Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK BUAH SIAPA
"Kamu salah paham, Retno. Wiryo cuma membantu urusan Damar."
Pak Hendra tersenyum sambil merapikan lengan jasnya. Tenang, ramah, seperti dokter yang sedang menenangkan pasien cerewet. Tapi Sinta, yang berdiri tiga langkah dari mereka, melihat jakunnya naik turun satu kali. Hanya sekali, tapi cukup.
"Urusan Damar," ulang Bu Retno pelan. "Sampai mengunci pintu toko dari dalam?"
"Mungkin ada kesalahpahaman teknis."
"Mungkin?" Bu Retno memiringkan kepala. "Wiryo, kamu yang kunci pintu itu?"
Pak Wiryo diam. Matanya melirik Pak Hendra, lalu cepat-cepat kembali ke lantai. Gerakan kecil itu lebih jujur dari seribu kalimat.
"Jawab aku."
"Saya... saya disuruh Pak Dokter menjemput Mas Damar, Bu."
"Menjemput atau menyeret?"
"Menjemput, Bu."
"Dengan senjata di pinggang?"
Hening. Beberapa pedagang di seberang jalan mulai berdiri di depan warung mereka, pura-pura membersihkan etalase sambil mencuri dengar. Tari menyodorkan ponselnya sedikit ke depan, lampu merah perekam masih menyala.
Pak Hendra tertawa kecil, tawa yang terdengar dipaksakan. "Retno, kita bicarakan ini di tempat lain saja. Jangan di depan orang banyak."
"Kenapa? Malu?"
"Kita sahabat tiga puluh tahun."
"Sahabat tiga puluh tahun tidak membeli anak buah sahabatnya di belakang punggungnya."
Kalimat itu meluncur tanpa teriak, dan justru karena itu terasa lebih tajam. Sinta menatap mertuanya dengan mata menyipit. Perempuan itu berdiri tegak di tengah trotoar, kebaya kusut dan sanggul miring, tapi wibawanya masih utuh. Seperti singa tua yang baru sadar ada serigala di dalam kandangnya.
Dan untuk pertama kali, Sinta menyadari sesuatu yang aneh: ia tidak membenci perempuan itu sehebat tadi malam. Bukan karena ia sudah memaafkan. Tapi karena ia sedang menonton orang yang sama jahatnya menghadapi orang yang lebih jahat.
"Pak Wiryo," kata Sinta tiba-tiba, melangkah maju. "Dua orang Bapak yang menunggu di bengkel Mas Reza. Tarik mereka sekarang."
"Siapa kamu menyuruh saya?"
"Saya yang punya rekaman Bapak mengancam orang di depan Bu Retno barusan." Sinta menatapnya tanpa berkedip. "Dan sekarang Bu Retno tahu Bapak ternyata dobel kerja. Menurut Bapak, siapa yang lebih murka, Pak Hendra atau beliau?"
Wajah Pak Wiryo menegang. Matanya bergeser pada Bu Retno, yang menatapnya dengan sorot tanpa belas kasihan.
"Telepon mereka, Wiryo," perintah Bu Retno datar. "Sekarang. Di depanku."
"Bu..."
"Aku tidak akan ulangi."
Pak Wiryo merogoh ponsel dari saku jaket dengan tangan yang jelas tak lagi mantap. Ia menempelkannya ke telinga, bicara singkat dan rendah. "Tarik. Iya. Sekarang. Jangan tanya." Lalu menutup sambungan dan menatap Sinta dengan pandangan penuh dendam yang ia tahan sekuat tenaga.
"Selesai."
"Terima kasih, Pak." Sinta tersenyum manis, senyum yang membuat lelaki itu mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. "Kalau ada satu rambut Mas Reza yang jatuh, rekaman ini sampai ke polisi, wartawan, dan Ikatan Dokter. Dalam urutan itu."
"Kamu memerasku?"
"Saya hanya bernegosiasi."
Tari menahan tawa di balik masker. Damar, yang sejak tadi berdiri membeku di dekat pintu toko, memandang istrinya dengan campuran heran dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mirip rasa kagum yang tak berani ia akui.
Bu Retno tiba-tiba bertepuk tangan sekali. Keras. Semua kepala menoleh.
"Cukup. Semuanya bubar." Suaranya kembali menjadi suara nyonya rumah besar yang tak terbantahkan. "Wiryo, pulang. Besok pagi kamu datang ke rumahku, sendiri. Hendra, kamu juga. Kita bicara di ruang tamu, tanpa orang luar."
"Retno, ini benar-benar tidak perlu..."
"Perlu."
Pak Hendra menatapnya lama, dan senyumnya akhirnya runtuh sedikit. Hanya sedikit. Cukup untuk memperlihatkan sesuatu yang dingin dan penuh hitungan di balik wajah ramahnya. Ia mengangguk perlahan.
"Baik. Sampai besok."
Ia berbalik dan berjalan ke sedan hitamnya, tapi langkahnya terhenti sejenak di samping Sinta. Tanpa menoleh, dengan suara yang hanya bisa didengar perempuan itu, ia berbisik datar.
"Kamu tidak tahu sedang bermain dengan apa."
"Anda juga tidak tahu sedang bermain dengan siapa, Dok."
Pak Hendra tersenyum miring, lalu masuk ke mobil dan pergi bersama Pak Wiryo yang menyusul dengan motornya.
---
Jalan di depan toko kembali lengang. Para pedagang bubar, kembali ke kesibukan masing-masing. Tari menyimpan ponselnya, mendekat ke Sinta dan menyentuh pergelangannya yang lebam keunguan.
"Ya Tuhan, ini harus dikompres. Tadi aku hampir kehilangan akal waktu dengar kamu disentak di telepon."
"Aku baik-baik saja."
"Kamu mau aku antar ke tempat Reza sekarang? Cek dia aman?"
"Telepon saja dulu. Aku ada urusan di sini."
Tari mengangguk, menyingkir sedikit sambil menghubungi nomor Reza. Sinta menarik napas panjang, lalu menoleh ke belakang. Bu Retno berdiri di depannya, jaraknya hanya dua langkah, wajahnya sulit dibaca.
"Kamu perempuan yang menyusahkan," ucap Bu Retno datar.
"Saya tahu."
"Kamu hampir menghancurkan keluargaku dalam tiga hari."
"Keluarga Ibu sudah hancur sebelum saya masuk. Saya hanya menunjukkan retaknya."
Bu Retno menatapnya sangat lama. Matanya yang tua dan tajam menelusuri wajah Sinta seperti hakim yang membaca berkas perkara. Lalu, perlahan, ia menoleh pada Damar.
"Damar, masuk ke toko. Urus pelangganmu."
"Bu, tapi Sinta..."
"Masuk."
Damar menatap Sinta sekali, ragu, sebelum akhirnya menurut. Pintu toko tertutup di belakangnya. Tari, yang paham isyarat, ikut menjauh ke ujung trotoar dengan alasan mencari sinyal.
Kini hanya mereka berdua. Dua perempuan, satu bertubuh renta tapi keras, satu muda tapi baru belajar mengeras. Matahari pagi jatuh miring di antara mereka, menyorot debu yang melayang pelan di udara.
"Aku ingin bertanya sesuatu," kata Bu Retno, dan suaranya kini nyaris tak terdengar, kehilangan semua nada angkuh. "Kamu dapat informasi tentang Wiryo dari mana?"
"Dari orang yang jadi korban Pak Hendra."
"Siapa?"
"Itu tidak akan saya katakan."
"Kamu tidak percaya padaku."
"Ibu menampar saya empat kali kemarin, menyebut saya gila di depan polisi, dan mengunci saya di paviliun." Sinta menatapnya datar. "Kenapa saya harus percaya?"
