Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pusat perbelanjaan kelas atas di pusat kota itu tampak berkilau oleh pantulan lampu kristal dan deretan gerai desainer internasional.
Di salah satu butik pakaian pria bermerek, Bumi sedang berdiri di depan cermin besar. Ia memegang sebuah kemeja sutra berwarna hitam arang.
Atas kesepakatan bersama, Bumi Akhirnya memutuskan menyetujui membawa black Card untuk membeli beberapa pakaian yang di rasa pantas untuk statusnya.
Bumi menghela napas pendek, mengagumi potongan bahan kemeja di tangannya.
Namun, ketenangannya tidak bertahan lama.
Saat ia hendak melangkah menuju ruang ganti, sebuah suara sinis yang sangat familier menginterupsi langkahnya.
"Wah, lihat siapa yang ada di sini. Butik ini benar-benar harus naikkan standar keamanan mereka jika sembarang orang jalanan bisa masuk," cibir suara itu, dipenuhi nada merendahkan yang kental.
Bumi membalikkan badan dengan gerakan yang amat tenang. Ia tidak terpancing sama sekali.
Di hadapannya, berdiri Galang, mantan tunangan Langit yang beberapa minggu lalu didepak dengan tidak hormat dari lingkaran sosial elit karena ketahuan berselingkuh.
Di samping Galang, bergelayut manja seorang wanita bergaun ketat dengan riasan tebal bernama Sarah, wanita yang menjadi alasan hancurnya rencana pernikahan megah Galang dan Langit.
Galang menatap Bumi dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan muak. "Beberapa hari lalu aku mendengar rumor miring, tapi melihatmu di sini membenarkan semuanya. Jadi, kau adalah mainan baru Langit? Laki-laki peliharaan yang dia pungut dari sudut kota?"
Galang tertawa sinis, menoleh ke arah Sarah yang langsung menyambutnya dengan kekehan meremehkan.
"Sungguh ironis. Langit mendepak ku hanya untuk memelihara seorang berandalan bertato yang mendadak kaya karena belas kasihan wanita." Lanjut Galang.
Bumi tidak langsung membalas.
Dengan senyum tipis yang nyaris tak kentara, ia justru memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana kainnya yang mahal.
Tatapannya bergerak lambat, menilai Galang dari atas ke bawah seolah-olah pria di depannya itu hanyalah seonggok pajangan yang salah tempat.
Keheningan yang diciptakan Bumi entah mengapa membuat atmosfer di dalam butik menjadi tegang.
Beberapa pelayan toko dan pelanggan lain mulai mencuri pandang, tertarik oleh aroma konflik yang mulai merebak.
"Laki-laki peliharaan?" Bumi mengulang kalimat itu dengan nada suara yang begitu rendah namun bergema jelas.
Ia maju selangkah, membuat Galang secara refleks mundur setengah senti karena intimidasi alami yang terpancar dari tubuh tegap Bumi.
Bumi menatap lurus ke dalam mata Galang, lalu beralih melirik tajam ke arah Sarah.
"Lucu sekali mendengar khotbah tentang harga diri dari seorang mantan tunangan yang tidak punya otak," jawab Bumi santai, suaranya sedingin es di kutub.
Wajah Galang langsung memerah mendengar ucapan Bumi. "Apa kau bilang?!" geramnya, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh.
Bumi mengabaikan kemarahan itu dan melanjutkan dengan ketenangan yang mematikan.
"Kau adalah pria paling bodoh yang pernah kutahu, Galang. Menolak keberuntungan terbesar dalam hidupmu, membuang berlian murni yang dicari semua orang demi sebuah_rongsokan,"
kata Bumi, dengan penekanan yang sangat jelas pada kata 'rongsokan' saat matanya kembali menatap Sarah dari atas ke bawah secara terang-terangan.
Sarah terengah kaget, wajahnya yang berlapis bedak mahal langsung berubah pucat lalu merah padam karena penghinaan yang begitu terang-terangan.
"Sayang! Lihat dia! Berandalan ini berani menghinaku di depan umum! Suruh dia minta maaf!" jerit Sarah merengek sambil mengguncang-guncang lengan Galang.
"Jaga mulutmu, baji-ngan!" bentak Galang, emosinya meledak seketika. Suaranya yang meninggi membuat beberapa pengunjung di luar butik kini ikut berhenti dan menonton dari balik dinding kaca.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang kami! Kau hanya sepotong sampah yang beruntung ditemukan Langit saat dia sedang putus asa!, Berapa banyak uang yang dia bayar untuk membeli mu, hah? Berapa harga harga dirimu sampai kau rela menjadi anjing peliharaannya?!"
Kontras dengan Galang yang napasnya memburu dan wajahnya dipenuhi urat-urat kemarahan yang menegang, Bumi justru menunjukkan ekspresi yang luar biasa santai.
Ia bahkan sempat merapikan kerah kemeja hitam yang dipegangnya sebelum kembali menatap Galang dengan tatapan penuh simpati yang dibuat-buat, sebuah tatapan yang justru jauh lebih menyakitkan daripada makian langsung.
