Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Ayah yang Kubunuh Tiga Ribu Tahun Lalu
“Aku adalah Gu Yuan yang kau bunuh tiga ribu tahun lalu.”
Kalimat itu menggantung di udara seperti pisau yang menunggu dijatuhkan.
Gu Chen berdiri membeku. Ia ingin tertawa, mengumpat, atau sekadar mengatakan bahwa lelaki di hadapannya sudah kehilangan akal sehat. Sayangnya, tidak ada satu pun reaksi itu yang terasa cukup masuk akal untuk menghadapi situasi ini.
Ia menatap lelaki berjubah putih itu dari kepala hingga kaki.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku punya beberapa pertanyaan.”
Lelaki itu mengangguk.
“Pertama, kenapa semua orang di dunia ini begitu senang mengatakan bahwa aku pernah melakukan sesuatu yang tidak kuingat? Kedua, kenapa setiap kali aku menemukan seseorang yang mungkin bisa menjelaskan masa laluku, dia justru menambahkan sepuluh masalah baru? Ketiga, apakah kalian semua dibayar untuk berbicara dengan cara yang menyebalkan?”
Lin Yue memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan senyumnya.
Bai justru terlihat semakin tegang.
“Gu Chen, ini bukan waktunya bercanda.”
“Aku tidak bercanda. Aku sedang berusaha menjaga kewarasanku sebelum seseorang memberitahuku bahwa aku juga pernah menciptakan alam semesta, membunuh para dewa, dan menikahi seekor naga.”
A-Ning mengangkat tangan kecilnya.
“Bukankah kau memang pernah membunuh seorang dewa?”
Gu Chen perlahan menoleh.
“Diam.”
Gadis itu menurunkan tangannya.
Lelaki berjubah putih tidak tertawa. Ia hanya memperhatikan Gu Chen dengan tatapan yang sulit dimengerti, seolah sedang melihat seseorang yang telah lama hilang dan akhirnya ditemukan kembali.
“Kau masih sama,” katanya.
“Jangan mengatakan hal seperti itu seolah kau mengenalku.”
“Aku mengenalmu lebih baik daripada siapa pun.”
“Kalau begitu, kau pasti tahu bahwa aku tidak suka orang asing mengaku sebagai ayahku.”
Lelaki itu mengangguk pelan.
“Benar. Kau selalu membenci kebohongan.”
“Bagus. Jadi, mulailah dengan mengatakan kebenaran.”
Gu Chen menghunus pisaunya dan mengarahkannya ke dada lelaki itu.
“Siapa kau sebenarnya?”
Lelaki berjubah putih memandang ujung pisau tersebut.
“Aku adalah sisa dari seseorang yang pernah kau bunuh. Bukan tubuh asliku, bukan pula jiwa yang utuh. Aku hanya ingatan yang disimpan di dalam Kota Wuming.”
“Ingatan Gu Yuan?”
“Ya.”
“Kalau begitu, kenapa kau mengatakan bahwa aku membunuhmu?”
“Karena itulah yang terjadi.”
Gu Chen menggeleng.
“Mustahil. Aku bahkan belum lahir tiga ribu tahun lalu.”
“Menurut catatan sejarah, kau memang belum lahir.”
“Dan menurut kenyataan?”
Lelaki itu terdiam.
“Menurut kenyataan,” jawabnya kemudian, “kau sudah ada sebelum sejarah mengenal namamu.”
Sebelum Gu Chen sempat membalas, Bai melangkah maju.
“Jangan percaya semuanya. Arsip ini bisa menyimpan ingatan, tetapi ingatan juga bisa diubah.”
Lelaki berjubah putih menatapnya.
“Dan kau masih suka menyebut kebohongan sebagai perlindungan.”
Bai mengepalkan tangan.
“Aku tahu apa yang kulihat tiga ribu tahun lalu.”
“Tidak. Kau hanya tahu apa yang diizinkan untuk kau lihat.”
Untuk pertama kalinya, Bai tidak memiliki jawaban.
Gu Chen memperhatikan pertukaran mereka. Ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perselisihan antara dua orang tua yang menyimpan rahasia. Mereka berdua mengetahui kejadian yang sama, tetapi memiliki versi berbeda tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Dan salah satu dari mereka mungkin telah membohonginya sejak awal.
“Cukup,” kata Gu Chen. “Aku tidak peduli siapa yang paling pandai berbicara. Aku ingin bukti.”
Lelaki berjubah putih mengangkat tangan.
Sebuah lembaran kertas melayang turun dari langit-langit, lalu berhenti tepat di hadapan Gu Chen.
Di atasnya terdapat sebuah catatan kuno.
ARSIP KEJADIAN: HARI TERAKHIR DINASTI WUMING.
WAKTU: TIGA RIBU TAHUN SEBELUM KALENDER SAAT INI.
SUBJEK UTAMA: GU YUAN, PENJAGA PAPAN KETIGA.
SUBJEK KEDUA: IDENTITAS TIDAK DIKENAL.
