Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Sahabat yang tak pernah hilang
Mata Ivy berkaca-kaca saat menatap pria di hadapannya. Untuk beberapa saat, wanita itu hanya terdiam. Dadanya terasa sesak, sementara air mata perlahan menggenang di sudut matanya.
Pria ini...
Tidak mungkin.
Namun semakin lama Ivy menatap wajahnya, semakin jelas kenangan masa kecil yang selama ini terkubur kembali muncul satu per satu. Seorang anak laki-laki yang selalu berdiri di sampingnya. Seseorang yang selalu membelanya ketika Ivy bullying, seseorang yang selalu menemaninya ketika dia sedang melukis di taman dan seseorang yang selalu mengingatkannya dengan wajah serius.
"Ivy, jangan lupa makan."
Bukan hanya sekedar mengingatkan, tapi pria itu juga selalu membawakan Ivy bekal yang di susun dengan rapi di dalam kotak bekal berwarna coklat.
Jika Ivy bertanya kenapa Edgar membawakannya makan siang, Edgar pasti menjawab...
"Aku nggak mau kamu sakit, nanti aku nggak punya teman main lagi."
Setiap hari dia tidak pernah absen membawakan Ivy makan siang dan kotak bekalnya juga selalu berwarna coklat.
Ivy pernah bertanya, kenapa kotak bekalnya selalu berwarna coklat dan Edgar hanya menjawab...
"Karena aku tau kamu suka warna itu, liat aja sekarang. Tas kamu aja warnanya coklat, kamu juga suka banget pake baju warna coklat."
Bibir Ivy bergetar saat ingatan-ingatan itu muncul di kepalanya.
"Edgar..." Lirih Ivy
Pria itu terdiam.
Tatapan mereka bertemu.
"Bagaimana..." Edgar bertanya dengan suara pelan, "bagaimana kau bisa tahu kalau aku adalah Edgar?" Tanya Edgar terkejut.
Ivy mengusap air matanya yang mulai jatuh, senyumnya begitu kecil, tetapi penuh kenangan.
"Karena, tidak ada satu pun orang yang memanggilku dengan nama itu selain kamu." Kata Ivy, suaranya bahkan sampai bergetar.
Edgar membeku saat mendengar perkataan Ivy, kalimat sederhana itu menghantam hatinya. Selama bertahun-tahun, dia mungkin telah kehilangan banyak hal. Kehidupannya, keluarganya dan ingatan masa kecilnya.
Namun gadis kecil yang dahulu selalu berada di sampingnya ternyata masih mengingat dirinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Edgar melangkah mendekati Ivy.
Satu langkah.
Dua langkah.
Hingga akhirnya dia berdiri tepat di hadapan wanita itu.
Kemudian Edgar memeluk Ivy erat.
Sangat erat.
Seolah-olah jika dia melepaskan pelukannya sedikit saja, Ivy akan kembali menghilang dari hidupnya.
Tubuh Ivy menegang sesaat, namun beberapa detik kemudian, tangannya perlahan mencengkeram pakaian Edgar, air matanya jatuh semakin deras.
Dalam hati, Edgar berjanji.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
Dulu, dia tidak memiliki pilihan. Namun sekarang, dia tidak akan membiarkan takdir mengambil Ivy darinya untuk kedua kalinya.
"Anne..." bisiknya.
Wanita itu menangis dalam pelukannya.
"Kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkan aku?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar, satu pertanyaan yang selama bertahun-tahun tersimpan di dalam hati Ivy. Edgar memejamkan matanya, dia tahu sudah waktunya Ivy mengetahui semuanya.
"Aku tidak pernah bermaksud meninggalkan mu."
Kata Edgar, kembali mengingat masa lalu mereka. Senyum pahit tersungging di bibir Edgar, saat mengingat penyebab mereka berpisah, Edgar lalu menarik napas panjang.
"Dulu aku mengalami kecelakaan bersama kedua orang tuaku." Jelas Edgar sedih.
Mendengar perkataan Edgar, tubuh Ivy menegang.
"Kecelakaan itu sangat parah." Kata Edgar, suaranya kali ini terdengar begitu berat.
"Orang tuaku..."
Dia berhenti sejenak.
"meninggal dalam kecelakaan itu."
Air mata Ivy kembali mengalir, saat itu Edgar pasti sangat hancur. Seandainya dia tau, dia tidak akan meninggalkan pria itu dan akan selalu berada di sisinya.
"Dan aku adalah satu-satunya yang selamat."
Edgar menundukkan kepalanya, lalu tersenyum simpul.
"Tapi keadaanku saat itu sangat kritis, jadi kakek bawa aku ke Singapura untuk menjalani pengobatan."
Ivy mendengarkan tanpa menyela.
"Tapi ketika aku sadar..." Edgar tersenyum pahit. "Aku sama sekali nggak ingat apa-apa."
"Amnesia?" Tanya Ivy
Edgar mengangguk.
"Ya."
"Semua ingatan aku tentang keluarga, orang tua, bahkan kamu dan semua kenangan kita semuanya hilang." Kata Edgar, dia lalu menatap Ivy.
"Jadi kamu benaran nggak inget aku?" Tanya Ivy, hati Ivy terasa seperti diremas.
Edgar menggeleng perlahan.
"Maaf Anne, aku tidak pernah bermaksud untuk melupakanmu. Tidak pernah terlintas di benakku untuk meninggalkan kamu sendiri karena aku tau kamu tidak memiliki satupun teman selama ini."
Edgar lalu menatap mata Ivy lembut.
"Maaf." Lanjut Edgar.
Ivy menutup mulutnya, berusaha menahan isak tangis.
"Kamu tau, selama bertahun-tahun aku hidup tanpa tau siapa aku sebenarnya. Grandpa juga nggak ngomong apa-apa tentang semua masalalu aku. " Ucap Edgar, lalu dia mengusap punggung Ivy dengan lembut.
"Sampai dua bulan yang lalu."
Ivy menatapnya.
"Dua bulan yang lalu?"
"Semua ingatanku kembali."
Edgar tersenyum tipis meski matanya juga mulai berkaca-kaca.
"Aku akhirnya ingat dimana rumahku, aku juga mulai ingat alasan kematian mama sama papa. Karena selama bertahun-tahun, aku selalu percaya kalau papa meninggal karena serangan jantung sedangkan mama meninggal sakit kanker. Aku akhirnya juga mulai ingat masa kecil kita dan juga kamu, Anne."
Air mata Ivy langsung jatuh tanpa bisa ditahan, Edgar menatap wanita yang dahulu selalu ia lindungi itu.
"Maafkan aku." Kata Edgar, Suaranya bergetar.
"Maaf karena dulu aku pergi." Ucap Edgar sambil mengecup kepala Ivy.
"Maaf karena membuatmu menunggu lama, maaf karena selama bertahun-tahun aku tidak datang mencarimu." Lanjut Edgar.
Ivy menggeleng berkali-kali.
"Ini bukan salah kamu..."
Namun Edgar tetap memeluknya.
"Aku tetap ingin minta maaf."
Ivy akhirnya tidak mampu menahan tangisnya lagi, dia menangis di dada Edgar. Bukan tangisan kecil seperti yang selama ini dia tahan, bukan air mata yang diam-diam dia hapus ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Untuk pertama kalinya setelah semua penderitaan yang dia lalui, Ivy membiarkan dirinya menangis sepuasnya, sedangkan Edgar hanya diam sambil memeluknya.
Tangannya mengusap kepala Ivy dengan lembut, seperti yang pernah dia lakukan bertahun-tahun lalu.
"Aku di sini sekarang."
Ivy semakin erat mencengkeram pakaian Edgar, Edgar lalu menundukkan kepalanya dan berbisik,
"Kali ini, aku tidak akan pergi lagi. Kali ini, aku juga tidak akan meninggalkan kamu lagi"
Ivy memejamkan matanya, akhirnya dia tidak sendirian lagi.
Bersambung