Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kelahiran Sang Putri
Hujan deras mengguyur istana bagian barat dengan kegelapan yang pekat. Petir menyambar langit malam, melukiskan kilatan cahaya pucat yang memantul di atas atap genteng emas Istana Terlarang.
Di sudut paling terpencil dari kompleks istana, berdiri Paviliun Anggrek Hitam, tempat bersemayam Selir Kelima, bernama Selir Meizhen.
Malam itu, tidak ada lentera perayaan yang menyala di luar pintu. Yang ada hanyalah kesunyian mencekam, dan tertutup oleh gemuruh badai yang seolah sengaja dikirim langit untuk menyembunyikan rahasia besar.
"Argh!"
Lenguhan kesakitan yang membakar terdengar melengking dari balik tirai sutra merah yang telah terkoyak. Suara itu berasal dari Paviliun Selir Kelima Raja.
Selir Meizhen mencengkeram erat seprai sutra dengan jemarinya yang memutih. Keringat dingin membasahi dahi dan rambut hitamnya yang terurai berantakan, menempel di pipinya yang pucat pasi.
Di dalam kamar yang temaram, bau darah bercampur aroma dupa gaharu yang terbakar hebat terasa memekakkan hidung. Situasi di dalam ruangan itu bukan sekadar tegang, melainkan dipenuhi ketakutan yang mengancam nyawa.
Di luar paviliun, derap langkah prajurit penjaga istana berarmor besi terus terdengar meronda, atas perintah Ibu Suri dan Permaisuri yang tidak pernah menginginkan anak dari Selir Meizhen lahir ke dunia.
"Tahan, Yang Mulia! Bernapaslah perlahan, ikuti hitungan Hamba!" seru Dayang Xiu, kepala dayang yang setia menemani Meizhen sejak kecil.
Tangannya yang gemetar mengusap keringat di dahi Meizhen menggunakan kain basah, sementara matanya yang sembap terus melirik ke arah pintu kayu paviliun yang terkunci rapat.
"Aku... aku tidak kuat lagi, Xiu..." bisik Meizhen dengan suara serak, dan hampir tenggelam dalam gemuruh petir di luar. Rasa sakit yang melilit perutnya seolah merobek organ dalamnya menjadi dua. "Anak ini... dia terlalu enggan untuk melihat dunia yang kejam ini..."
"Jangan katakan itu, Yang Mulia!" potong Tabib Tua Lin yang berada di ujung tempat tidur, dan sibuk menyiapkan ramuan penghenti pendarahan.
Tangannya sigap menata jarum-jarum perak. "Bayi ini adalah darah daging Raja! Anda harus bertahan! Jika Anda menyerah sekarang, kita semua, termasuk bayi ini, akan dibantai sebelum fajar menyingsing!" lanjutnya.
Dua dayang muda lainnya, Xia dan Lan, berlarian kian kemari dengan langkah tanpa suara.
Xia membawa baskom tembaga berisi air hangat yang dengan cepat berubah warna menjadi merah pekat, sementara Lan dengan sigap menahan kedua kaki Selir Meizhen agar posisi melahirkan tetap terjaga. Meski bahu mereka bergetar hebat ketakutan, ketangkasan mereka tidak menyurut.
"Dayang Lan, tambahkan lagi minyak kayu manis pada tungku! Jangan biarkan dingin malam merasuk ke dalam rahim Yang Mulia!" perintah Tabib Lin tegas.
Brak!
Tiba-tiba, suara benturan keras menghantam gerbang luar Paviliun Anggrek Hitam. Sontak seluruh orang di dalam kamar menahan napas. Xia hampir saja menjatuhkan baskom tembaga yang dipegangnya, namun Lan dengan cepat menangkapnya sebelum menimbulkan suara gaduh.
Dari balik jendela yang tertutup rapat, terdengar suara berat seorang pengawal istana yang bertugas di bawah perintah Kasim Agung Permaisuri.
