NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian di Dapur Pendopo dan Wangi Gula Jawa

Matahari baru saja naik sehgala-ggalanya di atas atap Rumah Joglo Setiawan ketika Mbok Jum mengetuk pintu kamar tamu tempat Martha menginap. Hari itu adalah hari keempat sejak kepatangan mereka di Surakarta, dan syarat berat yang diajukan oleh Eyang Broto dalam rapat di pendopo kemarin langsung mulai diuji.

Pintu terbuka, menampakkan Mbok Jum yang tersenyum ramah namun menyembunyikan ketegasan khas wanita senior dusun. Di tangannya, wanita paruh baya itu membawa sehelai kain batik tulis bermotif klasik dan selembar kebaya sederhana berwarna hijau lumut.

"Nduk Martha," sapa Mbok Jum dengan logat Jawa yang kental namun ramah. "Mari bangun. Hari ini Eyang Broto berpesan, kalau mau belajar memahami isi rumah ini, mulailah dari dapur dan halaman belakang. Pakai pakaian ini ya, agar lebih leluasa bergerak."

Martha menatap pakaian tradisional yang disodorkan Mbok Jum dengan perasaan campur aduk antara gugup dan penasaran. Ini bukan sekadar pakaian; ini adalah simbol pengenalan budaya pertama yang harus ia jalani. Dengan senyuman ragu namun penuh tekad, Martha menerima pakaian tersebut. "Terima kasih, Mbok Jum. Saya akan bersiap sekarang."

Beberapa menit kemudian, Martha keluar kamar dengan mengenakan kebaya hijau lumut dan kain batik yang dililitkan rapi di pinggangnya, sementara rambut cokelat madunya disanggul sederhana ke belakang—hasil bantuan Mbok Jum yang dengan telaten merapikannya. Ketika ia melangkah masuk ke area dapur tradisional di bagian belakang joglo—sebuah dapur terbuka dengan tungku kayu bakar, dinding bata merah kuno, dan perkakas tanah liat—Adnan sudah menunggu di sana sambil menyeruput secangkir air hangat.

Adnan mendongak, dan sedetik kemudian senyuman kagum terbit di bibir pria itu. "Anda terlihat... sangat cocok dengan pakaian itu, Martha," puji Adnan tulus.

Martha merona malu, merapikan ujung kebaya yang terasa asing di tubuhnya. "Jangan menggodaku, Adnan. Aku bahkan merasa seperti sedang mengenakan kostum teater yang bisa melorot kapan saja."

Mbok Jum tertawa kecil mendengar ucapan Martha. "Ah, Nduk Martha ini bisa saja. Nanti lama-lama juga terbiasa. Nah, kalau mau diterima di dusun ini, perempuan Jawa harus tahu caranya meracik bumbu dasar dan membuat jamu atau jajanan tradisional untuk para pekerja yayasan. Hari ini, tugasmu adalah membantu Mbok Jum menumbuk rempah-rempah di lumpang batu dan membuat klepon."

Itulah ujian pertama yang sesungguhnya. Bukan ujian akademik atau pertarungan argumen seperti di London, melainkan ujian ketekunan fisik dan kesabaran di atas lantai dapur tradisional yang panas oleh kepulan asap kayu bakar.

Selama tiga jam berikutnya, Martha merasakan sisi kehidupan yang belum pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Ia duduk di atas bangku kayu kecil, memegang alu batu yang berat, dan menumbuk kunyit, ketumbar, serta gula kelapa di dalam lumpang batu besar di bawah bimbingan sabar Mbok Jum. Tangannya yang biasanya terbiasa menari di atas tuts mesin ketik atau memegang pena mewah di perpustakaan Oxford, kini berlumuran noda kecokelatan rempah-rempah dan tepung ketan.

Sesekali, kepulan asap tipis dari tungku kayu bakar membuat matanya perih, memaksanya menyeka air mata yang menetes akibat asap. Adnan yang sejak tadi mengawasi dari dekat sambil merapikan kayu bakar di sudut dapur merasa tidak tega. Pria itu mendekat, membawa sehelai handuk kecil basah untuk menyeka keringat di dahi Martha.

"Jika sudah terlalu lelah, istirahatlah sebentar, Martha," bisik Adnan lembut. "Tidak ada yang memaksa Anda melakukan ini sekaligus."

Martha menggeleng tegas, menepis kekhawatiran Adnan dengan seulas senyuman di tengah peluh yang membasahi pelipisnya. "Tidak, Adnan. Aku baik-baik saja. Eyang Broto dan para paman melihat dari jauh. Aku harus membuktikan bahwa aku tidak manja dan serius ingin memahami dunia keluargamu."

Keteguhan hati Martha tidak luput dari pengamatan Mbok Jum. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, mengelus bahu Martha pelan. "Kowe bocah sing tabah, Nduk," puji Mbok Jum tulus. (Kamu anak yang tabah). "Banyak perempuan kota, apalagi dari negeri jauh, yang langsung lari begitu melihat dapur kayu seperti ini. Tapi kamu bertahan."

Menjelang sore hari, hasil kerja keras di dapur itu disajikan di atas piring-piring lidi bambu di pendopo utama—piring-piring berisi kue klepon buatan tangan Martha sendiri, yang meski bentuknya sedikit tidak beraturan, rasanya manis dan empuk berkat panduan Mbok Jum.

Eyang Broto, yang sore itu sedang duduk membaca naskah kuno di sudut pendopo bersama beberapa pengurus yayasan, melirik piring kue yang diletakkan di atas meja rendah di hadapannya. Pria sepuh itu melirik ke arah Martha yang berdiri berdampingan dengan Adnan di dekat pintu pendopo dengan balutan kebaya hijau lumutnya.

Eyang Broto mengambil sebutir kue klepon tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengunyahnya perlahan. Suasana pendopo terasa hening mencekam. Martha menahan napasnya, menunggu vonis dari tetua keluarga yang paling disegani itu.

Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang, Eyang Broto menelan makanannya, lalu menatap lurus ke arah Martha.

"Gula arennya terlalu manis sedikit," komentar Eyang Broto dengan suara parau yang datar, membuat jantung Martha berdegup kencang. Namun, sesaat kemudian, sudut bibir pria tua itu terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang terlihat. "Tapi tekstur ketannya kenyal dan pas di lidah. Menunjukkan ketekunan dalam membuatnya."

Mendengar pujian sekecil itu, beban berat yang sejak pagi menghimpit dada Martha seketika menguap. Adnan di sampingnya tersenyum lebar, meremas jemari Martha pelan memberikan dukungan penuh.

Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Di saat senja mulai turun dan lampu-lampu minyak di pendopo dinyalakan, sebuah sepeda motor berhenti di depan gerbang Rumah Joglo. Seorang pemuda dusun datang dengan tergopoh-gopoh membawa kabar buruk yang langsung mengubah raut wajah Eyang Broto dan Paklik Martoyo.

"Eyang... Den Adnan!" seru pemuda itu terengah-engah begitu menginjakkan kaki di pendopo. "Pihak pengembang dari kota datang membawa surat somasi kedua. Mereka mengancam akan menyita tanah dan bangunan joglo ini besok pagi jika sisa utang peninggalan almarhum tidak segera dilunasi!"

Kabar itu menghantam pendopo bagai petir di siang bolong. Masalah eksistensial yang selama ini coba disembunyikan rapat-rapat oleh pihak yayasan kini telah mencapai puncaknya, mengancam untuk meruntuhkan seluruh warisan leluhur keluarga Setiawan dalam hitungan jam.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!