NovelToon NovelToon
Tawanan Pangeran Siren

Tawanan Pangeran Siren

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Beda Dunia / Fantasi
Popularitas:684
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.

Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.

Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Bayang-Bayang Sang Penguasa

*KREK!*

Suara retakan tulang yang teramat keras, ngilu, dan memilukan memecah keheningan malam di area air dangkal Teluk Bayangan.

Belum sempat otak ku memproses apa yang baru saja terjadi, cengkraman kasar dan brutal dari Siren pemburu liar itu mendadak terlepas seketika. Tubuhnya yang raksasa, penuh sisik hijau lumut yang kusam dan berbau busuk, langsung roboh terjerembap ke atas pasir laut bagaikan tumpukan batu tanpa nyawa. Lehernya terkulai patah dalam sudut yang teramat tidak wajar dan mengerikan. Matanya yang berwarna merah menyala kini membeku, melotot tanpa pendaran kehidupan lagi.

Pangeran Nataniel berdiri tegap di atas pasir yang basah. Pria itu menatap bangkai prajurit liar di bawah kakinya dengan ekspresi jijik yang teramat dingin. Dengan gerakan yang sangat santai namun sarat akan keangkuhan mutlak, ia menyapu telapak tangan kanannya menggunakan kain jubah hitamnya, seolah-olah ia baru saja menyentuh kotoran menjijikkan yang mencemari jemari indahnya.

"Makhluk berderajat rendah yang tak tahu diri," bisik Nataniel dingin, suara beratnya bergetar penuh ancaman mutlak yang sanggup membekukan aliran air di sekitarnya. "Barang milikku... tidak boleh dijamah oleh siapa pun tanpa izin dariku."

("B-Barang milik?! Muka ganteng bagai dewa, tapi mulutnya tetap aja pedas bagai cabai rawit!" batinku menjerit histeris di tengah rasa syok dan kepanikan yang masih melingkupi dadaku.)

Tubuhku yang dipenuhi luka goresan karang tajam sudah sepenuhnya melemas. Kesadaranku berada di ambang batas. Siksaan fisik akibat tidak diberi waktu beristirahat, dipaksa menjadi babu pemulung di tengah malam buta dengan bikini perak mini yang membekukan, ditambah rasa mual dari noda darah sahabat-sahabatku, membuat seluruh tenagaku terkuras habis tanpa sisa.

Saat kedua kaki manusiaku tak sanggup lagi menopang berat tubuhku dan aku hampir roboh tersungkur menyentuh dasar pasir yang dingin, Nataniel mengibaskan telapak tangannya secara anggun.

Pendaran sihir berwarna hijau zamrud meledak halus dari jemarinya yang panjang. Seketika, rasa melayang yang ajaib merayap di sekeliling tubuhku. Tubuh mungilku yang lebam dan berdarah perlahan terangkat melayang di udara, diselimuti oleh pusaran energi sihir hangat yang melindungiku dari gesekan air laut.

Sihir hijau itu membawaku terbang melayang pelan, mengekor tepat di belakang langkah kaki tegap Nataniel. Pangeran Siren itu melangkah perlahan membelah kegelapan malam samudra, menyusuri lorong-lorong batu karang yang sepi, membawaku menjauhi bangkai kapal penelitian menuju area terdalam istana yang terlarang bagi siapapun.

Ia tidak membawaku kembali ke sel bawah tanah yang basah, gelap, dan berbau amis. Nataniel membawaku masuk melintasi pintu ganda raksasa terbuat dari cangkang kerang purba yang dijaga ketat oleh puluhan prajurit bertombak emas.

Kediaman Utama Sang Pangeran.

Sebuah kamar raksasa yang teramat megah dan luas melingkupi pandanganku yang samar-samar. Dinding-dindingnya diukir dari koral kristal transparan yang memancarkan pendaran cahaya lembut. Pilar-pilar penyangga ruangan dililit oleh tanaman laut berdaun perak, dan di tengah ruangan berdiri sebuah tempat tidur raksasa bertatahkan kerang mutiara purba dengan tirai-tirai sutra laut berwarna biru gelap yang melambai anggun mengikuti arus air.

"Siapkan alas tidur kecil di sudut sana," perintah Nataniel singkat pada dua pengawal pribadinya yang berdiri membungkuk hormat di dekat pintu.

"Baik, Paduka yang Maha Agung," jawab para pengawal itu patuh.

Dengan sigap, kedua pengawal itu membentangkan sebuah kasur busa empuk beralaskan kain sutra halus berwarna abu-abu di sudut ruangan, tak jauh dari tempat tidur utama sang pangeran. Sihir hijau milik Nataniel perlahan-lahan menurunkan tubuhku yang terkulai lemah ke atas alas tidur tersebut secara sangat hati-hati.