"Buka pintu! Kami mendapat laporan adanya gangguan keamanan di Paviliun Selir Kelima! Ibu Suri memerintahkan pemeriksaan seluruh area!" Suara itu dingin dan penuh tekanan.
Selir Meizhen menahan jeritannya. Ia menggigit kain sutra yang disodorkan Dayang Xiu kuat-kuat hingga benangnya terputus. Matanya membelalak lebar menahan gelombang rasa sakit berikutnya yang menghantam tanpa ampun.
Di samping itu, darah makin deras mengalir, yang menandakan proses persalinan telah mencapai puncaknya.
"Ssssh... Yang Mulia, tahan jeritan Anda... Hamba mohon, tahan..." bisik Dayang Xiu dengan air mata menetes di pipinya. Ia memeluk kepala Selir Meizhen, dan mencoba memberikan sedikit kekuatan yang tersisa dari tubuhnya sendiri.
Tabib Lin lalu memberikan isyarat mata kepada Dayang Xia. Xia pun mengangguk paham. Dengan langkah perlahan dan keberanian yang dipaksakan, ia mendekati pintu depan, namun tidak membukanya.
"Hamba mohon ampun, Pengawal Utama!" seru Xia dari balik pintu, dan mencoba meniru suara ketakutan khas seorang dayang biasa. "Selir Kelima sedang mengalami demam tinggi dan penyakit menular yang sangat berbahaya. Tabib Lin sedang memberikan perawatan khusus. Jika Pengawal masuk sekarang, risikonya wabah ini akan menyebar ke seluruh istana!"
Hening sejenak di luar. Yang terdengar hanya suara hujan yang menimpa genteng tanah liat.
"Penyakit menular?" terdengar suara pengawal itu ragu. "Atau Selir Kelima sedang mencoba menyembunyikan sesuatu?"
"Hamba tidak berani berbohong!" sahut Xia dengan nada memohon yang gemetar. "Obat yang dibakar di dalam mengandung racun pembersih udara! Sangat berbahaya bagi siapa pun yang menghirupnya!"
Di dalam kamar, Tabib Lin menatap Meizhen dengan tajam. "Sekarang, Yang Mulia! Dorong dengan seluruh kekuatan Anda! Kepala bayi sudah terlihat!"
Meizhen melepaskan gigitannya dari kain sutra. Napasnya memburu, matanya memancarkan tekad seorang ibu yang menolak untuk mati. "Nggghhh... Aaaaaarrggghhh!"
Jeritan terdesak itu meledak bersamaan dengan suara dentum petir yang sangat keras di langit, hingga menyamarkan jerit kehidupannya dari pendengaran para pengawal di luar pintu.
Dalam satu dorongan kuat yang menguras sisa-sisa hidupnya, tubuh Selir Meizhen terkulai lemas di atas bantal sutra.
Oeeek! Oeeek! Oeeek!
Tangisan bayi terdengar nyaring melintasi kamar yang remang. Seorang bayi perempuan, dengan kulit kemerahan dan rambut tipis hitam, lahir ke dunia.
Namun, tidak ada senyum lega yang mengembang. Tabib Lin dengan sangat cepat membungkus bayi itu dengan kain kain sutra tebal untuk meredam suara tangisannya.
Dayang Xiu dengan cepat menepuk-nepuk punggung sang bayi lembut agar ia tenang, sementara Lan dengan cekatan membersihkan sisa-sisa persalinan dan menyembunyikan kain-kain berdarah ke dalam kompartemen rahasia di bawah lantai kayu.
"Bayi ini... seorang Putri," bisik Tabib Lin dengan napas terengah-engah.
Selir Meizhen, dengan pandangan yang mulai kabur dan napas yang makin lemah, mengulurkan tangannya yang gemetar. "Bawa... bawa dia padaku..."
Dayang Xiu meletakkan bayi kecil itu di dalam pelukan ibunya. Meizhen menatap wajah mungil bayinya dengan air mata yang mengalir deras.
