PERANG TANPA PAHLAWAN
Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.
Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.
Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.
Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 — Darah Pertama
Ardan tidak pernah memutuskan untuk melakukannya.
Kelak, ketika ia mencoba mengingat kembali malam itu, ia tidak menemukan satu pun pikiran di dalam kepalanya.
Tidak ada kemarahan, tidak ada keberanian, tidak ada rencana. Yang ada hanya ketakutan yang begitu besar sampai menelan semua yang lain.
Prajurit muda itu melangkah maju sekali lagi.
Pedangnya terangkat setengah, bukan untuk menebas, tetapi seperti orang yang ragu-ragu.
"Aku bilang, letakkan—"
Tobin tersandung ke belakang.
Kakinya tersangkut puing, dan ia jatuh terduduk dengan suara kecil yang menyedihkan.
Prajurit itu menoleh sekejap ke arahnya.
Sekejap saja.
Tubuh Ardan bergerak sendiri. Sabit di tangannya terayun dari samping, melengkung seperti ketika ia memotong gandum di ladang, gerakan yang sudah ia ulangi ribuan kali sejak kecil.
Bilahnya masuk ke sisi leher prajurit itu dengan suara yang tidak akan pernah bisa Ardan lupakan, suara basah dan pendek, seperti memotong batang yang terlalu tebal.
Prajurit itu tidak berteriak.
Ia hanya menatap Ardan dengan mata yang melebar, terkejut, seolah baru saja diberi tahu sesuatu yang tidak masuk akal.
Pedangnya jatuh berdentang ke tanah.
Kedua tangannya naik ke lehernya, dan cairan hangat mengalir di antara jari-jarinya.
Lalu ia berlutut. Lalu roboh.
Gang itu mendadak sunyi.
Di kejauhan api masih menderu dan orang-orang masih menjerit, tetapi semua itu terdengar jauh, seperti datang dari bawah air.
Ardan berdiri dengan sabit yang masih terangkat setengah.
Bilahnya meneteskan sesuatu yang gelap.
Ia menatapnya, lalu menatap tubuh di kakinya.
Prajurit itu masih bernapas.
Dada di balik zirah itu naik turun dalam gerakan pendek dan patah-patah. Bibirnya bergerak, menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar.
"Ardan." Suara Tobin datang dari sangat jauh. "Ardan, kita harus pergi."
Ardan tidak bergerak.
"Dia mengatakan sesuatu," bisiknya.
"Ardan!"
Ia berlutut, entah mengapa.
Ia mendekatkan telinganya ke bibir prajurit itu dan mendengar satu kata, diucapkan dengan napas terakhir.
"Ibu."
Kemudian tidak ada lagi.
Mereka berlari.
Ardan tidak ingat bagaimana ia sampai di hutan.
Yang ia ingat hanya tangan Tobin yang mencengkeram lengannya, menyeretnya melewati semak berduri yang merobek kulit, melewati akar yang membuatnya berkali-kali hampir jatuh.
Ranting menampar wajahnya. Ia tidak peduli.
Di tengah hutan, Tobin berhenti dan muntah di balik sebuah pohon.
Ardan berdiri kaku di sampingnya.
Ia memandang tangannya sendiri.
Di bawah cahaya bulan yang menembus dedaunan, darah itu tampak hitam.
Ia mencoba mengelapnya pada celana. Tidak mau hilang. Ia menggosok lebih keras, lalu lebih keras lagi, sampai kulitnya perih.
"Berhenti," kata Tobin serak. Ia sudah menyeka mulutnya dengan lengan baju.
"Berhenti, Ardan. Kau menyelamatkan aku."
"Dia memanggil ibunya."
Tobin terdiam.
"Dia sama seperti kita," lanjut Ardan. Suaranya datar, dan itu yang paling menakutkan.
"Dia masih muda. Dia takut. Dia bahkan tidak ingin melukai kita."
"Dia membakar desa kita."
"Bukan dia. Dia hanya..." Ardan tidak menemukan kata untuk melanjutkan.
Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan rasa besi dari darah itu membuat perutnya berputar. Ia berbalik dan memuntahkan sisa roti keras yang ia makan pagi tadi.
Dulu, kalimat itu terdengar begitu ringan. *Aku akan menjagamu.* Ia tidak pernah membayangkan harga yang harus dibayar untuk kalimat itu.