Nataniel melangkah mendekat. Derap langkah kakinya yang berat terdengar begitu jelas di telingaku. Ia mendudukkan tubuh tegapnya secara menyamping di tepi alas tidurku. Dari balik jubah hitamnya, ia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil berisi cairan obat berwarna hijau terang yang memancarkan aroma bunga laut yang pekat.

Tanpa mengacuhkan tatapan bingung dan mataku yang terbelalak penuh rasa waspada, jemari es Nataniel yang panjang mulai menyentuh kulitku. Ia mengambil sedikit cairan obat tersebut, lalu mengoleskannya secara perlahan ke luka-luka goresan karang di bahu, lengan, perut, dan pahaku yang terbuka bebas.

Sensasi perih luar biasa yang tadinya membakar kulitku seketika surut. Digantikan oleh rasa dingin yang teramat menyejukkan, merayap masuk menjahit jaringan kulitku yang robek secara instan. Hanya dalam hitungan detik, luka-luka memerah dan lebam di tubuhku menutup rapat kembali tanpa menyisakan bekas luka sedikit pun.

("Iblis ini... baru aja mau mutusin leher orang tadi malam, terus membiarkan pengawalnya membawa aku ke penjara, tapi sekarang malah ngobatin lukaku sendiri di kamar pribadinya?") batinku berbisik heran. Mataku menatap lekat garis rahangnya yang tegas, hidung mancungnya yang sempurna, dan bulu matanya yang lentik dari jarak yang teramat dekat. ("Dasar pangeran labil! Kadang mengerikan bagaikan malaikat pencabut nyawa yang haus darah, tapi kadang bisa bersikap perhatian kayak begini...")

Seolah menyadari bahwa aku sedang mengamatinya tanpa kedip, Nataniel melirikku dari sudut matanya. Iris mata keemasannya yang dingin berkilat tajam, membuatku refleks menahan napas dan buru-buru memalingkan wajah karena canggung.

Setelah selesai mengoleskan obat ke seluruh permukaan kulitku, Nataniel mengibaskan tangannya sekali lagi ke udara. Selembar selimut sutra tebal berwarna biru keemasan melayang anggun di udara, lalu jatuh menutupi seluruh tubuh mungilku hingga ke batas dada. Kehangatan luar biasa seketika menyelimuti tubuhku, mengusir rasa dingin yang telah menyiksaku sepanjang malam.

"Tidurlah, Babu," ujar Nataniel dingin tanpa sudi menatapku lagi. Ia bangkit berdiri secara anggun, merapikan jubah hitamnya dan meraih sebuah tombak perak bermata tiga yang berkilauan di dekat pintu. "Jangan pernah mengira aku melakukan semua ini karena rasa kasihan padamu. Kau harus dalam kondisi tubuh yang utuh dan segar malam nanti untuk menghiburku. Pagi ini aku harus memimpin pasukan prajurit untuk berburu manusia di batas samudra."

Tanpa menunggu balasan dari mulutku, Pangeran Nataniel melangkah keluar kamar bersama jajaran pengawal pribadinya. Pintu kerang ganda raksasa tertutup rapat, menyisakan aku sendirian di dalam kamar mewahnya yang teramat sunyi.

Rasa lelah yang teramat sangat mendalam akhirnya mengalahkan seluruh rasa takut dan kepanikan yang membakar jiwaku. Di bawah lindungan selimut sutra hangat yang harum ini, mataku terpejam rapat. Kehangatan obat ajaib dan kelembutan alas tidur ini membuai kesadaranku menuju tidur lelap pertamaku yang sangat damai setelah melewati rentetan siksaan maut dan tragedi berdarah.

---

Waktu berlalu di alam samudra yang tak bertandakan matahari. Malam kembali merayap di Teluk Bayangan.

*Cklek...*

Pintu ganda kamar utama Pangeran Siren terbuka lebar. Langkah-langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar memasuki ruangan. Nataniel melangkah masuk dengan dada tegapnya yang naik turun teratur. Jubah hitamnya yang megah tampak terpercik sedikit noda air laut yang berbau amis khas perburuan. Di belakangnya, beberapa pengawal menyeret kantung-kantung besar berisi barang jarahan dan perhiasan hasil perburuan manusia di batas samudra malam ini.

Sang pangeran menghempaskan tubuh tegapnya yang lelah di atas tahta santai yang terukir dari batu koral hitam di dalam kamarnya. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang, memejamkan kedua matanya sejenak seraya mengurut pelipisnya dengan jemari panjangnya. Auranya tampak sangat lelah setelah seharian memimpin pertempuran dan perburuan.

