NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Keheningan di sudut eksklusif ballroom itu terasa begitu pekat, kontras dengan alunan musik jazz klasik yang mengalun di latar belakang. Dua pengawal bertubuh raksasa yang tadi menghalangi Naya kini berdiri kaku, menunggu satu jentikan jari dari bos mereka untuk menyeret wanita bergaun zamrud ini keluar.

Namun, jentikan jari itu tidak pernah datang.

Eylo Lais menatap Naya dengan sepasang mata gletsernya. Tidak ada senyum, tidak ada raut kemarahan. Pria itu hanya menatapnya dengan intensitas yang mampu membuat nyali eksekutif paling senior sekalipun menciut. Ia menyesap bourbon di gelasnya perlahan, membiarkan keheningan itu menguji mental Naya.

Naya sama sekali tidak bergeming. Ia membalas tatapan itu dengan dagu terangkat.

"Naya Adiraja," suara Eylo akhirnya mengalun. Baritonnya berat, dingin, dan sangat berwibawa, seolah ia terbiasa memberikan perintah mutlak. Ia menyebut nama Naya tanpa nada bertanya, membuktikan bahwa pria ini mengenali siapa pun yang berani melangkah ke dalam radius kekuasaannya. "Direktur Utama Adiraja Hospitality. Putri angkat dari sebuah keluarga yang sedang berusaha merajai sektor pariwisata."

"Ternyata Anda membaca profil calon mitra Anda sebelum membuang proposal mereka, Tuan Lais. Sebuah awal yang bagus," balas Naya tenang, sama sekali tidak terintimidasi.

Ujung bibir Eylo berkedut sangat tipis, nyaris tak terlihat. "Saya tidak membaca proposal Anda, Nona. Saya hanya memiliki memori yang luar biasa baik untuk nama-nama pemain baru yang mencoba berenang di kolam saya. Terutama mereka yang proyeknya baru saja karam pagi ini akibat skandal Tirta Corp."

Pria itu tahu. Tentu saja dia tahu. Raksasa sekelas Lais Holdings memiliki intelijen bisnis yang lebih cepat dari berita nasional.

"Proyek itu belum karam, Tuan Lais," Naya melangkah maju satu langkah, mengabaikan ketegangan para pengawal. "Tirta Corp meninggalkan infrastruktur setengah jadi, tapi lahan, izin, dan hak operasionalnya seratus persen milik Adiraja. Saya menawarkan Lais Holdings untuk mengambil alih konstruksi tersebut. Sebagai gantinya, Anda mendapatkan tiga puluh persen saham kepemilikan seumur hidup dan hak eksklusif pengelolaan logistik untuk seluruh rantai resor kami di Indonesia."

Itu adalah tawaran yang luar biasa gila dan menguntungkan. Angka tiga puluh persen dari megaproyek itu setara dengan triliunan rupiah di masa depan.

Eylo Lais memutar gelas bourbon-nya perlahan, mendengarkan denting es batu yang beradu dengan kaca. Ia menatap Naya dari ujung rambut hingga ke sepasang matanya yang menyala penuh tekad. Kebanyakan orang akan memohon padanya dengan suara bergetar dan lutut lemas. Wanita ini justru datang dan menodongkan pisau negosiasi tepat di depan hidungnya.

"Tawaran yang sangat... putus asa," ucap Eylo pelan.

"Tawaran yang rasional," ralat Naya tanpa jeda.

Eylo terdiam sejenak. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma musk dan tembakau dari tubuhnya menguar tajam. Posturnya yang menjulang memaksa Naya untuk sedikit mendongak.

"Nona Adiraja," bisik Eylo dingin, menatap lurus ke kedalaman mata Naya. "Anda memakai gaun yang indah, memiliki keberanian yang mengesankan, dan artikulasi bisnis yang cukup tajam. Tapi mari kita perjelas satu hal."

Eylo menundukkan kepalanya sedikit, suaranya berubah menjadi geraman halus yang mematikan.

"Saya adalah Eylo Lais. Saya membangun mahakarya dari tanah kosong. Saya tidak memungut puing-puing sisa kegagalan orang lain, apalagi membersihkan sampah yang ditinggalkan oleh kontraktor korup seperti Tirta Corp. Risiko reputasinya tidak sepadan dengan tiga puluh persen saham Anda."