Sumur tua itu berada di sebuah cekungan di balik bukit, dikelilingi batu-batu berlumut.
Ardan dan Tobin tiba menjelang dini hari, kelelahan sampai lutut mereka gemetar.
Tempat itu kosong.
Ardan berdiri di tepi cekungan dan menunggu.
Ia menunggu Ayah muncul dari balik batu dengan wajah tegas dan berkata, *kenapa lama sekali*. Ia menunggu Ibu memeluknya sampai ia sesak napas. Ia menunggu Nira melompat keluar dengan dagu terangkat.
Tidak ada yang muncul. Hanya angin yang menggoyangkan rumput, dan bunyi tetesan air di dasar sumur.
"Mereka mungkin ke tempat lain," kata Tobin tanpa keyakinan. "Mungkin mereka bersembunyi di gua barat."
"Ayah bilang di sini."
"Kalau ada yang menghalangi jalan mereka..."
"Ayah bilang di *sini*, Tobin."
Tobin tidak menjawab lagi.
Mereka menunggu sampai langit di timur mulai memucat.
Satu jam, mungkin dua.
Beberapa penduduk desa lain akhirnya datang satu per satu, berjalan terhuyung dari arah hutan.
Seorang lelaki tua dengan lengan terbakar.
Dua anak kecil yang menangis tanpa suara.
Seorang perempuan yang berulang kali menyebut nama suaminya seperti doa.
Ardan bertanya pada setiap orang yang datang.
*Kau melihat Ayahku? Ibuku? Seorang gadis kecil dengan kepang?* Mereka menggeleng, satu demi satu. Seorang perempuan menyentuh lengannya dengan tatapan iba yang lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Mereka tidak datang.
Fajar akhirnya tiba, dingin dan kelabu. Dari puncak bukit, Ardan memandang ke bawah, ke arah lembah tempat Elar berada.
Tidak ada lagi Elar.
Yang tersisa hanya kerangka hitam rumah-rumah, dengan asap tipis yang naik lurus ke langit tak berawan.
Ladang gandum yang kemarin keemasan sudah menjadi hamparan abu.
Di tengah desa, menara lonceng masih berdiri tegak, satu-satunya bangunan yang tidak roboh, seperti tulang yang menolak hancur.
Di sepanjang jalan utama, Ardan melihat bentuk-bentuk kecil yang tidak bergerak.
Ia memaksa dirinya menghitung, lalu berhenti pada angka dua puluh.
"Kita harus pergi," kata seseorang di belakangnya. Seorang lelaki bersuara berat, kepala desa lama yang selamat entah bagaimana.
"Pasukan Valdren berkumpul di benteng selatan. Katanya mereka menerima siapa saja. Kalau kita tetap di sini, kita akan mati kelaparan, atau pasukan Ravharn akan kembali."
"Aku tidak akan pergi," jawab Ardan. "Keluargaku..."
"Nak." Lelaki tua itu menatapnya lama.
"Kalau mereka selamat, mereka juga akan pergi ke benteng. Itu satu-satunya tempat yang tersisa."
Ardan memandang ke bawah, ke reruntuhan rumahnya.
Ia tidak bisa melihat rumah itu dari sini, hanya bisa menebak letaknya dari bentuk pohon oak besar yang kini hangus separuh.
Ia teringat kata-kata Ayah di beranda sore kemarin. *Dunia ini tidak selalu ramah pada orang yang percaya begitu saja.*
Ia teringat prajurit muda yang memanggil ibunya.
Di samping Ardan, Tobin duduk dengan lutut ditarik ke dada, menatap kosong.
Ardan mengulurkan tangan, dan Tobin menggenggamnya tanpa suara.
Tidak ada pahlawan dalam cerita ini.
Tidak ada yang datang menyelamatkan mereka.
Yang ada hanya dua pemuda desa dengan tangan bernoda, sebuah sabit tua, dan satu jalan yang masih terbuka.
"Benteng selatan," kata Ardan akhirnya.
Ia bangkit. Kakinya gemetar, tetapi ia berdiri.
Untuk pertama kalinya, ia berpikir bukan tentang apa yang ia inginkan, melainkan tentang apa yang bisa ia lakukan agar tidak ada lagi orang yang harus memanggil ibunya dalam kegelapan.
Pikiran itu masih samar. Masih terlalu besar untuk ia pahami.
Tetapi ia sudah tumbuh di dalam dirinya, seperti benih yang jatuh di tanah yang baru terbakar.
Perjalanan ke benteng selatan memakan waktu empat hari.
Mereka berjalan dalam iring-iringan yang semakin panjang.
Di Elar, rombongan itu hanya belasan orang.
Tetapi setiap kali melewati desa lain, jumlahnya bertambah, dan setiap desa membawa cerita yang sama. Api di malam hari. Lonceng yang terlambat berbunyi. Keluarga yang tidak kembali.
Ardan berjalan di barisan belakang bersama Tobin.
Ia jarang bicara.
Sabit tua itu terselip di ikat pinggangnya, terbungkus kain lusuh, dan ia tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya.
Malam pertama, ia mencoba tidur dan melihat wajah prajurit muda itu di balik kelopak matanya. Malam kedua, ia tidak mencoba sama sekali.
"Kau harus makan," kata Tobin pada hari ketiga, menyodorkan sepotong kecil dendeng yang ia dapat dari seorang pedagang.
Wajahnya lebih kurus sekarang, dan bekas luka di pelipisnya menghitam membentuk garis kasar.
"Aku tidak lapar."
"Aku tidak bertanya apakah kau lapar." Tobin memaksakan dendeng itu ke tangannya.
"Ayahku bilang, orang yang berhenti makan adalah orang yang berhenti berjuang. Jadi makan."
Ardan menatapnya.
Sudah empat hari Tobin tidak membuat satu pun lelucon.
Tetapi ia masih berusaha, dengan caranya yang canggung dan patah-patah.
Ardan menerima dendeng itu dan menggigitnya perlahan.
Rasanya asin dan keras. Ia menelannya juga.
---
Benteng selatan bernama Benteng Karhold.
Dari kejauhan, ia tampak seperti gigi raksasa yang mencuat dari dataran berbatu.
Temboknya setinggi tiga puluh kaki, dibangun dari batu abu-abu yang sudah menghitam oleh usia dan asap.
Bendera Valdren berkibar di menara tertinggi, singa emas di atas latar biru tua, tetapi warnanya pudar dan pinggirnya compang-camping.
Di bawah tembok, ribuan orang sudah berkumpul.
Ardan belum pernah melihat begitu banyak manusia di satu tempat.
Petani, pengrajin, pedagang, perempuan dengan bayi, lelaki tua dengan tongkat.
Tenda-tenda darurat berdiri berdesakan dan jemuran menggantung di antara tiang kayu.
Asap dapur umum bercampur bau kotoran, keringat, dan sesuatu yang manis-busuk dari tenda perawatan di sisi timur.
Seorang prajurit di gerbang menyuruh mereka membentuk barisan. "Yang mau mengungsi, ke kanan! Yang bisa memegang senjata dan mau mendaftar, ke kiri!"
Barisan kanan panjang dan lambat. Barisan kiri jauh lebih pendek.
Tobin menoleh pada Ardan. "Kau mau ke mana?"
Ardan tidak menjawab.
Ia menatap barisan kiri, tempat para lelaki muda berdiri dengan bahu tegang dan mata menghindar.
Beberapa terlalu kurus.
Beberapa terlalu gemuk.
Tidak ada yang terlihat seperti prajurit.
"Kalau aku mengungsi," katanya pelan, "aku akan duduk di tenda dan menunggu. Menunggu Ayah, Ibu, dan Nira datang. Atau menunggu orang membawa kabar."
"Itu bukan hal buruk."
"Aku tahu." Ardan menelan ludah.
"Tapi kalau mereka datang dan aku tidak berguna, kalau Ravharn datang lagi dan aku hanya bisa berlari..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tobin mengerti.
Mereka berjalan ke barisan kiri bersama.
---
Meja pendaftaran hanyalah sebuah papan kayu di atas dua tong.
Di belakangnya duduk seorang sersan tua bermata kelabu dan berkumis putih tebal, dengan bekas luka melintang dari alis hingga rahang.
Ia tidak menatap siapa pun. Ia hanya mencatat, menandai, dan melambaikan tangan.
"Nama."
"Ardan."
"Asal."
"Elar."
Pena sersan itu berhenti sejenak. "Elar. Desa di lembah barat daya?"
"Ya."
"Sudah tidak ada."
"Saya tahu."
Sersan itu akhirnya mengangkat kepala.
Matanya menyapu Ardan dari atas ke bawah, berhenti sebentar pada tangannya yang kapalan, lalu pada bungkusan di ikat pinggangnya. "Pengalaman bertarung?"
"Tidak ada."
"Pengalaman memegang senjata?"
Ardan ragu. Tangannya bergerak ke arah sabit sebelum ia sempat menahan. "Ini."
"Sabit." Sersan itu mendengus, tetapi tidak terdengar mengejek.
"Kami punya tombak. Lebih berguna." Ia menorehkan sesuatu di gulungannya.
"Kenapa kau mendaftar, Nak?"
Pertanyaan itu terdengar biasa, dan Ardan sudah menyiapkan jawabannya sepanjang perjalanan.
Balas dendam. Melindungi keluarga. Membela kerajaan.
Semua jawaban yang pantas untuk seorang prajurit.
Tetapi ketika ia membuka mulut, kata-kata yang keluar berbeda.
"Aku ingin tetap hidup."
Sersan itu menatapnya lama.
"Jawaban paling jujur yang kudengar hari ini," katanya akhirnya.
"Kebanyakan orang bilang mereka ingin membela tanah air, lalu kencing di celana pada pertempuran pertama." Ia menyodorkan sepotong kayu kecil berukir angka.
"Tenda dua puluh tiga. Ambil tombak di gudang senjata. Latihan mulai sebelum fajar. Terlambat, kau dipukul."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Belum." Ia sudah beralih ke orang berikutnya.
"Kau akan menyesalinya."
---
Tenda dua puluh tiga dihuni dua belas orang, dan tidak satu pun tampak senang berada di sana.
Ardan dan Tobin masuk dengan langkah ragu. Udara di dalam pengap, bau kaus kaki basah bercampur bau kulit.
Beberapa lelaki sudah berbaring di atas tikar jerami, menatap langit-langit kain.
Seorang pemuda kurus duduk di sudut sambil memeluk lutut dan bergumam sendiri.
"Ada satu tempat kosong di sini, dan satu di sana!" seru seseorang dari sisi kiri, suaranya nyaring dan terlalu ceria untuk tempat itu.
"Ambil yang dekat pintu kalau kalian mau cepat kabur. Ambil yang di belakang kalau kalian ingin hidup lebih lama. Aku Kael, omong-omong."
Ardan menoleh. Yang bicara adalah seorang pemuda berambut pirang kusam dengan wajah sempit dan senyum miring.
Ia duduk bersila sambil menyetel tali busur, seolah tenda itu rumahnya sendiri.
Ada bekas debu di pipinya, tetapi matanya hidup, lebih hidup daripada semua orang lain di ruangan ini.
"Ardan," jawabnya. "Ini Tobin."
"Ardan. Tobin." Kael mengulanginya seolah sedang menimbang rasa nama-nama itu. "Dari mana?"
"Elar."
Senyum Kael sedikit meredup, tetapi hanya sesaat. "Aku dari Harven. Atau yang dulu bernama Harven. Ya sudah, kita semua sama di sini. Tanpa rumah, tanpa uang, tanpa pilihan." Ia menepuk tikar kosong di sebelahnya.
"Duduklah. Aku akan memberi kalian nasihat paling berharga yang bisa kalian dapatkan di Karhold."
Ardan duduk. Tobin mengikuti.
"Apa?" tanya Tobin.
"Sup di sini rasanya seperti kaus kaki rebus," kata Kael dengan wajah serius. "Jangan pernah tanya bumbunya apa."
Tobin tertawa.
Suara kecil, terkejut, seperti orang yang sudah lupa bagaimana caranya.
Beberapa lelaki di tenda ikut menoleh, dan satu dua di antaranya tersenyum tipis.
Ardan tidak tertawa. Tetapi untuk pertama kalinya sejak malam itu, sesuatu di dadanya mengendur sedikit, setipis benang.
Malam itu, ia berbaring di tikar jerami dengan sabit di sisinya.
Di luar, api unggun berkedip dan suara para prajurit terdengar samar.
Ia menatap kain tenda yang bergoyang tertiup angin dan berbisik pada dirinya sendiri.
*Aku harus tetap hidup.*
Itu bukan janji yang megah.
Bukan sumpah seorang pahlawan.
Hanya kalimat kecil yang ia pegang erat, seperti orang tenggelam memegang potongan kayu.
Ia tidak tahu bahwa kalimat itu akan menjadi awal dari segalanya.