"Babu," panggil Nataniel dengan suara berat dan dalam yang terdengar agak serak, namun tetap sarat akan dominasi yang tak teruji. "Majulah ke hadapanku."

Aku yang sudah terbangun sejak beberapa jam lalu dan telah mendapatkan kembali seluruh kekuatan jiwaku, buru-buru bangkit dari atas alas tidur. Tubuhku sudah jauh lebih segar, rasa sakit di leher dan paha sudah sirna sepenuhnya. Meski begitu, bikini perak mini yang irit bahan ini masih tetap melekat erat di tubuhku, memperlihatkan lekuk tubuh mungilku di bawah pendaran koral kristal kamar.

Aku melangkah pelan dengan telanjang kaki mendekati tahta santainya, menundukkan kepala secara patuh di hadapannya.

"Tunjukkan hiburanmu malam ini," tuntut Nataniel seraya perlahan membuka sebelah matanya. Iris mata keemasannya memancar terang di dalam kegelapan kamar, menatapku dengan intrik yang amat dalam. "Aku tidak ingin mendengarkan cerita berturut-turut malam ini. Pikiranku lelah setelah memburu bangsamu yang tidak tahu diri di batas laut. Buatkan aku sebuah nyanyian."

Jantungku berdegup kencang seketika. Nyanyian?!

("Aduh! Nyanyian apa yang bisa memuaskan telinga iblis sombong yang lagi capek habis berburu ini?!") batinku memutar otak setengah mati seraya menggigit bibir bawahku. ("Kalau aku menyanyikan lagu dangdut, pop, atau lagu galau daratan, bisa-bisa dia makin jijik dan benci sama manusia! Oalah... panggil semua jiwa kreatif kiravers! Aku harus ubah lirik lagu manis manusia jadi lagu pemujaan khusus buat si pangeran monster gila hormat ini!")

Aku menarik napas panjang, menenangkan gejolak di dadaku. Dengan jemariku yang gemetar halus, aku merapikan rambut cokelat panjangku yang terurai bergelombang, lalu mengatupkan kedua tanganku secara anggun di depan dada. Aku memasang raut wajah penuh pemujaan, kepasrahan, dan kekaguman paling ikhlas yang bisa kubentuk di wajah cantikku.

Sebuah melodi lagu manis bernada lembut dan mendayu-dayu mulai keluar dari bibirku. Suaraku yang jernih, halus, dan merdu memecah keheningan kamar utama yang megah. Namun, lirik lagu cinta manis manusia yang tadinya menceritakan kasih sayang daratan, telah kuubah sepenuhnya dengan kepiawaian kata-kataku sebagai seorang penulis:

*"Di balik samudra yang pekat dan dalam...*

*Berdiri sang penguasa bertakhtakan emas dan karang...*

*Pangeran Nataniel, sang ketampanan abadi...*

*Tombaknya menggentarkan samudra, auranya menyilaukan bumi..."*

Aku melangkah pelan satu titik mendekati tahta batu koralnya. Membiarkan gaun rumbai tipisku melambai anggun. Aku memperdalam intonasi suaraku dengan senandungan yang makin mendayu-dayu menyayat hati, seraya memberanikan diri menatap tepat ke dalam iris mata keemasannya yang terpaku padaku.

*"Tiada raja daratan yang sanggup menyamai keagunganmu...*

*Hamba yang hina bertekuk lutut di bawah telapak kakimu...*

*Wahai Pangeran Samudra nan Gagah Perkasa...*

*Engkaulah sang takdir, pemilik tunggal alam semesta..."*

Suara senandung manisku mengalun semakin lembut, membalut seluruh sudut kamar utama dengan getaran nada yang begitu indah, magis, dan menyentuh kalbu. Aku memadukan unsur kepasrahan seorang tawanan, kejujuran akting survival, dan puji-pujian setinggi langit dalam setiap bait lirik buatan tersebut. Suaraku bergema halus, menciptakan ilusi seolah-olah seluruh samudra sedang membungkuk hormat pada keagungannya.

Nataniel yang tadinya bersandar lelah dengan mata tertutup, perlahan-lahan membuka kedua matanya secara sempurna. Raut wajah lelahnya memudar, berganti dengan ekspresi terperanjat samar. Seringai tipis yang sarat akan kepuasan, kebanggaan, dan keangkuhan yang amat sangat merayap perlahan di sudut bibir tampannya.

Iris mata keemasannya bergetar halus di bawah pendaran cahaya kristal, jelas sekali bahwa egonya yang raksasa merasa terpuaskan sepenuhnya oleh lagu pujian manis yang meluncur dari bibir seorang manusia yang ia anggap rendah.

Nataniel memajukan tubuh tegapnya sedikit, menyandarkan siku di atas lututnya seraya menatapku tanpa berkedip. Ketegangan di bahunya mencair seketika.

"Bualanmu dalam bentuk lagu... cukup manis untuk didengar, Babu," bisik Nataniel dengan suara beratnya yang terkekeh samar, sebuah kekehan langka yang memancarkan pendar ketampanan yang teramat berbahaya. "Kau memang pandai memilih kata-kata untuk menyelamatkan lehermu."

Aku membungkuk sangat dalam, menyunggingkan senyuman manis yang polos. "Hamba hanya menyanyikan kebenaran atas keagungan Paduka yang Tiada Tandingannya."

("Fiuh... selamat lagi nyawaku malam ini!") sorakku kegirangan di dalam hati seraya helaan napas lega membakar dadaku. ("Memang gila hormat banget ini pangeran duyung! Dikasih lagu puji-pujian langsung lumer kelakuannya. Tapi nggak apa-apa, yang penting kepala dan leherku masih menyatu secara sempurna hari ini!")

Satu ujian malam kembali berhasil kulewati dengan selamat di bawah bayang-bayang sang penguasa samudra yang mematikan. Atau... setidaknya begitulah yang kupikirkan.

Tepat saat aku hendak melangkah mundur untuk kembali ke sudut kamarku, seutas sulur air bersinar hijau tiba-tiba melesat dari ujung jemari Nataniel. Sulur sihir itu melilit pinggangku dengan cepat, menarik tubuhku ke depan secara paksa hingga aku jatuh terduduk... tepat di atas pangkuan sang pangeran yang keras membatu!

"Kyaa!" jeritku tertahan, kedua tanganku refleks bertumpu pada bidang dadanya yang lebar agar tidak terjatuh. Jantungku rasanya nyaris melompat keluar dari tenggorokan. Wajah kami kini hanya berjarak beberapa jengkal. Aku bisa mencium aroma laut yang maskulin bercampur wangi obat dari tubuhnya.

Seringai kepuasan di bibir Nataniel perlahan memudar, berganti dengan kilatan mata pemangsa yang teramat tajam dan menelisik. Jemari esnya yang besar perlahan merayap turun ke pinggangku, tepat menyentuh bagian rumbai bikini perakku.

Napas sang pangeran berhembus dingin menyapu telingaku, membuat seluruh bulu kudukku meremang.

"Nyanyian bualanmu memang sangat manis, Babu..." bisik Nataniel dengan nada rendah yang mengancam, jemarinya kini mencengkeram kain pinggulku dengan kuat. "Tapi jangan pikir kau bisa menipu indra penciumanku. Benda sihir apa... yang diam-diam kau sembunyikan dari bangkai kapal manusia itu di balik pakaian minimmu ini?"

Deg!

Aliran darahku seolah berhenti berdesir. Mataku membelalak ngeri menatap iris keemasannya.

("Mutiara Laut Dalam! Dia menyadari keberadaan mutiara itu di kantung celanaku!)

⭐⭐⭐⭐⭐

Waduh!! Nataniel emang nggak bisa dikibulin semudah itu ya, Kiravers! Mutiara Laut Dalam ketahuan nih, kira-kira gimana cara Alessia ngeles dari cengkeraman sang pangeran di bab selanjutnya?! 🫣

Yuk, jangan lupa tinggalkan jejak dengan klik **LIKE**, **KOMENTAR** gemes kalian, dan **VOTE** cerita ini biar Pena Kira makin semangat updatenya! Siap lanjut ke Bab 7? 🔥

1
Helmy Faldy Alaydrus
ini si alesia makan apa thor
Pena kira: ikan lele kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: 🙏 terimakasih kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ada akademi vokal di dunia siren yak😄
Pena kira: mau join kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ttp kek bocil😄
Pena kira: xixixixi
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
cobain dulu lah kabur
Pena kira: kesian kang ikan lele Dumbo nya kak kalo ditinggal kabur
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
lawak lawak
Pena kira: 🤣🤣🤣 terimakasih kk
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: terimakasih kk
total 1 replies
Pena kira
tapi gantengnya nggak ngotak kak😭
Best
seramnye..
Pena kira: tapi gantengnya nggak ngotak kak 😭
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ikut mual njirrr🤢
Pena kira: minum antimo kak..aman😅
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍 lanjut thor
Pena kira: asiap kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍
Pena kira: makasih kakak
total 1 replies
Best
hadir Thor..
Pena kira: thanks a lot kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
gila kuat banget mental si alessia
Pena kira: sempat hidup generasi sandwich kak 😂
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
bagus lho tapi masih sepi. semangat thor bagus cerita nya..next👍
Best: "Baby or Babi." judul novel terbaru aku. Romansa yang di taburi juga dengan humor dan fantasi. Yuk mampir
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!