Bu Retno tidak membantah. Ia hanya menghela napas panjang, panjang sekali, seperti orang yang menyimpan udara sepanjang hidupnya dan baru kali ini melepaskannya.
"Aku tidak tahu Wiryo pindah ke Hendra," akunya pelan. "Dua tahun. Dua tahun dia makan dari tanganku sambil menyuap orang lain."
"Ibu terkejut?"
"Aku tidak pernah terkejut." Bibirnya melengkung getir. "Hanya kecewa. Dan marah pada diriku sendiri."
Sinta diam. Ia tidak mengerti kenapa dadanya terasa aneh. Bukan iba, bukan simpati. Mungkin hanya kebingungan melihat monster yang selama ini ia takuti ternyata juga bisa dikhianati.
"Hendra bilang apa padamu soal rencananya?" tanya Sinta.
"Cucu keluarga Wiryawan. Itu rencana kami berdua." Bu Retno menegakkan bahu. "Damar tidak bisa punya anak. Aku tidak mau tanah, toko, dan nama keluarga kami jatuh ke tangan sepupu-sepupunya yang rakus. Melia sudah hamil dari lelaki lain. Hendra bilang dia bisa mengatur supaya anak itu tampak sah. Aku setuju."
"Itu kejahatan, Bu."
"Itu bertahan hidup."
"Itu menipu seorang bayi sebelum dia lahir."
Bu Retno terdiam. Ada sesuatu yang berkedip di wajahnya, mungkin malu, mungkin sekadar kelelahan.
"Tapi sekarang aku curiga," lanjutnya lirih. "Hendra terlalu bersemangat. Dia menawarkan semua urusan administrasi: akta kelahiran, surat wasiat, perubahan nama di sertifikat tanah. Aku pikir dia sekadar membantu. Tapi kalau Wiryo sudah bekerja untuknya selama dua tahun..."
"Berarti Pak Hendra sudah merencanakan ini jauh sebelum Ibu menyetujuinya."
"Atau dia sengaja membuatku merasa itu ideku sendiri."
Sinta menatap mertuanya, dan untuk pertama kali sejak tinggal di rumah itu, ia melihatnya sebagai manusia. Bukan sosok tak tersentuh dengan tangan penuh tamparan, tapi seorang perempuan tua yang selama ini mengira dirinya dalang, padahal hanya bidak di papan orang lain.
"Dan sekarang Ibu mau apa?" tanyanya.
"Aku butuh bantuanmu."
Kalimat itu begitu tak terduga hingga Sinta sempat mengira ia salah dengar.
"Apa?"
"Aku butuh bantuanmu, Sinta." Bu Retno menatapnya lurus, tanpa senyum, tanpa kepura-puraan. "Kamu satu-satunya orang di kota ini yang berani melawan Hendra, dan satu-satunya yang tahu cukup banyak untuk menjatuhkannya."
"Ibu baru kemarin menyebut saya gila."
"Dan kamu baru saja membuktikan aku salah." Rahang Bu Retno mengeras. "Aku tidak minta kamu memaafkanku. Aku tidak akan minta maaf, karena aku tidak menyesal. Tapi aku menawarkan sesuatu yang kamu butuhkan."
"Apa?"
Bu Retno mendekat, merendahkan suara hingga hanya Sinta yang bisa mendengarnya. Napasnya berbau sirih dan kopi pahit, mata tuanya berkilat tajam di antara kerutan.
"Amplop yang kamu cari. Aku tahu di mana aku menyimpannya. Dan aku tahu isinya bukan cuma hasil lab Damar."
"Apa lagi yang ada di dalamnya?"
Bu Retno menegakkan badan, wajahnya kembali tak terbaca, dan menjawab dengan satu kalimat yang membuat dunia Sinta berhenti berputar untuk kedua kalinya dalam seminggu.
"Surat pernyataan yang kamu tanda tangani tujuh tahun lalu, Sinta. Yang kamu pikir sudah dibakar waktu kamu menikah dengan anakku."