Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 — SURAT DI DALAM KOTAK MAHKOTA
Pagi itu, pukul enam, aku terbangun oleh suara Mbok yang berteriak dari luar gubuk.
“Gusti Permaisuri! Gusti! Ada sesuatu di kotak mahkota!”
Aku langsung membuka mata.
Untuk sesaat, aku lupa sedang berada di mana. Namun, suara Mbok yang kembali memanggil namaku membuatku segera bangkit dari tikar pandan.
Di sampingku, Segara El-Bhumi masih tidur dengan wajah menghadap dinding bambu. Noda arang yang belum sepenuhnya hilang masih terlihat di ujung hidungnya. Tangannya pun menyisakan warna hitam akibat pekerjaan kami kemarin.
Aku hampir tersenyum melihat penampilannya.
Namun, teriakan Mbok terdengar lagi.
“Gusti! Cepat, Gusti! Saya takut ada yang rusak!”
Aku bergegas keluar.
Mbok berdiri di depan gubuk sambil memegang sebuah kotak kayu cendana. Wajahnya tampak cemas. Kotak itu memang sudah beberapa hari berada di dekat gerobak, tetapi pagi ini bagian bawahnya terlihat lembap.
Aku mengenalinya.
Kotak itulah yang dahulu digunakan untuk menyimpan mahkota emas murni. Mahkota yang membawaku pada kehidupan ini, setelah darahku menetes di atasnya di museum sejarah pada abad ke-21.
Mahkota itu sekarang kusimpan terpisah, terbungkus kain sutra dan tersembunyi di dalam gerobak. Aku tidak berani meninggalkannya begitu saja di dalam kotak. Setelah menemukan jejak orang bersepatu kulit istana yang menyebarkan benih palsu pada malam hari, kewaspadaanku semakin meningkat.
“Mbok, apa yang terjadi?”
“Semalam hujan deras, Gusti. Air masuk dari atap yang bocor. Kotak ini rupanya ikut terkena air ketika saya memindahkan barang-barang tadi pagi.” Mbok mengangkat kotak itu sedikit. “Saya takut kayunya rusak.”
Aku menerima kotak tersebut dengan hati-hati.
Aroma khas kayu cendana masih tercium, meskipun bagian bawahnya terasa lembap. Kayu itu seharusnya cukup tahan terhadap gangguan serangga, tetapi bukan berarti seluruh bagiannya kebal terhadap air.
“Mahkotanya aman?” tanyaku.
“Aman, Gusti. Masih terbungkus kain sutra di dalam gerobak.”
Aku mengembuskan napas lega.
Setidaknya, satu masalah tidak bertambah.
Aku membawa kotak itu masuk ke dalam gubuk, lalu meletakkannya di atas tikar. Di sekelilingku terdapat berbagai bukti yang telah kami kumpulkan: dua mangkuk benih palsu, buku catatan kulit kambing, gambar jejak sepatu, botol kosong dari hutan bambu, dan catatan mengenai cincin batu merah.
Di sudut lain, setengah karung arang masih tersisa dari pekerjaan kami kemarin. Panci ramuan Mbok juga sudah kosong, meskipun aroma kunyit asam masih tertinggal di permukaannya.
Aku membuka tutup kotak cendana.
Kosong.
Tentu saja. Mahkota emas murni tidak berada di dalamnya.
Namun, ketika aku hendak memeriksa bagian bawah kotak, mataku menangkap sesuatu yang tidak biasa.
Lapisan beludru merah di dasar kotak tampak menggelembung. Sebagian lemnya terlepas akibat kelembapan, memperlihatkan tepian papan tipis di bawahnya.
Aku mengerutkan kening.
“Mbok, apakah bagian ini memang selalu seperti ini?”
Mbok ikut berjongkok.
“Seingat saya, tidak, Gusti. Dahulu kotak itu terlihat utuh.”
Aku menyentuh tepian beludru dengan ujung jari. Kainnya terasa lembap dan rapuh. Ketika kuangkat sedikit, terlihat lapisan kayu lain yang tidak seharusnya berada di sana.
Jantungku mulai berdegup lebih cepat.
Aku mencoba menarik kain itu perlahan, tetapi beberapa bagian masih menempel. Daripada merusaknya, aku mengambil ujung kecil alat kayu yang biasa digunakan Mbok untuk membersihkan sisa ramuan dari ulekan.
Dengan hati-hati, kuselipkan ujung alat tersebut ke celah papan.
Terdengar bunyi kecil.
Krek.
Papan tipis itu terangkat.
Aku berhenti bergerak.
Di bawahnya terdapat ruang sempit yang sengaja dibuat di antara dua lapisan dasar kotak.
Dan di dalam ruang itu, terselip selembar kertas tua yang dilipat berkali-kali.
“Gusti Allah...” bisik Mbok.
Aku tidak langsung mengambilnya. Kertas itu sudah menguning, dengan beberapa bercak gelap di permukaannya. Salah menarik bagian yang rapuh bisa membuatnya sobek.
Aku mengulurkan tangan perlahan, lalu mengangkat lipatan kertas itu dari tempat persembunyiannya.
