NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Pagi jam 05.30. Subuh.

Rumah Pondok Indah masih sepi, embun masih di kaca, AC masih 18 derajat, tapi kamar utama lantai 2 sudah hangat.

Di ranjang king size dengan seprai putih yang baru diganti dua kali kemarin - sekali siang setelah durian runtuh, sekali malam setelah diulangi lagi - Aditya dan Alena terbangun bersama.

Tidak lagi punggung-punggungan jarak satu meter seperti malam pertama. Tidak lagi guling di tengah seperti malam kedua. Tidak lagi genggaman tangan jarak 30 cm seperti malam ketiga.

Pagi ini, malam keempat setelah resepsi Hotel Mulia, setelah penyatuan siang dan malam kemarin, mereka terbangun dalam posisi Alena memeluk dada Aditya, kepala Alena di lengan Aditya, selimut putih yang sama menutupi mereka berdua. Rambut Alena masih agak berantakan, daster satin cream-nya agak kusut, pipinya merah. Aditya dengan kaos oblong putih yang juga kusut, rambutnya berantakan, tapi wajahnya yang biasanya datar, cool, dingin CEO, pagi ini terlihat tenang, bahagia, lingkar mata hitam karena tidak tidur semalam karena kerja sudah hilang, diganti dengan wajah segar.

Alena membuka mata duluan. Melihat Aditya masih terlelap di depannya dengan jarak 5 cm, napas Aditya mengenai dahinya. Alena kaget, malu, langsung menutup wajahnya dengan selimut, ingat kejadian siang dan malam kemarin.

"Mas..." bisik Alena pelan, membangunkan Aditya.

Aditya membuka mata pelan, tersenyum. Senyum hangat yang selalu ada akhir-akhir ini.

"Pagi, sayang," jawab Aditya dengan suara serak baru bangun tidur, tapi hangat.

Alena makin malu, menyembunyikan wajah di dada Aditya.

Aditya mengusap rambut Alena yang berantakan dengan lembut, " Trimakasih untuk malam yang indah sayang." cup cup

Aditya mencium puncak kepala Alena.

Alena mengangguk di dada Aditya, "Iya Mas..."

Mereka berbaring 10 menit lagi, tidak mau bangun, hanya berpelukan di bawah selimut putih, mendengarkan detak jantung masing-masing.

Jam 06.00, Alena memberanikan diri bangun duluan.

"Alena masak dulu ya Mas... Sean ujian try out terakhir hari ini, harus sarapan nasi goreng spesial..."

Aditya mengangguk, "Iya, masak. Saya mandi."

Alena turun dari ranjang dengan gerakan pelan, masih malu-malu, merapikan daster satin cream-nya yang kusut, mengikat rambutnya asal, lalu keluar kamar dengan langkah kecil cepat menyempatkan untuk mandi besar setelahnya ia turun.

Jam 06.15 dapur.

Dapur rumah Pondok Indah sudah ada Bi Ijah dan dua asisten rumah tangga lain yang sedang menyiapkan bahan. Bau bawang putih goreng sudah wangi.

Alena masuk dengan daster rumahan bunga-bunga - sudah ganti dari satin cream karena mau masak - rambut diikat cepol, wajah tanpa make up, tapi pipinya merah terus sejak pagi, malu-malu, senyum-senyum sendiri sambil cuci beras.

Bi Ijah yang sudah kerja 10 tahun di keluarga Pradana langsung tahu. Ia melihat Alena yang masak sambil senyum-senyum malu, sambil sesekali pegang leher, sambil sesekali melamun menatap wajan.

"Nyonya Alena, semalam tidur nyenyak ya ? Mukanya cerah sekali pagi ini Nya, goda Bi Ijah pelan sambil kupas bawang.

Alena kaget, hampir menjatuhkan spatula, pipinya makin merah, "Iya Bi... tidur... tidur nyenyak Bi..."

Bi Ijah dan dua asisten lain saling pandang dan senyum. Mereka tahu. Rumah yang 2 tahun sepi, 3 hari terakhir sejak resepsi Hotel Mulia jadi hangat, apalagi semalam - mereka dengar samar tawa kecil dari kamar utama lantai 2 siang dan malam.

Alena masak nasi goreng spesial dengan gerakan malu-malu. Sesekali ia berhenti, memegang pipinya yang panas, ingat pelukan Aditya dari belakang siang kemarin di dalam selimut, ingat bisikan Aditya malam tadi, "boleh kita ulangi lagi?".

