Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Perjalanan Menuju Kota
Setelah itu, mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan menuju kota. Namun baru beberapa langkah berjalan, Isabella tiba-tiba berhenti.
“Sebentar.”
Aeron dan Kael ikut berhenti dan menoleh ke arahnya, Isabella mengerutkan keningnya, baru sekarang dia menyadari sesuatu yang cukup memalukan.
“Aku tidak tahu jalan keluar dari hutan ini.” Kata Isabella sambil menggaruk tengkuknya.
Kael tercengang, sejak tadi dia berpikir jika Isabella mengetahui jalan keluar dari hutan ini. Karena sejak tadi dia jalan dengan percaya diri. Sedangkan Aeron menatap Isabella dengan tatapan datar.
“Jadi sejak tadi kau berjalan tanpa tahu arah?” Tanya Aeron.
Isabella memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rasa malu yang mulai terlihat di wajahnya.
“Tidak perlu membahasnya.” Kata Isabella sambil memalingkan wajahnya.
Kael yang melihat wajah Isabella yang memerah, hanya bisa menahan tawanya, ternyata Isabella bisa merasa malu juga.
“Aku tahu jalannya, kita harus melewati bagian utara hutan ini, setelah itu kita akan sampai di perbatasan desa.” Ucap Kael.
“Aku juga tahu jalan keluarnya,” tambah Aeron dengan tenang, menatap Kael dengan sinis.
Kael yang melihat bagaimana sombongnya harimau di depannya ini, merasa muak. Dia tidak menyadari kalau dia sendiri juga sering menyombongkan diri.
Mendengar hal itu, Isabella menghela napas lega. Dia bersyukur kedua hewan ini mengetahui jalan keluar dari hutan ini, setidaknya dia tidak akan tersesat ketika akan mencari jalan keluar hutan.
“Syukurlah.” Ucap Isabella dengan mengelus dadanya.
Mereka akhirnya kembali berjalan, kali ini Isabella mengikuti petunjuk Kael dan Aeron. Di tengah perjalanan, Isabella tiba-tiba melihat seekor rusa yang sedang berada tidak jauh dari mereka.
Matanya langsung berbinar, karena itu artinya dia akan mendapatkan uang tambahan dari penjualan rusa itu.
“Rusa.” Kata Isabella menyeringai,
Tangannya terangkat dan seketika hawa dingin menyelimuti tempat itu. Retakan-retakan es muncul dari tanah dan melesat cepat ke arah rusa itu.
Krek!
Dalam hitungan detik, lapisan es menjalar hingga membungkus kedua kaki rusa itu. Saat merasa kakinya kaku, rusa itu tersentak dan mencoba mundur, tapi gerakannya terhenti. Es terus menebal di sekeliling kakinya, membuatnya terpaku di tempat.
Rusa itu menatap kakinya dengan panik yang mulai membeku dengan panik, dia berusaha melarikan diri dari sana tapi semua itu sia-sia.
Melihat rusa itu yang sudah tidak berdaya lagi, Isabella akhirnya tersenyum puas. Isabella segera menghampiri rusa itu dan dalam sekali tebasan pedang...
Slash!
Rusa itu pun jatuh, Isabella melihat hasil buruannya dengan puas.
“Lumayan. Dagingnya bisa dijual.” Kata Isabella.
Kemudian pandangannya beralih ke beberapa tanaman yang tumbuh di dekat pepohonan. Seketika Isabella membelalakkan matanya, dia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja dia temukan.
“Bukankah itu adalah tanaman herbal.” Kata Isabella dengan mata berbinar bahagia. Isabella segera berjalan ke arah tanaman herbal itu dan segera berjongkok dan mulai memetik beberapa tanaman herbal itu dengan hati-hati.
“Semoga tanaman herbal ini bisa di jual dengan harga yang mahal, jadi kita bisa mendapatkan lebih banyak uang." Ucap Isabella sumringah, membayangkannya saja sudah membuatnya bahagia.
Kael hanya mengangguk, menyetujui perkataan Isabella. Sedangkan Aeron sang raja harimau, hanya bisa menghela nafas pelan saat melihat tingkah Isabella yang begitu bahagia hanya perkara dia menemukan tanaman herbal.
“Pikiranmu selalu tentang uang.” Cibir Aeron.
“Tentu saja,” jawab Isabella santai. “Uang itu penting.”
Perjalanan mereka ternyata berjalan jauh lebih mudah dari yang Isabella bayangkan, tidak ada monster yang menyerang, tidak ada perangkap, bahkan tidak ada kejadian aneh lainnya.
Hingga akhirnya mereka tiba di perbatasan antara hutan dan desa, Isabella berhenti dan menatap jalan di depan mereka. Di kejauhan, beberapa bangunan desa sudah terlihat. Namun kemudian pandangannya beralih kepada Aeron, ekspresinya berubah serius.
“Aeron...” Panggil Isabella pada Aeron.
“Hm?” Aeron menatap Isabella dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
“Kau tidak mungkin ikut masuk seperti ini.” Kata Isabella sambil melihat wujud Aeron saat ini, dengan tubuh sebesar ini tidak mungkin dia mengajak Aeron ke desa manusia. Karena yang ada semua orang di sana akan merasa sangat panik karena berpikir jika Aeron adalah monster.
