gagah, lengkap dengan tanda pangkat di bahunya. Di hadapannya, beberapa berkas penting tersusun menumpuk, menunggu untuk diperiksa dan ditandatangani.

Biasanya, Bima mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan fokus tinggi. Ketelitian dan kedisiplinannya membuatnya dikenal sebagai perwira yang tegas serta tidak suka membuang-buang waktu.

Namun, pagi ini pikirannya justru terus melayang pada percakapan dengan sang ibu sebelum ia berangkat ke kantor.

Sudah saatnya kamu menikah lagi, Bima.

Kalimat itu terus terngiang di telinganya.

Bima meletakkan pena di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia menghembuskan napas panjangnya sambil memijat pangkal hidungnya.

"Kenapa Ibu bersikeras menjodohkan aku dengan putri kerabatnya?" gumamnya seorang diri.

Tatapannya beralih pada tumpukan dokumen yang belum selesai ia periksa.

"Apakah wanita yang akan dijodohkan denganku itu seistimewa yang Ibu katakan? Sampai-sampai Ibu begitu yakin dia adalah orang yang tepat untukku?"

Bima terdiam sejenak, sebenarnya, ia tidak pernah benar-benar membenci gagasan untuk menikah lagi. Ia hanya merasa belum siap untuk membangun rumah tangga dengan seseorang yang bahkan belum dikenalnya. Pengalaman kehilangan istrinya setelah melahirkan Kaning meninggalkan luka yang tidak mudah sembuh.

Selama bertahun-tahun, ia memilih menenggelamkan diri dalam tugas. Ia berusaha menjadi seorang ayah sekaligus menjalankan tanggung jawabnya sebagai prajurit. Baginya, selama Kaning mendapatkan pendidikan yang baik, hidup berkecukupan, dan selalu berada dalam perlindungannya, semua itu sudah cukup.

Akan tetapi, perkataan ibunya pagi tadi kembali membuatnya berpikir.

"Ibu bilang Kaning sangat membutuhkan sosok figur seorang ibu."

Bima menundukkan kepalanya.

"Kaning...."

Bayangan wajah putrinya seketika muncul dalam benaknya. Ia teringat bagaimana Kaning menangis ketika harus berpisah dengan Latifah di depan gerbang Pondok Pesantren Darussalam.

Bocah itu bahkan berkali-kali meminta agar dirinya mengantar kembali ke pesantren hanya untuk bertemu dengan guru yang sangat disayanginya.

Bima mengusap wajahnya.

"Apakah aku benar-benar sudah cukup baik menjadi ayah untukmu, Nak?"

Pertanyaan itu hanya dijawab oleh keheningan ruangan. Ia menyayangi Kaning lebih dari apa pun. Namun, ia juga menyadari bahwa kesibukannya sebagai seorang perwira tidak memungkinkan dirinya untuk selalu berada di rumah. Ada kalanya ia harus berangkat pagi, pulang larut malam, atau sewaktu-waktu menjalankan tugas yang tidak bisa ditinggalkan.

Lalu, bagaimana jika suatu hari nanti Kaning kembali merasa kesepian?

Bima menghela napas panjang.

"Astaga, kenapa aku malah memikirkan hal seperti ini di tengah pekerjaan?"

Ia kembali mengambil pena, berusaha memusatkan perhatian pada dokumen di hadapannya.

Namun, belum sempat ia menyelesaikan tanda tangan pada lembar terakhir, terdengar ketukan dari arah pintu.

Tok!

Tok!

Tok!

"Masuk!" seru Bima tegas.

Pintu terbuka. Seorang perwira muda dengan pangkat Kapten masuk sambil membawa map dokumen berwarna cokelat.

Kapten Rian Pratama, sahabat sekaligus rekan kerja Bima, berdiri tegak di hadapan meja sang mayor.

"Permisi, Komandan."

Bima masih menunduk, sibuk memeriksa tanda tangan pada salah satu berkas.

"Ada apa, Kapten?"

"Maaf, Komandan. Ada dokumen penting yang harus segera Komandan tanda tangani. Selain itu, besok Kolonel Yosudarso dijadwalkan datang berkunjung."

Tidak ada jawaban.

Rian mengerjapkan matanya, lalu memperhatikan komandannya yang tampak melamun.

"Komandan?"

Bima tetap diam selama beberapa detik.

"Komandan Abimanyu?"

Barulah Bima tersadar. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Rian dengan sedikit kebingungan.

"Apa?"

Rian mengernyitkan keningnya.

"Dokumen, Komandan."

"Dokumen apa?"

"Dokumen penting yang harus Komandan tanda tangani."

Bima mengerutkan dahinya.

"Yang tadi kau katakan apa lagi?"

Rian terdiam sesaat, lalu menatap komandannya dengan ekspresi tidak percaya.

"Komandan, tadi saya bilang ada dokumen penting yang harus ditandatangani. Besok Kolonel Yosudarso juga akan berkunjung."

Bima mengusap dagunya.

"Oh, iya. Baik. Letakkan saja dokumennya di sini."

Rian menurut. Ia meletakkan map tersebut di atas meja, tetapi pandangannya masih tertuju pada Bima.

Ada yang tidak beres.

Selama mengenal Bima, ia jarang sekali melihat sahabatnya itu kehilangan fokus, terlebih ketika sedang berada di ruang kerja.

Biasanya, sekali ia memberikan instruksi, Bima akan langsung memahami apa yang harus dilakukan. Namun, kali ini pria itu bahkan harus meminta informasi yang sama diulangi.

Rian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Komandan."

"Hmmm?"

"Komandan sedang sakit?"

Bima mengangkat alisnya.

"Tidak."

"Kurang tidur?"

"Tidak juga."

"Atau jangan-jangan...."

Rian sengaja menggantungkan kalimatnya sambil menyipitkan matanya.

Bima menatapnya tajam ke arah Rian.

"Atau jangan-jangan apa, Kapten?"

Rian menahan senyum.

"Komandan sedang jatuh cinta, ya?"

Bima langsung mendongak.

"Apa-apaan kau ini, Rian?"

Rian terkekeh.

"Lho, saya cuma bertanya, Komandan. Soalnya baru kali ini saya melihat Komandan melamun sampai harus mengulang penjelasan dua kali. Jangan-jangan ada seseorang yang sedang memenuhi pikiran Komandan?"

"Sudah, jangan mengarang. Aku sedang banyak pekerjaan."

"Kalau begitu, kenapa dari tadi Komandan seperti orang kehilangan arah?"

Bima melemparkan tatapan tajam yang biasanya cukup untuk membuat bawahannya segera memperbaiki sikap.

Namun, Rian justru semakin menyeringai.

"Baiklah, baiklah. Saya tidak akan mengganggu. Tapi kalau ternyata Komandan benar-benar sedang memikirkan seseorang, jangan lupa undang saya kalau nanti menikah."

"Rian!"

"Siap, Komandan!"

Rian segera berdiri tegak, memberi hormat dengan wajah serius yang dibuat-buat.

Bima menggelengkan kepalanya.

"Dasar!"

Tawa kecil akhirnya lolos dari bibir Rian. Ia memang sudah lama mengenal Bima. Di balik sikap tegas dan pembawaannya yang dingin, sahabatnya itu sebenarnya memiliki sisi yang cukup mudah digoda jika sedang berada dalam suasana hati yang tidak biasa.

Setelah tawanya mereda, Rian menarik kursi di depan meja Bima dan duduk tanpa diminta.

Bima meliriknya.

"Kau masih di sini?"

Rian mengangguk mantap.

"Masih, Komandan."

"Kenapa?"

"Karena saya penasaran."

"Penasaran apa lagi?"

Rian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

"Sebenarnya ada masalah apa? Kalau memang bukan pekerjaan, mungkin Komandan sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat. Kita sudah berteman cukup lama. Kalau ada masalah, ceritakan saja. Siapa tahu saya bisa membantu."

Bima terdiam.

Ia mengenal Rian sebagai orang yang bisa dipercaya. Mereka telah melewati banyak tugas dan situasi sulit bersama. Meski Rian sering bercanda, pria itu juga tahu kapan harus bersikap serius.

Bima memutar pena di antara jemarinya sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja.

"Aku sedang memikirkan sesuatu yang dibicarakan ibuku pagi tadi."

Rian mengangguk, memberi isyarat agar Bima melanjutkan.

"Masalah keluarga?"

"Kurang lebih begitu."

"Kalau boleh tahu, masalah apa, Komandan?"

Bima menghela napas panjang.

"Ibuku ingin aku menikah lagi."

Rian terdiam, kemudian ia mengerjapkan mata dua kali.

"Sebentar. Apa saya tidak salah dengar?"

Bima menatapnya datar.

"Kau tidak salah dengar."

