NovelToon NovelToon
Sistem Penguasa Sekolah

Sistem Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

"Woy sampah rendahan."

"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."

Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.

Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.

Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.

Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.

"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Kabar tentang kejadian di kantin menyebar cepat, dan seperti dugaan Juna, tiga orang yang dulu menghajarnya di gudang tidak tinggal diam. Ia mendengarnya dari Gery sore itu, saat mereka berjalan menyusuri koridor menuju gedung olahraga.

"Mereka nyariin kamu," bisik Gery, wajahnya tegang. "Aku denger dari anak lain, tiga orang yang dulu ngehajar kamu lagi ngumpul deket lapangan belakang. Kayaknya mereka nggak terima soal semalam."

"Bagus," Juna menjawab tanpa memperlambat langkahnya.

Gery menoleh kaget. "Bagus? Kamu nggak takut?"

"Bukan soal takut atau nggak," Juna menjelaskan, matanya menatap lurus ke depan. "Kemarin aku menang karena mereka nggak siap. Sekarang mereka pasti udah siap, mungkin bawa lebih banyak orang. Kalau aku ladenin langsung, aku yang rugi."

"Terus kenapa kamu malah jalan ke arah lapangan belakang?"

"Karena aku nggak akan melawan mereka di tempat sepi seperti kemarin," Juna menjawab, sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku akan pancing mereka ke tempat yang ramai."

Benar saja, begitu mereka mendekati lapangan belakang, tiga sosok berjaket hitam sudah berdiri menunggu di bawah pohon besar, tepat di jalur yang biasa dilewati guru piket saat berpatroli sore.

"Nah, ini dia si jagoan," salah satu dari mereka melangkah maju, wajahnya masih menyisakan memar dari pertarungan semalam. "Kita ada utang yang belum lunas, inget?"

"Aku inget," Juna menjawab santai, melangkah semakin dekat alih-alih mundur, membuat Gery di belakangnya menahan napas cemas. "Tapi kalian yakin mau nagih di sini?"

"Kenapa? Takut?" salah satu dari mereka menyeringai, meretakkan buku-buku jarinya.

"Bukan aku yang harus takut," Juna melirik sekilas ke arah jam tangannya, lalu ke arah gedung administrasi yang berjarak tidak jauh dari lapangan itu.

'Sebentar lagi,' batinnya, menghitung waktu patroli yang sudah ia pelajari dari Kevin kemarin sore.

Ketiga orang itu mulai mengepung, salah satu dari mereka melangkah maju dengan tinju terkepal. Juna sengaja tidak mengelak sepenuhnya, membiarkan pukulan itu menyerempet bahunya hingga terlihat seperti benturan nyata, lalu ia membalas dengan dorongan keras yang membuat lawannya terhuyung ke belakang—cukup keras untuk terlihat dramatis dari kejauhan, namun tidak cukup untuk benar-benar melukai.

"Anjing, lu—"

"Ada apa ini?!"

Suara tegas seorang guru menggema dari arah gedung administrasi. Pak Hardi, guru piket yang terkenal disiplin, berjalan cepat menghampiri mereka dengan wajah geram, tepat pada momen ketika salah satu dari tiga orang itu masih dalam posisi melayangkan pukulan ke arah Juna.

'Sempurna,' batin Juna, mundur selangkah dengan ekspresi yang sengaja ia buat seolah-olah baru saja jadi korban penyerangan.

"Kalian bertiga, ikut saya ke ruang kepala sekolah, sekarang!" bentak Pak Hardi, matanya menyapu ketiga siswa berjaket hitam itu dengan tatapan tajam. "Saya lihat sendiri kalian bertiga mengepung dan menyerang satu siswa. Ini pelanggaran berat."

"Tapi, Pak, dia yang—"

"Saya tidak mau dengar alasan," potong Pak Hardi tegas. "Saya lihat sendiri dengan mata kepala saya sendiri. Itu cukup."

Ketiga orang itu saling bertukar pandang penuh amarah sebelum akhirnya digiring pergi oleh Pak Hardi, sesekali melempar tatapan penuh dendam ke arah Juna yang berdiri diam menyaksikan mereka pergi.

Gery mendekat, suaranya masih sedikit gemetar. "Kamu... sengaja mancing mereka nyerang di depan guru?"

"Guru-guru di sini nggak akan ikut campur kecuali mereka lihat sendiri," Juna menjawab, menatap punggung ketiga orang itu yang semakin menjauh. "Jadi aku kasih mereka sesuatu untuk dilihat."

[Bully diskors selama dua minggu]

[Popularitas +3] [Pengaruh +2]

Gery menatap Juna dengan tatapan yang sulit ia definisikan sendiri—antara kagum dan sedikit ngeri melihat betapa dinginnya perhitungan yang baru saja ia saksikan.

1
NayiRiyyy
"Alur yang mungkin Anda kenal"🤭
Notdrick: iya kak🤣
total 1 replies
Riyyyyyyy
ada lolinya gak thor?
Riyyyyyyy: asiiik😍 ingat pepatah, banyak loli banyak rezeki🤭
total 2 replies
Notdrick
Bukan novel BL yahh /Hey/
Feri
novel baru lagi,bisa tamat gak ini/Sly/
Feri: ku tunggu ya/Sly//Sly/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!