NovelToon NovelToon
Penyesalan Gezha

Penyesalan Gezha

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ragan Fian

Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.

Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.

Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.

Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu kembali

Sore itu, langit di atas desa pesisir dihiasi warna jingga keemasan yang menawan. Angin laut bertiup sepoi-sepoi, membawa ketenangan yang melingkupi warung kue kecil milik Vivian.

"Satu... dua... tiga! Pesawat mau mendarat!"

Julian menepuk tangan riang saat Bumi berhasil menghabiskan suapan terakhir bubur tim buatan ibunya. Balita mungil itu tertawa mengekeh gembira, menyeka noda makanan di pipi tembamnya dengan punggung tangan.

"Anak pintar," puji Julian seraya mengusap lembut kepala Bumi.

Vivian yang baru selesai mengelap meja kayu di samping mereka tertawa pelan. Matanya memancarkan rasa syukur yang begitu mendalam. "Makasih ya, Dok... Kalau bukan Dokter yang bujuk, Bumi dari tadi siang susah sekali disuap."

"Sudah kewajiban saya, Mbak Vivian," balas Julian dengan senyum khasnya yang menenangkan.

Namun, di tengah kehangatan dan ketenangan sore yang begitu indah itu...

BZZZZ... GLUDUK.

Suara deru mesin mobil mewah yang sangat asing di desa kecil itu mendadak terdengar membelah hening.

Sebuah mobil SUV hitam berkaca gelap melaju pelan menyusuri jalanan tanah, lalu berhenti tepat di seberang warung kue Vivian.

Debu tanah berterbangan tipis saat pintu mobil tersebut terbuka.

Sesosok pria tinggi dengan setelan kemeja yang agak kusut melangkah keluar. Langkah kakinya berat, gemetar, dan kaku—seperti seorang pesakitan yang baru saja tersadar dari koma panjang.

Pria itu adalah Radhit.

Begitu matanya menangkap sosok wanita bercelemek kain sederhana yang sedang tertawa lembut di balik etalase kayu... seluruh dunia Radhit seketika berhenti berputar.

Dada Radhit mendadak terasa dihantam oleh beban tonase es yang mematikan.

"V-Vivian..." bisik Radhit dari balik tenggorokannya yang sangat kering dan tersumbat rasa haru yang luar biasa.

Dua tahun. Dua tahun dia mencari bayangan ini di setiap mimpi buruknya.

Kini, wanita yang sangat dirindukannya itu berdiri hanya berjarak beberapa meter dengannya. Wajah Vivian tidak lagi pucat dan muram seperti dulu. Vivian tampak begitu indah, tenang, dan hidup kehidupan yang dulu dihancurkannya sampai tak tersisa.

Air mata penyesalan yang sangat pekat meluncur deras membasahi pipi Radhit tanpa bisa dibendung. Pria itu menggerakkan kakinya yang terasa berat bagaikan timah, melangkah pelan mendekati teras warung kue tersebut.

"Vivian..." panggil Radhit lagi, suaranya bergetar hebat memecah heningnya angin sore.

PRANG!

Gelas seng yang berada di genggaman Vivian seketika terlepas dan jatuh membentur lantai kayu.

Suara panggilan itu... nada bicara yang dingin namun kini gemetar itu... adalah hantu menakutkan yang selama dua tahun ini coba dikuburnya hidup-hidup!

Vivian membeku kaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya mendadak bergetar hebat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seluruh warna kehidupan di wajah cantiknya luntur seketika, menggantikannya dengan raut ketakutan yang teramat sangat.

Vivian memutar tubuhnya dengan perlahan, dan saat matanya bertemu dengan tatapan mata Radhit yang memerah oleh air mata...

DEG!

Trauma mendalam dari masa lalu mendadak menyambar kepala Vivian bagaikan sengatan listrik bertegangan tinggi!

