Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Nabila mengangguk kecil memberikan semangat.
Luna akhirnya menerima jabatan tangan wanita itu dengan sangat hati-hati.
"Halo Tante Rina, nama saya Luna," ucap gadis kecil itu tersenyum manis menampakkan deretan gigi susunya yang rapi.
"Aduh lucunya! Dia pintar sekali bicara ya Leon, Nabila," puji Tante Rina mencubit gemas pipi Luna.
"Tentu saja dia pintar, dia kan anak Leon Wegan," jawab Leon menyombongkan diri dengan bangga.
Luna terus diajak berkenalan oleh banyak kerabat keluarga Wegan yang lain.
Meskipun awalnya takut, tapi Luna mulai merasa nyaman karena orang-orang ini berbicara dengan nada yang sangat lembut dan sopan padanya.
Mereka sama sekali tidak seperti orang-orang di jalanan atau Tante Sinta yang suka membentaknya dengan kasar.
"Papa, ternyata orang kaya itu baik-baik ya? Tidak seperti yang dibilang Ibu Siska," bisik Luna di telinga Leon saat mereka sedang beristirahat di sofa.
Leon tersenyum tipis mendengar bisikan putrinya itu.
"Tentu saja sayang, karena mereka tahu kalau kamu adalah putri Papa. Mereka tidak akan berani jahat padamu," jawab Leon menanamkan rasa percaya diri pada anaknya.
Pesta perkenalan itu berlangsung sangat meriah dan sukses hingga larut malam.
Satu per satu tamu undangan mulai berpamitan pulang dengan membawa senyum puas dan rasa hormat yang semakin besar pada keluarga Leon.
Saat jam dinding besar di ruang tamu menunjukkan pukul sebelas malam, pintu utama akhirnya ditutup rapat setelah tamu terakhir pulang.
"Huft... capeknya," keluh Nabila melepaskan sepatu hak tingginya dan bersandar di sofa empuk.
"Iya, kakiku juga pegal berdiri terus dari tadi," tambah Leon duduk di samping istrinya dan memijat pelan bahu Nabila.
Luna yang sudah sangat mengantuk menyandarkan kepalanya di paha Leon dengan mata setengah terpejam.
"Papa... besok Luna tidak usah pakai baju berat ini lagi ya? Luna mau pakai kaos oblong saja buat tidur," gumam Luna menguap lebar.
"Iya sayang, besok kamu bebas pakai baju apa saja yang paling nyaman buatmu," jawab Leon mengusap rambut putrinya.
Leon menggendong tubuh Luna yang sudah tertidur pulas dan membawanya naik ke lantai atas menuju kamar barunya.
Nabila mengikuti dari belakang sambil membawakan tiara berlian milik Luna yang sudah dilepas.
Setelah meletakkan Luna di atas ranjang kereta labunya dan menyelimutinya dengan hangat, Leon dan Nabila kembali ke kamar mereka sendiri.
"Leon, soal adikku Sinta tadi... aku benar-benar minta maaf," ucap Nabila saat mereka sedang bersiap untuk tidur.
"Sudah kubilang jangan bahas lagi parasit itu sayang," potong Leon memeluk pinggang istrinya dari belakang.
"Aku cuma takut ibuku di kampung marah besar karena aku memutus uang bulanannya dan mengusir Sinta," lanjut Nabila mengutarakan kekhawatirannya.
Leon memutar tubuh Nabila agar menghadap ke arahnya dan menatap mata istrinya lekat-lekat.
"Biarkan saja ibumu marah, Nabila. Keluargamu sudah terlalu lama memanfaatkan kebaikanmu tanpa pernah menghargaimu," tegas Leon.
"Sekarang saatnya kamu fokus pada keluarga kecil kita ini saja, pada aku dan Luna," bujuk Leon mengecup kening istrinya.
Nabila menghela nafas panjang dan akhirnya mengangguk setuju dengan ucapan suaminya.
"Kamu benar, tugasku sekarang adalah membahagiakan Luna dan melupakan masa lalu yang menyakitkan," gumam Nabila menyandarkan kepalanya di dada Leon.
"Bagus. Karena mulai minggu depan, tugas kita akan bertambah satu lagi," ucap Leon tersenyum penuh rahasia.
"Tugas apa maksudmu?" tanya Nabila mendongak menatap suaminya bingung.
"Aku sudah mendaftarkan Luna ke sekolah paling elit di ibu kota, Sekolah Internasional Royal Star," jawab Leon membongkar rencananya.
Mata Nabila membelalak lebar mendengar nama sekolah yang sangat terkenal dan mahal itu.
"Tapi Leon, Luna belum pernah masuk sekolah TK atau PAUD sebelumnya. Apa dia bisa mengikuti pelajaran di sana?" tanya Nabila merasa cemas dengan pendidikan putrinya.
"Sekolah Royal Star itu bukan tempat untuk belajar mengeja huruf A B C sayang," jelas Leon tertawa pelan.
"Itu adalah tempat di mana anak-anak konglomerat bersosialisasi dan membangun jaringan kekuasaan sejak dini," lanjut Leon dengan pola pikir bisnisnya yang kental.
"Aku akan menyewa guru privat terbaik di rumah untuk mengajari Luna membaca dan menulis dalam waktu seminggu ini," tambah Leon sudah memikirkan semua persiapannya dengan matang.
Nabila memijat pangkal hidungnya membayangkan putrinya yang polos harus berhadapan dengan anak-anak manja dari keluarga super kaya lainnya.
"Aku harap Bianca tidak pernah bersekolah di sana," ucap Nabila tiba-tiba teringat pada anak palsu itu.
Raut wajah Leon seketika berubah menjadi sangat dingin saat nama itu disebut.
"Tentu saja tidak. Anak penipu itu dulu aku masukkan ke sekolah elit lainnya karena sekolah Royal Star terlalu eksklusif untuk anak dengan otak udang sepertinya," jawab Leon menghina anak kecil itu tanpa ampun.
"Lalu bagaimana nasib Bianca sekarang?" tanya Nabila penasaran karena dia tidak pernah melihat anak itu lagi sejak diusir.
"Asisten Budi lapor kalau anak itu sudah dibawa oleh dinas sosial ke panti asuhan ketat khusus anak jalanan kemarin sore," jawab Leon dengan nada tidak peduli.
"Baguslah, semoga di sana dia bisa belajar bersikap sopan dan menghilangkan sifat kasarnya itu," komentar Nabila merasa sedikit kasihan tapi juga lega.
"Jangan buang rasa kasihanmu untuk anak bajingan, sayang. Ayo kita tidur, besok kita harus mencari guru privat untuk putri kita," ajak Leon mematikan lampu kamar utama tersebut.
Hari berganti dan pagi yang cerah kembali menyapa kediaman keluarga Wegan.
Luna sedang sarapan dengan sangat lahap di ruang makan, menikmati roti selai cokelat dan segelas susu sapi segar.
"Pelan-pelan makannya sayang, cokelatnya sampai cemong ke pipi begitu," tegur Nabila tertawa membersihkan sudut bibir putrinya dengan tisu.
"Rotinya enak sekali Mama! Luna mau makan ini terus setiap pagi boleh?" tanya Luna dengan mulut penuh roti.
"Tentu saja boleh sayang, Mama akan suruh koki membuatkan roti paling enak khusus untukmu setiap hari," jawab Nabila mencium pipi Luna.
Leon berjalan masuk ke ruang makan sambil memegang sebuah tablet komputer.
"Pagi sayang-sayangku," sapa Leon mengecup pipi istrinya lalu mengecup puncak kepala putrinya.
"Pagi Papa! Papa sudah mau berangkat kerja lagi?" tanya Luna menatap jas rapi ayahnya.
"Iya sayang, Papa harus cari uang yang banyak buat beli mainan untuk Luna," jawab Leon bercanda membuat putrinya tersenyum lebar.
"Oh iya, siang nanti akan ada seorang guru perempuan yang datang ke rumah," ucap Leon menatap istrinya.
"Dia adalah guru privat terbaik yang aku bayar sangat mahal untuk mengajari Luna membaca dan menulis sebelum masuk sekolah Royal Star minggu depan," lanjut Leon menjelaskan kedatangan tamu mereka hari ini.
Luna menghentikan kunyahannya dan menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan wajah polos.
"Sekolah? Luna mau disuruh sekolah seperti anak-anak kaya di pinggir jalan itu Papa?" tanya Luna tidak mengerti.
"Iya sayang, kamu harus sekolah biar pintar dan punya banyak teman baru," jawab Nabila mengelus rambut putrinya.
Mendengar kata sekolah dan teman baru, bayangan kelam masa lalu kembali melintas di kepala gadis kecil itu.
"Luna tidak mau sekolah, Mama," tolak Luna dengan suara pelan menundukkan kepalanya.
"Kenapa sayang? Di sekolah itu banyak mainan dan kamu bisa main sama anak-anak seumurmu," bujuk Nabila merasa heran dengan penolakan putrinya.
"Kata Ibu Siska, anak gembel tidak boleh sekolah. Nanti kalau ketahuan, gurunya akan memukul tanganku pakai penggaris besi," ucap Luna dengan tubuh mulai gemetar mengingat ancaman masa lalunya.
Hati Leon dan Nabila kembali terasa perih mendengar ketakutan yang sangat mendalam dari anak mereka itu.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget