NovelToon NovelToon
Makam Keramat Panjang

Makam Keramat Panjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.

Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.

Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — TANDA DI BAWAH KUKU

Matahari pagi menyiramkan cahaya kuning hangat di atas halaman rumah panggung kami.

Dedek berlari riang di teras sambil menggendong tas sekolah barunya yang berwarna biru.

Ningsih tersenyum lebar memandangi anak kami yang sudah sembuh total dari demam tinggi.

“Dedek berangkat sekolah dulu ya, Bu! Bapak!” seru Dedek gembira sambil mencium tangan kami.

“Hati-hati di jalan ya, Nak, belajar yang rajin di sekolah!” sahut Ningsih melepasnya.

“Nanti pulang sekolah Bapak jemput di depan gerbang ya, Dedek!” seruku melambaikan tangan.

Dedek mengangguk gembira, lalu berlari kecil bergabung bersama teman-teman sebayanya di jalanan tanah.

Aku bernapas lega menyaksikan tawa ceria anak kandungku yang kembali hidup normal.

Namun rasa nyeri membekukan menyengat di bawah kuku ibu jari tangan kananku.

Aku buru-buru menyembunyikan ibu jari kananku ke dalam saku kemeja yang lusuh.

Di bawah kuku ibu jari itu, noda hitam batu nisan makin membesar.

Noda hitam gaib itu berdenyut dingin, seolah ada detak jantung mahluk halus.

“Mas... kenapa jempol tanganmu kamu tancapkan terus di dalam saku kemeja?” tanya Ningsih heran.

Istriku melangkah mendekat sambil membawa cangkir teh hangat dan pisang goreng.

“Jempol tanganku cuma terkilir sedikit waktu memotong kayu bakar kemarin malam, Ningsih,” jawabku berbohong.

“Coba aku lihat jempolmu, Mas, biar aku olesi minyak urut,” tawar Ningsih penuh perhatian.

“Tidak usah, Ningsih, ini cuma terkilir ringan dan sudah tidak sakit lagi,” kelitku menolak.

Aku sengaja melangkah mundur menghindari raihan tangan istriku yang hendak memeriksa.

Ningsih menatapku dengan pandangan mata heran, namun ia tidak memperpanjang pertanyaannya lagi.

“Ya sudah kalau begitu, Mas, aku mau membongkar papan penutup toko sekarang,” pamit Ningsih.

“Toko kita harus dibuka cepat karena barang-barang belanjaan baru sudah siap dijual,” sambungnya.

“Iya, Ningsih, aku bantu mengangkat papan toko sekarang juga,” sahutku bergegas.

Kami berdua melangkah menuju bangunan toko kelontong di samping rumah panggung.

Begitu selot besi pintu toko kutarik keluar, aroma bau pandan basah mendadak berembus pekat.

Aroma gaib itu menyeruak dari sela-sela karung beras dan toples gula pasir.

Sreeek!

Suara pintu pagar bambu depan halaman toko digeser kasar oleh kerumunan warga desa.

Puluhan warga desa mendadak sudah berdiri berjejer rapi di depan meja kasir kayu.

Mata mereka tampak sayu dan kosong, melangkah bagaikan boneka kayu yang digerakkan gaib.

“Surya! Saya beli beras lima belas kilo sama minyak goreng lima liter!” seru Bu Marni.

“Saya beli telur empat kilo sama kopi bubuk sepuluh bungkus, Surya!” sambung Pak Karso datar.

“Sabar satu per satu ya, Bapak dan Ibu sekalian,” sahutku sibuk melayani pesanan mereka.

“Semua barang di toko ini cukup buat kebutuhan belanja kalian hari ini!” tambahku menenangkan.

Warga desa berebut memborong barang dagangan kami tanpa menawar harga.

Mereka menyerahkan lembaran uang kertas dengan tatapan mata kaku tanpa berkedip.

Namun setiap kali jemariku menyentuh uang kertas warga, rasa dingin menusuk tulang.

Noda hitam berbentuk batu nisan di bawah kuku ibu jariku mendadak berdenyut-denyut keras.