"Komandan Abimanyu Wicaksono yang terkenal paling disiplin, paling serius, dan paling sulit diganggu kalau bekerja itu sedang memikirkan perjodohan?"

"Rian!"

"Baik, baik! Saya serius sekarang."

Rian segera mengangkat kedua tangannya, lalu mengubah posisi duduknya.

"Jadi, Ibu Komandan ingin menjodohkan Komandan dengan seseorang?"

Bima mengangguk.

"Katanya, itu keinginan mendiang ayahku. Sebelum beliau meninggal, beliau memang pernah membicarakan hal tersebut. Ibu dan Ayah sudah merencanakannya dengan keluarga kerabat mereka."

"Terus?"

"Dulu aku menolak. Waktu itu istriku baru meninggal setelah melahirkan Kaning. Aku belum siap menikah lagi, apalagi dengan perempuan yang sama sekali tidak kukenal."

Rian mengangguk pelan. Kali ini, tidak ada senyum jahil di wajahnya.

Ia tahu betapa berat masa-masa yang telah dilalui Bima. Kehilangan istri, membesarkan anak seorang diri, kemudian menjalankan tugas militer yang menuntut banyak pengorbanan bukanlah perkara mudah.

"Jadi, sekarang Ibu Komandan ingin menghidupkan kembali rencana perjodohan itu?"

"Tepat sekali."

Bima menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Ibu bilang aku tidak boleh terus menutup diri. Katanya, Kaning membutuhkan sosok ibu. Dan memang benar, aku tidak bisa selalu berada di rumah karena pekerjaan."

Rian mengangguk sambil berpikir.

Bima melanjutkan, "Aku hanya tidak tahu apakah perempuan itu benar-benar bisa menerima keadaan keluargaku. Aku punya seorang anak. Kaning bukan lagi bayi yang bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan siapa pun. Dia sudah punya perasaan, sudah tahu siapa yang disayanginya, dan sudah mengalami kehilangan."

Bima terdiam sejenak.

"Aku tidak ingin menikah hanya untuk memenuhi keinginan keluarga, lalu membuat perempuan itu terluka karena aku tidak mampu memberikan apa yang seharusnya dia dapatkan."

Rian mendengarkan dengan saksama.

"Dan yang paling penting, aku tidak ingin Kaning menjadi korban dari keputusan yang salah."

Rian mengangguk mantap.

"Itu masuk akal, Komandan. Pernikahan memang bukan perkara main-main."

Bima menatap sahabatnya.

"Menurutmu, apa yang harus kulakukan?"

Bersambung...

1
Dua Putri
biasa 4 bab kk ini 2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar ya kak, insyaallah setelah Bab 40 aku kebut lagi 🤗
total 1 replies
Atik Kiswati
nyesek bgt.....
Oma Gavin
lebih baik melangkah dgn pasti dgn orang yg mau belajar hidup bersama dari pada nunggu seseorang yg belum pasti datang untuk mengajak hidup bersama
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Setuju Oma 🤗
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Nar Sih
maaf ustad firman kamu terlambatt🙏
Nar Sih
pelan ,,tpi pasti bima sdh mulai jatuh cinta dgn latifah dan semoga istri mu sgra mbls perasaan mu ya bima☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak🤭
total 1 replies
Sastri Dalila
🤭🤭🤭
Teh Euis Tea
huhhh baru senyam senyum doang nih mereka ber2 blm ehem ehem msh malu2 jd blm bisa ngintip 🤣🤭
Teh Euis Tea
cieeee udah mulai saling goda mas mayor sm Bu Ifah, ngintip achhh 🤭🤭🤭🤭🤭
Nar Sih
oalah ya ngk apa ,,klau ciuman kan udh sah dan halal
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoooll
total 1 replies
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ☺️☺️dan bnr tebakan mu kapten ryan👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Atik Kiswati
sampe kpn mrk ber2 canggung + kaku kyk gt.....panggilannya aja msh pak / bu.....
Ani: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Oke lah tak tunggu
total 4 replies
vania larasati
lanjut kak
Sastri Dalila
🤗🤗
susi ana
kok masih panggil pak sama Bu.....
Perempuan
Anda? Formal aaaamat🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih kaku kak, belum terbiasa, harap di maklum
total 1 replies
Perempuan
koq masih gitu panggilannya🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍👍
vania larasati
lanjut kak
Dua Putri
baguss. kapan mereka🤭🤭🤭😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kapan apa kak? 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!