NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 — KEWENANGAN YANG SEHARUSNYA TELAH BERAKHIR

Pagi itu, Arga Pratama kembali duduk di ruang arsip sementara bersama Nadia Prameswari. Di atas meja terdapat salinan dokumen yang mereka terima sehari sebelumnya.

Judulnya cukup jelas: DAFTAR PENERIMA INSTRUKSI ADMINISTRATIF — REV-17.

Namun, bagian terpenting justru kosong.

Pada kolom penerima, nama Mira Kinasih tercantum sebagai pihak yang menerima salinan instruksi. Sementara itu, kolom pemberi instruksi hanya mencantumkan keterangan, “Kewenangan Eksternal — Referensi AUTH-03.”

Tidak ada nama individu. Tidak ada tanda tangan yang dapat diverifikasi.

Arga membaca kembali dokumen itu, kemudian meletakkannya di atas meja.

“Kalau dokumen ini asli, berarti Mira menerima instruksi. Tapi kita belum tahu siapa yang mengeluarkannya,” ujar Arga.

Nadia mengangguk.

“Dan kita juga belum tahu apakah instruksi tersebut benar-benar menjadi alasan pemeriksaan lampiran keselamatan dihentikan.”

“Benar. Kita tidak boleh menganggap satu dokumen sebagai jawaban untuk semua pertanyaan.”

Nadia membuka laptopnya dan menampilkan indeks korespondensi REV-17 yang mereka temukan sebelumnya.

“Ada satu hal yang menggangguku. AUTH-03/REV disebut dalam indeks, tetapi surat aslinya tidak ada di arsip utama. Kalau surat itu memang pernah diterbitkan, seharusnya ada catatan pengiriman, penerimaan, atau setidaknya nomor penyimpanannya.”

“Jadi kita cari jejak perpindahannya.”

“Sudah kuajukan permintaan kepada tim audit. Mereka sedang mencocokkan indeks lama dengan daftar penyimpanan sekunder.”

Arga memandang layar laptop.

“Bagaimana kalau surat aslinya memang sengaja tidak dimasukkan ke arsip utama?”

“Bisa saja. Tapi kita belum punya bukti bahwa itu dilakukan dengan sengaja.”

Arga tersenyum tipis.

“Kau mulai terdengar seperti aku.”

“Karena kalau terus bekerja bersamamu, aku harus belajar mengulang kalimat yang sama setiap hari.”

Arga tertawa kecil. Ketegangan di antara mereka sedikit mencair.

Namun, ketika Nadia menerima pesan masuk dari tim audit, ekspresinya langsung berubah serius.

“Ada kabar.”

Arga mendekat.

Pesan itu menyatakan bahwa indeks penyimpanan sekunder mencatat sebuah paket dokumen berlabel AUTH-03/REV — LAMPIRAN KEWENANGAN DAN BATAS WAKTU. Paket tersebut pernah dipindahkan dari ruang administrasi pengawasan menuju tempat penyimpanan sementara, tetapi nomor rak akhirnya tidak tercatat.

“Batas waktu?” tanya Arga.

Nadia mengangguk pelan.

“Selama ini kita hanya tahu AUTH-03 berkaitan dengan kewenangan eksternal. Kita belum mengetahui apakah kewenangan itu berlaku tanpa batas atau hanya untuk keadaan tertentu.”

“Kalau ada batas waktunya, kita bisa memeriksa apakah instruksi REV-17 dikeluarkan ketika kewenangan itu masih berlaku.”

“Dan jika sudah berakhir, kita perlu tahu siapa yang memiliki wewenang untuk memperpanjangnya.”

Arga berdiri.

“Kita ajukan pencarian resmi. Jangan mencari sendiri di ruang penyimpanan yang belum mendapat izin.”

Nadia menutup laptopnya.

“Permintaan sudah kukirim. Tim audit meminta kita menunggu sampai mereka memastikan lokasi paket tersebut.”

Arga mengangguk. Ia tidak menyukai menunggu, tetapi ia memahami bahwa satu langkah ceroboh bisa merusak bukti yang telah mereka kumpulkan.