Memori saat dirinya merayap bersimbah darah di atas marmer dingin, bentakan kasar, dan kata-kata hinaan Radhit mendadak berputar gila di dalam pikirannya.

"M-Mas... Radhit..." bisik Vivian dengan napas yang tersengal-sengal, matanya membelalak ketakutan.

Vivian melangkah mundur panik hingga punggungnya menabrak meja kayu. "Ngg-nggak... Jangan mendekat! Tolong... jangan sentuh aku!" teriak Vivian histeris, tubuhnya merapat ke dinding bagaikan seekor kelinci yang terpojok di hadapan pemangsa.

Julian yang melihat perubahan ekstrem pada sikap Vivian langsung berdiri cekatan. Dokter muda itu memasang tubuhnya di depan Vivian dan Bumi, membentengi mereka dari sosog pria asing yang mendadak muncul itu.

"Siapa Anda?! Tolong jaga jarak!" tegur Julian tegas dengan tatapan mata yang tajam dan protektif.

Namun, Radhit sama sekali tidak memedulikan teguran Julian. Pandangan mata Radhit terkunci sepenuhnya pada sosok balita mungil yang berada di belakang gaun Vivian.

Balita laki-laki itu menatapnya dengan mata bulat yang polos. Wajahnya... bibirnya... bentuk alisnya... semuanya adalah cetakan sempurna dari paras Radhit waktu kecil!

DUAR!

Jantung Radhit bagaikan meledak di dalam dada!

Darah dagingnya. Anak yang dulu disebutnya sebagai benalu pembawa sial... kini berdiri nyata di hadapannya, tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan bersih.

"A-Anak... anak saya..." raung Radhit pelan dengan suara yang pecah. Pria itu berlutut di tanah yang berdebu, mengulurkan kedua tangannya yang gemetar hebat ke arah Bumi.

"Nak... ini Ayah, Nak... Ini Ayah..." isak Radhit meraung-raung di atas tanah. Air matanya menetes membasahi debu jalanan.

Namun, bukannya mendekat... anak mungil itu justru membelalak takut melihat pria asing yang menangis histeris di hadapannya.

Bumi memeluk erat kaki Julian dari belakang, lalu menyembunyikan wajahnya di balik celana Julian.

"Ibu... Bumi takut sama Paman itu..." panggil anak kecil itu dengan suara mungilnya yang polos.

Lalu, tangan kecil Bumi mendongak, meremas jemari Julian seraya berbisik, "Paman Julian... Paman usir Paman jahat itu..."

JLEB!

Kata-kata sederhana dari bibir mungil anaknya itu bagaikan pedang beracun yang menghujam dan merobek-robek ulu hati Radhit tanpa belas kasihan!

Anaknya... darah dagingnya sendiri... menatapnya dengan rasa takut dan menganggapnya sebagai "orang jahat", sementara tangan anak itu justru mencari perlindungan pada pria lain!

"Nggak... Nggak, Nak! Saya Ayah kamu!" jerit Radhit histeris seraya mencoba merangkak mendekat. "Vivian, tolong... kasih tahu dia kalau saya Ayah kandungnya!"

"PERGI, MAS RADHIT!" jerit Vivian dengan tangisan histeris yang memilukan.

Vivian berlutut memeluk tubuh Bumi rapat-rapat di dadanya, membentengi anaknya dari pandangan Radhit.

"Pergi dari sini! Aku mohon... jangan ganggu hidup kami lagi! Kami sudah mati buat Mas Radhit! Tolong pergi!" raung Vivian seraya menangis sesenggukan, dadanya naik turun menahan rasa sesak yang membakar jiwa.

Melihat histeria Vivian yang makin parah dan napas wanita itu yang mulai tersedat panik, Julian melangkah maju mencengkeram bahu Radhit secara tegas.

"Pak, saya minta Anda keluar dari tempat ini sekarang juga!" seru Julian dingin dan keras. "Kondisi psikologis Mbak Vivian bisa drop kalau Anda terus memaksakan diri!"

