Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali
Sore itu, langit di atas desa pesisir dihiasi warna jingga keemasan yang menawan. Angin laut bertiup sepoi-sepoi, membawa ketenangan yang melingkupi warung kue kecil milik Vivian.
"Satu... dua... tiga! Pesawat mau mendarat!"
Julian menepuk tangan riang saat Bumi berhasil menghabiskan suapan terakhir bubur tim buatan ibunya. Balita mungil itu tertawa mengekeh gembira, menyeka noda makanan di pipi tembamnya dengan punggung tangan.
"Anak pintar," puji Julian seraya mengusap lembut kepala Bumi.
Vivian yang baru selesai mengelap meja kayu di samping mereka tertawa pelan. Matanya memancarkan rasa syukur yang begitu mendalam. "Makasih ya, Dok... Kalau bukan Dokter yang bujuk, Bumi dari tadi siang susah sekali disuap."
"Sudah kewajiban saya, Mbak Vivian," balas Julian dengan senyum khasnya yang menenangkan.
Namun, di tengah kehangatan dan ketenangan sore yang begitu indah itu...
BZZZZ... GLUDUK.
Suara deru mesin mobil mewah yang sangat asing di desa kecil itu mendadak terdengar membelah hening.
Sebuah mobil SUV hitam berkaca gelap melaju pelan menyusuri jalanan tanah, lalu berhenti tepat di seberang warung kue Vivian.
Debu tanah berterbangan tipis saat pintu mobil tersebut terbuka.
Sesosok pria tinggi dengan setelan kemeja yang agak kusut melangkah keluar. Langkah kakinya berat, gemetar, dan kaku—seperti seorang pesakitan yang baru saja tersadar dari koma panjang.
Pria itu adalah Radhit.
Begitu matanya menangkap sosok wanita bercelemek kain sederhana yang sedang tertawa lembut di balik etalase kayu... seluruh dunia Radhit seketika berhenti berputar.
Dada Radhit mendadak terasa dihantam oleh beban tonase es yang mematikan.
"V-Vivian..." bisik Radhit dari balik tenggorokannya yang sangat kering dan tersumbat rasa haru yang luar biasa.
Dua tahun. Dua tahun dia mencari bayangan ini di setiap mimpi buruknya.
Kini, wanita yang sangat dirindukannya itu berdiri hanya berjarak beberapa meter dengannya. Wajah Vivian tidak lagi pucat dan muram seperti dulu. Vivian tampak begitu indah, tenang, dan hidup kehidupan yang dulu dihancurkannya sampai tak tersisa.
Air mata penyesalan yang sangat pekat meluncur deras membasahi pipi Radhit tanpa bisa dibendung. Pria itu menggerakkan kakinya yang terasa berat bagaikan timah, melangkah pelan mendekati teras warung kue tersebut.
"Vivian..." panggil Radhit lagi, suaranya bergetar hebat memecah heningnya angin sore.
PRANG!
Gelas seng yang berada di genggaman Vivian seketika terlepas dan jatuh membentur lantai kayu.
Suara panggilan itu... nada bicara yang dingin namun kini gemetar itu... adalah hantu menakutkan yang selama dua tahun ini coba dikuburnya hidup-hidup!
Vivian membeku kaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya mendadak bergetar hebat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seluruh warna kehidupan di wajah cantiknya luntur seketika, menggantikannya dengan raut ketakutan yang teramat sangat.
Vivian memutar tubuhnya dengan perlahan, dan saat matanya bertemu dengan tatapan mata Radhit yang memerah oleh air mata...
DEG!
Trauma mendalam dari masa lalu mendadak menyambar kepala Vivian bagaikan sengatan listrik bertegangan tinggi!
Memori saat dirinya merayap bersimbah darah di atas marmer dingin, bentakan kasar, dan kata-kata hinaan Radhit mendadak berputar gila di dalam pikirannya.
"M-Mas... Radhit..." bisik Vivian dengan napas yang tersengal-sengal, matanya membelalak ketakutan.
