Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Setelah menghabiskan sarapan dan bersiap-siap, Hazel dan Sagara melangkah keluar dari mansion. Hazel sengaja menolak menggunakan sopir pribadi keluarga Adeline demi menghindari mata-mata Cateline, dan memilih memesan taksi online.
Hari itu, Sagara tampil berbeda. Atas paksaan Hazel, pria itu mengenakan pakaian santai berupa jaket denim longgar dan celana pajama-style trendi milik Hazel yang muat di tubuhnya. Gaya sederhana itu justru memancarkan ketampanan alami Sagara yang selama ini tersembunyi di balik celemek dapur dan pakaian kusamnya.
Tujuan pertama mereka adalah sebuah pusat hiburan dan arcade terbesar di dalam mall pusat kota.
Begitu melangkah masuk ke dalam area arcade, mata Sagara membelalak takjub. Suara musik yang ceria, kerlipan lampu neon warna-warni, serta keriuhan pengunjung membuat pria yang selama dua tahun terkurung itu terpana seperti anak kecil yang baru pertama kali menemukan taman bermain.
"Ayo, Kak! Kita coba yang ini dulu!" seru Hazel penuh semangat, menarik lengan jaket Sagara menuju arena permainan basket arcade.
Hazel memasukkan beberapa koin token, lalu mengambil bola pertama dan melemparnya dengan lihai. "Caranya gampang, tinggal lempar bola ini sebanyak-banyaknya ke dalam ring sebelum waktunya habis!"
Sagara memegang bola basket di tangannya dengan agak canggung. Pria itu menatap ring yang bergerak menjauh dengan raut ragu. Namun, begitu ia mulai melempar bola pertama, gerakan tangannya mendadak sangat presisi.
SWISH!
Bola langsung masuk sempurna tanpa menyentuh lis ring. Sagara yang terkejut dengan lemparannya sendiri menatap tangannya dengan polos, lalu kembali melempar bola kedua, ketiga, hingga kelima berturut-turut tanpa ada yang meleset sedikit pun!
"Gila! Kak Sagara kok bisa langsung jago begitu?!" jerit Hazel heboh sambil melompat kecil dan menepuk-nepuk bahu Sagara. Skor di mesin terus melonjak tinggi melampaui rekor mingguan.
Sagara tertawa lepas sebuah tawa yang sangat renyah, jujur, dan belum pernah terdengar sebelumnya. Wajahnya yang biasa dipenuhi rasa takut kini memancarkan binar kebahagiaan yang begitu murni.
Mereka beralih ke mesin claw machine (mesin capit boneka). Hazel tampak gemas karena berulang kali gagal mendapat boneka kucing berukuran sedang.
"Ah, menyebalkan sekali! Capitnya longgar!" gerutu Hazel sambil memanyunkan bibirnya.
Sagara terkekeh pelan. Ia mendekati mesin itu, menggeser tuas dengan penuh konsentrasi, lalu menekan tombol hijau dengan lembut. Capit besi itu turun, mencengkeram boneka kucing dengan tepat, dan membawanya jatuh ke lubang pengambilan.
"Wah! Berhasil!" Hazel membelalak takjub saat Sagara mengambil boneka itu dan menyerahkannya padanya.
"Ini buat kamu, Hazel," ujar Sagara manis, tersenyum dengan lesung pipit yang mengintip tipis di pipinya.
DEG.
Dada Hazel berdesir hangat saat menerima boneka itu. Ia mendongak, menatap lekat paras tampan Sagara dari dekat. Kulitnya yang bersih, tatapan matanya yang sangat polos, serta ketulusaannya yang tanpa syarat membuat Hazel terpana sejenak. Entah mengapa, Hazel mendadak merasa sangat suka memperhatikan setiap gerak-gerik pria di depannya ini. Ada rasa nyaman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Guna mengabadikan momen berharga itu, Hazel menarik lengan Sagara menuju sebuah bilik photobooth berkonsep Korea yang berada di sudut arcade.
"Ayo kita foto bersama!" ajak Hazel excited.
"E-eh? Foto?" Sagara tampak panik dan canggung di dalam bilik kecil yang dipenuhi properti lucu itu.
"Iya! Pakai bando ini cepat!" Hazel memasangkan bando berbenuk telinga kelinci berbulu putih di kepala Sagara, sementara ia sendiri memakai bando telinga kucing hitam.
CEKREK!
Gaya pertama: Sagara berdiri kaku dengan raut bingung, sementara Hazel tersenyum lebar sambil memegang boneka kucingnya.
CEKREK!
Gaya kedua: Hazel menepuk pipi Sagara, membuat pria itu tertawa lepas dan menoleh padanya.
CEKREK!
Gaya ketiga: Hazel membentuk tanda peace di dekat matanya, dan Sagara yang mulai terbiasa akhirnya ikut menirukan gaya Hazel sambil tersenyum sangat manis ke arah kamera.
Setelah lembar cetakan foto keluar, Hazel memotongnya menjadi dua bagian dan memberikan satu lembar pada Sagara. "Ini buat kamu simpan, Kak. Biar kamu ingat kalau hari ini kamu sudah bersenang-senang."
Sagara menatap lembaran foto di tangannya dengan pandangan haru. "Terima kasih banyak, Hazel... Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya."
Puas bermain, mereka melangkah keluar menuju kedai es krim ternama di lantai dasar. Mereka duduk di area outdoor yang teduh. Hazel menikmati es krim rasa matcha, sedangkan Sagara memakan es krim rasa cokelat dengan sangat lahap hingga sedikit krim cokelat belepotan di sudut bibirnya.
