Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Suara yang Tidak Pernah Ia Dengar di Depan Orang Lain
"Sayang," suara Bayu di telepon terdengar geli, disusul suara klakson kendaraan di kejauhan yang menandakan dia masih di jalan menuju proyek barunya. "Kamu udah makan belum? Jangan bilang lagi ngemil biskuit doang lagi kayak kemarin."
"Udah, Sayang, tenang aja," Alya menjawab sambil tertawa, memutar bola matanya meski Bayu tidak bisa melihatnya. Panggilan yang sudah jadi kebiasaan mereka sejak awal pacaran, sederhana tapi selalu terasa hangat setiap kali diucapkan.
"Awas aja kalau bohong. Nanti pas nikah, aku yang masak, kamu yang makan doang, biar seimbang," Bayu menggoda, dan Alya tertawa lagi, membiarkan suara itu mengisi kekosongan kecil di kamarnya yang mulai terasa lebih sunyi sejak Bayu kembali ke kota sebelah.
"Kalau gitu aku mau cepet-cepet nikah sama kamu aja, ya, Sayang. Biar cepet dimasakin," balasnya, dan mereka berdua tertawa bersama.
"Eh, tapi serius," Bayu melanjutkan, nadanya sedikit lebih pelan. "Kangen banget aku, Sayang. Rasanya kayak udah lama banget nggak meluk kamu, padahal baru seminggu."
"Aku juga, Sayang," Alya berbisik, memeluk bantalnya sendiri seolah itu bisa menggantikan pelukan yang dia rindukan. "Cepetan selesein proyeknya, biar kamu bisa pulang lagi."
"Buat kamu, aku usahain secepat mungkin," janjinya, dan obrolan ringan itu, bagi Alya, terasa seperti jangkar paling nyata di tengah minggu-minggu yang belakangan terasa semakin sulit dia pahami sendiri.
Siang harinya, ruang rawat lantai tiga sibuk seperti biasa. Alya baru saja menyelesaikan putaran pertama pemeriksaan ketika Suster Ratna memanggilnya ke nurse station, wajahnya sedikit khawatir.
"Pasien di 315 tensinya naik turun nggak jelas dari tadi pagi," katanya, menyerahkan map rekam medis. "dr. Raze udah dikabari, tapi dia lagi ada jadwal operasi sampai malam. Kamu yang pegang kasus ini, kan? Kayaknya harus dipantau ketat sampai malam."
"Siap, Bu. Saya standby aja di sini," Alya menjawab, meski di dalam hati dia sudah membayangkan betapa panjangnya hari itu akan terasa.
"Jangan maksain diri juga," Ratna menepuk bahunya. "Kalau capek banget, bilang aja ke Wulan buat gantiin sebentar."
"Nggak apa-apa, Bu. Ini kasus saya, saya yang paling ngerti kondisinya dari pagi," Alya tersenyum meyakinkan, meski dia sendiri tidak sepenuhnya yakin bagaimana tubuhnya akan bertahan sampai malam.
Shift malam itu berjalan lebih panjang dari biasanya. Satu pasien mendadak memerlukan pemantauan ekstra hingga larut. Ketika akhirnya Alya keluar dari gedung rumah sakit, jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Jalanan di depan gerbang sudah sepi, dan halte bus terakhir yang biasa dia tumpangi sudah lama tutup. Dia baru saja hendak memesan ojek online, namun sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Kaca jendela turun perlahan, memperlihatkan wajah yang sudah dia kenali betul lekuknya.
"Masuk," katanya, singkat, tanpa embel-embel apa pun.
"Saya bisa pesan ojek, Dokter, nggak usah repot—"
"Masuk," ulangnya, kali ini lebih tegas. Matanya menatap lurus ke depan seolah kalimat itu sudah cukup jelas untuk tidak perlu diperdebatkan lagi. Alya berdiri ragu sebentar di trotoar, sebelum akhirnya menyerah dan membuka pintu mobil, duduk di kursi penumpang dengan jantung yang tiba-tiba berdegup jauh lebih kencang dari yang seharusnya untuk sekadar tumpangan pulang.
Mobil melaju dalam diam beberapa menit, hanya diselingi suara mesin yang halus dan lampu jalan yang berkelebat di kaca jendela. Alya memperhatikan cara dia menyetir. Tangan kirinya selalu di posisi yang sama di setir, kecepatannya konstan tanpa pernah melewati batas yang tertera di papan jalan. Bahkan di jalanan sepi tengah malam sekalipun, seolah kedisiplinan yang sama yang dia terapkan di ruang operasi juga berlaku untuk hal sesederhana menyetir mobil.
"Dokter selalu nyetir seperti ini?" Alya bertanya, sedikit heran, mencoba mencairkan keheningan yang mulai terasa berat.
"Aku nggak suka kehilangan kendali," jawabnya singkat, matanya tetap ke depan. "Atas apa pun."
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa membuat bulu kuduk Alya meremang. Dia memilih diam sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri memecah keheningan itu lagi.
"Terima kasih, Dokter. Nggak perlu jauh-jauh, saya bisa turun di—"
"Berhenti panggil aku begitu."
Kalimat itu keluar tiba-tiba. Nadanya berbeda dari yang biasa Alya dengar sepanjang bekerja bersamanya. Lebih rendah, lebih santai dalam artian yang justru terasa lebih berbahaya. Seperti seseorang yang baru saja melepas jas rapi yang selama ini menjadi kulit keduanya.
"Maksud Dokter?"
"Raze," katanya, menoleh sekilas ke arah Alya sebelum kembali fokus ke jalan. "Kalau cuma ada kita berdua, panggil aku Raze. Bukan Dokter. Bukan gelar apa pun."
"Saya... rasanya nggak sopan, Dok—"
"Alya." Namanya sendiri, diucapkan dengan nada yang begitu berbeda dari biasanya, membuat kalimat protesnya sendiri hilang di tenggorokan. "Aku bilang, panggil aku Raze."
Dia tidak pernah dengar suara itu bicara seperti ini. Tanpa jeda formal, tanpa perhitungan kata yang biasa menyertai setiap kalimatnya di rumah sakit. Seolah versi ini adalah dirinya yang sesungguhnya, yang selama ini sengaja dia sembunyikan di balik topeng profesional yang begitu rapi.
"Raze," akhirnya Alya mengalah, mengucapkan nama itu pelan, hampir seperti bisikan. Sesuatu di rahangnya mengendur mendengarnya, meski dia tidak tersenyum, meski matanya tetap fokus ke jalan di depan.
"Kamu kelihatan capek," katanya, tiba-tiba, setelah beberapa menit diam. "Berapa jam kamu jaga hari ini?"
"Empat belas jam," Alya menjawab jujur, terlalu lelah untuk berbasa-basi. "Ada pasien yang tekanan darahnya nggak stabil dari sore."
"Kenapa nggak minta shift diganti orang lain?"
"Karena itu pasien saya, Raze. Saya yang paling ngerti kondisinya," jawabnya, agak heran kenapa dia harus menjelaskan hal sesederhana itu.
"Lain kali, minta diganti," katanya, nadanya bukan saran, melainkan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan perintah. "Aku nggak suka kamu kecapekan sampai jam segini."
"Itu bukan keputusan Dokt—" Alya buru-buru mengoreksi dirinya sendiri, "—bukan keputusan kamu, Raze. Itu kerjaan saya."
Untuk pertama kalinya, dia benar-benar berhenti di lampu merah lebih lama dari yang seharusnya, menoleh penuh ke arah Alya, matanya menatap dengan intensitas yang membuat gadis itu lupa caranya bernapas normal.
"Semua yang menyangkut kamu, itu keputusanku," katanya, kalimatnya pelan tapi begitu tegas hingga terasa seperti fakta yang sudah lama ditetapkan. Bukan pendapat yang bisa diperdebatkan. "Aku nggak peduli kedengarannya se-posesif apa. Aku nggak akan minta maaf soal itu."
"Kamu nggak berhak—"
"Aku tahu aku nggak berhak," potongnya cepat, suaranya sedikit lebih keras, meski masih terkendali. "Tapi itu nggak mengubah apa pun. Aku tetap akan khawatir. Aku tetap akan datang jemput kamu kalau kamu pulang selarut ini lagi. Kamu boleh marah. Aku nggak akan berhenti."
"Kamu nggak bisa asal atur hidup orang, Raze," Alya berkata, memberanikan diri menatap balik, meski suaranya sedikit gemetar. "Aku punya kehidupan sendiri. Aku punya Bayu."
Nama itu membuat rahangnya mengeras. Matanya berkedip lambat seolah sedang menahan sesuatu yang ingin dia katakan tapi memutuskan menahannya sedikit lebih lama. "Aku tahu," katanya akhirnya, suaranya turun satu tingkat, lebih pelan, lebih berbahaya. "Aku tahu persis siapa dia, ke mana dia pergi minggu ini, bahkan jam berapa dia biasa menelepon kamu. Bukan berarti aku menyukai kenyataan itu."