Hawa dingin merambat naik dari jempol tangan kanan menuju siku lenganku.

“Kenapa uang dari pembeli hari ini terasa sangat dingin seperti es batu ya, Mas?” bisik Ningsih.

Istriku yang berdiri di sampingku ikut mengusap-usap telapak tangannya yang mendingin kaku.

“Ini cuma karena hawa embun pagi yang masih tebal, Ningsih,” jawabku berbohong lagi.

“Tapi bau uang ini persis seperti wangi bunga kamboja di kuburan tua, Mas,” desak Ningsih.

“Jangan terlalu banyak melamun, Ningsih, yang penting dagangan kita laris manis hari ini,” potongku menyela.

Ningsih menghela napas panjang, lalu kembali melayani bungkusan belanjaan warga yang tak berkurang.

Hanya dalam dua jam saja, seluruh rak barang toko kami kembali habis bersih.

Kotak kasir kayu di atas meja penuh sesak oleh tumpukan uang kertas puluhan ribu rupiah.

Ningsih tersenyum gembira memandangi tumpukan uang hasil penjualan toko kami.

“Alhamdulillah, Mas! Hari ini kita dapat uang penjualan lebih dari lima juta rupiah!” seru Ningsih.

“Rezeki kita benar-benar melimpah luar biasa sejak utang toko lunas kemarin,” sambungnya bahagia.

“Iya, Ningsih, sekarang kamu bisa simpan uang itu di dalam lemari kamar,” jawabku tersenum kaku.

Ningsih memasukkan tumpukan uang itu ke dalam kantong kain, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.

Aku duduk sendirian di atas kursi kayu toko, memandangi ibu jari tangan kananku yang dibalut kain.

Plester kain putih di ibu jari terasa makin basah oleh lelehan darah hitam.

Noda hitam batu nisan itu telah merambat menembus pinggiran kulit kuku jariku.

Srik!

Suara gesekan dedaunan kering di sudut teras toko membuatku terkejut setengah mati.

Seorang lelaki tua berbadan bungkuk melangkah keluar dari balik rimbunan pohon pisang liar.

Lelaki tua itu berjalan diseret dengan kedua tangan yang gemetar hebat dan napas tersengal-sengal.

Aku terperanjat kaget begitu mengenali sosok wajah lelaki tua bungkuk tersebut.

“Pak Kasan?” panggilku kaget setengah mati sambil berdiri dari kursi kayu toko.

“Kenapa keadaan fisik Bapak kelihatan makin parah dan menyedihkan begini?” tanyaku iba.

Wajah Pak Kasan tampak hitam legam seperti gosong terbakar api, dengan mata yang cekung memerah.

Kulit lengan dan jemari tangannya bersisik hitam, menyerupai kulit bangkai ular yang mengering.

Aroma bau tanah kuburan basah dan bangkai busuk menguar pekat dari pakaian lusuhnya.

Pak Kasan mendudukkan tubuh ringkihnya di bangku kayu teras dengan napas terengah-engah.

“Surya... kamu sudah menyebutkan namaku saat menyembelih ayam cemani semalam kan?” tanya Pak Kasan.

Suara bicara Pak Kasan terdengar sangat serak, bergetar kaku dari balik tenggorokannya yang hancur.

“Iya, Pak Kasan... saya sudah menyebutkan nama Bapak di batu nisan makam itu,” jawabku pelan.

“Saya mohon maaf kalau tindakan saya membuat penunggu makam murka pada Bapak,” tambahku jujur.

Pak Kasan terkekeh pelan, sebuah tawa serak mengerikan yang mengeluarkan gumpalan darah hitam dari mulutnya.

Uhuk! Uhuk!

Pak Kasan terbatuk-batuk keras, memuntahkan segumpalan tanah kuburan merah berbaur darah segar ke lantai.

Aku terperanjat mundur, merinding ketakutan menyaksikan kejadian maut di depanku.

“Penunggu makam tidak murka padaku karena namamu, Surya...” bisik Pak Kasan memegang dadanya.

“Mahluk gaib itu justru tertawa puas karena mendapat dua raga korban sekaligus!” lanjut Pak Kasan.

“Dua raga korban sekaligus? Maksud Pak Kasan bagaimana?” tanyaku dengan jantung berdegup keras.

Pak Kasan mengangkat tangan kanannya yang bersisik hitam, menunjuk tepat ke arah ibu jari kananku.

“Buka ikatan kain plester putih di jempol tangan kananmu itu sekarang, Surya!” perintah Pak Kasan.

Dengan jemari yang gemetar hebat tak terkontrol, aku melepaskan balutan plester kain di ibu jariku.

Di bawah pendar pendar sinar matahari siang, noda hitam berbentuk batu nisan terlihat makin pekat.

Garis-garis hitam kebiruan berbentuk akar pohon tua telah melingkari seluruh kuku ibu jariku.

“Tanda batu nisan di bawah kukumu itu adalah segel perjanjian kematian, Surya!” kata Pak Kasan.

“Tanda hitam itu bukti kalau jiwamu sudah ditandai sebagai budak penunggu Makam Keramat Panjang!” tegasnya.

Darahku terasa membeku seketika mendengarkan penjelasan mengerikan dari mulut Pak Kasan.

“Apakah tanda nisan di kuku saya ini tidak bisa dihilangkan, Pak Kasan?” tanyaku panik.

Pak Kasan menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan mata yang sangat dingin kosong.

“Tanda nisan itu tidak akan pernah hilang sampai ragamu hancur menjadi tanah!” jawab Pak Kasan.

“Setiap kali kamu membelanjakan uang pesugihan itu, tanda hitam akan menjalar ke lenganmu,” jelasnya.

“Sama persis seperti kulit tanganku yang sekarang sudah bersisik hitam menjadi bangkai!” tambahnya.

Aku menatap lengan bersisik hitam Pak Kasan dengan rasa takut yang membakar jiwa.

“Lalu apa yang harus saya lakukan buat menghentikan penyebaran noda hitam ini, Pak Kasan?” tanyaku.

“Kamu wajib menuntaskan semua ritual Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon tanpa pernah alpa!” jawab Pak Kasan.

“Kalau kamu alpa satu kali saja... raga anak dan istri mu yang akan menjadi penggantinya!” ancamnya.

Pak Kasan berdiri perlahan dari bangku kayu teras, menyapu darah hitam di bibirnya dengan lengan baju.

“Aku datang cuma memperingatkanmu sebagai sesama korban perjanjian iblis itu, Surya,” kata Pak Kasan.

“Jangan pernah percaya pada janji-janji manis Simbah atau Ujang yang membawamu ke sana!” lanjutnya.

Pak Kasan berjalan diseret meninggalkan teras toko kami, menghilang di kebun bambu.

Aku terduduk lemas di atas lantai semen toko dengan napas memburu dan kucuran keringat dingin.

Suara raungan mesin motor Ujang yang bising terdengar berhenti tepat di depan halaman toko.

Ujang turun dari atas kendaraannya dengan raut wajah panik luar biasa mendatangi teras toko.

“Surya! Apakah Pak Kasan baru saja datang mendatangi rumahmu siang ini?” tanya Ujang berbisik panik.

“Iya, Jang, Pak Kasan baru saja pergi meninggalkan teras toko ini,” jawabku dengan suara bergetar.

“Apa saja yang dikatakan oleh Pak Kasan kepadamu tadi, Mas?” tanya Ujang menatapku curiga.

“Pak Kasan memperingatkanku tentang tanda nisan hitam di kuku ibu jariku ini, Jang!” jawabku.

Aku memperlihatkan ibu jari tangan kananku yang bernoda hitam batu nisan pada Ujang.

Ujang terperanjat kaget, mundur satu langkah dari meja kasir dengan raut wajah tegang tinggi.

“Astagfirullah... tanda nisan itu sudah muncul cepat di kukumu, Mas?” bisik Ujang heran.

