NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Jebakan dalam Diam

Di balik keheningan area parkir basement VVIP Menara Utama Nugroho Group yang baru saja ditinggalkan Arga dan Irwan untuk melanjutkan patroli, sebuah bayangan tebal perlahan menyusup kembali dari balik salah satu pilar beton raksasa. Sosok pria berpakaian serba hitam dengan topi dan masker tertutup rapat itu bergerak tanpa suara, memanfaatkan sudut buta kamera pengawas yang telah dipetakan dengan cermat sebelumnya.

Ternyata, firasat buruk yang dirasakan Arga beberapa menit lalu bukanlah sekadar kelelahan. Mobil Mercedes-Maybach hitam milik Nadia memang telah menjadi sasaran sabotase yang sangat rapi. Selang serta kabel jalur minyak rem utama kendaraan mewah tersebut telah dipotong secara presisi menggunakan alat pemotong mikro oleh penyusup yang merupakan orang suruhan David Pratama. Dengan taktik yang begitu bersih dan cepat, cairan rem bocor secara perlahan tanpa meninggalkan genangan mencolok dalam waktu singkat, memastikan sistem pengereman akan gagal total begitu kendaraan dipacu di jalan raya. Setelah menyeka sisa jejak di permukaan lantai epoksi, penyusup itu langsung melangkah pergi meninggalkan area basement melalui akses pintu darurat yang tidak terkunci rapat.

Sementara itu, di lantai 55 Menara Utama Nugroho Group, jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Suasana lantai eksekutif sudah sangat sepi. Hanya lampu ruangan kerja CEO yang masih menyala terang.

Nadia Nugroho mengusap pelipisnya yang terasa agak pening, lalu menutup laptop tebal yang ada di meja kerjanya. Laporan analisis keuangan dan berkas evaluasi proyek Pelabuhan Samudra yang menumpuk akhirnya selesai ditinjau.

Pintu ruang kerja berbunyi pelan. Rina melangkah masuk sembari membawa tas kerja dan sebuah mantel tipis.

"Bu Nadia, semua dokumen laporan untuk rapat besok pagi sudah saya rapikan di meja depan," ujar Rina dengan nada suara yang sedikit lelah namun tetap profesional.

Nadia bersandar di kursi kerjanya, menghela napas panjang. "Terima kasih banyak, Rina. Kamu sudah boleh pulang dari tadi sebenarnya, tidak perlu menunggu saya sampai larut begini."

Rina tersenyum tipis. "Mana mungkin saya tega meninggalkan Bu Nadia sendirian lembur sampai jam sepuluh malam? Lagipula, pekerjaan kita hari ini memang sangat padat."

"Kondisi Kakek di rumah sakit bagaimana? Ada kabar baru dari dr. Handoko malam ini?" tanya Nadia cemas, mengalihkan pembicaraan pada hal yang paling membebani pikirannya.

"Sekitar setengah jam yang lalu Pak Ade memberi kabar, Bu," jawab Rina cepat. "Kondisi Pak Nugroho malam ini sangat stabil. Dr. Handoko sudah memberikan obat tidur agar beliau bisa istirahat total. Pak Ade pesan supaya Bu Nadia tidak perlu memaksakan diri datang ke rumah sakit malam-malam begini."

Nadia mengangguk pelan, tampak sedikit lega. "Alhamdulillah kalau Kakek stabil. Berarti saya langsung pulang ke rumah saja malam ini untuk istirahat."

"Pilihan yang sangat tepat, Bu," kata Rina mengiyakan. "Ibu kelihatan capek banget. Jangan sampai Ibu ikut jatuh sakit di tengah situasi penting seperti sekarang."

"Iya, Rina. Kamu juga langsung pulang ya. Mau saya antarkan pakai mobil saya?" tawar Nadia seraya berdiri dan mengambil tas tangannya dari atas meja.

"Eh, tidak usah, Bu Nadia," tolak Rina halus sembari melambaikan tangannya. "Taksi langganan saya sudah menunggu di lobi depan dari tadi. Bu Nadia langsung ke basement saja, kasihan Pak Ade juga pasti sudah capek menyetir."

"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Rina," kata Nadia.

"Siap, Bu Nadia. Selamat istirahat! Sampai jumpa besok pagi," pamit Rina sebelum berjalan mendahului menuju area lift penumpang umum.

Nadia melangkah keluar dari ruang kerjanya, mengunci pintu kayu mahoni tersebut, lalu melangkah menuju lift khusus eksekutif. Ketika pintu lift berdinding kaca mengilap itu tertutup, Nadia menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sejenak untuk mengusir rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya.

