Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengganti
"Aku tidak mau tahu, Ma, Pa. Pokoknya aku tidak mau menikah dengan orang cacat itu!" Shania Lin membanting tubuhnya ke sofa dengan mata berkaca-kaca, sementara kedua orang tuanya hanya bisa menatap putri mereka dengan wajah penuh pertimbangan.
"Meskipun dia kaya raya, aku tidak mau menghabiskan hidupku untuk mengurusi orang cacat. Aku sudah punya calon tunangan, Kak Julian," lanjut Shania dengan suara bergetar, seolah-olah dirinya adalah pihak yang paling dirugikan dalam pernikahan tersebut.
Dia kemudian menatap ayahnya dengan tatapan memohon. "Kalau begitu, serahkan saja pernikahan ini kepada Kak Kirana. Sudah saatnya Papa menjemput dia dari desa."
Nama Kirana membuat ruangan itu mendadak sunyi. Selama dua puluh tahun, gadis itu hidup jauh dari keluarga Lin, seolah keberadaannya tidak pernah menjadi bagian penting dari keluarga tersebut.
Tuan Leo Lin terdiam cukup lama. Dia tahu keputusan ini berarti membuka kembali hubungan dengan putri yang pernah mereka buang, tetapi pernikahan itu juga merupakan kesempatan untuk menyelamatkan hubungan bisnis keluarga.
Akhirnya, pria itu mengembuskan napas panjang dan mengangguk. "Baiklah. Kalau itu keputusanmu, kita akan meminta Kirana menggantikanmu, Papa akan perintahkan orang untuk menjemputnya."
Senyum tipis muncul di wajah Shania. "Terima kasih, Pa."
Shania menundukkan wajahnya sambil menyembunyikan senyum puas.
Dalam hati dia berkata sinis, Tuan cacat dan gadis bisu. Kalian benar-benar sangat cocok.
Dii sebuah desa yang tenang, seorang gadis sedang dikelilingi oleh tujuh orang tua yang tampaknya sama sekali tidak berniat membiarkannya pergi dengan mudah.
"Kirana! Sini, sini! Kakek punya sesuatu untukmu."
"Jangan dengarkan Kakek Qi dulu. Kemari, Nenek Rose juga punya sesuatu."
"Hei! Kalian jangan berebut. Kirana dari tadi belum sempat duduk!"
Suara para nenek dan kakek itu bersahutan. Mereka memang sudah lanjut usia, tetapi sorot mata mereka masih tajam dan tubuh mereka masih terlihat kuat.
Mereka bukan orang tua biasa. Ketujuh orang itu adalah mantan ahli di berbagai bidang yang setelah pensiun memilih meninggalkan hiruk-pikuk kota dan menetap di desa tersebut.
Dua puluh tahun lalu, mereka menemukan Kirana yang masih kecil dan hidup dalam keadaan menyedihkan. Sejak saat itu, mereka membesarkannya bersama-sama dan mengajarkan segala sesuatu yang mereka kuasai.
Yang paling mengejutkan, Kirana bukan hanya mampu mempelajari semua ilmu tersebut. Gadis itu bahkan memiliki kemampuan belajar yang membuat ketujuh gurunya berkali-kali dibuat tercengang.
"Kirana, dengarkan Kakek baik-baik."
Kakek Qi akhirnya berhasil mendekati Kirana sambil menyodorkan sebuah kartu hitam. "Ini untukmu. Di dalamnya ada uang yang bisa kamu gunakan sesukamu. Jangan pernah membiarkan siapa pun merendahkanmu hanya karena mereka mengira kamu tidak punya apa-apa."
Kirana memandang kartu itu, lalu menggeleng sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Jangan bilang tidak perlu," potong Kakek Qi cepat. "Kakek tahu kamu mandiri. Tapi uang tetap berguna kalau suatu hari kamu membutuhkan sesuatu."
Kirana akhirnya menerima kartu tersebut dengan kedua tangannya. Dia tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Nah, begitu, kakek jadi lega."
Belum sempat Kirana memasukkan kartu itu ke dalam tas, Nenek Rose sudah datang membawa sebuah kotak kecil.
"Kau masih ingat semua ilmu pengobatan yang Nenek ajarkan?"
Kirana langsung mengangguk.
"Bagus. Jangan pernah melupakannya." Nenek Rose tersenyum lembut. "Di zaman sekarang, orang lebih sering mengandalkan pengobatan modern. Tapi pengetahuan yang Nenek berikan kepadamu tetap berguna, terutama kalau kau berada dalam keadaan darurat, ini ada beberapa obat penawar, dan jarum perak."
Kirana kembali mengangguk.
Nenek Rose menepuk kepalanya pelan. "Kalau ada orang sakit dan membutuhkan bantuanmu, jangan ragu menolong. Tapi jangan pula membiarkan orang memanfaatkan kebaikanmu."
Seorang nenek Martha tua ikut menyela. "Kalau ada yang berani padamu. Terutama para tuan muda kaya itu, retas sajaa perusahaannya dan masukkan virus di komputer mereka semua. Jangan kasih ampun."
Mendengar itu, seorang kakek bertubuh tegap langsung menyela.
"Kalau ada yang kurang ajar kepadamu, jangan cuma diam!"
Kirana menoleh.