Telur mata sapi bulat sempurna yang biasanya Alena buat dengan fokus, pagi ini agak miring karena tidak fokus, karena malu.

Jam 06.30, Aditya turun dari lantai 2.

Sudah rapi lagi seperti CEO dingin. Kemeja putih bersih disetrika, dasi hitam, celana bahan hitam, rambut disisir rapi basah habis mandi, jam Rolex, wangi parfum. Tapi wajahnya tidak dingin lagi. Wajahnya hangat.

Ia masuk ke dapur. Melihat Alena yang sedang menggoreng nasi goreng dengan daster rumahan bunga-bunga, cepol rambut berantakan, punggungnya kecil, sedang malu-malu senyum sendiri sambil aduk nasi goreng.

Tanpa pikir panjang, tanpa peduli ada Bi Ijah dan dua asisten rumah tangga yang sedang kupas bawang dan cuci piring di samping, Aditya berjalan pelan dari belakang dan langsung memeluk Alena dari belakang.

Pelukan erat, hangat, dari belakang, kedua tangannya melingkar di perut Alena, dagunya menempel di bahu Alena.

Alena kaget, spatula hampir jatuh, "Mas! Mas Aditya!"

Aditya tidak melepas, malah mengeratkan pelukan, berbisik di telinga Alena yang merah, "Pagi, sayang. Masak apa pagi ini?"

Satu dapur langsung hening. Bi Ijah dan dua asisten rumah tangga langsung pura-pura sibuk, pura-pura tidak melihat, tapi senyum-senyum.

Alena malu setengah mati, pipinya merah padam, berusaha melepas pelukan Aditya pelan, "Mas... ada Bi Ijah Mas... ada Mbak Siti Mas... malu Mas..."

Aditya malah terkekeh pelan di telinga Alena, "Biarin. Dunia ini hanya milik kita pagi ini. Saya tidak peduli."

CEO dingin Pradana Group yang biasanya anti PDA, anti pelukan di depan karyawan, pagi ini memeluk istrinya di dapur depan 3 asisten rumah tangga, tidak peduli jasnya kena minyak, tidak peduli dasinya miring.

Ia merasa dunia hanya miliknya dan Alena. setelah 3 malam canggung satu ranjang, setelah penyatuan siang dan malam kemarin, ia merasa baru benar-benar memiliki Alena seutuhnya.

Bi Ijah yang melihat itu, dengan kode, langsung menggandeng dua asisten lain, "Ayo Mbak Siti, Mbak Rina, kita ke gudang dulu ambil beras. Biar nyonya dan Tuan sarapan berdua dulu."

Ketiga asisten itu langsung menyingkir dari dapur, memberi ruang, sambil senyum-senyum menahan tawa bahagia. Mereka tahu, pengantin yang sudah tidak baru ,tapi baru memulai sebagai suami istri sesungguhnya pagi ini.

Dapur yang tadi ramai, sekarang sepi, hanya ada Alena dan Aditya.

Alena yang masih dipeluk dari belakang, masih malu, tapi akhirnya bersandar pelan di dada Aditya, "Mas... nasi gorengnya gosong nanti Mas..."

Aditya tidak melepas, malah mencium puncak kepala Alena yang cepol berantakan itu pelan, "Gak apa-apa gosong. Yang penting istri saya yang masak."

Alena meleleh. Alena yang belum terbiasa disebut istri sekarang dipanggil "istri saya" dan "sayang" sambil dipeluk dari belakang di dapur.

"Mas..." bisik Alena, suaranya manja, malu-malu.

Mereka berpelukan di depan wajan nasi goreng yang masih menyala, wangi nasi goreng memenuhi dapur, pagi yang hangat.

Tiba-tiba dari lantai 2, terdengar suara pintu kamar dibuka keras dan suara teriakan yang sangat kencang, sangat jelas, terdengar sampai dapur.

Sean sudah bangun, dengan seragam SMA putih abu-abu, tas ransel, rambut sudah disisir rapi karena mau try out terakhir ujian akhir kelulusan, berdiri di railing tangga lantai 2, melihat ke bawah ke dapur yang ada Ayah Bundanya sedang pelukan di depan wajan.

Sean teriak dengan suara super keras, tidak malu, tidak filter, seperti anak kecil minta mainan!

"AYAH! BUNDA! AKU MAU ADEK PEREMPUAN! ADEK PEREMPUAN YA AYAH BUNDA! YANG CANTIK KAYAK BUNDA! JANGAN ADEK LAKI-LAKI! AKU MAU ADEK PEREMPUAN!"

Satu rumah langsung gempar.

Alena yang sedang dipeluk Aditya dari belakang langsung kaget dan hampir menjatuhkan wajan nasi goreng, pipinya yang tadi merah, sekarang merah padam sampai leher!

"SEAN!" teriak Alena malu setengah mati.

Aditya yang memeluk Alena dari belakang juga kaget, tapi langsung ngakak, tawa lepas CEO dingin yang jarang keluar, tawa bahagia.

Bi Ijah dan dua asisten yang di gudang juga ngakak sampai perut sakit.

Sean dari atas tangga tidak berhenti, malah lanjut teriak sambil turun tangga dengan tas ransel!

"BENERAN AYAH BUNDA! KEMARIN KAN BUNDA TIDUR SIANG TERUS AYAH PULANG JAM 12 SIANG! TERUS KALIAN DI KAMAR LAMA SAMPAI SORE RAMBUT BASAH! TERUS MALAMNYA LAMPU KAMAR MATI JAM 10 MALAM TAPI MASIH KEDENGERAN KETAWA! AKU DENGER LHO! JADI AKU MAU ADEK PEREMPUAN! BIAR ADA YANG TEMANI BUNDA MASAK! BIAR RUMAH GAK SEPI!"

Alena sudah tidak bisa berkata apa-apa, hanya menutup wajahnya dengan kedua tangan yang masih bau bawang, bersembunyi di dada Aditya yang masih memeluknya dari belakang.

"Mas... Sean dengar Mas... malu Mas..."

Aditya memeluk Alena makin erat, berbisik di telinga Alena dengan tawa, "Biarin sayang, Sean mau adek perempuan. Kita kasih adek perempuan ya?"

Alena memukul pelan dada Aditya yang memeluknya, "Mas... apaan sih Mas... Sean masih ada Mas..."

Sean sudah sampai di dapur, dengan seragam putih abu-abu, melihat nasi goreng yang hampir gosong karena Ayah Bundanya pelukan.

"Yah, Bun, nasi gorengnya gosong tuh! Gara-gara pelukan! Aku mau berangkat try out terakhir ya! Doain aku lulus ya Bun! Dan doain adek perempuan aku ya!"

Aditya melepas satu tangan dari pelukan Alena, mengacak rambut Sean yang sudah rapi.

"Berangkat sana, belajar yang benar. Doa Ayah Bunda selalu buat kamu lulus. Soal adek perempuan... nanti Ayah Bunda usahakan."

Sean ngakak, "Asiik! Aku mau adek perempuan namanya Alea! Alea Pradana! Cantik kayak Bunda!"

Lalu Sean mengambil piring nasi goreng yang hampir gosong itu, makan dengan lahap sambil berdiri, lalu berangkat sekolah dengan motor.

Dapur kembali sepi, hanya Alena dan Aditya.

Alena masih malu, masih merah, memukul pelan tangan Aditya yang masih memeluknya dari belakang.

"Mas... Sean minta adek perempuan Mas... gimana Mas..."

Aditya membalik Alena pelan, sekarang berhadapan, menatap mata Alena yang malu-malu, pipi merah, rambut cepol berantakan, bau bawang dan nasi goreng.

Aditya mengusap pipi Alena yang merah dengan ibu jarinya.

"Gimana kalau kita usahakan sekarang, sayang? Mumpung Sean sekolah, Bi Ijah di gudang, rumah sepi, nasi goreng sudah matang..."

Alena langsung menutup mulutnya, "Mas!"

Aditya tersenyum, senyum nakal CEO dingin yang baru belajar jadi suami.

"Mas bercanda, sayang. Masak dulu, nanti gosong beneran. Malam aja kita usahakan adek perempuan buat Sean."

Alena memukul dada Aditya pelan, tapi mengangguk malu-malu, "Iya Mas... malam aja Mas..."

Pagi itu, nasi goreng spesial yang agak gosong terasa paling enak, dimakan berdua di meja makan dengan pelukan dan malu-malu, sementara di luar rumah, tetangga Pondok Indah melihat Porsche hitam Aditya belum berangkat ke kantor sampai jam 08.00 pagi, karena CEO dingin itu merasa dunia pagi ini hanya miliknya dan istrinya yang malu-malu di dapur

Bersambung ....

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!