Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 pertengkaran hebat reza dan sora
Sorotan lampu helikopter pencari yang mendarat di landasan rooftop memecah keheningan tegang malam itu. Pasukan khusus berwibawa yang dipimpin oleh pria berjas abu-abu langsung bergerak cepat mengamankan area.
Para pengawal dewan dan Tuan Burhan yang tadinya berniat memberondong peluru kini terdiam kaku, senjata mereka diturunkan paksa di bawah todongan aparat hukum.
Di tengah kekacauan dan kebingungan para tamu undangan yang berlarian turun lewat tangga darurat, Reza tidak membuang waktu sedetik pun.
Ia merangkul pinggang Maya erat-erat, membimbing gadis berbalut jas kebesarannya itu menjauh dari kerumunan menuju lift pribadi rooftop yang sudah dikuasai oleh Rian.
"Masuk," perintah Reza singkat namun penuh perlindungan, mendorong Maya masuk ke dalam lift sebelum pintu besi tebal itu tertutup rapat dari dunia luar.
Sementara itu, di sebuah ruang istirahat pribadi VVIP di lantai bawah—jauh dari hiruk-pikuk kekacauan di rooftop—suasana mendidih dalam kemarahan yang luar biasa.
Pintu kamar itu terbanting terbuka dengan kasar. Sora melangkah masuk dengan napas memburu, air mata kemarahan dan rasa terhina bercampur aduk di wajah cantiknya.
Gaun malam perak berliannya tampak kusut di bagian ujung. Di belakangnya, Tuan Burhan menyusul dengan langkah berat dan wajah memerah padam karena emosi yang meluap-luap.
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Reza masuk seorang diri, sementara Maya diamankan oleh Rian di ruangan sebelah.
Reza mengunci pintu kamar dengan gerakan tenang, lalu berbalik menatap tajam ke arah Sora dan ayahnya.
"Reza! Kamu sudah benar-benar hilang akal!" bentak Tuan Burhan langsung menggelegar, menunjuk tepat di wajah menantunya.
"Membawa interpol masuk ke acara resmi dewan?! Kamu mau menghancurkan seluruh sindikat kita?!"
Sora tidak langsung berteriak seperti ayahnya. Wanita itu berdiri mematung di dekat meja bar mini, kedua tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya. Matanya menatap Reza dengan kilatan kebencian yang teramat dalam.
"Kamu sengaja, kan?" bisik Sora dengan suara bergetar tajam, penuh racun.
"Kamu sengaja mempermalukan aku di depan semua orang tadi malam? Kamu sengaja membawa perempuan jalang itu ke hadapan para tamu untuk menginjak-injak harga diriku?!"
Reza mendengus dingin, melipat kedua tangannya di dada dengan postur tubuh yang sangat mendominasi.
"Mempermalukan kamu? Kamu tidak perlu saya permalukan, Sora, karena tindakan busuk kamu sendiri sudah cukup membuat kamu terlihat menjijikkan di mata siapa pun."
Plak!
Suara tamparan yang sangat keras menggema di dalam ruangan tertutup itu. Sora melayangkan tangannya tepat di pipi Reza.
Kepala Reza sedikit bergeser ke samping akibat hantaman itu, namun ia bahkan tidak sedikit pun mengerjap atau meringis.
Pria itu perlahan menegakkan kembali kepalanya, menatap lurus mata Sora dengan tatapan yang jauh lebih mematikan dari sebelumnya.
"Sora! Jaga tanganmu!" maki Tuan Burhan kaget melihat tindakan putrinya.
Sora menarik napas terengah-engah, dadanya naik turun karena emosi yang meledak-ledak. Air mata kemarahannya akhirnya tumpah juga.
"Aku adalah istrimu, Reza! Aku wanita yang mengangkat derajatmu dari anak jalanan rendahan menjadi bos besar di kota ini! Tapi apa balasan kamu? Kamu lebih memilih membela pelayan murahan yang tidak punya apa-apa dibanding aku?!"
"Istri?" ulang Reza dengan nada datar yang menusuk tulang. Suaranya terdengar sangat tenang, tapi setiap kata yang terucap bagaikan silet.
"Jangan pernah sebut kata itu lagi, Sora. Pernikahan kita dari hari pertama tidak pernah didasari oleh cinta atau kesetiaan. Itu cuma kontrak kotor antara ayahmu dan ambisi kekuasaan!"
"Kontrak atau bukan, hukum tetap mencatat aku sebagai istri sahmu!" teriak Sora histeris, mencengkeram kerah jas Reza.
"Dan perempuan itu—Maya—selamanya cuma akan dipandang sebagai pelakor rendahan yang merusak rumah tangga orang lain! Kamu tidak akan pernah bisa membersihkan nama kotornya, Reza!"