Hazel yang melihat itu terkekeh geli. "Kak Sagara, makan es krim saja sampai belepotan begini seperti anak kecil," goda Hazel.
Tanpa berpikir panjang, Hazel memajukan tubuhnya dan menyapu noda cokelat di sudut bibir Sagara menggunakan ibu jarinya dengan sangat lembut.
Sagara membeku seketika. Tatapan mata mereka kembali bertemu dalam jarak dekat. Hembusan angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut Hazel. Sagara menatap jemari Hazel yang menyentuh bibirnya, lalu beralih menatap mata cokelat jernih milik gadis 19 tahun itu.
Di dalam hatinya, Hazel merasakan debaran jantung yang makin kencang. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri lagi ada perasaan hangat dan dorongan kuat di dalam dadanya untuk selalu berada di samping pria polos ini dan melindunginya dari dunia yang jahat.
Langit sore perlahan berganti menjadi keunguan saat taksi yang mereka tumpangi melaju membelah jalanan kota menuju perjalanan pulang. Di kursi belakang, suasana mendadak terasa begitu hening.
Hazel menoleh ke samping dan mendapati Sagara sudah tertidur lelap. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil, dadanya naik turun teratur, dan deru napasnya terdengar begitu halus. Wajahnya yang biasa dihiasi raut tegang kini tampak begitu tenang dan damai, bagaikan seorang anak kecil yang kelelahan setelah seharian puas bermain.
Senyum tipis dan lembut terukir tanpa sadar di bibir Hazel. Ia merasa kasihan sekaligus hangat melihat betapa polosnya pria di sampingnya ini. Hazel menarik selendang kain tebal yang dibawanya dari dalam tas, lalu memiringkan tubuhnya perlahan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Sagara, Hazel menyelimuti dada hingga bahu pria itu. Jemari lentiknya menyapu beberapa helai rambut yang menutupi dahi Sagara dengan lembut.
"Pak, tolong pelankan kecepatan mobilnya ya, biarkan dia tidur," bisik Hazel pelan pada pengemudi taksi di depan.
Begitu taksi berhenti di pelataran mansion mewah keluarga Adeline, Sagara perlahan terbangun. Pria itu mengucek matanya yang masih agak berat, menatap Hazel dengan raut wajah linglung khas orang baru bangun tidur.
"E-eh... kita sudah sampai, Hazel?" gumam Sagara serak. Ia memegang selendang yang menyelimuti tubuhnya, lalu menatap Hazel dengan pandangan serba salah. "Maafkan aku, aku malah tertidur..."
"Tidak apa-apa, Kak," sahut Hazel ramah sambil tersenyum. "Ayo kita masuk."
Namun, begitu mereka melangkah melewati pintu utama yang megah dan dingin, tawa renyah dan nada bicara bernada sinis menyambut kedatangan mereka dari arah ruang tamu.
Di atas sofa mewah berlapis kain bludru, tampak Cateline duduk anggun bersama seorang wanita paruh baya berpenampilan amat glamor. Wanita itu mengenakan gaun sutra mahal, perhiasan emas yang mencolok di leher dan jemarinya, serta riasan wajah tebal yang angkuh. Dia adalah Helena ibu tiri Hazel, sekaligus ibu kandung Cateline yang selama ini selalu memanjakan putri kesayangannya dan menindas Hazel.
Melihat kedatangan Hazel dan Sagara yang berjalan berdampingan, Cateline langsung menegakkan tubuhnya. Sebuah senyuman culas dan penuh kebencian terbit di bibir cantiknya.
"Wah, lihat siapa yang baru saja pulang dari berkencan, Ma," sindir Cateline dengan nada suara yang ditinggikan, sengaja agar bergaung di seluruh ruangan.
Helena memutar kepalanya, menatap Hazel dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pendar mata yang amat menjijikkan dan penuh penghinaan. Wanita paruh baya itu menyilangkan kakinya, menyesap teh hangat di cangkir porselennya sebelum menyunggingkan senyum meremehkan.
"Ckckck... dasar tidak tahu malu," ejek Cateline lagi, beralih menatap ibunya dengan raut wajah berlagak prihatin yang memuakkan. "Lihat kan, Mama? Bagaimana dia bersikap persis sama seperti ibunya dulu? Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sang ibu dulu jalang yang suka berkeliaran dan merebut suami orang, dan sekarang anak haramnya ini melanjutkannya dengan berkeliaran bersama suami orang lain!"
Helena terkekeh sinis, menyahut dengan suara dingin yang menusuk. "Tentu saja, Cateline sayang. Apa lagi yang bisa diharapkan dari anak seorang wanita pengganggu? Darah murahannya itu mengalir keras di tubuhnya. Tidak tahu diri, menumpang hidup di rumah ini tapi malah berani menyentuh milik kakak tirinya sendiri."
Sagara yang mendengar tuduhan kejam bertubi-tubi itu membeku seketika. Wajahnya mendadak pucat pasi, dan tubuhnya kembali bergetar cemas. "N-nona Cateline... Nyonya Helena... ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Hazel hanya—"
"Diam kau, Sagara!" bentak Helena tajam, menunjuk Sagara dengan jarinya yang berhias cincin permata. "Kau cuma pelayan tak berguna di rumah ini, tidak usah ikut campur saat kami bicara!"
Hazel mengepalkan kedua tangannya erat-erat di samping tubuhnya, merasakan hawa panas yang membakar dadanya mendengar nama almarhumah ibunya dihina secara terang-terangan di depan matanya.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...