Ia tahu, kelahiran seorang putri dari dirinya, seorang selir yang dibenci oleh faksi Permaisuri, hanya akan mengundang pedang eksekutor jika tetap berada di dalam istana ini.
Terlebih lagi, sang Raja sedang berada di garis depan peperangan di perbatasan utara, dan meninggalkan mereka tanpa perlindungan sama sekali.
"Dia... dia harus selamat," bisik Meizhen lemas, seraya memegang jemari mungil anaknya. "Xiu... janjilah padaku..."
"Yang Mulia, jangan bicara seperti itu..." tangis Xiu pecah tanpa suara.
"Dengar!" tegas Meizhen, menghimpun sisa tenaga terakhirnya. Matanya menatap Xiu dengan pendar keberanian yang tak tertandingi. "Bawa dia keluar dari istana malam ini juga. Lewat saluran air bawah tanah di belakang kebun bambu. Bawa dia ke Desa Bunga Lotus di lembah selatan... berikan dia pada kakak sepupuku. Didik dia sebagai rakyat biasa... Jangan pernah biarkan dia tahu bahwa di dalam tubuhnya mengalir darah kekaisaran ini, sampai waktunya tiba..."
"Tapi Yang Mulia, bagaimana dengan Anda?" tanya Xiu panik.
"Pendarahanku tidak bisa dihentikan," ucap Meizhen pelan sambil tersenyum pahit melihat gaun sutranya yang telah dibasahi warna merah pekat. "Kehadiranku di sini akan menjadi umpan untuk mengulur waktu kalian. Jika mereka menemukan tubuhku tanpa bayi, mereka akan mengira bayiku mati gugur bersama ibunya."
"Yang Mulia!" Lan dan Xia berlutut, dan bersujud di lantai dingin dengan bahu berguncang.
"Pergi... sekarang!" perintah Meizhen dengan wibawa seorang bangsawan yang tak terbantahkan. "Tabib Lin, buat surat kematian palsu untukku dan janin ini."
Tabib Lin menunduk dalam-dalam, dan menyembunyikan kesedihannya. "Hamba mengerti, Yang Mulia Selir Kelima."
Di luar, suara pengawal kembali terdengar kian mendesak. "Kami tidak bisa menunggu lebih lama! Dobrak pintunya!"
Brak! Brak!
"Pergi!" bisik Meizhen terakhir kalinya.
Dayang Xiu menggendong bayi mungil itu rapat-rapat di balik jubah hitamnya yang tebal. Bersama Tabib Lin dan Lan yang memandu jalan, mereka melangkah masuk ke balik lemari buku kayu jati yang menggeser terbuka, dan memperlihatkan lorong rahasia yang gelap dan lembap.
Sebelum pintu rahasia itu tertutup rapat, Xiu membalikkan badan dan menatap Selir Meizhen untuk terakhir kalinya. Selir muda itu terbaring di atas ranjangnya dengan gaun merah megah, dan tersenyum tenang menatap langit-langit kamar, seakan menyambut takdir tragis demi kelangsungan hidup sang buah hati.
Pintu rahasia pun menyatu kembali dengan dinding persis saat pintu utama paviliun didobrak paksa dari luar oleh belasan pengawal berpedang terhunus.
Di dalam lorong yang gelap dan dingin, diiringi gemuruh badai yang bergolak di atas bumi Dinasti, Dayang Xiu mencium dahi bayi dalam pelukannya. Tangisan bayi itu telah reda, berganti dengan helaan napas halus yang hangat.
"Namamu adalah Putri Lianhua..." bisik Xiu pelan, air matanya menetes di pipi sang bayi. "Suatu hari nanti, rakyatmu akan memanggilmu kembali untuk menagih keadilan."
Langkah-langkah kaki mereka menghilang ditelan kegelapan lorong bawah tanah, membawa pergi satu-satunya harapan tersisa bagi masa depan kerajaan yang sedang menuju kehancuran.
Bersambung...