Reza menepis kasar tangan Sora dari kerah bajunya, lalu mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman kuat yang membuat Sora meringis kesakitan.
"Dengar baik-baik, Sora," bisik Reza tepat di depan wajah Sora, suaranya begitu rendah namun sarat akan ancaman maut.
"Saya tidak peduli apa kata dunia luar tentang Maya. Saya tidak peduli cap apa yang ingin kamu berikan padanya. Kalau kamu atau ayahmu berani menyentuh sehelai pun rambut Maya lagi... saya bersumpah, saya akan hancurkan seluruh sisa keluarga Burhan sampai tidak ada satu pun nama kalian yang tersisa di muka bumi ini!"
Tuan Burhan yang melihat putrinya diperlakukan seperti itu langsung maju, menghunuskan tongkat kayunya ke lantai dengan geram.
"Berani sekali kamu mengancam keluarga kami di hadapanku, Reza! Kamu lupa siapa yang memegang kendali atas aset-aset rahasiamu?!"
Reza melepas cengkeramannya dari tangan Sora, lalu menatap Tuan Burhan dengan senyuman miring yang meremehkan.
"Aset? Kekuasaan? Dewan tetua?" Reza tertawa kecil sinis. "Kalian pikir saya peduli dengan semua sampah itu? Sejak hari pertama saya membawa Maya keluar dari apartemen itu, saya sudah siap kehilangan segalanya."
Sora tertegun, menatap pria di hadapannya dengan perasaan ngeri yang luar biasa. Ia sadar, ancaman Reza bukanlah gertakan kosong. Pria itu benar-benar sudah kehilangan semua rasa takutnya, dan satu-satunya alasan di balik keteguhan itu adalah perempuan bernama Maya.
"Kamu sudah gila, Reza..." bisik Sora lemah, air matanya menetes makin deras.
"Kamu rela menyerahkan seluruh hidupmu demi cewek biasa itu..."
"Dia bukan sekadar cewek biasa," balas Reza dingin. "Dia adalah satu-satunya hal nyata yang tersisa di dalam hidup saya yang penuh darah dan kebohongan ini."
Reza berbalik badan, memunggungi Sora dan Tuan Burhan yang terpaku di tempat. Ia melangkah menuju pintu keluar dengan langkah mantap.
"Kita belum selesai, Reza!" teriak Sora penuh keputusasaan dari belakang.
"Aku tidak akan biarkan kamu bahagia di atas penderitaanku! Aku akan pastikan perempuan itu mati di tanganku!"
Reza menghentikan langkahnya sejenak tanpa membalikkan badan. "Silakan coba kalau kamu berani," ucap Reza datar sebelum membuka pintu dan melangkah keluar kamar.
Begitu pintu tertutup rapat, Sora jatuh berlutut di lantai sambil menangis histeris, sementara Tuan Burhan menatap kepergian menantunya dengan mata menyala penuh rencana balas dendam yang jauh lebih gelap.
Di ruangan sebelah, Maya yang menunggu bersama Rian melihat pintu terbuka. Reza melangkah masuk dengan raut wajah dingin, namun begitu matanya menangkap sosok Maya yang duduk cemas, sorot mata pria itu langsung melunak.
Reza mendekat, langsung menarik Maya ke dalam dekapan hangatnya, memeluk gadis itu erat-erat seolah menyalurkan seluruh sisa kekuatannya.
"Kamu tidak apa-apa?" bisik Reza lembut di dekat telinga Maya.
Maya mengangguk pelan di dalam pelukan Reza, meski hatinya diliputi rasa takut yang teramat sangat.
"Reza... Tadi aku mendengar kalian berteriak... Apa tidak apa-apa kita melawan mereka separah ini?"
Reza mencium puncak kepala Maya dengan penuh kasih sayang. "Jangan pikirkan apa pun. Malam ini juga, kita pergi dari kota ini."
Maya mendongak kaget. "Pergi? Ke mana?"
Sebelum Reza sempat menjawab pertanyaan Maya, ponsel di saku jas Rian mendadak berdering nyaring. Rian mengangkat panggilan itu, namun beberapa detik kemudian, warna wajah Rian mendadak memerah pucat pasi, matanya membelalak ngeri menatap Reza.
"Tuan Besar..." suara Rian bergetar hebat. "Tim pengintai kita di jalur pelabuhan melaporkan... jalur evakuasi kita sudah dipasangi bom waktu jarak jauh oleh seseorang."
Reza membelalakkan matanya, sementara Maya menutup mulutnya karena terkejut.
BIP... BIP... BIP...
Suara dering kecil bernada digital mendadak terdengar dari dalam tas ransel kecil yang ditaruh Maya di sudut ruangan.
Bersambung.....