Mendengar perkataan Isabella itu, Aeron menatap Isabella bingung sampai alisnya berkerut.
“Kenapa?” Tanya Aeron.
“Kalau orang-orang melihat mu dengan wujud yang sebesar ini, mereka pasti akan panik.” Kata Isabella.
Mendengar itu, Aeron terdiam. Lalu menatap tubuhnya, benar yang di katakan Isabella, tubuhnya terlalu besar dan itu bisa menimbulkan kepanikan, Aeron kemudian menghela napas panjang.
“Kau benar, aku tidak bisa ikut dalam wujud seperti ini.” Kata Aeron.
Tiba-tiba cahaya putih menyelimuti tubuhnya, tubuh besar Aeron mulai mengecil, sisiknya menghilang, sayapnya lenyap, dan bentuk tubuhnya berubah sepenuhnya. Dalam beberapa detik, di hadapan Isabella kini berdiri seekor kucing putih dengan bulu yang sangat bersih dan sepasang mata tajam.
Isabella membeku, dia tidak menyangka jika Aeron juga bisa mengubah wujudnya seperti Kael.
“...”
Milihat perubahan wujud Aeron, Kael tampak sama sekali tidak terkejut.
“Kau juga bisa mengubah wujudmu?!” Tanya Isabella tidak percaya.
Sementara Aeron yang kini telah berubah menjadi seekor kucing putih hanya menatap Isabella dengan angkuh.
“Tentu saja.” Kata Aeron angkuh.
Isabella langsung menatap Kael.
“Aku pikir hanya kael saja yang bisa melakukannya.” Ucap Isabella santai.
“Tidak, Aeron juga bisa.” Kata Kael sambil menggelengkan kepalanya.
Isabella kembali menatap kucing putih di hadapannya.
“Sejak kapan?” Tanya Isabella pada Aeron.
“Sejak dulu.” Kata Aeron sambil menghela napas lelah, walau tidak sekuat Kael tapi dia juga kuat. Karena dia dan Kael termasuk hewan roh tingkat tinggi.
“Lalu kenapa kau tidak mengatakannya?” Tanya Isabella sedikit kesal.
“Karena kau tidak pernah bertanya.” Kata Aeron dengan sedikit ketus.
Isabella menatap Aeron sinis, walaupun memang apa yang di katakan Aeron itu benar. Tapi tetap saja, bukankah seharusnya Aeron mengatakannya. Karena dia sama sekali tidak tau tentang hal-hal seperti ini. Sementara Aeron kemudian duduk dengan tenang sambil melilitkan ekornya di sekitar tubuhnya.
“Sepertinya kau sedikit bingung, baiklah aku akan sedikit memberikan mu penjelasan mengenai alasan kenapa aku bisa mengubah wujudku.” Kata Aeron.
Isabella mengerutkan keningnya, jadi untuk bisa mengubah wujud ada alasannya juga, Isabella lalu menatap Aeron.
“Alasan?”
Aeron mengangguk.
“Kemampuan mengubah wujud bukanlah kemampuan yang dimiliki semua hewan sihir.” Jelas Aeron.
“Lalu?”
Aeron menatap Isabella dengan ekspresi penuh kebanggaan.
“Hanya makhluk sihir dengan status dan garis keturunan tertentu yang mampu menguasainya. Semakin tinggi status seekor makhluk sihir, semakin besar kemungkinan mereka memiliki kemampuan untuk mengubah wujud.” Ucap Aeron dengan sombong.
Mendengar hal itu Isabella tercengang, dia tidak menyangka kalau alasannya hanya karena sebuah status.
“Jadi...”
“Benar,” potong Aeron dengan nada angkuh. “Aku bukan harimau biasa.”
Dia mengangkat dagunya tinggi.
“Sebagai hewan sihir dengan status tinggi, mengubah wujud menjadi hewan lain bukanlah sesuatu yang sulit bagiku.”
Isabella menatap Aeron dengan tatapan muak, sejak tadi Aeron terus memuji dirinya. Isabella bahkan sudah menghafal semua dialog Aeron itu.
“Jadi intinya kau sedang menyombongkan diri padaku saat ini.” Kata Isabella sambil menghela nafas muak.
Aeron langsung terdiam, bukankah seharusnya reaksi Isabella adalah terkejut atau setidaknya dia akan mendapatkan tatapan bangga dari Isabella setelah dia mengungkapkan jati dirinya pada Isabella. Kael menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
“Bukan begitu!” protes Aeron.
Isabella tersenyum tipis.
“Baiklah, Kucing kecil.”
Mata Aeron langsung menyipit.
“Jangan panggil aku begitu.” Protes Aeron, dia tidak suka di sebut sebagai kucing karena menurutnya itu sama saja merendahkan harga dirinya.
“Kenapa? Bukankah sekarang kau memang seekor kucing?” Tanya Isabella, mengejek Aeron.
“Ini hanya wujud sementara!” Lagi-lagi Aeron protes.
Isabella tertawa kecil.
“Kalau begitu, ayo kita pergi kucing kecil.”
Aeron hanya bisa menggeram kesal dalam wujud kucingnya, Kael akhirnya tidak mampu menahan tawanya lagi.
Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan menuju desa, dengan Aeron yang kini berjalan di samping Isabella dalam wujud seekor kucing putih.
Bersambung