Saat itulah Segara muncul dari balik tirai bambu.
“Ada apa?”
Suaranya masih serak karena baru bangun. Namun, begitu melihat kotak cendana yang terbuka dan kertas tua di tanganku, kantuk di wajahnya seolah menghilang.
Ia segera berjongkok di sampingku.
“Dari mana kau mendapatkannya?”
“Di bawah dasar palsu kotak mahkota, Gusti.”
Segara menatap kotak itu lama.
Kemudian, pandangannya berpindah ke kertas di tanganku.
“Buka. Perlahan.”
Aku mengangguk.
Dengan bantuan cahaya pagi yang masuk melalui celah dinding bambu, kubuka lipatan pertama. Kemudian lipatan kedua. Kertas itu mengeluarkan aroma tua yang mengingatkanku pada buku-buku langka di perpustakaan kampus.
Di permukaannya terdapat tulisan menggunakan aksara Kerajaan Langit kuno.
Dahulu, saat pertama kali terbangun di dunia ini, aku bahkan tidak mampu membaca satu kalimat pun. Aksara yang tampak asing itu membuatku merasa seperti orang buta huruf di tengah kehidupan yang seharusnya menjadi milikku.
Namun, selama perjalanan kami, Segara mengajariku sedikit demi sedikit.
Satu huruf.
Satu bunyi.
Satu kata.
Aku membuka lipatan kertas itu perlahan. Tulisan aksara Kerajaan Langit kuno memenuhi permukaannya, menggunakan tinta hitam yang mulai pudar. Bentuk hurufnya tidak lagi asing bagiku. Selama perjalanan ini, Segara telah mengajariku membaca sedikit demi sedikit.
Aku mulai membaca dalam hati.
Kalimat pertama membuat napasku tertahan.
“Untuk anakku yang kelak menjadi Permaisuri Sejati, bukan perempuan yang disebut membawa kesialan.”
Aku mengangkat wajah, lalu melanjutkan membaca dengan suara pelan agar Segara dan Mbok bisa mendengar.
Surat itu ditulis oleh Ibu Suri. Ia menjelaskan bahwa kotak cendana tersebut bukan sekadar tempat menyimpan mahkota, melainkan tempat persembunyian pesan penting. Mahkota emas murni yang selama ini kami bawa juga memiliki fungsi lain: menjadi kunci untuk membuka ruang penyimpanan rahasia di bawah Jembatan Batu.
Di tempat itulah benih cadangan leluhur Kerajaan Langit disimpan, sebagai persediaan apabila benih kerajaan dirusak atau dicemari.
Namun, bagian berikutnya membuat suasana gubuk berubah tegang.
Ibu Suri menulis bahwa empat puluh karung benih yang dikirim ke perbatasan telah ditukar. Ia juga mencurigai pemalsuan tanda tangan Patih Agung dan keberadaan kelompok yang menggunakan cincin batu merah sebagai tanda pengenal.
Petunjuk itu terasa dekat dengan apa yang kami temukan selama penyelidikan.
Jejak sepatu berujung runcing di sawah. Botol kosong di hutan bambu. Kesaksian Tabib Marno tentang seorang pria berpakaian hitam yang mengancam keluarganya.
Aku melanjutkan membaca sampai tiba pada petunjuk untuk membuka tempat penyimpanan tersebut.
Dari sisi utara Jembatan Batu, kami harus menemukan batu pijakan ketiga dan mengetuk bagian tengahnya menggunakan mahkota emas murni. Namun, Ibu Suri juga memperingatkan agar kami memastikan keadaan sekitar aman sebelum mencobanya. Ia tidak mengetahui apakah tempat itu masih dijaga oleh orang-orang yang dapat dipercaya.
Di bagian akhir, tulisan tangannya tampak sedikit berbeda, seolah ia menulis dengan tergesa atau menahan sesuatu yang berat.
“Maafkan aku karena tidak mampu melindungimu sepenuhnya ketika kau dituduh membawa kesialan. Diamku bukan berarti aku tidak peduli.”
Tidak ada tanda tangan lengkap di bawahnya. Hanya cap jempol kecil berwarna merah.
Aku mengenal cap itu dari surat izin keluar Paviliun Mawar yang pernah kulihat sebelumnya.
Surat dari Ibu Suri.
Aku menatap kertas tua di tanganku sampai tulisan di hadapanku mulai kabur. Air mata jatuh tanpa sempat kutahan.
Selama ini, aku mengira Ibu Suri hanya membiarkan tubuh asli Kahiyang menanggung penghinaan seorang diri. Aku tidak tahu apakah semua tindakannya dapat dibenarkan, tetapi surat ini menunjukkan bahwa ada bagian dari kisahnya yang belum pernah kami ketahui.
Segara membaca kembali beberapa baris, lalu mengepalkan tangan.
“Ibu Suri mengetahui penukaran benih itu,” katanya dingin. “Tetapi surat ini belum membuktikan siapa yang memberi perintah sebenarnya.”
