Pout for Me, Little Mouse.
Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengenal Batasan
Julian menarik pinggang Lana tanpa peringatan untuk mendudukkannya di pangkuannya.
"Akulah yang memutuskan apa yang terjadi," Julian menyeringai, Lana berpegangan pada pundaknya untuk keseimbangan setelah kejutan itu.
"Mari kita lihat seberapa baik keterampilan negosiasi itu bertahan ketika aku menciummu sampai kamu kehabisan nafas seperti ikan yang terdampar."
"Jangan gila! aku sudah bilang tidak akan. Aku punya keputusan disini." Ia menyilangkan tangannya di depan dada sambil menoleh ke samping dengan ekspresi keras kepalanya.
"Benarkah? Sebenarnya aku tahu kau memang pembangkang, Sayang."
Jari Julian menarik dagu lana agar menoleh kembali padanya, Wajah mereka sangat dekat.
"Dan aku adalah pendidik yang baik dalam hal memberimu pelajaran."
Julian juga menyilangkan tangan. Suasana diantara mereka adalah perang dua orang yang keras kepala dan saling tidak mau kalah.
Mata Julian melirik ke dalam vila lalu kembali pada wajah lana dengan seringai arogan.
"Kecuali...kamu lebih suka kita masuk ke dalam agar aku bisa menunjukkan kepadamu siapa yang lebih superior dari siapa."
"Aku lebih suka kita bertengkar. Sampai kau kesal dan murka seperti banteng."
Mata Julian sedikit berkerut kesal dengan senyum kaku, diam-diam sangat tertantang dengan gaya bandel lana yang gemar menguji kemarahannya dan menawan menurut Julian.
Julian bersandar di kursi dan dengan arogan menjawab.
"Dan berisiko membangunkan orang tuamu? Aku rasa tidak."
Julian menarik satu tangan pergelangan tangan lana membawanya ke bibirnya.
"Tapi, jika kamu setuju menggunakan caraku... mungkin kita bisa menyelesaikan negosiasi kecil ini tanpa kebisingan.."
Nada sugestifnya selalu membuat lana memutar matanya ke belakang antara campuran jengkel dan muak.
Pria gila ini tidak sekalipun bisa membawa pembicaraan normal tanpa menjurus ke urusan intim... Benak lana
Julian menggigit pelan telunjuk lana, tangan lainnya mendekati ujung gaun Lana yang sedikit terangkat.
"Orang tuaku tertidur lelap di lantai atas, mungkin memimpikan pesta pernikahan kita tahun depan sehingga memberi kita banyak waktu untuk melanjutkan...negosiasi...tanpa gangguan."
"Negosiasi yang melibatkan tongkat bisbolku di kepalamu?!"
Lana berusaha menyingkirkan tangan Julian. Setiap kali lana bergerak wajah Julian mengancam maju untuk menciumnya sehingga tangan lana sibuk menjauhkan wajah mereka.
"Erghh! Gila."
Jari-jari Julian meluncur lebih tinggi ke atas paha Lana, gerakannya lambat dan disengaja, menguji tekadnya. Ibu jarinya menyentuh pinggiran renda halus di stokingnya.
"Hentikan sekarang, aku tau maksudmu!"
"Bagus kalau kau tau." Julian mendengkus.
"Aku serius, Hentikan ini... kau harus ingat aturan pernikahan kita."
Tangan Julian menghentikan gerakannya karena perintah tajam Lana, meskipun jari-jarinya tetap melingkari pahanya. Tertawa kecil di lehernya.
"Aturan yang mana?"
"Aturan bahwa pekerjaan ini harus menunggu sampai kita menikah!"
Lana membuang tangan Julian menjauh dari tubuhnya.
Dia menggelengkan kepalanya perlahan, senyum manis terlihat di bibirnya.
"Sayang, kita sudah bertunangan sejak Natal dua tahun lalu. Itu tidak dihitung sebagai menunggu sampai menikah."
"Selain itu, Aku ingat bagaimana kau di bali saat itu..."
Julian berbisik di telinga Lana sambil meletakkan jari tengan dan manisnya di hidungnya, Wajah lana memerah padam.
"Pffft"
"Itu karena kau yang memaksa! Dan kau juga menggunakan cara kotor yang tidak bisa ku tangani!"
Lana memukul-mukul Julian yang melindungi dirinya dari amukan panik lana dengan kedua lengannya sambil tertawa kecil.
"Mau ku tunjukkan lagi? Atau kau mau belajar kali ini?"
Julian menangkap kedua pergelangan tangan di satu tangan menahannya di atas kepala gadis yang merah sampai leher itu.
"Tidak... Ayolah Julian hentikan ini."
"Kau barusaja memukul ku dan berniat melakukannya dengan tingkat bisbol, Sekarang membujukku?"
Hidung mereka bersentuhan, Senyum Julian yang menantang sangat menyebalkan sekarang.
"Berikan aku alasan mengapa aku harus berhenti dan mengapa kau selalu menolak?" Nada Julian serius kali ini, menunggu jawabannya dengan seksama.
"Kita punya aturan, Julian. Kita bukan binatang" Jari jalan menutupi bibir Julian mencoba meyakinkannya.
"Binatang?" Suaranya tampak dibuat heran dengan nada pura-pura tersinggung.
"Kuberitahu, Silsilah keluargaku sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Kita jauh lebih canggih dari sekadar Pithecanthropus erectus." Julian menarik tangan lana dari bibirnya
"Aku tidak bercanda. Aku serius." Alis lana berkerut kesal.
Untuk sesaat, Julian diam tertarik oleh ekspresi dan pernyataan lana lalu mengela nafas.
"Kamu benar-benar aneh..."
"Baiklah," Julian akhirnya setuju sambil menghela nafas yang setara dengan rasa jengkel dan kasih sayang.
"Kita akan tetap berpegang pada aturan konyol Ini. Untuk saat ini."
Namun saat dia berbicara, Ia tidak melepaskannya dari pangkuannya, tangannya masih memegang pergelangan tangannya.
Sebaliknya, dia mendekat dahi nya hingga bersentuhan di ruang sempit.
"Lalu apa ini?"
"Ini..." Kata Julian pelan
"Kamulah yang membuat ini sulit." Gerutunya, "Memangnya apa yang terjadi jika aku melanggar aturannya?"
Mata Julian beralih ke bibir Lana, lalu kembali menatap tatapannya yang bertanya-tanya dengan wajah kecewa yang dibuat-buat.
"Ini bukan tentang konsekuensi, Ini tentang aturan yang harus dilakukan, Herr Donnersmarck." Lana memutar matanya.
Ekspresi Julian langsung menjadi kesal pada panggilan resmi itu, matanya berkilat kesal.
Dia melepaskan Lana dengan tiba-tiba dan bersandar di kursinya, menyilangkan tangannya untuk membela diri.
"Donnersmarck?" Dengan nada tajam.
Kejengkelannya bukan sepenuhnya karena panggilan resmi tapi karena kekesalan lainnya.
"Aku bahkan berubah menjadi orang asing sekarang?"
Lana menghela nafas dan mengoreksi panggilannya.
"Julian." Katanya dengan nada manis.
Koreksi itu seolah mematahkan mantra, bahu Julian sedikit mengendur meski garis keras di mulutnya tetap ada.
"Bagus." Nadanya kembali arogan setelah merajuk.
Lana membuka pintu mobil, membawa dompet dan sepasang sepatunya. Julian tidak menghentikannya turun dari pangkuannya.
"Jangan tersandung kakimu sendiri dan menyalahkan katak setelahnya."
Julian memperhatikan Lana yang pergi dengan campuran rasa frustrasi dan terpesona, tidak segera bergerak untuk memutar mobil.
Sambil menghela nafas frustrasi, dia membuka pintunya sendiri dan melangkah keluar dari mobil ke jalan masuk berkerikil dengan langkah panjangnya.
"Berhenti di situ," Perintahnya.
Dia menyusul Lana tepat saat dia mencapai pintu kayu ek besar di mansion. Tangannya melingkari sikunya dengan kuat.
"Menurutmu kamu mau pergi ke mana?"
"Masuk ke dalam, Aku butuh tidur bukannya berdebat dan..."
"Dan, apa? Kamu tidak akan pergi." Kembali menyilangkan tangan dengan nada memerintah.
"Tidak sampai kita menyelesaikan percakapan ini."
"Lalu kau mau kita terus berdebat sepanjang malam?"
"Tidak, Kau belum mengucapkan selamat tinggal dengan benar."
Alasan putus asanya agar lana tidak pergi. Ia kembali mendekat ke arah lana sehingga gadis itu mendongak.
"Dan, Kamu minta maaf karena memanggilku Donnersmarck seperti orang asing di jalanan."
Lana menggerakkan bibirnya ke pipi Julian sambil berjinjit
"Aku minta maaf, Julian."
Senyuman tulus akhirnya muncul di wajah keras kepala Julian karena sikap manis tak terduga itu, Pipinya sedikit merah. Lengannya melingkari pinggang Lana untuk memeluknya, menariknya hingga menempel di dadanya. Mencium kepalanya.
"Ini baru benar." gumamnya di rambutnya, Memeluk erat menahannya di tubuhnya. Dagunya bersandar di atas kepalanya saat dia menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma familiar dari parfumnya yang bercampur dengan udara malam.
Julian akhirnya melepaskannya dengan enggan.
"Jangan senang dulu," Nadanya kembali tegas
"Kau belum melepaskan mu. Aku masih berpikir kamu berhutang padaku atas omong kosong Tuan Donnersmarck itu."
"Terserah saja." Lana mendorong punggung pria itu.
"Sekarang, Aku harus mandi. Pesta itu masih menunggumu, Jangan biarkan tamu menunggu dengan sia-sia."
Julian mengerang dramatis mengingat kewajiban mereka.
"Pesta? Persetan dengan pestanya."
"Mereka bisa menunggu, lagipula aku tidak tertarik untuk kembali dan melihat wajah brengsek Leon."
Julian berbalik membenamkan wajahnya di lekuk leher Lana menghirupnya.
"Saya lebih suka membantu mu dengan mandi itu."
Julian kembali ke pesta setelah pukulan kecil lana di kepalanya. Memasuki ballroom kembali dengan detasemen dingin menyangkal apa yang barusaja terjadi.
Para tamu pesta menyambutnya dengan antusias, tidak ada yang mencurigai harta digital yang kini dia miliki di sakunya -- ponsel Lana yang tidak terkunci.
Julian berbasa-basi dengan sopan sambil menyusun serangkaian agenda dengan benda itu.