Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Warga
Zea langsung mengerutkan keningnya saat matanya menyusuri lembaran data penerima bantuan yang baru saja diberikan kepadanya. Beberapa nama tampak familiar, tetapi wajah-wajah yang ada di hadapannya sama sekali tidak sesuai dengan daftar keluarga kurang mampu yang baru saja ia temui.
“Coba sebentar,” ujar Zea sambil mengangkat lembaran itu. “Nama pertama di sini, siapa yang tahu orang bernama Pak Rahman?”
Seorang warga yang berdiri di belakang kerumunan langsung mengangkat tangan. “Saya tahu, Bu Gubernur.”
“Rumahnya di mana?” tanya Zea.
“Di ujung jalan, Bu. Rumahnya yang paling besar dekat lapangan.”
Zea langsung menoleh. “Paling besar?”
“Iya, Bu. Rumahnya dua lantai.”
Kening Zea semakin berkerut. Ia lalu melihat nama berikutnya dan kembali bertanya kepada warga mengenai alamat orang tersebut.
“Kalau Ibu Salmah?”
“Saya tahu, Bu.”
“Rumahnya di mana?”
“Dekat masjid, Bu. Rumahnya bagus sekali, pagarnya tinggi.”
“Bagus sekali bagaimana?”
“Ya, rumahnya besar, Bu. Ada mobil juga di garasinya.”
Intan yang sejak tadi berdiri di samping Zea langsung meliriknya dengan wajah tidak percaya. “Bu, jangan-jangan saya salah dengar, ya? Ini daftar penerima bantuan untuk warga kurang mampu, kan?”
Zea tidak menjawab. Ia kembali menatap lembaran itu, lalu membandingkannya dengan kondisi warga yang baru saja mereka temui.
“Jadi, orang-orang yang rumahnya besar dan kehidupannya terlihat berkecukupan justru tercatat sebagai penerima bantuan?” tanya Zea dengan suara mulai meninggi.
Suasana langsung berubah hening. Beberapa warga saling pandang, sementara lurah dan kepala desa yang berdiri tidak jauh dari sana mulai terlihat gelisah.
Zea kemudian menunjuk satu nama di daftar. “Kalau yang ini siapa?”
Seorang warga menjawab pelan, “Jamilah, Bu.”
“Panggil ke sini.”
Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya berjalan mendekat. Zea sempat terdiam ketika melihat kedua tangan wanita itu dipenuhi gelang, cincin, dan beberapa perhiasan yang terlihat mencolok.
Intan sampai melotot. Ia mendekat sedikit kepada Zea lalu berbisik, “Zea, itu kalau dijual mungkin bisa beli beras satu kampung.”
Zea menahan napas agar tidak tertawa, tetapi tatapannya tetap serius. “Ibu Jamilah, benar nama Ibu tercatat sebagai penerima bantuan?”
Jamilah mengangguk cepat. “Benar, Bu.”
“Bantuan apa saja yang Ibu terima?”
Jamilah terlihat gugup. “Bantuan ... ya bantuan dari pemerintah, Bu.”
Zea mengangkat alis. “Saya tahu itu bantuan pemerintah. Saya tanya bantuan apa saja yang Ibu terima.”
Jamilah mulai memainkan jarinya. “Kalau tidak salah ... sembako.”
“Berapa kali?”
“Waduh, saya kurang ingat, Bu.”
Zea langsung menutup berkas itu perlahan. “Tidak ingat?”
“Iya, Bu. Soalnya banyak sekali kegiatan di desa.”
Intan menatap perhiasan di tangan Jamilah, kemudian melihat rumah besar di belakangnya. “Banyak sekali kegiatan, ya, Bu. Sampai bantuan pemerintah juga ikut banyak.”
Jamilah tersenyum kaku. “Maksudnya bagaimana, Mbak?”
“Maksud saya sederhana,” jawab Intan santai. “Saya juga ingin ikut kegiatan yang banyak itu.”
Zea menahan senyum, lalu kembali serius. “Ibu Jamilah, saya ingin bertanya satu hal. Apakah Ibu benar-benar termasuk warga yang membutuhkan bantuan?”
Wajah Jamilah langsung berubah. “Tentu saja, Bu. Kami juga punya kebutuhan.”
“Kebutuhan seperti apa?”
“Ya ... kebutuhan rumah tangga, Bu.”
Zea mengangguk pelan. “Baik. Kalau begitu saya ingin tahu, kenapa nama Ibu masuk dalam daftar warga kurang mampu, sementara rumah Ibu besar dan kondisi ekonomi keluarga Ibu terlihat cukup baik?”
Jamilah langsung gelagapan. “Itu sebenarnya rumah itu bukan sepenuhnya milik saya, Bu.”