“Petunjuk tentang cincin batu merah cocok dengan kesaksian Tabib Marno,” sahutku. “Namun, kita masih perlu mencari bukti lain.”
Segara mengangguk. Tatapannya beralih pada buku catatan kulit kambing yang memuat gambar jejak sepatu.
“Kalau kelompok itu memang terlibat, mereka memiliki akses ke jalur distribusi kerajaan. Kita tidak boleh bertindak gegabah.”
Aku melipat kembali surat itu dengan hati-hati. Untuk pertama kalinya, penyelidikan kami mengarah pada tempat yang jauh lebih tua daripada lumbung perbatasan.
Tidak lama kemudian, Kepala Desa datang membawa dua cangkir teh pahit. Ia berhenti ketika melihat kotak cendana yang terbuka dan surat tua di hadapan kami.
“Ada apa, Gusti? Apakah kotak mahkota itu rusak?”
“Kami menemukan surat dari Ibu Suri,” jawabku. “Surat ini menyebutkan sebuah ruang penyimpanan rahasia di bawah Jembatan Batu.”
Wajah Kepala Desa berubah serius.
“Tempat itu memang ada dalam cerita orang-orang tua, Gusti. Konon, di bawah jembatan terdapat celah menuju ruang batu yang sudah lama tertutup. Namun, saya sendiri belum pernah melihatnya terbuka.”
“Apakah Bapak tahu jalan masuknya?”
Kepala Desa menggeleng.
“Bagian bawah jembatan dipenuhi batu besar dan lumut. Orang-orang sudah lama menganggap tempat itu terlarang.”
Segara menatapnya tajam.
“Kalau begitu, besok tunjukkan jalan menuju sana. Kita akan memeriksanya, tetapi tidak seorang pun pergi sendirian.”
Kepala Desa menundukkan kepala.
“Baik, Gusti.”
Setelah ia pergi, Mbok duduk di sampingku. Matanya masih basah ketika memandang surat yang telah kulipat kembali.
“Saya kira Ibu Suri tidak peduli kepada Gusti Permaisuri,” gumamnya. “Ternyata beliau meninggalkan petunjuk agar rahasia ini bisa ditemukan.”
“Kita belum tahu seluruh ceritanya, Mbok,” jawabku lembut. “Tapi sekarang kita punya alasan untuk mencari tahu.”
Kami menyimpan surat itu di dalam kain bersih, kemudian meletakkannya kembali di kotak cendana. Barang-barang bukti lain juga kupastikan tetap aman dan kering. Aku tidak ingin satu pun hilang sebelum kami mengetahui siapa yang berada di balik pemalsuan benih.
Menjelang sore, Segara mengambil mahkota emas murni dari gerobak. Ia membuka kain sutra yang membungkusnya. Lima ornamen mawar kecil di bagian atasnya berkilau diterpa cahaya matahari.
“Besok kita menuju Jembatan Batu,” katanya.
Aku mengangguk. “Kita harus memastikan keadaan sekitar aman sebelum mencoba membuka ruang itu.”
“Benar. Kita belum tahu apakah orang-orang bercincin batu merah sudah mengetahui keberadaannya.”
Aku menatap mahkota tersebut. Dahulu, benda itu menjadi awal dari kehidupanku yang kacau di dunia ini. Sekarang, mahkota yang sama mungkin membawa kami pada rahasia yang telah disembunyikan selama puluhan tahun.
Malamnya, kami kembali berbaring di atas tikar pandan. Hujan telah reda, tetapi atap gubuk masih sesekali meneteskan air.
“Kahiyang,” panggil Segara.
“Ya, Gusti?”
“Jika tempat itu benar-benar menyimpan benih cadangan, kita harus memeriksanya dengan hati-hati. Kita tidak tahu bagaimana kondisinya setelah sekian lama.”
Aku mengangguk dalam gelap.
“Dan setelah itu, kita tetap harus menemukan orang yang menukar benih di perbatasan.”
“Ya.”
Jawabannya singkat, tetapi ketegasan dalam suaranya tidak menyisakan keraguan.
Suara Sistem terdengar sesaat kemudian.
[DING!]
[MISI BAB 33 SELESAI: SURAT DI DALAM KOTAK MAHKOTA]
[PETUNJUK BARU: RUANG PENYIMPANAN RAHASIA DI BAWAH JEMBATAN BATU.]
[OBJEK PENTING: MAHKOTA EMAS MURNI.]
[TUJUAN BERIKUTNYA: MEMERIKSA BATU PIJAKAN KETIGA DARI UTARA.]
[PERINGATAN: KONDISI BENIH CADANGAN BELUM DIKETAHUI.]
Aku memejamkan mata, tetapi pikiranku masih tertuju pada Jembatan Batu.
Besok, kami akan mencari pintu masuk menuju ruang penyimpanan itu. Aku belum tahu apa yang menunggu di bawah jembatan tua tersebut, tetapi aku mulai memahami bahwa persoalan di perbatasan bukan sekadar upaya merusak panen.
Ada rahasia lama yang sengaja disembunyikan.
Dan kini, kami memiliki petunjuk pertama untuk menemukannya.
Bersambung...