Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dalangnya?
Kendra menatap Kirana seolah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. “Jadi selama ini kau sebenarnya bisa berbicara?”
Kirana mengangguk pelan.
Marco yang sejak tadi berdiri di samping Kendra ikut terkejut. “Tapi keluarga Lin mengatakan Nona terlahir bisu.”
Kirana menatap Marco tanpa ekspresi. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mengetik beberapa kata sebelum memperlihatkan layarnya.
‘Itu yang mereka percaya.’
Kendra mengerutkan kening. “Mereka tidak tahu?”
Jari Kirana kembali bergerak di atas layar.
‘Belum tahu pasti. Aku tidak tahu apakah mereka terlibat atau tidak.’
Kendra terdiam. Kalimat singkat itu justru membuat pikirannya semakin penuh dengan pertanyaan.
Selama ini keluarga Lin menganggap Kirana memang terlahir bisu. Tidak seorang pun di keluarga itu pernah mengatakan bahwa kebisuan Kirana mungkin disebabkan oleh sesuatu yang terjadi ketika ia masih kecil.
Kendra kembali teringat pada Ekstrak Anggrek Bulan Hitam yang diberikan kepadanya untuk Kirana. Kini ia mulai memahami mengapa wanita itu begitu bersikeras mendapatkan benda tersebut.
“Jadi sejak awal kau tahu kebisuanmu bisa dipulihkan?” tanya Kendra.
Kirana mengangguk.
“Padahal kalau seseorang memang terlahir dengan kondisi seperti itu, belum tentu ada cara untuk membuatnya berbicara,” lanjut Kendra sambil mengerutkan kening. “Berarti kau yakin masalahmu bukan sejak lahir.”
Kirana kembali mengangguk.
Tatapan Kendra semakin serius. Ia mulai menyadari bahwa selama bertahun-tahun Kirana bukan hanya hidup dengan kebisuan, tetapi juga mungkin membawa akibat dari racun yang sengaja diberikan kepadanya.
“Berarti selama bertahun-tahun kau hidup dengan racun itu?” tanyanya.
Kirana mengangguk pelan.
Marco menelan ludah. “Siapa yang melakukan ini kepada Anda? Apa Nona sudah tahu siapa dalangny?”
Kirana menatap layar ponselnya beberapa saat. Tapi ia tidak langsung mengetik.
Tatapannya berubah dingin ketika mengingat sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum bisa pastikan. Kendra memperhatikan perubahan itu dan menyadari bahwa pertanyaan Marco menyentuh bagian paling rumit dari masa lalu Kirana.
Akhirnya, Kirana mengetik perlahan. ‘Aku belum tahu.’
Kendra membaca tulisan itu dalam diam.
Kirana kembali mengetik. ‘Tapi aku akan menemukannya.’
Tatapan wanita itu menjadi semakin tajam. Tidak ada rasa takut di sana, hanya tekad untuk mencari orang yang telah menghancurkan masa kecilnya.
Kendra terdiam beberapa detik sebelum berkata, “Kalau begitu, jangan mencarinya sendirian.”
Kirana mengangkat wajah dan menatapnya.
“Aku memang tidak tahu siapa yang melakukan ini kepadamu,” lanjut Kendra. “Tapi sekarang kau berada di keluarga Wu.”
Ia menatap Kirana dengan serius. “Kalau ada seseorang yang mencoba menyakitimu lagi, setidaknya beri tahu aku.”
Kirana tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kendra selama beberapa saat sebelum akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam saku piyama.
Kendra berdeham, kemudian buru-buru menambahkan, “Jangan salah paham.”
Kirana kembali menatapnya.
“Kau itu dokter yang akan mengobati kakiku,” kata Kendra dengan wajah serius. “Kalau kau sampai menghilang, siapa yang akan membuatku bisa berjalan lagi?”
Kirana mengerutkan kening.
Kendra berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya. “Jadi aku hanya menjaga investasi pengobatanku.”
Marco yang mendengar alasan itu langsung menahan senyum. Tapi ia belum memastikan apakah sang tuan benar-benar karena kakinya. Karena selama ini, Kendra belum pernah membiarkan wanita dekat dengannya kecuali Kirana.
Kirana justru tampak percaya. Ia mengangguk pelan seolah menerima penjelasan tersebut.
Kendra menghela napasnya.
“Sudah malam,” ujar Kendra. “Kita kembali ke kamar.”
Kirana mengangguk.
Marco kemudian membantu Kendra kembali ke kursi rodanya. Mereka meninggalkan laboratorium bersama-sama, sementara Kirana memastikan semua peralatan dan bahan penelitiannya sudah tersimpan dengan aman.
***
Keesokan paginya, suasana ruang makan keluarga Wu jauh lebih ramai. Aroma makanan memenuhi ruangan, sementara sinar matahari pagi masuk melalui jendela-jendela besar mansion.
Kirana sudah duduk di tempatnya dan menikmati sarapan dengan tenang. Kendra berada tidak jauh darinya, sementara Cassia tampak jauh lebih bersemangat daripada biasanya.
Cassia menatap Kirana dengan penuh perhatian. “Kirana, bagaimana tidurmu tadi malam?”
Kirana berhenti makan sebentar, lalu mengangguk.
Cassia langsung tersenyum lebar. “Nyenyak?”
Kirana kembali mengangguk.
“Bagus,” ujar Cassia puas. Kemudian ia melirik Kendra dengan tatapan penuh selidik.
“Kalau begitu, Kendra tidak mengganggumu sepanjang malam, kan?”
Kendra yang sedang minum langsung berhenti.
“Mi, aku tidak—”
“Tidak apa-apa kalau sedikit,” potong Cassia santai.
Kendra langsung mengerutkan kening. “Mami, dengarkan dulu.”
Cassia justru mengambil makanan untuk Kirana. “Kirana, kalau dia mengganggumu, bilang saja kepada Mami.”
Kirana menatap Cassia dengan wajah bingung.
Kendra menghela napas. “Mami salah paham lagi.”
“Salah paham apa?” Cassia bertanya polos.
“Kami semalam hanya—”
Cassia kembali memotong, “Sudah, Kendra. Tidak perlu menjelaskan kepada Mami.”
Kendra memijat pelipisnya. “Justru karena Mami tidak mau mendengarkan, kesalahpahamannya semakin besar.”
Cassia tertawa kecil. “Mami hanya ingin memastikan menantu Mami bahagia.”
Kirana yang mendengar itu hanya tersenyum tipis sambil kembali menyantap sarapannya.
Kendra melirik Kirana. “Kau jangan ikut-ikutan diam saja.”
Kirana mengangkat alis.
“Aku sedang mencoba menjelaskan,” kata Kendra.
Kirana mengambil ponselnya, mengetik sebentar, lalu memperlihatkan layarnya kepada Kendra.
‘Aku tidak keberatan.’
Kendra terdiam.
Cassia langsung tersenyum puas. “Nah, lihat? Menantuku saja tidak keberatan.”
Kendra menatap langit-langit dengan pasrah.
“Sudahlah,” gumamnya. “Aku menyerah.”
Cassia tertawa kecil, sedangkan Kirana kembali menikmati sarapannya dengan tenang.
“Oh, hampir saja Mami lupa,” ujar Cassia.
Kendra menoleh. “Apa lagi, Mi?”
Cassia tersenyum. “Kirana dan Kendra, nanti setelah sarapan kalian harus pergi ke mansion tua keluarga Wu.”
Kendra mengerutkan kening. “Mansion tua?”
Cassia mengangguk. “Tetua keluarga memanggil kalian berdua.”
Kirana yang sedang mengambil makanan berhenti sejenak. Ia menatap Cassia dengan ekspresi bertanya.
“Tenang saja,” kata Cassia segera. “Mami akan menemani kalian berdua.”
Kendra menghela napas kecil. “Kenapa mereka memanggil kami?”
“Karena kalian baru saja menikah,” jawab Cassia santai. “Tetua keluarga tentu ingin melihat menantu baru mereka.”
Kendra terlihat sedikit tidak tertarik. “Bukankah mereka bisa datang ke sini?”
Cassia langsung melirik putranya. “Kendra, jangan mencari masalah lagi.”
“Aku hanya bertanya.”
“Mami tahu sifatmu,” balas Cassia. “Kalau tidak ada Mami yang menemani, kau pasti akan membuat suasana menjadi tegang.”
Kendra terdiam.
Kirana menahan senyum kecil melihat ekspresi Kendra yang tampak tidak bisa membantah.
Cassia kemudian kembali menatap Kirana. “Oh iya, Mami juga sudah menyiapkan gaun untukmu.”
Kirana mengangkat alis.
“Setelah sarapan, kau langsung bersiap,” lanjut Cassia. “Mami memilihkan gaun yang cocok untuk bertemu para tetua. Mereka mungkin terlihat tua, tetapi mereka sangat memperhatikan tata krama.”
Kirana mengangguk.
Cassia tersenyum puas. “Mami tahu kau pasti akan terlihat cantik.”
Kendra yang mendengar itu hanya menghela napas. “Mami, dia hanya pergi menemui tetua keluarga. Tidak perlu terlalu berlebihan.”
Cassia menoleh kepadanya. “Diam. Menantu Mami harus terlihat sempurna.”
Kendra tidak menjawab lagi.
Kirana kembali mengangguk sebagai tanda menerima pengaturan mertuanya. Ia tidak keberatan menemui tetua keluarga Wu, justru sedikit penasaran dengan alasan mereka memanggilnya.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