Kata-kata itu menghantam Naya bagaikan godam es. Penolakan yang absolut, tanpa ruang untuk tawar-menawar.

"Jadi," Eylo menegakkan tubuhnya kembali, kembali memakai topeng arogannya. "Jawaban saya adalah tidak. Silakan cari perusahaan rongsokan lain untuk menyelamatkan megaproyek Anda. Selamat malam."

Penolakan itu seharusnya menghancurkan Naya. Dua tahun lalu, mungkin ia akan memohon atau menangis karena tekanan yang luar biasa berat ini. Namun malam ini, Naya hanya menarik napas panjang dengan sangat tenang.

"Sayang sekali," Naya mengukir sebuah senyum tipis yang memancarkan keanggunan, tanpa sedikit pun rasa kalah. "Saya kira rumor tentang predator puncak yang berani mengambil risiko besar itu benar. Ternyata, Lais Holdings hanya berani bermain di perairan yang aman."

Mata Eylo menyipit tajam mendengar hinaan halus tersebut.

Naya tidak memberikan pria itu kesempatan untuk membalas. Ia meletakkan gelas sampanyenya yang belum tersentuh ke atas nampan pelayan yang lewat.

"Jika insting bisnis Anda mendadak berfungsi kembali, asisten saya akan meninggalkan berkas proposalnya di meja resepsionis acara ini," ucap Naya final. "Permisi, Tuan Lais."

Tanpa menoleh lagi, Naya berbalik dan melangkah pergi. Posturnya tetap tegak sempurna, langkahnya mantap membelah kerumunan sosialita. Ia tidak menunduk, tidak mempercepat langkahnya layaknya orang yang melarikan diri, dan yang paling penting—ia sama sekali tidak menoleh ke belakang untuk melihat reaksi Eylo.

Di sudut ruangan itu, Eylo Lais berdiri mematung. Gelas bourbon di tangannya berhenti berputar.

Mata gletsernya terkunci pada punggung Naya yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu ganda ballroom. Selama bertahun-tahun ia menolak ratusan pengusaha, politikus, dan wanita cantik. Reaksi mereka selalu sama: memohon, menangis, marah, atau mencoba merayunya.

Naya Adiraja adalah satu-satunya wanita yang menerima penolakannya dengan dagu terangkat, lalu meninggalkannya dengan sebuah tamparan harga diri yang luar biasa rapi.

"Leon," panggil Eylo tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu.

Seorang pria berjas rapi yang merupakan asisten pribadinya segera melangkah maju dari balik bayang-bayang. "Ya, Tuan Lais?"

"Wanita itu." Eylo terdiam sejenak. Ada sesuatu pada diri Naya yang mengganggu logikanya. Bukan sekadar kecantikannya yang menawan, melainkan aura dingin dan benteng tak kasat mata yang mengelilingi wanita itu. Saat Naya menatap matanya tadi, Eylo tidak melihat ketertarikan romantis sedikit pun. Mata wanita itu seolah sudah mati dari segala bentuk godaan duniawi.

Mata itu menyimpan sebuah cerita yang jauh lebih gelap dan dalam daripada sekadar krisis proyek triliunan rupiah.

"Kumpulkan semua data tentang Naya Adiraja," perintah Eylo dengan nada rendah yang sarat akan intrik. "Bukan cuma portofolio perusahaannya. Aku mau semua sejarahnya. Masa lalunya, latar belakang keluarganya, siapa yang pernah menidurinya, dan apa yang membuatnya menjadi mesin sedingin itu."

"Baik, Tuan. Lalu... bagaimana dengan proposal Labuan Bajo yang ia tinggalkan di resepsionis?" tanya Leon ragu-ragu, mengingat bosnya baru saja menolak mentah-mentah tawaran tersebut.

Eylo Lais menyesap sisa bourbon-nya hingga tandas, tatapannya menggelap oleh sebuah ketertarikan yang sangat jarang terjadi.

"Bawa proposal itu ke meja kerjaku besok pagi."

1
Bebe Honey
mantap ceritanya Kak...terima kasih 😍
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!