Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.
Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.
Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Tabib Terhebat di Masa Depan
Hari itu, suasana di sekitar kediaman Tetua Keenam, Yi Min tampak jauh lebih tenang dibandingkan keramaian yang terjadi di bagian lain sekte.
Di dekat kediaman Yi Min terdapat sebuah taman herbal yang cukup luas. Berbagai tanaman obat tumbuh di petak-petak yang telah diatur dengan rapi. Sebagian merupakan tanaman biasa yang sering digunakan untuk meracik obat, sementara yang lainnya tergolong herbal langka yang membutuhkan perawatan khusus.
Seorang pemuda sedang bekerja di antara petak-petak herbal tersebut. Ia mengenakan pakaian sederhana dan membawa sebuah keranjang kecil. Dengan gerakan hati-hati, ia memetik beberapa tanaman yang telah mencapai tingkat kematangan yang diinginkan. Pemuda itu adalah Li Quong, cucu Tabib Yi Min sekaligus adik seperguruan Boqin Changing.
Sejak kecil, Li Quong telah terbiasa berada di dekat berbagai tanaman obat. Ia sering membantu neneknya menyiapkan bahan pengobatan, membersihkan herbal, serta mempelajari sifat dan kegunaan masing-masing tanaman.
Seiring bertambahnya usia, ketertarikannya terhadap ilmu pengobatan semakin besar. Ia tidak ingin hanya menjadi cucu seorang tabib terkenal. Li Quong juga memiliki cita-cita untuk menguasai ilmu pengobatan dan suatu hari nanti mampu membantu banyak orang. Oleh karena itulah, ia selalu mengerjakan tugasnya dengan serius.
Pagi itu, ia sedang memeriksa beberapa tanaman yang telah ditanam cukup lama. Ia mengambil salah satunya, mengamati warna daunnya, lalu mendekatkannya ke hidung untuk mencium aromanya.
"Hmm... sepertinya sudah cukup matang."
Li Quong mengangguk kecil, kemudian meletakkan tanaman tersebut ke dalam keranjang.
Ia melanjutkan pekerjaannya dengan penuh konsentrasi. Sesekali, ia membungkuk untuk memeriksa bagian akar atau menyentuh permukaan daun guna memastikan tanaman itu siap dipanen.
Begitu fokusnya tertuju pada pekerjaan, ia bahkan tidak menyadari seseorang telah mendekat dari belakang.
"Quong’er!"
Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat tubuhnya sedikit tersentak.
Li Quong buru-buru berbalik. Ketika melihat siapa yang berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya langsung berubah.
Ia segera menegakkan tubuh dan menangkupkan kedua tangan.
"Salam, Tetua Keempat!"
Pemuda yang baru saja datang itu tidak lain adalah Boqin Changing. Melihat reaksi Li Quong yang begitu formal, Boqin Changing langsung tertawa kecil.
"Hahaha! Untuk apa bersikap sekaku itu? Kita sedang berada di taman herbal, bukan di aula sekte."
Li Quong menggaruk kepalanya dengan sedikit canggung.
"Maaf, Tetua Keempat. Aku terlalu terbiasa bersikap seperti itu setiap kali bertemu denganmu."
Boqin Changing menggeleng sambil tersenyum.
"Sudahlah. Jika hanya ada kita berdua, panggil saja aku seperti biasanya."
Li Quong ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Baik, Chang gege."
Boqin Changing tersenyum puas mendengar panggilan itu. Ia kemudian memandang keranjang yang dibawa Li Quong, lalu melirik petak-petak tanaman obat di sekeliling mereka.
"Kau sedang memanen herbal?"
"Benar, Chang gege. Nenek memintaku menyiapkan beberapa tanaman obat untuk persiapan pengobatan yang akan dilakukannya."
Boqin Changing mengangguk pelan.
"Begitu rupanya."
Ia memperhatikan Li Quong selama beberapa saat. Pemuda itu memang cukup tekun dalam mempelajari ilmu pengobatan. Dibandingkan kebanyakan murid seusianya, pengetahuannya mengenai tanaman obat juga jauh lebih baik. Tidak mengherankan jika Boqin Changing ingin melibatkannya dalam pengobatan Huo Jian dan adiknya.
Boqin Changing kemudian memasukkan kedua tangan ke balik lengan jubahnya dan tersenyum.
"Ayo, kita cari tempat untuk berbicara."
Li Quong sedikit terkejut.
"Berbicara tentang sesuatu, Chang gege?"
Boqin Changing tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu berbalik dan mulai berjalan meninggalkan taman herbal.
"Istirahatlah sebentar dari pekerjaanmu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
Li Quong segera meletakkan keranjangnya di tempat yang aman. Setelah memastikan tanaman-tanaman yang telah dipanen tidak akan rusak, ia menyusul Boqin Changing dengan rasa penasaran.
Ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan kakak seperguruannya itu. Namun, berdasarkan ekspresi Boqin Changing, Li Quong merasa bahwa pembicaraan kali ini mungkin berkaitan dengan sesuatu yang penting.
...******...
Mereka akhirnya pergi ke teras kediaman Tetua Keenam, Yi Min. Tempat itu cukup tenang. Beberapa tanaman hias tumbuh di sepanjang jalan setapak, sementara aroma herbal dari taman di dekatnya sesekali terbawa angin.
Tetua Yi Min sedang keluar untuk mengurus persiapan pengobatan Huo Jian dan adiknya. Karena itu, hanya mereka berdua yang berada di kediaman tersebut.
Boqin Changing duduk di salah satu kursi kayu di teras. Ia memandang pemandangan di sekelilingnya dengan santai, seolah-olah sedang berkunjung untuk menikmati suasana.
Tidak lama kemudian, Li Quong datang membawa teko dan dua cangkir teh. Ia meletakkan semuanya di atas meja kecil, lalu menuangkan teh untuk Boqin Changing.
"Chang gege, silakan minum."
Boqin Changing mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih."
Li Quong duduk di hadapannya. Setelah memandang kakak seperguruannya itu sejenak, ia akhirnya bertanya dengan rasa penasaran.
"Chang gege, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Boqin Changing tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat cangkir teh dan mengamati Li Quong di balik kepulan uap tipis yang naik dari permukaannya.
Pemuda di hadapannya masih terlihat muda. Wajahnya juga belum menunjukkan kedewasaan seperti yang pernah ia lihat dalam kehidupan sebelumnya. Namun, Boqin Changing tahu betul kemampuan dan sifat pemuda itu.
Dalam kehidupan pertamanya, ketika namanya telah dikenal di seluruh dunia persilatan dan ia menjadi Penguasa Dunia, Li Quong yang telah dewasa merupakan salah satu pengikutnya.
Bukan hanya itu, Li Quong juga termasuk orang yang paling bisa ia percaya. Di tengah banyaknya orang yang mendekatinya karena kekuasaan dan kekuatannya, pemuda itu tetap menjadi salah satu orang yang bisa diandalkannya.
Kini, di kehidupan keduanya, mereka telah dipertemukan jauh lebih awal.
Boqin Changing tersenyum tipis. Ia merasa cukup puas melihat Li Quong tumbuh dengan baik di hadapannya.
"Quong'er, apa kau sudah mendengar bahwa nenekmu akan melakukan pengobatan terhadap orang-orang yang dantiannya rusak?"
Li Quong segera mengangguk.
"Sudah, Chang gege. Nenek memberitahuku tentang hal itu."
Boqin Changing meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
"Lalu, bagaimana reaksimu?"
Li Quong terdiam sejenak. Ia kemudian menjawab dengan ekspresi serius.
"Aku tidak keberatan."
Ia mengangkat kepalanya dan menatap Boqin Changing dengan penuh keyakinan.
"Chang gege, sejak awal aku memang ingin menguasai ilmu pengobatan. Aku ingin menjadi tabib terhebat di dunia suatu hari nanti agar aku bisa berdiri di sisimu tanpa merasa rendah diri."
Li Quong mengepalkan tangannya di atas lutut.
"Jika kesempatan seperti ini datang, bagaimana mungkin aku menolaknya? Aku justru harus belajar sebanyak mungkin dari nenek. Jika hal seperti ini saja kutolak, aku akan merasa malu ketika berhadapan denganmu."
Mendengar jawaban tersebut, senyum Boqin Changing semakin lebar.
"Bagus. Sepertinya kau sudah memahami apa yang seharusnya kau lakukan."