Vivian melangkah mundur panik hingga punggungnya menabrak meja kayu. "Ngg-nggak... Jangan mendekat! Tolong... jangan sentuh aku!" teriak Vivian histeris, tubuhnya merapat ke dinding bagaikan seekor kelinci yang terpojok di hadapan pemangsa.
Julian yang melihat perubahan ekstrem pada sikap Vivian langsung berdiri cekatan. Dokter muda itu memasang tubuhnya di depan Vivian dan Bumi, membentengi mereka dari sosog pria asing yang mendadak muncul itu.
"Siapa Anda?! Tolong jaga jarak!" tegur Julian tegas dengan tatapan mata yang tajam dan protektif.
Namun, Radhit sama sekali tidak memedulikan teguran Julian. Pandangan mata Radhit terkunci sepenuhnya pada sosok balita mungil yang berada di belakang gaun Vivian.
Balita laki-laki itu menatapnya dengan mata bulat yang polos. Wajahnya... bibirnya... bentuk alisnya... semuanya adalah cetakan sempurna dari paras Radhit waktu kecil!
DUAR!
Jantung Radhit bagaikan meledak di dalam dada!
Darah dagingnya. Anak yang dulu disebutnya sebagai benalu pembawa sial... kini berdiri nyata di hadapannya, tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan bersih.
"A-Anak... anak saya..." raung Radhit pelan dengan suara yang pecah. Pria itu berlutut di tanah yang berdebu, mengulurkan kedua tangannya yang gemetar hebat ke arah Bumi.
"Nak... ini Ayah, Nak... Ini Ayah..." isak Radhit meraung-raung di atas tanah. Air matanya menetes membasahi debu jalanan.
Namun, bukannya mendekat... anak mungil itu justru membelalak takut melihat pria asing yang menangis histeris di hadapannya.
Bumi memeluk erat kaki Julian dari belakang, lalu menyembunyikan wajahnya di balik celana Julian.
"Ibu... Bumi takut sama Paman itu..." panggil anak kecil itu dengan suara mungilnya yang polos.
Lalu, tangan kecil Bumi mendongak, meremas jemari Julian seraya berbisik, "Paman Julian... Paman usir Paman jahat itu..."
JLEB!
Kata-kata sederhana dari bibir mungil anaknya itu bagaikan pedang beracun yang menghujam dan merobek-robek ulu hati Radhit tanpa belas kasihan!
Anaknya... darah dagingnya sendiri... menatapnya dengan rasa takut dan menganggapnya sebagai "orang jahat", sementara tangan anak itu justru mencari perlindungan pada pria lain!
"Nggak... Nggak, Nak! Saya Ayah kamu!" jerit Radhit histeris seraya mencoba merangkak mendekat. "Vivian, tolong... kasih tahu dia kalau saya Ayah kandungnya!"
"PERGI, MAS RADHIT!" jerit Vivian dengan tangisan histeris yang memilukan.
Vivian berlutut memeluk tubuh Bumi rapat-rapat di dadanya, membentengi anaknya dari pandangan Radhit.
"Pergi dari sini! Aku mohon... jangan ganggu hidup kami lagi! Kami sudah mati buat Mas Radhit! Tolong pergi!" raung Vivian seraya menangis sesenggukan, dadanya naik turun menahan rasa sesak yang membakar jiwa.
Melihat histeria Vivian yang makin parah dan napas wanita itu yang mulai tersedat panik, Julian melangkah maju mencengkeram bahu Radhit secara tegas.
"Pak, saya minta Anda keluar dari tempat ini sekarang juga!" seru Julian dingin dan keras. "Kondisi psikologis Mbak Vivian bisa drop kalau Anda terus memaksakan diri!"
Radhit mematung di atas tanah berdebu. Matanya yang sembap menatap Vivian yang menangis histeris memeluk anak mereka di dalam dekapan pria lain.
Pria yang dulu memiliki segalanya... kini berlutut bagaikan gelandangan di atas tanah, meratapi kenyataan pahit bahwa penyesalannya yang teramat sangat... telah terlambat.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian