NovelToon NovelToon
Amanda Si Penjual Ikan

Amanda Si Penjual Ikan

Status: tamat
Genre:Teen / Komedi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Amanda anak sekolah yang ingin menggapai cita-cita, kisah anak kampung yang ingin sukses di tengah konflik keluarga.
Cerita ini di bumbui dengan kisah komedi. Yang penting dibaca dulu aja, super thanks🥰🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepuluh

"Udah daftar sekolahnya neng?" tanya emak, lapak lagi sepi.

Amanda sibuk filet Ikan Patin.

"Udah Amanda hubungi sama Ibu Ani namanya, sabtu sore kalau bisa ke Yayasan dulu ketemu" kata Amanda.

"Emang bayar berapa neng?" kata emak.

"Katanya gratis mak', dapat bantuan...yang penting manda punya paket pulsa buat belajar online" kata Amanda.

Home Schooling Komunitas belajar buat anak kurang mampu yang punya keiginan belajar, belajarnya setiap malam dari jam empat sore sampai jam sembilan malam, berjadwal. Amanda dapat informasi dari pelanggan di Tiktok yang suka beli ikan.

"Mudah-mudahan Manda bisa sekolah lagi ya nak.." kata Emak.

"Iya mak.."

**

Pulang dari Pasar, hujan deras lagi, sudah musim penghujan.

Jalanan mulai banjir.

Pengumuman grup RT sungai bakalan meluap.

Amanda nyopotin Aki sepeda listrik, pake jas hujan.

"Bawa aja dulu ke balai kelurahan, nitip di sono" kata Emak, sambil sibuk nyiapin papan buat bale-bale, takut kebanjiran.

"Iya mak.." kata Amanda, hujan deras banget jalanan lumayan tergenang.

"Manda...kemana?" tanya Ali, di depan rumahnya ngecek got sama orang-orang banyak, mungkin pembantunya.

"Ini...mau bawa ke Balai" kata Amanda sambil nunjukin Balai kelurahan yang emang masih jauh.

Guntur jedak-jeduk, dur-der-dor sama petir.

Hujannya lebat banget.

"Titipin sini aja yuk..." Ali malah narik tangan Amanda bawa masuk sepeda listrik ke dalam pagar rumahnya.

Rumah Ali emang luas, halamanya gede, tanahnya juga  tinggi, di tinggiin lagi supaya nggak banjir, pasti nggak bakalan banjir.

"Tapi li..kagak ape-ape? "tanya Amanda nitip sepeda di garasi ali yang luas keramik lampu hias pula, nitipin sepeda butut.

"Nggak apa-apa, motor lo mana?" tanya ali, malah nanyain si karbu.

Ada dirumah.

"Cepetan bawa kesini aja bentar lagi kebanjiran" kata Ali.

"Iya li..nitip ya..." kata Amanda.

Cus...Amanda ke rumah lagi, air sudah naik ke mata kaki.

"Cepet banget ngantarnya neng?" emak sambil tektak tektok paluin paku ke dinding bikin gantungan.

"Nitip di depan gang" kata Amanda langsung bawa motor, eh... dihidupin malah susah banget terpaksa di engkol.

Sampai depan rumah Ali, malah di tungguin Ali pake payung hitam gede,

"Sini, bawa masuk" kata Ali.

Eh, ada babanya Ali keluar kaos oblong putih pakai sarung.

"Amanda, bi..." kata Ali.

"Iya titip sini aja, di balai ntar kepenuhan jauh..." kata Babanya Ali.

Baik banget nih calon bapak mertua, pikir Amanda.

"Duaaaarrrrr" suara petir.

Kaget deh, kebanyakan menghayal.

"Amanda nitip dulu ya Om.., Li....mudahan banjirnya nggak sampai semana-mana, manda balik dulu bantuin emak" kata Amanda.

"Iya, hati-hati" kata Ali sampai mayungin Amanda yang sudah pake jas hujan.

Tangan Amanda pucat kedinginan.

Air tambah naik. emak sudah numpukin kasur,

Listrik padam tambah gelap.

Air sungai meluap.

Subuh Air sudah se-lutut untung bale-bale buatan emak sepinggang tingginya, emang tinggal di rakit dari jaman dulu juga udah siap.

"Biar Amanda aja ke lapak hari ini mak" kata Amanda.

"Naek apa?" jalan semua banjir ini?" kata emak.

Emak nyeduh mie gelas.

Lapar dingin pula, hujan masih belum reda.

Amanda masukin baju ganti ke tas, pake jaket celana training gulung kebanjiran se paha.

"Manda jalan kaki, naik angkot aja" kata Amanda.

"Ke pelelangan gimane?" tanya emak.

"Udah Manda bilang dari tadi malam, nggak bisa soalnya jalan banjir, manda jualin yang di kulkas aja dulu" kata Amanda.

"Sepeda sama Motor nitip dimane malem tadi?" tanya Emak.

Amanda juga lupa bilang,

"Tempatnya Baba Ali tuh" kata Amanda.

"Hah...lo gimane ceritanya, masuk rumah gedong nitip motor butut manda?" kata Emak.

"Ditawarin Mak..." kata Amanda

"Udah ah, ntar manda nggak berangkat-berangkat" kata Amanda Pamit pakai tas ransel sekolah isi tas ada mie gelas, termos air panas kecil, baju anduk kecil.

Amanda pake jas hujan, soanya hujan masih deras, nentengin sendal jepit biar kagak hanyut.

Amanda jalan dulu ke jalan besar, nunggu angkot sampai lapak sudah jam tujuh, pasar ikan pada sepi.

Lapak daging Pace aja sudah buka dari pagi, jualan ikan, ikan sisa kemaren, sama ikan dalam bak ikan aja yang masih segar.

Satu jam Amanda jualan, semuanya habis, semuanya nyetok buat beberapa hari takut banjir makin parah.

Amanda akhirnya balik ke rumah, banjirnya malah semakin tinggi. sudah diatas lutut.

"Mak, kita kagak ngungsi ke Balai?" kata Amanda.

Emak malah makan kerupuk sama minum teh hangat di bale-bale. kayak mau mancing ikan masuk ke rumah.

"Nggak usah bentar juga surut" kata Emak.

"Tapi ini hujan lagi mak?" kata Amanda.

"Nggak ada tempat disana, buat ibu hamil sama anak kecil aje, tuh nora sama adek-adeknya udah ngungsi dari tadi malam, enyaknya ngeluh, tidurnya kagak karuan. Masih enak dimari..."

"Mak... kalo kita berdua hanyut kena banjir bandang gimane?" tanya Amanda.

"Nyebut Manda...Nyebutttt...Ya Allah, ngomong baek-baek" kata Emak.

"Iya, maaf mak.." kata Amanda menunduk nyesal ngomong sembarangan.

"kayak nggak pernah kebanjiran aje" kata Emak.

"Iya-iya mak...maaf" kata Amanda.

"Jualan gimane?" kata Emak.

"Laris mak, habis" kata Amanda.

"Lah, kagak sisain?" tanya Emak.

"Ada mak, ini manda bawa filet patin sama ayam" kata Amanda.

"Iya sini emak goreng kering dulu dah", kata emak.

"Manda sudah makan nasi kuning di pasar tadi, ini buat emak" kata Amanda sambil nyerahin bungkusan kresek nasi bungkus.

"Pantesan lo anteng banget neng..." kata Emak yang kelaparan dari tadi cuman makan kerupuk sama minum teh.

"Iya, Amanda lupa ngasih tau ya, he-he" Amanda cengengesan.

Emak langsung makan nasi kuning lauk telor sebiji.

"Manda mau ke tempat baba ali dulu mak, ngeluarin motor nitip di perempatan trotoar Mamang Ujang" Kata Amanda.

"Iye hati-hati" kata Emak.

**

"Ali...Ali..." panggil Amanda, pagar gede nggak ada yang bukain, Amanda ambil HP di kantong.

Eh, malah panggilan dari Ali.

"Tunggu bentar gua diatas" Kata Ali.

Amanda mendongak ke atas, Ali diatas balkon lambain tangan, masuk lagi ke rumah.

Amanda senyum-senyum jalan mundur, eh.... kaki Amanda ke cebur got.

Nyemplung jadi basah.

Amanda diri lagi, tengok kanan kiri nggak ada yang liat, sakit sih nggak malunya.

"Sorry lama ya nunggunya?" kata Ali.

"Kagak..barusan juga" kata Amanda goyang-goyang badan, tapi takut-takut mundur, takut nyemplung lagi.

Ali liat training Amanda basah.

"Mau ambil motor" kata Amanda.

"Tapi kan banjir" kata Ali.

"Kagak...ini motor dibawa lagi ke simpangan ini masih bisa jalan kalo disini" kata Amanda.

Ali ambil kunci dari tangan Amanda keluarin motor dari garasi, rumahnya kering...nggak ada sama sekali kemasukan air.

Ali starterin, nggak bisa hidup.

"Eh....ini gua engkol" Kata Amanda.

Malah Ali yang engkolin langsung idup.

Amanda jadi kicep-kicep.

"Hujan li, lo masuk aje, maaf ngerepotin ya" kata Amanda.

"Nggak apa-apa ntar kalo mau nitip lagi telepon aja" kata Ali

"Iya, masih nitip sepeda dimari.." kata Amanda senyum-senyum nggak berani lebar trauma kejadian tempo hari daun singkong nyangkut jangan sampe hari ini cabe merah nyangkut lagi.

"iya, aman kok" kata Ali.

Amanda langsung tancap gas ke simpangan mamang ujang, untung air masih di bawah mata kaki.

Setelah nitip Mamang Ujang, Amanda balik jalan kaki.

Eh, pantesan kerasa sakit kaki Amanda lecet di gotnya Ali tadi.

**

"Amanda.." panggil dari belakang.

Waduh, si Rizal boncengin Bapaknya Pak Lurah.

"Eh,..." kata Amanda menepi.

"Motor lo naroh dimana?" kata Rizal.

"Tuh..." Amanda nunjukin motornya yang ditutup sama terpal di perempatan, deketan sama motor lain nggak jauh dari tempat Amanda berdiri.

"Rumah banjirnya sudah semana?" tanya Bapaknya Rizal.

"Diatas lutut Pak.." kata Amanda, inget-inget jangan panggil Om, ini Pak Lurah pakai seragam.

"Nggak ngungsi dulu ke Balai" kata Bapaknya Rizal.

"Emak nggak mau Pak..., dirumah masih aman" kata Amanda.

"Oh iya, ntar kalo airnya tambah naik, ngungsi dulu ke Balai" kata Bapaknya Rizal sambil nunjukin ke Balai.

"Iya Pak.." kata Amada.

Bapaknya Rizal nepokin bahu Rizal biar jalan lagi ngecek lapangan.

Rizal cuman angguk kepala liat Amanda, basah dengan celana training kebanjiran.

Dalam hati Amanda, itu tuh menantu idaman Emak.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!