NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Satu Kamar

"Sudah, ayo cepat naik ke atas! Kasihan Nayla pasti sudah sangat mengantuk," seru Bu Ratih seraya mengibas-ibaskan tangannya, mendorong pelan punggung Adrian dan Nayla agar segera melangkah menuju lantai dua. "Kalian beristirahatlah... atau mau melakukan hal lain juga terserah kalian, Mama tidak akan mengganggu!"

Celetukan penuh makna dari Bu Ratih itu sukses membuat wajah Nayla memerah padam hingga ke ujung telinga. Tanpa berani menatap mertuanya lagi, Nayla melangkah cepat menaiki tangga.

Adrian mengekor di sampingnya dengan langkah tenang. Suasana lorong lantai dua rumah utama Dewangga itu terasa hening, hanya diisi oleh detak jantung Nayla yang bergemuruh tak beraturan.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna abu-abu gelap. Pria itu memutar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar.

"Masuklah," ucap Adrian lembut, mempersilakan Nayla melangkah lebih dulu.

Nayla menginjakkan kakinya ragu-ragu. Kamar masa lajang Adrian terasa sangat luas dengan didominasi nuansa warna putih dan abu-abu. Ruangan itu terlihat sangat rapi, minim barang, dan tanpa dekorasi mencolok. Tipikal kamar seorang pria pekerja keras yang hanya menggunakan kamarnya untuk tidur setelah menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Ini bukan pertama kalinya Nayla masuk ke kamar itu, tapi untuk menginap ini baru pertama kalinya.

Di sudut ruangan, tampak sebuah sofa kain berukuran sedang dan sebuah ranjang king-size yang berbalut sprei berwarna abu-abu terang.

Nayla menelan ludah yang terasa pahit. Rasa canggung merayapi seluruh tubuhnya. Dengan cepat, pandangan matanya terkunci pada sofa di sudut ruangan.

"M-Mas Adrian... saya tidur di sofa saja, ya? Tidak apa-apa kok," ujar Nayla panik seraya menunjuk sofa tersebut.

Adrian menghentikan langkahnya, menatap Nayla dengan dahi berkerut tipis. "Jangan aneh-aneh, Nayla. Seharian ini kamu sudah duduk dan bekerja keras di kantor. Kalau tidur di sofa yang sempit itu, pinggang kamu pasti akan sakit besok pagi."

"Tapi... nanti Mas Adrian kurang nyaman kalau..."

"Kita bisa berbagi kasur," potong Adrian dengan nada suara tenang namun tegas. Pria itu menepuk permukaan kasur di sebelahnya pelan. "Kasur ini sangat luas, Nay. Bahkan muat untuk tiga orang. Tidak perlu berlebihan seperti itu."

Nayla menatap Adrian dengan mata membelalak tak percaya. 'Berbagi kasur?! Dengan Mas Adrian?!'

Pikiran Nayla seketika dipenuhi bayangan-bayangan yang membuat dadanya makin berdebar liar. Rasa salah tingkah dan panik yang membuncah membuat otaknya mendadak sulit diajak berpikir.

"E-eh... i-iya, Mas. Tapi saya mau... mau ke kamar mandi dulu! Mau bersihkan riasan wajah!" seru Nayla terbata-bata.

Karena terlalu panik dan terburu-buru melangkah menuju lemari untuk menyambar baju ganti sebelum melarikan diri ke kamar mandi, langkah kaki Nayla menjadi tak berarah. Tumit kakinya tak sengaja tersandung oleh ujung karpet tebal di dekat ranjang.

"Kyaa!"

Nayla memekik kaget saat tubuhnya hilang keseimbangan dan meluncur jatuh ke depan. Ia memejamkan matanya erat-erat, bersiap merasakan sakitnya menghantam lantai dingin.

Namun, rasa sakit itu tak pernah datang.

Sebuah lengan kokoh dengan cepat merengkuh pinggangnya, dan dada bidang beraroma parfum maskulin kayu cendana menahan tubuhnya dengan sempurna. Adrian berhasil menangkap tubuh Nayla tepat sebelum gadis itu jatuh terjerembap.

Nayla perlahan membuka matanya.

Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Tatapan mata mereka bertemu erat dalam hening yang memukau. Suara rintik hujan di luar jendela seolah menguap begitu saja.

Di dalam benaknya, Adrian membeku. Untuk pertama kalinya dari jarak sedekat ini, pria itu menatap detail demi detail wajah istrinya. Adrian terpana mengagumi sepasang mata indah milik Nayla yang jernih dan berbinar panik. Bulu matanya yang lentik alami gemetaran pelan, pipinya yang berisi memancarkan warna merah muda yang sangat menggemaskan saat gadis itu malu-malu. Dan pandangan Adrian perlahan turun... tertuju pada bibir tipis Nayla yang tampak merona dan sesegar buah ceri.

'Dia... benar-benar manis,' batin Adrian dengan dada yang mendadak berdesir hangat.

Namun, isi pikiran Nayla berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Di dalam benak Nayla yang dipenuhi rasa insecure, gadis itu justru menjerit histeris dalam hati, 'Aduh, mati aku! Mas Adrian pasti sedang berpikir betapa beratnya tubuhku! Pasti dia kepayahan menahan beban beratku! Ya Allah, malu banget!'

"N-Nayla..." bisik Adrian dengan suara beratnya yang agak serak.

"A-ah! Iya, Mas! Maaf!" seru Nayla panik. Gadis itu buru-buru menegakkan tubuhnya dan melepaskan diri dari dekapan Adrian. "Maafkan aku, Mas! Lain kali aku akan lebih berhati-hati! Aku... aku mau ke kamar mandi dulu!"

Nayla berbalik asal menyambar selembar pakaian dari dalam lemari tempat baju-baju lamanya tersimpan, lalu melesat masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya rapat-rapat.

Di dalam kamar mandi, Nayla bersandar pada pintu yang tertutup, mengelus dadanya yang berdebar kencang seraya menetralkan napasnya. Lalu dia bergegas membersihkan wajah dan bersiap ganti baju tidur.

Namun, saat ia membuka lipatan pakaian yang baru saja disambarnya secara acak tadi, mata Nayla seketika membelalak horor.

"Astaga... ini kan daster tanpa lengan?!" pekik Nayla pelan dengan suara tertahan.

Nayla menepuk jidatnya sendiri berkali-kali. Karena terlalu panik, ia malah menyambar daster santai berbahan katun dingin tanpa lengan berwarna krem polos, bukannya baju tidur panjang yang tertutup.

Nayla mengacak rambutnya frustrasi, merutuki kecerobohannya sendiri di depan cermin. "Duh, Nayla... kamu konyol banget sih! Masa mau keluar pakai daster begini? Mana lengan aku besar banget lagi... Masa iya aku harus keluar cuma balutan handuk? Lah, malah makin aneh dan mengundang pikiran yang enggak-enggak! Atau... minta tolong Mas Adrian ambilkan baju lain? Ah, enggak bisa! Malu banget mau ngomongnya!"

Setelah lima belas menit meratapi nasibnya di depan wastafel, Nayla tak punya pilihan lain. Dengan perasaan pasrah dan kepedean yang merosot ke titik nol, ia mengenakan daster tanpa lengan itu. Sebelum membuka pintu, Nayla menguraikan rambut hitam panjangnya yang tebal ke depan bahu, berusaha sekuat tenaga menutupi bagian lengannya yang besar.

Nayla memutar gagang pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan sangat perlahan, berharap Adrian sedang sibuk menatap ponselnya atau membelakanginya.

Namun harapannya sirna. Tepat saat pintu terbuka, Adrian yang sedang berdiri di dekat meja langsung menoleh dan menatap penuh ke arah Nayla.

Nayla membeku seketika di ambang pintu.

Di sisi lain, dalam sudut pandang Adrian, dada pria itu justru berdesir hebat. Adrian sama sekali tidak memedulikan bentuk tubuh Nayla atau ukuran lengannya yang dikhawatirkan sang istri. Pria itu justru terpesona. Meski telah tinggal satu rumah selama satu tahun, Adrian tak pernah sekalipun melihat Nayla dalam keadaan yang benar-benar santai dan polos seperti ini.

Nayla terlihat sangat segar usai mencuci wajahnya. Kulitnya yang putih berseri tampak bercahaya di bawah lampu kamar yang hangat, dan rambut panjangnya yang terurai bebas membingkai wajah cantiknya dengan sempurna. Penampilan rumahan Nayla malam ini terasa begitu memesona di mata Adrian.

"M-Mas... saya sudah selesai. Silakan..." ucap Nayla canggung luar biasa, tangannya sibuk membetulkan posisi rambutnya agar tetap menutupi lengan.

Adrian tersentak pelan, buru-buru memalingkan pandangannya ke samping dan berdehem keras. "Uhum! Iya..."

Adrian melangkah cepat menuju kamar mandi untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang mendadak menyerang. Di dalam kamar mandi, Adrian memilih untuk menyalakan pancuran air dingin. Pria dingin itu membiarkan air dingin membasahi tubuhnya demi menetralkan gejolak emosi dan detak jantung aneh yang tak biasa ia rasakan.

Sementara di luar Nayla mendesah lega. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang yang empuk, mencoba menenangkan detak jantungnya yang belum sepenuhnya normal. Tepat saat itu, layar ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas mendadak menyala terang dan bergetar hebat.

Nayla meraih ponselnya. Nama Mira terpampang besar di layar dengan nada panggil video call.

Nayla mengernyit heran. "Sudah hampir jam sebelas malam? Kenapa Mira menelpon, video call lagi?"

Nayla langsung menekan tombol hijau, wajah heboh dan sembab sahabatnya seketika memenuhi layar ponsel.

"Nayyy! Syukurlah kamu angkat! Aku sedang stres berat ini!" seru Mira heboh tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.

Nayla yang berusaha mengalihkan rasa canggungnya tersenyum kecil. "Stres kenapa sih, Mir? Ada masalah di kantor?"

"Bukan kantor!" keluh Mira emosional dari balik layar. "Tadi habis pulang kerja aku ketemuan sama pria yang sudah sebulan ini chatting-an sama aku di aplikasi kencan! Eh, pas ketemu... ternyata dia masih kecil banget, Nay! Masih bocah SMA! Gila kan?!"

Nayla terkekeh renyah. "Ya ampun, Mir... Kamu emangnya nggak minta profile lengkapnya saat awal kenalan, kaya umurnya berapa gitu?"

"Sudah! Tapi ternyata itu semua fake profile! Dia bilang dua puluh delapan tahun nyatanya baru delapan belas tahun!" ceracau Mira kesal, mengusap sudut matanya. "Ngenes banget sih hidup aku, Nay..."

"Sudah, jangan menangis, Mir," hibur Nayla lembut dan ramah. "Karyawan di Dewangga Group itu banyak yang jomblo kok, bukan kamu saja. Nanti aku bantu cari yang benar, ya?"

Mira mendengus pelan, lalu pandangan matanya di layar ponsel mendadak picik. Perhatian gadis itu teralih dari kesedihannya sendiri menuju latar belakang ruangan tempat Nayla berada saat ini.

"Eh... Nay?" panggil Mira mengernyitkan dahi seraya mendekatkan wajahnya ke kamera. "Kamu sekarang lagi di mana sih?"

"Ya... di rumah, Mir," jawab Nayla spontan, berusaha bersikap sewajar mungkin.

"Di rumah?" cetus Mira heran. "Tapi perasaan dinding kamar kamu catnya warna merah muda deh, bukan cat abu-abu begini?"

Jantung Nayla seketika berdesir panik. Dengan cepat ia menyusun kebohongan. "E-eh... aku... aku lagi nggak di kamar, Mir! Aku lagi di ruang tengah apartemen, makanya warna catnya lain!"

"Di ruang tengah?" gumam Mira mengernyitkan dahi penuh curiga.

Tepat saat itu, Adrian keluar dari kamar mandi. Dengan pakaian santainya berupa kaos dan celana kain. Karena mandi air dingin di tengah malam membuatnya sedikit kedinginan sampai terbatuk-batuk kecil.

"Uhuk! Uhuk!"

Suara berat dan bernada rendah khas pria dewasa itu terdengar sangat jelas menembus mikrofon ponsel Nayla.

Nayla membeku seketika. Matanya membelalak horor menatap Adrian, lalu beralih menatap layar ponselnya.

Di balik layar video call, mata Mira seketika melotot sempurna hingga hampir keluar dari kelopak matanya. Wajah sedihnya berganti seratus persen menjadi ekspresi selidik yang tajam.

"NAYLA!" jerit Mira histeris dari balik telepon, tidak puas sama sekali dengan alasan Nayla. "Barusan jelas-jelas aku dengar suara batuk pria! Nayla, jangan bohong padaku! Kamu sekarang sedang tidak dirumah kan? Kamu... menginap dirumah siapa?!

Nayla panik setengah mati, sementara Adrian yang berdiri tak jauh dari sana menghentikan usapan handuk di rambutnya, menatap Nayla dan ponselnya dengan kening berkerut.

1
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
Lisa
Sabar y Nayla..yg kuat y..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
sunshine wings
Good story i like..
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ariany Sudjana
ciye yang mau dinner romantis 🤣🤣😂😂
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!