Li Quong menggaruk kepalanya dengan sedikit malu.
"Aku masih harus belajar banyak, Chang gege."
"Kalau begitu, belajarlah dengan sungguh-sungguh."
Boqin Changing mengangkat cangkirnya dan meneguk teh yang telah disiapkan Li Quong. Setelah meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja, ia berdiri sambil merapikan lengan jubahnya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi."
Li Quong langsung tertegun.
"Hah? Chang gege, kau sudah mau pergi?"
Ia menatap Boqin Changing dengan wajah kebingungan. Kakak seperguruannya itu baru saja datang, bahkan mereka belum berbicara terlalu lama. Namun, sekarang ia sudah hendak meninggalkan kediaman tersebut.
Boqin Changing hanya tersenyum tanpa memberikan penjelasan. Ia melangkah hendak meninggalkan teras. Namun, tepat sebelum pergi, ia tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dan menggerakkan jari telunjuknya ke arah Li Quong.
Sinar terang muncul dari ujung telunjuknya.
Swoosh!
Seberkas cahaya meluncur dengan cepat dan langsung memasuki kepala Li Quong. Pemuda itu bahkan belum sempat bereaksi ketika Boqin Changing kembali menggerakkan telunjuknya.
Swoosh!
Cahaya kedua menyusul dan memasuki kepalanya melalui cara yang sama.
Li Quong membelalakkan mata. Tubuhnya seketika menegang, sementara wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya. Ia segera memegang kepalanya, lalu menatap Boqin Changing seolah-olah baru saja menyaksikan sesuatu yang mustahil.
"Chang gege...”
Boqin Changing menarik kembali tangannya dengan santai.
"Aku baru saja memberimu sesuatu."
Li Quong masih belum bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Boqin Changing mengangguk.
"Ada dua hal yang baru saja kumasukkan ke dalam pikiranmu. Pelajari keduanya dengan baik."
Ia mengangkat dua jari, lalu menjelaskan dengan nada tenang.
"Satu akan meningkatkan kemampuan pengobatanmu. Sementara yang lainnya akan meningkatkan kemampuan bela dirimu."
Li Quong terdiam. Ia bisa merasakan bahwa dua pengetahuan yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya bukanlah sesuatu yang sederhana. Banyak informasi yang sebelumnya tidak pernah ia pelajari kini tersimpan dengan jelas di benaknya.
Sebagian berkaitan dengan ilmu pengobatan yang sangat mendalam, sedangkan sebagian lainnya berhubungan dengan teknik bela diri yang jauh melampaui pengetahuan yang pernah ia pelajari.
Hanya dengan menyadari sedikit isi dari kedua pengetahuan itu, Li Quong sudah bisa merasakan betapa berharganya pemberian tersebut. Ia menatap Boqin Changing dengan mata yang masih dipenuhi keterkejutan.
"Chang gege, ini..."
"Jangan terburu-buru mempelajarinya sekaligus," potong Boqin Changing sambil tersenyum. "Pahami perlahan-lahan. Ilmu yang baik tidak akan berguna jika kau hanya menghafalnya tanpa mengerti maknanya."
Li Quong segera mengangguk dengan sungguh-sungguh.
"Baik, Chang gege. Aku pasti akan mempelajarinya dengan baik."
Boqin Changing menepuk bahunya.
"Bagus. Aku menantikan hari ketika kau benar-benar menjadi tabib dan pendekar yang hebat."
Setelah mengatakan itu, Boqin Changing berbalik dan meninggalkan kediaman Tetua Yi Min.
Li Quong tetap berdiri di teras, menatap punggung kakak seperguruannya yang semakin menjauh. Ia masih merasa sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Sesaat kemudian, ia kembali duduk dan memejamkan mata untuk memeriksa dua pengetahuan yang kini tersimpan dalam pikirannya.
Semakin ia memahaminya, semakin besar pula keterkejutannya. Kedua pemberian itu jelas bukan sesuatu yang bisa ia peroleh dengan mudah, bahkan jika ia menghabiskan bertahun-tahun mencari guru terbaik di dunia.
Li Quong menarik napas panjang. Tatapannya perlahan berubah menjadi penuh tekad.
"Chang gege, aku tidak akan mengecewakan kepercayaanmu."