Lima tahun lalu, ia kehilangan nama baik karena sebuah laporan yang tidak pernah diperiksanya secara menyeluruh.

Kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun mengubah fakta menjadi kesimpulan yang menguntungkan mereka.

Menjelang siang, Arga kembali ke arena kompetisi otomotif nasional.

Babak final tinggal beberapa hari lagi. Timnya bersama Rendy Mahardika dan Dimas Prakoso harus menyelesaikan pengujian sistem pemantauan mesin yang akan digunakan dalam demonstrasi akhir.

Di meja kerja, Dimas sedang mengamati grafik suhu dan tekanan.

“Arga, ada sesuatu yang aneh di sini,” katanya.

Arga menghampiri layar.

“Bagian mana?”

“Ketika suhu naik melewati ambang tertentu, sistem memberi peringatan terlalu lambat. Aku sudah mengganti parameter pembacaan, tetapi hasilnya masih sama.”

Rendy, yang sedang memeriksa rangkaian sensor, ikut mendekat.

“Kalau kita mengurangi ambang peringatan, sistem mungkin akan terlalu sering memberi alarm.”

“Betul,” jawab Arga. “Kita jangan langsung mengubah ambang. Kita harus tahu dulu apakah masalahnya berasal dari sensor, jalur komunikasi, atau keterlambatan pemrosesan.”

Ia mengambil alat ukur, kemudian meminta Dimas mencatat waktu pembacaan dari sensor hingga data muncul di layar.

Rendy memeriksa konektor, sementara Arga membandingkan hasil pembacaan dengan alat ukur independen.

Mereka menjalankan pengujian beberapa kali.

Hasilnya konsisten. Sensor membaca perubahan suhu dengan benar, tetapi data membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai modul pemantauan ketika beberapa kanal aktif bersamaan.

“Bukan sensornya,” kata Arga. “Ada antrean data di jalur komunikasi.”

Dimas mengamati hasil pengujian.

“Jadi kita harus mengubah cara sistem mengirim data?”

“Bukan sekadar mengubahnya. Kita perlu memprioritaskan data keselamatan tanpa menghilangkan catatan dari kanal lain.”

Rendy menyilangkan tangan.

“Kalau kita mengirim peringatan keselamatan lebih dulu, data lain mungkin tertunda.”

“Benar. Karena itu kita perlu menguji beban maksimum dan memastikan data yang tertunda tetap tercatat. Sistem yang bagus bukan sistem yang hanya terlihat cepat ketika diuji dalam kondisi ideal.”

Mereka bekerja selama hampir dua jam.

Setelah beberapa kali pengujian, sistem akhirnya mampu menampilkan peringatan keselamatan lebih cepat tanpa menghilangkan catatan pengukuran lainnya.

Dimas mengembuskan napas lega.

“Akhirnya.”

Rendy menepuk bahu Arga.

“Jangan senang dulu. Di final nanti, aku akan membuat sistemku lebih baik daripada punyamu.”

Arga mengangkat alis.

“Silakan. Aku lebih suka kalah karena lawanku memang lebih baik daripada menang karena lawanku membuat kesalahan.”

Rendy terdiam sesaat, lalu tertawa.

“Dulu, kalau kau bicara seperti itu, aku pasti menganggapmu sedang menyindirku.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku menganggapmu sedang menantangku.”

“Bagus. Berarti kau mulai mengerti.”

Dimas menggeleng sambil tersenyum.

“Kalian berdua kalau bertengkar soal mesin bisa sampai besok pagi.”

Mereka tertawa bersama.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga merasakan bahwa persaingan tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan. Ada orang yang ingin mengalahkannya, tetapi juga bersedia belajar darinya.

Sayangnya, di luar arena kompetisi, masih ada seseorang yang berusaha mengubur kebenaran masa lalu.

Sore harinya, Arga menerima panggilan dari Nadia.

“Tim audit menemukan sesuatu,” katanya tanpa basa-basi.

“Apa yang mereka temukan?”

“Paket AUTH-03/REV belum ditemukan secara fisik, tetapi ada catatan digital mengenai isi lampirannya. Menurut indeks, dokumen itu memuat tiga bagian: dasar kewenangan, batas waktu berlaku, dan prosedur pengalihan wewenang.”

Arga berhenti berjalan.

“Apakah batas waktunya tercatat?”

“Ya. Catatan indeks menyebutkan bahwa salah satu kewenangan eksternal diberikan secara sementara untuk menangani gangguan sistem selama periode pengujian. Namun, tanggal akhir pada salinan indeks tidak terbaca lengkap.”

“Apakah periode itu mencakup malam pengujian ARX-9?”

“Belum bisa dipastikan. Ada dua versi indeks. Versi pertama menyebutkan bahwa kewenangan berakhir setelah evaluasi awal. Versi kedua mencantumkan tambahan waktu, tetapi tidak ada nomor persetujuan yang bisa dicocokkan.”

Arga mengerutkan kening.

“Jadi ada dua versi mengenai masa berlaku kewenangan.”

“Benar. Tapi jangan langsung menyimpulkan ada pemalsuan. Bisa jadi salah satunya merupakan draf atau catatan yang belum diperbarui.”

“Siapa yang mengesahkan versi kedua?”

“Itulah masalahnya. Kolom pengesahan kosong.”

Arga terdiam sejenak.

Lima tahun lalu, ia pernah melihat pola serupa. Dokumen yang belum lengkap tetap digunakan sebagai dasar keputusan, sedangkan lampiran yang bisa menjelaskan keadaan sebenarnya justru menghilang dari laporan akhir.

Namun, ia menahan diri untuk tidak menyamakan kedua kejadian itu sebelum bukti-buktinya diperiksa.

“Apakah tim audit bisa mendapatkan sumber kedua versi tersebut?” tanyanya.

“Mereka sedang menelusuri cadangan arsip dan riwayat perubahan indeks. Mereka juga akan meminta keterangan dari mantan petugas administrasi yang menangani AUTH-03.”

“Bagus. Pastikan mereka memeriksa tanggal pembuatan, riwayat perubahan, dan jalur penyimpanannya. Kita perlu mengetahui apakah kedua versi itu memang berasal dari sistem yang sama.”

“Sudah kusampaikan.”

Sebelum mengakhiri panggilan, Nadia menambahkan, “Ada satu informasi lagi. Nama Gunawan Wiratama muncul pada catatan penerimaan paket arsip lama. Namun, catatan itu hanya menunjukkan bahwa kantornya menjadi tujuan administrasi. Belum ada bukti bahwa dia menerima atau membaca lampiran tersebut secara pribadi.”

Arga memandang jalan di depannya.

“Jangan hubungi dia dengan tuduhan. Minta tim audit memeriksa catatan penerimaan dan identitas petugas yang menanganinya.”

“Kau benar-benar tidak mau mengambil kesimpulan sebelum waktunya, ya?”

“Kalau aku melakukannya, apa bedanya aku dengan orang-orang yang menghancurkan hidupku lima tahun lalu?”

Nadia tidak langsung menjawab.

“Baik. Kita tunggu hasil pemeriksaan.”

Malam itu, Arga kembali ke Agung Joyo Motor.

Pak Darto sedang merapikan perkakas ketika Arga masuk. Di atas meja terdapat buku catatan lama milik Pak Darto, beberapa lembar salinan dokumen, dan secangkir kopi yang sudah hampir dingin.

“Bagaimana perkembangan penyelidikanmu?” tanya Pak Darto.

Arga meletakkan tasnya.

“Kami menemukan petunjuk bahwa kewenangan eksternal dalam AUTH-03 mungkin memiliki batas waktu. Ada dua versi indeks yang berbeda, tetapi dokumen aslinya belum ditemukan.”

Pak Darto terdiam.

“Dua versi?”

“Ya. Satu menyebut kewenangan berakhir setelah evaluasi awal. Versi lainnya menunjukkan ada tambahan waktu, tetapi persetujuannya tidak tercatat.”