HASIL: DINASTI WUMING MUSNAH. DELAPAN RATUS EMPAT PULUH TUJUH RIBU ENAM RATUS DUA BELAS JIWA KEHILANGAN KEBERADAAN.
Gu Chen membaca baris berikutnya.
PENYEBAB: SUBJEK KEDUA MEMBUNUH GU YUAN UNTUK MEMBEBASKAN SATU ORANG.
Ia berhenti.
“Untuk membebaskan siapa?”
Lelaki berjubah putih menatapnya lama.
“Kau tidak akan menyukai jawabannya.”
“Aku sudah tidak menyukai apa pun sejak memasuki kota ini. Katakan saja.”
“Seorang anak perempuan.”
A-Ning yang sejak tadi berdiri diam mendadak menundukkan kepala.
Gu Chen memperhatikannya.
“Anak perempuan siapa?”
“Anak perempuan yang seharusnya tidak pernah dilahirkan,” jawab Gu Yuan.
Gu Chen menoleh kepada Bai, tetapi lelaki itu tampak sama terkejutnya.
“Tidak pernah dilahirkan?” ulang Lin Yue.
Gu Yuan mengangguk.
“Dia adalah hasil dari sebuah kemungkinan yang dihapus oleh para pemain. Dalam sejarah asli, dia tidak pernah ada. Namun, seseorang menolak menerima kenyataan tersebut.”
Gu Chen merasakan kepalanya mulai sakit.
Sebuah gambaran samar muncul di benaknya: tangan kecil yang menggenggam jarinya, suara tangisan di ruangan putih, serta seorang perempuan yang berdiri di balik pintu.
Wajah perempuan itu tidak terlihat.
Namun, ia mendengar suaranya.
Jangan tinggalkan aku lagi.
Gu Chen terhuyung.
Lin Yue segera memegang lengannya.
“Gu Chen?”
“Aku baik-baik saja.”
“Kau terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu.”
“Di kota ini, aku tidak yakin apakah hantu lebih buruk daripada orang hidup.”
Gu Yuan mengamati perubahan wajahnya.
“Kau mulai mengingatnya.”
“Apa yang sebenarnya kau lakukan kepadaku?”
“Aku berusaha menyelamatkanmu.”
“Dengan membiarkanku membunuhmu?”
Gu Yuan menutup mata.
“Pada hari terakhir Dinasti Wuming, kau datang ke menara ini untuk mengambil seorang anak perempuan. Para pemain telah menyegel keberadaannya di dalam Arsip Kesepuluh. Mereka menganggapnya sebagai kesalahan yang dapat merusak seluruh susunan dunia.”
“Dan aku?”
“Kau adalah orang yang mereka tugaskan untuk menghapusnya.”
Gu Chen tidak berkedip.
“Aku bekerja untuk para pemain?”
“Pada waktu itu, kau memiliki hak untuk mengubah beberapa aturan dunia. Kau bukan sekadar bidak. Kau adalah salah satu alat yang mereka gunakan untuk memastikan bahwa sejarah berjalan sesuai keinginan mereka.”
Bai menggeleng perlahan.
“Itu tidak mungkin. Tidak ada catatan tentang seseorang dengan kewenangan seperti itu.”
“Karena catatannya telah dihapus,” jawab Gu Yuan. “Termasuk namanya.”
Gu Chen merasakan jari-jarinya mendingin.
Nama pertamanya.
Orang yang pernah menjadi dirinya.
Sosok berambut putih dengan lingkaran hitam di mata kiri.
Semua petunjuk itu seakan mengarah ke satu tempat, tetapi ia belum memiliki cukup keberanian untuk menyatukannya.
“Lalu kenapa aku membunuhmu?” tanyanya.
“Karena aku menghalangimu membawa anak itu pergi.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu apa yang akan terjadi jika kau membebaskannya.”
Gu Chen menatapnya tajam.
“Jadi, kau menghalangiku menyelamatkan seseorang, dan aku membunuhmu karena itu?”
“Ya.”
“Lalu seluruh kota musnah?”
“Ya.”
Gu Chen tertawa pendek. Tidak ada kegembiraan dalam suara itu.
“Luar biasa. Ternyata aku memang orang yang menyebalkan.”
“Bukan hanya menyebalkan,” kata Gu Yuan. “Kau menghancurkan seluruh dinasti karena tidak bisa menerima satu kehilangan.”
Keheningan kembali menyelimuti aula.
Kali ini Gu Chen tidak menjawab dengan lelucon.
Sebab jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa sangat familier dari kalimat tersebut.
Seolah ia pernah mendengarnya dari mulutnya sendiri.
Tiba-tiba lonceng hitam di atas meja bergetar.
Gu Yuan langsung menoleh.
“Tidak mungkin.”
Bai bergerak mundur.
“Siapa yang mengaktifkan arsip?”
Tidak ada yang menjawab.