Radhit mematung di atas tanah berdebu. Matanya yang sembap menatap Vivian yang menangis histeris memeluk anak mereka di dalam dekapan pria lain.

Pria yang dulu memiliki segalanya... kini berlutut bagaikan gelandangan di atas tanah, meratapi kenyataan pahit bahwa penyesalannya yang teramat sangat... telah terlambat.

1
sunaryati jarum
Selamat Radit kau sadar, semoga cepat sembuh.Vivian begitu besar pengorbanan Radit , maafkan dan rujuk,buatkan adik untuk Bumi.Nanti perempuannya namakan Bulan jika laki Matahari atau Langit
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
sunaryati jarum
Radit harus selamat demi Bumi dan Vivian
sunaryati jarum
Clarissa ingin tamat riwayat hidupnya, dengan cepat
sunaryati jarum
Vi kalian kan belum bercerai,beri kesempatan pada Gezha dia sudah berubah dan putus dengan Clarissa
sunaryati jarum
Ayo Vi jangan jadi wanita lemah dan penakut lagi.Bsngkit lawan bersama Radit orang - orang yang ingin menyakiti kamu dan Bumi
sunaryati jarum
Terlambat Clarissa semua kekayaan Radit sudah milik Vivian dan Bumi.Vivian sekarang beda dua tahun lalu , sekarang jadi wanita waspada,kuat ,tangguh dan tidak dapat ditindas lagi Lagian Radit akan melindungi mereka dengan nyawanya.
sunaryati jarum
Ya,pak pengacara semoga mereka rujuk,toh belum ada perceraian karena waktu itu Vivian pergi meninggalkan rumah saat Radit bersama Clarissa
sunaryati jarum
Aku salut sama kamu dr Julian,kamu benar benar tulus menolong Vivian, semoga kamu dapat jodoh yang sangat mencintaimu dan tentunya gadis yg masih bersegel
Shankara Senja
pria setulus itu dibiarkan pergi? ..demi pria masa lalu? ..demi anak diantara mereka..ishh..ish..ish...klo gtu..ngapain pake mengasingkan diri jauh jauh..klo akhirnya hatinya luruh jg
Ragan Fian: Iya begitu mom Kalau udah Takdir🤣🤣
mau kehalang Jarak apapun pasti ketemu kembali btw makasih ya mom udah mampir 💪
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah,kan Vivian masih mencintai Radit,lebih baik rujuk.Siska tidak perlu menyerahkan diri karena Vivian sudah memaafkan.Siska jodohkan saja dengan dr Julian
sunaryati jarum
Sidang akan jadi kemenangan Radit karena untuk mempertahankan hak Bumi, putranya.Semoga mantan sekretarian berpihak pada Radit.
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian
sunaryati jarum
Nah , emosi yang kamu dahulukan jadinya malu sendiri.Semoga sekretaris kamu berpihak padamu,Radit.Demi Bumil putramu , menuangkan kasusmu.Minta Julian dan Vivian bersaksi
sunaryati jarum
Julian tersangka,apa hubungan mereka
sunaryati jarum
Rujuk saja,toh Julian belum ada hubungan serius dengan mu
Ragan Fian: baguss bgtt Bu idenyaaa Nanti yaa Aku bakal kasih end yang Happy dan romantis
total 1 replies
sunaryati jarum
Jika benar menyesal diberi kesempatan boleh,asal sudah putus dengan pelacur Clarissa
sunaryati jarum
Ada ikatan batin,tapi juga ada pertolongan untuk Vivian agar Radit tidak bisa menemuinya
sunaryati jarum
Menang Vivian masih mau sama kamu Radit
sunaryati jarum
Nah,kan
sunaryati jarum
Nah setelah pergi baru nyesel,kamu itu seharusnya ikuti mendiang ayahmu, pilihan orang tua sebagian besar tidak salah
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!