Pak Darto menarik kursi dan duduk.

“Kalau begitu, kau harus berhati-hati. Dalam proyek besar, kewenangan sementara terkadang diperpanjang ketika terjadi keadaan darurat. Namun, perpanjangan seperti itu harus memiliki dasar dan catatan yang jelas.”

“Apakah Bapak pernah melihat dokumen perpanjangan AUTH-03?”

Pak Darto berpikir cukup lama.

“Aku tidak ingat pernah melihat dokumen lengkapnya. Waktu itu aku berada di bagian teknis komponen. Aku tidak mengurus administrasi kewenangan eksternal.”

“Apakah Bapak mengenal orang yang mengelola dokumen tersebut?”

“Aku mengenal beberapa petugas administrasi, tetapi itu tidak berarti mereka mengetahui seluruh keputusan. Sebagian hanya menerima, mencatat, lalu meneruskan dokumen sesuai instruksi.”

Arga mengangguk. Penjelasan itu sejalan dengan keterangan Mira sebelumnya.

Pak Darto lalu mengambil buku catatan lamanya.

“Coba lihat halaman ini.”

Arga membuka halaman yang ditunjuk. Di sana terdapat catatan singkat dengan tulisan tangan yang sudah memudar:

“PENGUJIAN DITUNDA — MENUNGGU KONFIRMASI KEWENANGAN.”

Di bawahnya ada tanggal yang sesuai dengan periode menjelang insiden ARX-9.

“Bapak menulis ini?”

Pak Darto mengangguk.

“Aku mencatatnya setelah menerima pemberitahuan bahwa pekerjaan teknis harus menunggu konfirmasi dari pihak pengawasan. Aku tidak menulis nama pemberi instruksi karena saat itu aku hanya menerima informasi tersebut.”

“Apakah Bapak ingat siapa yang menyampaikan pemberitahuan itu?”

“Tidak dengan pasti. Ada beberapa orang yang berkomunikasi melalui jalur administrasi. Aku tidak ingin menyebut nama seseorang hanya berdasarkan ingatan yang sudah bertahun-tahun.”

Arga memeriksa catatan tersebut dengan saksama.

“Apakah Bapak pernah menerima surat yang menjelaskan bahwa kewenangan eksternal diperpanjang?”

Pak Darto menggeleng.

“Kalau pernah, aku tidak menyimpannya. Tetapi ada satu hal yang masih kuingat. Setelah pengujian dihentikan, beberapa orang mengira keputusan itu sudah final. Padahal, dari sisi teknis, kami masih menunggu penjelasan mengenai ketidaksesuaian konfigurasi.”

Arga menutup buku catatan.

“Berarti penghentian pengujian dan penyelesaian evaluasi mungkin merupakan dua hal yang berbeda.”

“Benar. Pengujian bisa dihentikan demi keselamatan, tetapi itu tidak otomatis menjawab siapa yang bertanggung jawab atas masalah teknisnya.”

Kalimat itu membuat Arga teringat pada laporan akhir yang menyalahkannya.

Ia pernah meminta pengujian dihentikan karena menemukan ketidaksesuaian. Namun, dalam laporan yang kemudian digunakan untuk menilai dirinya, permintaan itu justru diperlakukan seolah-olah menjadi bukti kesalahannya.

Arga mengepalkan tangan, lalu perlahan melepaskannya.

Kali ini, ia tidak akan membiarkan kemarahannya mendahului bukti.

Pukul 21.17, pesan baru masuk ke ponsel Arga dari nomor yang tidak dikenal.

Pesannya singkat.

“Jangan hanya mencari siapa yang memberi instruksi. Cari siapa yang mengubah tanggal berakhirnya kewenangan.”

Arga membaca pesan itu dua kali.

Beberapa detik kemudian, sebuah gambar menyusul. Gambar tersebut memperlihatkan potongan tabel indeks AUTH-03/REV. Resolusinya rendah, dan bagian kepala dokumen tidak terlihat.

Di salah satu baris, terdapat dua kolom tanggal.

Tanggal pertama tampak jelas: tanggal berakhirnya kewenangan sementara.

Tanggal kedua sebagian tertutup bayangan, tetapi masih terlihat bahwa tanggal itu lebih akhir daripada tanggal pertama.

Di sebelahnya tercantum kode perubahan: EXT-02.

Arga segera meneruskan gambar tersebut kepada Nadia dengan catatan bahwa sumber dan keasliannya belum terverifikasi.

Tidak lama kemudian, Nadia menelepon.

“Aku sudah melihat gambarnya. Aku tidak bisa memastikan itu dokumen asli, tetapi kode EXT-02 patut diperiksa.”

“Apakah kode itu muncul dalam indeks yang kita miliki?”

“Belum. Aku akan meminta tim audit mencari semua catatan perubahan dengan kode tersebut. Jangan menyebarkan gambar itu dulu.”

“Setuju.”

“Arga,” kata Nadia dengan nada lebih serius, “kalau tanggal itu benar-benar diubah, kita harus mengetahui kapan perubahan dilakukan dan siapa yang mengesahkannya. Jangan sampai kita hanya menemukan potongan dokumen yang membuat kita curiga, tetapi tidak bisa membuktikan apa pun.”

“Aku mengerti.”

Panggilan berakhir.

Arga kembali menatap gambar itu. Ia tidak tahu siapa pengirimnya, apakah gambar tersebut autentik, atau mengapa seseorang terus memberinya petunjuk secara anonim.

Namun, untuk pertama kalinya, arah penyelidikan mereka mulai bergeser.

Mereka tidak lagi hanya mencari siapa yang mengeluarkan instruksi untuk menunda pemeriksaan lampiran keselamatan. Mereka harus mencari tahu apakah kewenangan yang digunakan untuk mengeluarkan instruksi itu masih berlaku pada saat keputusan dibuat.

Jika kewenangan tersebut telah berakhir, perubahan tanggalnya mungkin menjelaskan bagaimana sebuah instruksi administratif tetap dapat digunakan.

Tetapi jika perubahan itu sah, mereka harus mencari dokumen persetujuan yang mendasarinya.

Keduanya membutuhkan bukti.

Arga memasukkan ponsel ke saku, lalu menatap bengkel yang mulai sepi.

Lima tahun lalu, sebuah keputusan diambil di balik pintu ruang pengawasan. Sebuah laporan disusun. Sebuah nama dijatuhkan.

Kini, di antara catatan yang hilang dan dokumen yang berbeda versi, ia mulai melihat celah yang belum pernah diperiksa dengan benar.

Dan di balik celah itu, mungkin ada seseorang yang mengetahui persis kapan kewenangan tersebut seharusnya berakhir.

Ponselnya kembali bergetar.

Pesan baru dari nomor yang sama muncul di layar.

“EXT-02 bukan perubahan pertama. Cari perubahan sebelumnya—EXT-01. Nama petugas yang memprosesnya masih tercatat dalam arsip.”

Arga menatap layar tanpa berkedip.

Seseorang bukan hanya mengetahui keberadaan dokumen yang hilang.

Seseorang juga mengetahui urutan perubahan yang terjadi di dalamnya.

Arga segera mengambil buku catatannya dan menulis dua kode tersebut dengan huruf besar.

EXT-01.

EXT-02.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kebenaran tentang malam pengujian ARX-9 mungkin tidak hanya tersembunyi dalam satu laporan yang diubah, tetapi dalam rangkaian perubahan administratif yang selama ini dianggap tidak penting.

Namun, sebelum ia sempat menuliskan pertanyaan berikutnya, sebuah pesan tambahan masuk.

“Periksa EXT-01 sebelum meminta nama pemrosesnya. Orang yang tercatat sebagai pemroses belum tentu orang yang mengubah keputusan.”

Arga membaca kalimat itu berulang kali.

Kemudian ia mematikan layar ponselnya.

Ia tidak akan mengejar nama hanya karena seseorang menyuruhnya.

Kali ini, ia akan menemukan dokumennya terlebih dahulu.

Lalu, ia akan membiarkan bukti berbicara.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!