Lembaran-lembaran kertas di dinding mulai terbakar tanpa api. Nama-nama di atasnya berubah menjadi simbol yang tidak dapat dibaca. Dari lantai terdengar suara retakan, seolah seluruh menara sedang menahan tekanan yang sangat besar.
Kemudian muncul sebuah tulisan di udara.
\[PERINGATAN: ARSIP KESEBELAS SEDANG DIBUKA.\]
Gu Chen mengerutkan kening.
“Bukankah hanya ada sepuluh papan?”
“Benar,” jawab Bai.
“Lalu apa itu Arsip Kesebelas?”
Bai tidak menjawab. Wajahnya justru memucat.
Gu Yuan berdiri di depan meja dan menatap lonceng hitam.
“Ini bukan bagian dari rencana.”
“Rencana siapa?” tanya Lin Yue.
“Rencana orang yang membuat Kota Wuming.”
“Bukankah kota ini sudah musnah tiga ribu tahun lalu?”
Gu Yuan menoleh kepadanya.
“Musnahnya sebuah kota tidak berarti semua yang ada di dalamnya ikut mati.”
Lantai aula terbelah.
Dari celah itu muncul sebuah tangga batu yang mengarah ke bawah. Udara dingin mengalir keluar, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang menyerupai darah lama.
Di ujung tangga terdengar suara seseorang tertawa.
Suara itu membuat Gu Chen memegangi kepalanya.
Ia mengenalinya.
Bukan dari kehidupan yang sekarang, melainkan dari tempat yang jauh lebih dalam, tempat kenangan-kenangan yang dihapus masih terkubur.
Sebuah suara berbisik di benaknya.
Jangan turun.
Kemudian suara lain menyusul.
Kalau kau tidak turun, dia akan mati lagi.
Gu Chen menutup mata rapat-rapat.
Lin Yue menggenggam lengannya.
“Jangan dengarkan suara itu.”
“Aku tidak tahu suara siapa yang sedang kudengar.”
“Kalau begitu, jangan memilih salah satunya sebelum kau tahu kebenarannya.”
Gu Chen membuka mata dan menatap Lin Yue.
Untuk sesaat, ia hampir melupakan semua kekacauan di sekelilingnya. Gadis itu tidak memintanya percaya kepada siapa pun. Ia hanya memintanya berpikir.
Itu jauh lebih masuk akal daripada nasihat siapa pun yang mereka temui sejak tiba di kota ini.
Gu Chen menoleh kepada Gu Yuan.
“Apa yang ada di bawah sana?”
“Arsip yang menyimpan semua kemungkinan yang pernah dihapus.”
“Termasuk anak perempuan itu?”
“Termasuk dia.”
“Kalau begitu, kita turun.”
“Tidak.”
Gu Yuan berdiri menghalangi tangga.
“Jika kau turun, kau mungkin akan mengingat nama pertamamu.”
“Bukankah itu yang kita cari?”
“Bukan hanya namamu yang akan kembali. Kau juga akan mengingat alasan mengapa kau membunuhku.”
Gu Chen mengangkat pisaunya sedikit.
“Aku sudah mendengar bahwa aku membunuhmu. Apa lagi yang bisa lebih buruk daripada itu?”
Gu Yuan menatapnya dengan mata yang dipenuhi kesedihan.
“Kau tidak membunuhku untuk menyelamatkan anak perempuan itu.”
Gu Chen membeku.
“Lalu untuk apa?”
Gu Yuan menundukkan kepala.
“Kau membunuhku karena aku memberitahumu bahwa anak perempuan itu adalah orang yang akan membunuhmu.”
Suara tawa dari bawah tangga semakin keras.
A-Ning tiba-tiba mencengkeram lengan Lin Yue.
Wajahnya pucat.
“Kita harus pergi.”
Gu Chen menatap gadis kecil itu.
“Kenapa?”
A-Ning mengangkat wajah. Matanya kini dipenuhi air mata.
“Karena dia sudah bangun.”
“Siapa?”
Gadis itu menunjuk ke bawah tangga.
“Aku.”
Pada saat yang sama, seluruh lampu di aula padam.
Sebuah tangan kecil muncul dari kegelapan dan meraih ujung pakaian Gu Chen.
Tangan itu sama persis dengan tangan A-Ning.
Kemudian suara seorang gadis terdengar dari bawah tangga.
“Kakak, akhirnya kau kembali.”
Gu Chen menoleh perlahan.
A-Ning masih berdiri di samping Lin Yue, gemetar ketakutan.
Namun, tangan yang memegang pakaiannya berasal dari sosok lain yang berdiri tepat di belakangnya.
Seorang gadis kecil dengan wajah yang sama.
Hanya saja, gadis kedua memiliki rambut putih dan mata berwarna hitam seluruhnya.
Ia tersenyum kepada Gu Chen.
“Sudah tiga ribu tahun, Kakak.”
Lalu ia berbisik, “Kali ini, jangan bunuh Ayah demi menyelamatkanku.”
Bersambung ke Bab 17.