Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tit tit tit.
Suara mesin monitor jantung terdengar konstan di dalam ruang rawat VIP yang sangat luas.
Adrian membuka matanya perlahan dan mengerjap menyesuaikan cahaya lampu ruangan.
Kepalanya terasa sedikit pusing tapi badannya tidak sesakit yang dia bayangkan.
Dia ingat betul sebuah truk raksasa menghantam bagian belakang mobilnya dengan sangat keras di jalan.
Saat itu dia yakin tulang rusuknya hancur dan dia akan mati di tempat.
Namun sekarang dia bisa bernafas dengan sangat normal tanpa rasa sesak sedikit pun.
Kriet.
Pintu kamar mandi di sudut ruangan terbuka.
Bastian berjalan keluar sambil mengeringkan tangannya menggunakan handuk kecil.
Pemuda berkacamata itu langsung membelalakkan matanya saat melihat Adrian sudah membuka mata.
"Kak Adrian sudah sadar? Bagaimana perasaan Kakak? Ada yang sakit?" berondong Bastian sambil berjalan cepat ke samping ranjang.
Adrian menatap adiknya itu dengan kening berkerut.
"Aku merasa baik-baik saja, dadaku tidak sakit sama sekali," jawab Adrian dengan suara sedikit serak.
"Berapa lama aku pingsan Bastian?" tanyanya kemudian.
Bastian memeriksa selang infus kakaknya dan menghela nafas lega.
"Kakak baru pingsan selama enam jam sejak operasi selesai tadi sore," jelas Bastian.
Adrian mencoba duduk bersandar pada kepala ranjang dan Bastian segera membantunya.
"Bagaimana aku bisa selamat dari tabrakan sekeras itu?" tanya Adrian bingung.
"Aku ingat sopir kita berteriak remnya blong lalu semuanya menjadi gelap."
Bastian menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang Adrian dengan wajah serius.
"Dokter bedah senior bilang Kakak hampir tidak bisa diselamatkan tadi."
"Tulang rusuk Kakak patah dan ada pendarahan hebat di otak."
Adrian memegang dadanya sendiri yang kini hanya diperban tipis.
"Lalu kenapa sekarang aku merasa sangat sehat? Apakah dokter di sini sehebat itu?" tanyanya tidak percaya.
Bastian menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis.
"Bukan dokter yang menyelamatkan Kakak, tapi malaikat kecil keluarga kita."
Bastian menunjuk ke arah sofa panjang yang ada di seberang ruangan.
Adrian mengikuti arah telunjuk Bastian dan matanya langsung terpaku.
Di atas sofa empuk itu, Lula sedang tertidur pulas dengan tubuh diselimuti jaket tebal milik Cakra.
Wajah gadis kecil itu terlihat sangat pucat dan kelelahan.
"Lula? Apa maksudmu dia yang menyelamatkanku?" tanya Adrian terkejut.
Bastian mengangguk dan membetulkan letak kacamatanya.
"Saat Kakak sedang sekarat di ruang operasi, Lula tiba-tiba menangis histeris di rumah."
"Dia bilang Kakak dimakan kabut hitam jahat dan dia memaksa Papa untuk membawanya ke rumah sakit."
Adrian menelan ludah mendengar cerita adiknya yang terdengar tidak masuk akal itu.
Namun dia tidak bisa membantah karena dia tahu Lula memang anak yang ajaib.
"Lalu apa yang dia lakukan?" desak Adrian penasaran.
"Dia nekat menerobos masuk ke ruang operasi saat para dokter sudah hampir menyerah."
"Dia menempelkan tangannya di dada Kakak dan mengeluarkan cahaya hijau yang sangat terang."
Bastian menatap Adrian dengan pandangan penuh kekaguman bercampur haru.
"Dalam hitungan detik, detak jantung Kakak langsung stabil dan pendarahannya berhenti sepenuhnya."
"Bahkan tulang rusuk Kakak yang patah kembali menyambung dengan sendirinya berkat energi anak itu."
Dada Adrian tiba-tiba berdesir hebat mendengar penjelasan Bastian.
Dia teringat saat dia berada di ambang kematian tadi siang.
Dalam kegelapan itu, dia merasa udara sangat dingin dan mencekik lehernya.
Lalu tiba-tiba ada sebuah tangan kecil yang sangat hangat menariknya keluar dari kegelapan tersebut.
Ternyata tangan hangat itu adalah tangan adik kecil yang selama ini selalu dia pandang sebelah mata.
"Setelah menyembuhkan Kakak, Lula langsung pingsan kelelahan sampai sekarang," tambah Bastian dengan nada sedih.
Adrian menatap wajah pucat Lula di atas sofa dengan perasaan bersalah yang luar biasa.
Dulu dia mengira anak ini adalah anak haram ayahnya.
Dia juga menuduh anak ini sebagai mata-mata musuh yang ingin menghancurkan keluarga Ayodhya.
Tapi nyatanya, anak berumur lima tahun ini rela menukar tenaganya demi menarik Adrian dari jurang maut.
Srek.
Adrian langsung menyingkirkan selimutnya dan turun dari ranjang rumah sakit.
"Kak Adrian mau ke mana? Dokter bilang Kakak harus banyak istirahat!" tegur Bastian panik.
"Aku tidak apa-apa Bastian, aku mau melihatnya," jawab Adrian keras kepala.
Adrian berjalan tanpa alas kaki mendekati sofa tempat Lula tertidur.
Dia berjongkok di samping sofa itu dan menatap wajah damai Lula dari dekat.
Jepit rambut berbentuk kelinci yang dia berikan semalam masih terpasang rapi di rambut anak itu.
Tangan Adrian yang bergetar perlahan terulur untuk mengusap pipi Lula yang dingin.
"Maafkan aku," bisik Adrian pelan dengan suara yang sangat tulus.
"Aku kakak yang sangat buruk karena selalu bersikap dingin padamu."
Lula tiba-tiba bergerak pelan dan mengerutkan keningnya.
Gadis kecil itu perlahan membuka kedua mata bulatnya dan mengerjap berkali-kali.
Hal pertama yang dilihat Lula adalah wajah kakak pertamanya yang sedang berjongkok di dekatnya.
"Paman Adrian," gumam Lula dengan suara lemas.
Lula mengucek matanya lalu langsung bangun dan duduk di sofa.
"Eh salah, maksud Lula Kak Adrian," ralat Lula buru-buru.
Adrian tidak marah seperti biasanya mendengar panggilan itu.
Pria dingin itu malah tersenyum sangat tipis dan mengelus rambut Lula.
"Kau sudah bangun cerewet? Bagaimana perasaanmu?" tanya Adrian dengan nada yang sangat lembut.
Lula menatap dada Adrian dan meraba dadanya sendiri.
"Lula cuma merasa lapar sekali Kak, perut Lula seperti kosong melompong," jawab Lula jujur.
Bastian yang berdiri di belakang Adrian langsung tertawa pelan.
"Syukurlah kalau kau cuma lapar, aku akan suruh pelayan rumah sakit membawakan makanan yang banyak."
Bastian segera keluar dari kamar untuk memanggil perawat dan memesan makanan.
Kini hanya tinggal Adrian dan Lula di sudut ruangan itu.
Lula menatap Adrian dengan saksama dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kabut hitamnya sudah hilang Kak Adrian, sekarang di tubuh Kakak ada cahaya putih yang hangat," ucap Lula lega.
Adrian menatap tangan kecil yang sedang memegang ujung bajunya itu.