Kakek itu menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. "Kau ingat semua jurus yang Kakek ajarkan, kan?"
Kirana tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Bagus. Kalau ada yang mencoba menyakitimu, lindungi dirimu sendiri."
Kakek Gu juga maju, "Kirana. Ini kunci gudang senjata kakek yang ada di kota Utama, orang-orang kakek akan mengenalmu dengan kunci ini. Ini belati dan pistol yang kakek rakit sendiri. Ingat! Andalkan dirimu sendiri."
"Hei, jangan mengajarinya berkelahi terus!" protes Nenek Rose.
"Aku bukan mengajarinya mencari masalah. Aku mengajarinya supaya tidak mudah ditindas!" balas kakek Gu.
"Kalau kalian terus begini, nanti Kirana pulang ke keluarganya bukan membawa koper, tapi membawa satu gudang senjata," gerutu kakek Yun.
Kirana spontan menutup mulutnya sambil terkekeh kecil. Matanya menyipit karena menahan tawa melihat para orang tua itu kembali berdebat.
"Sudah, sudah."
Kakek Zhiro akhirnya maju dan mengangkat kedua tangannya. "Kalian semua tenang. Kirana hanya pulang ke keluarganya, bukan pergi berperang."
Ketujuh orang tua itu akhirnya terdiam. Kirana menatap Kakek Zhiro sambil tersenyum. Namun, ekspresi beberapa orang tua kembali berubah serius.
"Zhiro benar, tapi bukan berarti kita tidak perlu khawatir," ujar Kakek Qin.
"Keluarga Lin itu bukan keluarga sederhana."
"Mereka membuang Kirana selama dua puluh tahun. Sekarang tiba-tiba mereka datang menjemputnya? Pasti ada alasannya," ujar kakek Yun.
Kirana terdiam mendengar perkataan itu. Dia memang tidak mengetahui apa yang menunggunya di rumah keluarga Lin, tetapi dia cukup pintar untuk memahami bahwa kepulangannya setelah dua puluh tahun tentu bukan tanpa alasan.
Kakek Qi menghela napas. "Kalau mereka berbuat sesuatu kepadamu, jangan tahan diri."
Nenek Rose langsung menyikut lengannya. "Jangan menakut-nakuti anak itu."
"Aku bukan menakut-nakuti. Aku mengingatkan."
Kakek Zhiro tersenyum tipis lalu menatap Kirana dengan penuh keyakinan. "Sudah. Percayakan pada Kirana. Ini kartu untukmu. Tunjukkan pada showroom mobil dan pilih saja yang kamu mau."
Dia berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di atas kepala Kirana.
"Kirana kita adalah jenius langka. Semua ilmu yang kita ajarkan sudah dia kuasai. Bahkan dalam beberapa hal, kemampuannya sudah melampaui kita."
Para tetua lainnya terdiam. Mereka tahu perkataan Kakek Zhiro bukan pujian kosong.
Kirana memang tidak sempurna menurut pandangan dunia luar. Dia tidak bisa berbicara sejak kecil, tetapi hal itu tidak pernah menghalanginya untuk belajar, berpikir, dan memahami dunia jauh lebih dalam daripada kebanyakan orang.
Kirana kemudian mengangkat kedua tangannya untuk pamit.
Nenek Rose langsung memeluk Kirana. "Kalau kau rindu, pulanglah."
Kakek Qi ikut mendekat dan memeluknya dari samping. "Dan jangan lupa telepon kami."
"Kalau keluargamu membuatmu kesal, jangan dipendam sendiri."
"Kalau mereka menyakitimu, beri tahu kami."
"Jangan berkelahi dulu!" tegur Nenek Rose.
Kakek itu langsung mengangkat kedua tangannya. "Aku cuma bilang beri tahu kami!"
Kirana kembali terkekeh. Namun kali ini, senyumnya perlahan berubah haru.
Ia memandang satu per satu wajah para orang tua yang selama dua puluh tahun telah menjadi keluarganya. Kemudian Kirana mengangkat tangannya dan memberikan hormat dengan sungguh-sungguh.
Ketujuh orang tua itu terdiam.
"Anak ini ...." Kakek Zhiro mengusap sudut matanya. "Kenapa malah membuat kita semakin ingin menangis?"
Kirana tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Dari kejauhan terlihat mobil hitam sudah menunggu.
Kirana menarik koper miliknya dan berjalan menuju mobil. Namun sebelum masuk, gadis itu kembali berbalik.
Tujuh orang tua tersebut masih berdiri di sana. Kirana mengangkat tangannya sekali lagi dalam bahasa isyarat.
Kakek Zhiro tersenyum. "Pergilah. Tunjukkan kepada mereka siapa Kirana yang sebenarnya."
Kirana mengangguk. Kemudian dia masuk ke dalam mobil.
Pintu tertutup perlahan dan kendaraan mulai bergerak meninggalkan desa. Dari balik jendela, Kirana terus memandangi tujuh orang tua yang berdiri semakin jauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Wajah Kirana tidak lagi tersenyum. Tatapannya berubah tenang dan tajam.
Dua puluh tahun telah berlalu sejak keluarga Lin membuangnya. Sekarang, mereka sendiri yang datang menjemputnya.
Kirana menghela napas panjang lalu matanya berkilat dingin. "Keluarga Lin aku pulang."
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