“Lalu milik siapa?”
“Punya keluarga.”
“Baik. Kalau begitu, saya tidak akan menilai rumahnya dulu,” kata Zea. “Sekarang kita bicara datanya.”
Jamilah kembali diam.
Zea lalu mengangkat berkas tersebut dan menunjuk beberapa nama lainnya. “Bukan hanya Ibu Jamilah. Nama-nama ini juga tercatat sebagai penerima bantuan, padahal warga di sini mengatakan mereka tinggal di rumah yang bagus dan kehidupan mereka cukup.”
Lurah langsung maju selangkah. “Bu Gubernur, mungkin ada kesalahan pendataan.”
Zea menatapnya tajam. “Kesalahan pendataan?”
“Iya, Bu. Mungkin data lama belum diperbarui.”
“Kalau memang data lama, kenapa bantuan masih diberikan berdasarkan data tersebut?”
Lurah terdiam.
Kepala desa buru-buru ikut menjawab. “Kami hanya menjalankan data yang diberikan, Bu.”
Zea menoleh kepadanya. “Jadi sekarang semua salah data?”
“Bukan begitu maksud saya, Bu.”
“Lalu apa maksud Anda?”
Kepala desa semakin gugup. “Kami ... hanya berusaha membantu warga.”
Zea mengangguk pelan. “Bagus. Saya juga ingin membantu warga.”
Ia kemudian menunjuk warga yang berdiri di depannya. “Tapi warga yang rumahnya bocor, tidak punya cukup makanan, dan bahkan kesulitan membeli kebutuhan sehari-hari justru tidak menerima bantuan.”
Beberapa warga mulai mengangguk. Salah seorang ibu bahkan memberanikan diri berkata, “Benar, Bu. Kami sudah beberapa kali bertanya, tapi katanya nama kami belum masuk.”
Zea langsung menoleh kepadanya. “Sudah berapa kali?”
“Sudah lima kali, Bu.”
“Dan tidak pernah mendapat bantuan?”
“Tidak pernah.”
Zea menarik napas panjang. “Baik. Sekarang saya ingin semua orang jujur.”
Suasana semakin tegang.
“Siapa sebenarnya yang menerima bantuan dari desa?” tanya Zea. “Dan siapa yang menentukan nama-nama tersebut?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Zea kemudian menatap lurah dan kepala desa bergantian. “Saya beri kesempatan kepada kalian untuk menjelaskan sebelum saya memeriksa semuanya sendiri.”
Lurah menelan ludah. “Bu, kami benar-benar tidak bermaksud melakukan sesuatu yang salah.”
“Kalau tidak salah, kenapa kalian terlihat ketakutan?”
Lurah langsung terdiam.
Kepala desa mencoba tersenyum. “Kami hanya gugup karena Ibu datang mendadak.”
Zea menyipitkan mata. “Saya datang mendadak supaya tidak ada yang sempat mempersiapkan jawaban.”
Beberapa warga mulai menahan senyum, sedangkan Intan justru menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Zea kembali membuka berkas. “Sekarang saya akan cek nama-nama ini satu per satu. Saya ingin tahu rumah mereka, hubungan mereka dengan perangkat desa, dan apakah mereka benar-benar memenuhi syarat sebagai penerima bantuan.”
“Bu ....” Lurah mencoba menyela.
“Belum selesai,” potong Zea.
Lurah langsung bungkam.
Zea kemudian menunjuk salah satu nama. “Orang ini siapa?”
Seorang warga yang berdiri di belakang langsung menjawab, “Itu saudara istrinya Pak Lurah, Bu.”
Zea berhenti membalik halaman.
Intan perlahan menoleh kepada lurah. Sagara yang sejak tadi berdiri sedikit di belakang juga langsung mengamati wajah pria tersebut.
Lurah tampak pucat. “Itu ... kebetulan saja, Bu.”
Zea mengangkat alis. “Kebetulan?”
“Iya, Bu. Kebetulan keluarga kami memang tinggal di sini.”
Zea menunjuk nama lainnya. “Kalau yang ini?”
Seorang warga lain tanpa sadar menjawab, “Itu keluarga Pak Kades juga, Bu. Rumahnya di sebelah rumah adiknya.”
Kepala desa langsung menoleh tajam kepada warga tersebut. “Hei!”
Warga itu langsung terdiam, tetapi semuanya sudah terlambat.
Zea menutup berkas dengan perlahan. “Oh ... begitu.”
Intan menghela napas panjang. “Wah, datanya ternyata punya silsilah keluarga sendiri, Bu.”
pimter sekali mereka bikin si kanebo kereing mati kutu
mau bilang apa lagi coba hadeh