Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lamaran dimas
setelah pernikahan selesai, Olivia menemani nek Marni tidur.
"nek.. sudah tidur?" tanya Olivia.
"belum via... kenapa?"
"sampai kapan Terikat dengan jin itu nek?"
"sampai dia mendapatkan gantinya" ucap nek Marni pelan
"jadi nenek juga menikah dengan dia?"
"iya via... nenek buyutmu juga melakukan hal yang sama"
"kenapa harus aku yang dia pilih nek? kenapa ndak milih perempuan lain?"
"tulangmu tulang wangi via, tanda lahir di punggungmu itu juga sebagai pengikat turun temurun"
"seandainya aku ndak punya anak, apa akan berhenti sampai di aku nek?"
"seandainya kamu sudah tidak menghendaki lagi, kamu bisa melakukan ritual dibantu mbah sukri. tapi ada harga yang harus di bayar via"
"harga yang dibayar?" tanya Olivia
"iya... jin itu kan membantu kamu medapatkan kekayaan. tapi syaratnya kamu harus bekerja dan dia menambah uang untukmu"
"tapi hanya menikah saja kan nek? dia ndak minta jatah layaknya suami istri kan nek?"
"sesekali dia akan datang via, berbentuk asap putih. ketika asap itu datang, kamu tidak bisa menolak keinginan untuk bersetubuh"
Ucapan nek Marni membuat Olivia merinding.
"tapi nek, aku sudah pernah melakukan itu dengan pacarku"
"selama dia tidak cemburu kamu masih aman via, kalau di cemburu jangan segan untuk menggertak dia"
"apa dia tidak akan marah nek?"
"dia pasti akan marah, karena dia yang suka dengan kamu, dia pasti akan menuruti semua permintaan kamu sesuai janjinya tadi"
Olivia menatap kelangit -langit kamar nenek tua itu
"dia akan datang sesuka hatinya via. dia tidak akan menyakiti kamu"
"jika aku sudah tidak menginginkan dia lagi bagaimana nek?"
"lakukan ritual yang seperti nenek bilang tadi"
"nek... aku ndak menginginkan semua barang peninggalan nenek. aku mohon nenek berikan ke mas tejo"
"aku sudah menduga kalau kamu tidak menginginkan semua warisanku via"
"oh ya nek... sudah 2 kali aku memberikan bros itu kepada orang lain, tapi mereka meninggal semua nek. apa ada kaitannya bros dan kematian orang-orang itu?"
"itulah imbalan untuk jin itu via, bukan kamu yang di ambil tapi orang lain"
"jadi aku yang menyebabkan mereka meninggal nek?
"bukan kamu. tapi sudah menjadi garis hidup mereka"
"nek. aku tidak ingin dengan harta yang nenek berikan. mas tejo yang layak mendapatkan ini semua"
"kalau bukan kamu jadi untuk siapa harta-harta ku ini via?"
"berikan kepada mas tejo nek. disaat nenek sakit bukan aku yang ada di samping nenek tapi mas tejo"
"semua tanah, kebun dan sawah boleh untuk tejo. tapi rumah ini tidak via. ini rumah punden, rumah dari nenek buyut kamu"
"aku tidak janji untuk bisa merawatnya nek"
"jenguk sesekali via. suatu saat kamu akan membutuhkan rumah ini. disini semua barang-barang peninggalan nenek berada"
Olivia bukan tidak menghendaki semua pemberian nek marni, tapi tejo yang selalu ada ketika nek Marni membutuhkan.
*****
ditempat lain.
di kediaman pak bayu.
keluarga pak bayu menyambut kedatangan pak haikal. atas permintaan dinda malam itu dimas melamar dinda.
setelah prosesi lamaran, pak bayu membicarakan tanggal pernikahan dinda dan dimas.
"pak haikal... sebaiknya pernikahan anak-anak kita di percepat" pinta pak bayu
"bagaimana dimas?" pak haikal meminta persetujuan dimas.
"atur saja pa" ucap dimas pasrah
"jika memang ini yang di inginkan, kami sekeluarga menurut saja kapan pernikahannya di langsungkan" ucap pak haikal. karena semua keputusan ada di tangan pak bayu dan dinda.
"baiklah kalau pak haikal dan nak bayu setuju. pernikahannya mungkin satu bulan lagi"
mendengar pak bayu mengatakan satu bulan lagi, darah bayu seakan membeku. dinda yang duduk di samping bayu tersenyum bahagia sambil memutar mutar cincin lamarannya. tapi tidak dengan dimas, tersenyum itupun dia paksakan.
"kamu senang kan sayang?" tanya dinda
dimas mengangguk pelan. didalam hatinya meronta.
sepulang dari rumah pak bayu, dimas mengurung diri dikamarnya. mengirim chat kepada Olivia tapi tidak ada jawaban.
Dimas : sayang... sedang apa kamu sekarang?
Dimas : balas sayang
dimas : ping
Dimas : ping
dimas : sayang... kamu dimana? jawab!!!!
Tidak ada balasan dari Olivia, membuat dimas semakin gelisah.
tok tok tok
suara pintu kamar dimas diketuk
"nak... " bu Ratna memanggil dimas berkali-kali
"kenapa ma?" tanya pak haikal menghampiri istrinya
"sepulang dari rumah pak bayu, dimas ndak keluar sama sekali pa" bu Ratna khawatir dengan dimas
"mungkin dia capek ma. sudah jangan di ganggu" ucap pak haikal menepuk bahu istrinya meminta untuk pergi dari depan pintu kamar dimas.
*****
keesokan harinya
"nek... aku kembali ke kota" Olivia pamit kepada neneknya
"jika nanti kamu merasa tidak nyaman dengan jin itu, campur darah ayam cemani bersama dengan darah haidmu. rendam bros itu 3 hari. jika jin itu terlalu menyusahkanmu, bakar ketika dia bersamamu" Tiba-tiba nek Marni membisikkan dengan sangat pelan di telinga Olivia.
Olivia memeluk neneknya yang sudah renta itu.
"mas tejo. aku titip nenek ya. kabari aku jika ada apa-apa"
"iya vi..."
Olivia pamit dari rumah nek Marni, perempuan renta itu seperti kehilangan kekuatannya. sebelum Olivia membawa bros milik nek Marni, perempuan tua itu terlihat sangat sehat bukan seperti perempuan renta yang tak kuat menahan beban badannya sendiri.
Perjalanan Olivia terasa sangat cepat, tidak berhenti seperti kepulangan kemarin.
*****
sesampainya di kontrakan. mobil dimas sudah terparkir di halaman rumah itu.
melihat Olivia sampai, dimas menghampiri Olivia. belum juga Olivia turun, dimas sudah memeluknya.
"hey... sayang.. kamu kenapa?" Olivia membelai kepala dimas.
dimas menangis didalam pelukan Olivia. "hey... jangan seperti ini. kenapa? hmmm????"
Olivia berusaha turun dari belakang kemudi mobilnya. menggandeng tangan dimas untuk masuk kedalam rumah.
" mas dimas kenapa sis?" Olivia bertanya kepada Siska.
"satu bulan lagi dia akan menikah vi" ucap Siska. membuat darah Olivia membeku. Olivia tak bisa bicara, suaranya serasa tertahan di tenggorokan. Olivia menggenggam erat tangan dimas.
"kamu mau menikah. seharusnya bahagia kan sayang" hibur Olivia.
"bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan sayang. bukan dengan dia" tukas dimas dengan suara beratnya.
"banyak di luar sana yang berhasil dengan pernikahan, yang awalnya dari perjodohan. mereka Baik-baik saja. mungkin kamu juga akan seperti itu sayang" Olivia berusaha menguatkan diri. belum selesai kejutan dirinya harus menikah dengan jin, kini di kejutkan lagi dengan pernikahan dimas. pria yang selama ini memberikan rasa nyaman.
"aku mohon jangan tinggalkan aku sayang" dimas meremas tangan Olivia dan memohon.
"bukan aku yang meninggalkanmu sayang. tapi kamu yang meninggalkanku"
"tidak ada sedikitpun niat ku untuk meninggalkanmu sayang. jangan katakan itu lagi" dimas merajuk.
"mas... mungkin ini akan sulit untuk kamu jalani" Siska memotong pembicaraan mereka "jalani dulu, dinda sayang ke kamu mas. begitu juga Olivia"
"hanya via yang aku cinta sis... bukan dinda"
"lantas kamu akan mundur? pikirkan om dan tante mas"
"aku tidak bisa menjalani rumah tangga yang tidak aku inginkan sis..."
"benar kata Siska sayang. jalani dulu. aku janji tidak akan meninggalkanmu"
dimas memeluk Olivia dengan erat.