“Pak Kasan bilang ini tanda kalau jiwaku sudah menjadi budak penunggu makam keramat itu, Jang!” jeritku.

“Apakah kamu sengaja menjebakku masuk ke dalam perangkap iblis ini bersama Pak Kasan, Jang?” amukku.

Ujang memegang erat kedua bahuku, menatap mataku lurus-lurus menenangkan emosiku.

“Tenangkan dirimu dulu, Mas! Jangan terpengaruh ucapan Pak Kasan yang sudah gila!” gertak Ujang.

“Pak Kasan menjadi seperti itu karena dia melanggar janji membelanjakan uang pesugihan!” jelas Ujang.

“Pak Kasan memakai uang pinjaman gaib itu buat main judi dadu dan mabuk-mabukan!” tegasnya.

“Itulah kenapa penunggu makam murka dan menyiksa raga Pak Kasan menjadi bersisik hitam!” tambah Ujang.

Jantungku berdebar kencang mendengarkan penjelasan sebab akibat yang disampaikan oleh Ujang.

“Jadi Pak Kasan disiksa karena melanggar larangan membelanjakan uang buat hal maksiat, Jang?” tanyaku.

“Iya, Mas! Selama kamu memakai uang itu buat makan anak istri dan modal toko, kamu aman!” tegaskan Ujang.

“Tapi tanda nisan di kukumu itu wajib dijaga dengan rajin membersihkan makam Selasa Kliwon!” pesan Ujang.

“Selasa Kliwon depan kamu harus datang lagi membawa bunga kantil segar dan air mawar!” tambah Ujang.

Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengarkan arahan Ujang.

“Baiklah, Jang, aku pasti akan menjaga kelakuanku dan mematuhi semua jadwal ritual,” janji pasrahku.

“Baguslah kalau kamu paham, jangan dengarkan lagi bualan Pak Kasan yang tersesat itu,” kata Ujang.

Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik melangkah jalan menuju kendaraan sepeda motornya.

Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan sore perkampungan.

Malam harinya, suasana di dalam rumah panggung kami terasa hangat namun diliputi misteri gaib.

Dedek makan malam dengan sangat lahap, tertawa gembira bersama Ningsih di atas tikar pandan.

“Masakan Ibu hari ini enak sekali!” puji Dedek sambil menyuap nasi putih dan daging ayam.

“Makan yang banyak ya, Nak, biar badanmu makin sehat dan kuat di sekolah,” sahut Ningsih tersenyum.

“Terima kasih ya, Ibu! Terima kasih juga buat Bapak yang sudah membelikan biskuit manis!” seru Dedek.

“Sama-sama, sayang, yang penting Dedek rajin belajar dan selalu berdoa,” jawabku mengelus kepalanya.

Aku mengelus kepala anakku menggunakan tangan kiri, sementara tangan kananku tetap tersembunyi di saku.

Setiap kali bayangan tanda nisan di kuku ibu jariku teringat, hatiku menangis teriris perih.

Setelah Dedek dan Ningsih masuk ke kamar tidur buat beristirahat, aku duduk sendirian di teras.

Malam di luar begitu pekat, ditiup oleh angin dingin yang membawa aroma wangi bunga kantil busuk.

Aku melepaskan balutan plester putih di ibu jari tangan kananku di bawah sinar bulan.

Di dalam kegelapan malam, noda hitam batu nisan di bawah kuku ibu jariku mendadak menyala.

Pendar cahaya hijau kebiruan redup keluar dari balik kuku, memancarkan aroma bau tanah kuburan basah.

Suara bisikan gaib mendesis halus mendadak bergema sangat jelas di samping daun telinga kiriku.

“Selasa Kliwon... sapu rumahku lagi, Surya... atau darah anakmu yang membasahi nisanku...” bisik suara itu.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, menggenggam erat jemari tangan kananku hingga terasa sakit.

Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah terpatri abadi di dalam daging dan tulangku.

Aku tidak akan pernah bisa lari atau bersembunyi dari bayangan kuburan tua di atas bukit itu.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!