"Kau berteriak terlalu keras untuk seseorang yang sudah kalah, Galang," ucap Bumi, nada suaranya tetap datar dan dingin, tidak terpengaruh oleh badai emosi lawan bicaranya.
"Langit tidak membeli ku. Dia memilihku. Dan ada perbedaan besar antara pria yang dipilih karena bernilai, dengan pria yang dibuang karena tidak berguna" lanjut Bumi dengan tenang nya.
"Kau—!" Galang melangkah maju, mengangkat tangannya seolah hendak mencengkeram kerah baju Bumi.
Namun, sebelum tangan Galang menyentuhnya, Bumi bergerak dengan kecepatan yang tak terduga.
Ia menangkap pergelangan tangan Galang dengan satu tangan. Genggaman Bumi begitu erat dan kokoh, mengunci pergerakan Galang seketika.
Tato yang mengintip di balik pergelangan kemeja Bumi seolah menegaskan bahwa di balik pakaian mahalnya saat ini, ia tetaplah pria yang tahu bagaimana cara bertarung di dunia nyata.
"Jangan pernah berpikir untuk menyentuhku di tempat umum jika kau masih ingin menyelamatkan sisa-sisa reputasi mu yang sudah hancur itu," bisik Bumi tepat di depan wajah Galang.
Tatapan matanya begitu menusuk, membuat nyali Galang yang tadinya berapi-api mendadak ciut dalam hitungan detik.
Bumi melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan, membuat Galang agak limbung ke belakang.
Beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu dari jarak dekat berbisik-bisik. Mereka tidak hanya terkejut oleh drama kelas atas yang tersaji di depan mata, tetapi juga kagum dengan bagaimana Bumi mengendalikan situasi.
Di mata para penonton, Bumi terlihat seperti seorang bangsawan yang sedang menghadapi anak kecil yang sedang tantrum, tenang, elegan, berwibawa, dan mematikan tanpa perlu berteriak.
Sarah yang melihat kekasihnya tak berkutik mencoba membela diri dengan suara gemetar. "K-kau, kau hanya bersikap sombong karena ada Langit di belakangmu! Kita lihat saja berapa lama pernikahan kalian akan bertahan! Seluruh kota tahu kalian hanya bersandiwara!"
Bumi menoleh ke arah Sarah, senyum dingin kembali terukir di bibirnya. "Bahkan jika ini sebuah sandiwara, setidaknya kami bermain di panggung teater termegah. Sementara kalian berdua? Kalian bahkan tidak punya tiket untuk masuk ke halamannya."
Kata-kata Bumi bak skakmat yang mengakhiri seluruh perdebatan.
Galang yang menyadari bahwa dirinya telah kalah telak dalam adu argumen, ditambah dengan pandangan menghina dari orang-orang di sekitar butik, menarik napas dalam-dalam untuk menahan malu yang luar biasa.
Wajahnya merah padam, bukan lagi karena marah, melainkan karena rasa malu yang teramat sangat.
"Ayo pergi, Sarah. Tempat ini sudah tercemar," desis Galang pelan, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sudah runtuh berkeping-keping.
Setelah kedua orang itu menghilang dari pandangan, suasana butik berangsur kembali normal, meskipun sisa-sisa ketegangan masih terasa di udara.
Bumi mengembuskan napas panjang, memutar lehernya yang terasa sedikit kaku. Ia kembali menatap kemeja sutra hitam di tangannya, seolah keributan besar baru saja tidak pernah terjadi.
Seorang kepala pelayan butik mendekati Bumi dengan sikap yang jauh lebih hormat dan segan daripada sebelumnya.
Pria paruh baya itu membungkuk sedikit, matanya menyiratkan kekaguman yang mendalam atas ketenangan Bumi dalam menghadapi mantan tunangan sang CEO terkenal.
"Tuan Bumi, apakah Anda membutuhkan bantuan untuk mencoba kemeja itu? Atau Anda ingin kami menyiapkan ruang ganti VIP?" tanya kepala pelayan itu dengan suara yang sangat sopan.
Bumi menoleh, memberikan senyuman ramah yang tulus, sangat berbeda dengan senyuman dingin yang ia berikan pada Galang beberapa menit lalu.
"Tolong siapkan ruang ganti biasa saja. Dan ya, aku akan mengambil kemeja hitam ini, ditambah tiga jas formal yang tadi direkomendasikan di depan."
"Baik, Tuan. Segera kami siapkan," jawab pelayan itu dengan sigap.
Bumi melangkah menuju ruang ganti dengan langkah yang mantap. Di dalam benaknya, ia tahu bahwa ini barulah permulaan dari kehidupan barunya bersama Langit.
Namun di saat Bumi hampir saja masuk ke ruang ganti, terdengar teriakan_
"Bumi!!"
Di depan sana terlihat sosok wanita yang sedang berlari ke arahnya.
Yuk mana komennya gaes ,biar tambah seru ini novel, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.