Layar indikator lantai bergerak turun dengan cepat dari lantai 55 hingga akhirnya berdenting halus saat tiba di lantai dasar basement VVIP. Pintu lift terbuka, menyambut Nadia dengan hembusan hawa dingin dari sistem pendingin ruangan yang lengang.

Nadia melangkah keluar dari area lift dengan gaya anggun yang menjadi ciri khasnya. Suara dentang heels sepatu tingginya berirama teratur, memecah kesunyian lantai parkir yang temaram.

Di tempat parkir slot VVIP nomor satu, mobil Mercedes-Maybach hitam milik keluarga Nugroho sudah berdiri anggun. Pak Ade, yang mengenakan seragam pengemudi rapi, tampak berdiri tegap di samping pintu penumpang bagian belakang begitu melihat kedatangan sang CEO muda.

"Selamat malam, Bu Nadia," sapa Pak Ade dengan nada sangat sopan, membungkukkan badannya sedikit.

Nadia membalas sapaan itu dengan senyuman tipis. "Selamat malam, Pak Ade. Maaf ya bikin Pak Ade menunggu sampai larut malam begini."

"Ah, tidak apa-apa sama sekali, Bu Nadia. Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya," balas Pak Ade ramah. Pria paruh baya itu dengan sigap melangkah hendak membukakan pintu belakang mobil untuk majikannya. "Mari Bu, silakan masuk. Kita langsung menuju kediaman?"

Nadia menghentikan langkah Pak Ade dengan kibasan tangan pelan. "Tunggu sebentar, Pak Ade."

Pak Ade menolehkan kepalanya, agak heran. "Ada yang tertinggal di ruangan, Bu?"

"Bukan," jawab Nadia geleng kepala. "Malam ini Pak Ade kelihatannya sudah sangat lelah. Tadi kan Pak Ade seharian mendampingi Kakek di rumah sakit, terus bolak-balik antar berkas ke kantor juga."

"Saya masih kuat menyetir kok, Bu Nadia," sahut Pak Ade berusaha memberikan keyakinan. "Jalanan malam ini juga pasti sudah lengang."

"Tidak usah memaksakan diri, Pak Ade," potong Nadia tegas namun lembut. "Biar malam ini saya saja yang menyetir sendiri. Pak Ade duduk santai di kursi penumpang samping saya, atau kalau mau istirahat di kursi belakang juga boleh."

Pak Ade terkejut dan merasa sungkan. "Duh, mana boleh begitu, Bu? Saya kan di gaji untuk jadi pengemudi Bu Nadia. Masa malah Bu Nadia yang menyetir buat saya?"

Nadia tertawa kecil, suara tawa yang jarang sekali terdengar di area kantor. "Tidak apa-apa, Pak Ade. Sekali-kali tidak ada salahnya kan? Lagipula saya juga butuh menyetir sendiri buat mengusir rasa kantuk dan pusing di kepala saya. Biar pikiran saya agak segar."

Pak Ade menatap mata tegas cucu dari majikannya itu. Ia tahu jika Nadia sudah mengambil keputusan, sangat sulit untuk membantahnya.

"Baiklah kalau Bu Nadia memang menghendaki demikian," ujar Pak Ade akhirnya dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Tapi kalau Bu Nadia merasa lelah di tengah jalan, langsung beri tahu saya ya Bu. Biar saya ambil alih kemudinya."

"Siap, Pak Ade. Terima kasih atas pengertiannya," balas Nadia tersenyum hangat.

Nadia melangkah menuju pintu pengemudi di sisi kanan, sementara Pak Ade berjalan mutar dan masuk ke pintu penumpang sebelah kiri depan. Nadia membuka pintu mobil mewah tersebut, lalu duduk anggun di balik lingkar kemudi berkulit sintetis mahal itu.

Nadia meletakkan tas tangannya di konsol tengah, merapikan posisi duduknya, dan menyesuaikan sudut spion tengah serta spion samping. Tanpa curiga sedikit pun bahwa kabel rem di bawah kendaraannya telah dipotong dan cairan hidrolik pentingnya telah terkuras habis, Nadia menekan tombol Start Engine di samping roda kemudi.

Brooam...

Mesin berkapasitas besar dari sedan Mercedes-Maybach hitam itu menderu halus namun bertenaga, mengisi keheningan lantai basement. Lampu utama berteknologi LED memancarkan sorot cahaya putih yang sangat terang, membelah kegelapan lorong parkir VVIP dan menyoroti dinding semen di hadapan mereka.

Nadia menggeser tuas transmisi otomatis ke posisi Drive, lalu perlahan melepaskan pijakan kakinya dari pedal rem untuk memajukan kendaraan menuju jalur keluar basement.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!