Alya menahan napas mendengar betapa detailnya kalimat itu. Tapi sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, lampu sudah berganti hijau, dan mobil kembali melaju, seolah dia sengaja memilih momen itu untuk menutup topik yang baru saja dia buka sendiri.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang hal-hal kayak gini pas di rumah sakit?" Alya bertanya pelan, mencoba mengalihkan sedikit ketegangan yang baru saja terjadi.
"Karena di sana, aku harus jadi dr. Raze Aldevar. Kepala divisi bedah jantung, pemilik rumah sakit, orang yang nggak boleh kelihatan lemah di depan siapa pun," jawabnya, matanya sekilas melirik ke arah Alya sebelum kembali fokus ke jalan. "Di sini, cuma ada kamu. Aku nggak perlu berpura-pura jadi versi yang lebih rapi dari diriku sendiri."
Alya terdiam, tidak tahu harus merasa takut atau justru diam-diam tersentuh oleh kejujuran yang begitu mentah, begitu tidak biasa. Keluar dari mulut seseorang yang selama ini begitu pandai menyembunyikan segalanya di balik kalimat-kalimat pendek dan datar.
Mobil berhenti di depan kos, tapi mesin belum dimatikan. Alih-alih membuka sabuk pengamannya sendiri, tangan Raze justru terulur ke arah Alya. Jarinya menyentuh pelan luka kecil di telapak tangannya yang masih menyisakan bekas perban dari minggu lalu.
"Masih sakit?" tanyanya, suaranya melembut, kontras dengan ketegasan yang baru saja dia tunjukkan beberapa menit sebelumnya.
"Nggak lagi," Alya menjawab pelan, membiarkan tangannya tetap berada dalam genggaman itu lebih lama daripada yang seharusnya dia izinkan. Merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan besar itu ke seluruh lengannya.
"Bagus," katanya, tapi jarinya tidak juga melepaskan genggaman itu. Malah bergerak naik perlahan, membelai pergelangan tangan Alya dengan gerakan yang begitu lembut hingga terasa berbahaya justru karena kelembutannya. "Kamu tahu, aku benci setiap kali harus memanggilmu Suster Nireva di depan orang-orang itu."
"Kenapa?"
"Karena itu mengingatkanku bahwa aku harus berpura-pura kamu cuma bawahanku," katanya, suaranya turun jadi bisikan. Matanya tidak lepas dari mata Alya. "Padahal kamu jauh lebih dari itu, dan aku sudah lelah berpura-pura sebaliknya setiap hari."
Jantung Alya berdegup terlalu keras untuk bisa dia abaikan. Sebelum dia sempat menjawab, Raze sudah mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. Cukup dekat hingga Alya bisa merasakan napasnya sendiri tercekat. Cukup dekat hingga dia bisa mencium aroma kayu cendana bercampur sesuatu yang lebih personal, yang selalu menempel di setiap kemejanya.
Tangan besar itu berpindah dari pergelangan tangannya ke pipinya. Ibu jarinya mengusap lembut garis rahang Alya, gerakan yang begitu hati-hati seolah dia takut menariknya terlalu keras akan membuat semuanya pecah berantakan. "Kamu nggak tahu, ya," bisiknya, "berapa lama aku menahan diri untuk nggak melakukan ini setiap kali kamu berdiri terlalu dekat di ruang operasi."
"Raze—" Alya membisikkan namanya. Entah sebagai peringatan atau justru undangan, dia sendiri tidak sepenuhnya yakin.
"Aku nggak akan memaksamu malam ini," katanya. Suaranya nyaris berbisik, ibu jarinya masih mengelus pipi Alya perlahan sebelum turun kembali ke pergelangan tangannya. "Tapi aku juga nggak akan berpura-pura nggak menginginkan ini. Kamu boleh pura-pura nggak dengar kalimat ini besok pagi. Malam ini, aku cuma ingin kamu tahu, sekali saja, tanpa topeng."
Dia mundur perlahan, melepaskan genggaman itu dengan berat yang tertinggal, dan membuka kunci pintu mobil dari dalam. Isyarat tanpa kata bahwa Alya boleh turun kapan pun dia siap.
"Selamat malam, Alya," katanya, kembali ke nada yang sedikit lebih terkendali. Meski matanya masih menyala dengan sesuatu yang belum sepenuhnya padam.
"Selamat malam... Raze," Alya berbisik balik. Begitu dia keluar dari mobil, kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri sepanjang jalan menuju kamar. Satu tangan masih memegang pergelangan tangan yang lain, seolah mencoba menahan hangat yang sudah lama menjalar dan menolak untuk mereda.
Dia tidak langsung masuk. Dia berdiri sebentar di depan pintu kosnya. Mendengarkan suara mobil itu perlahan menjauh di ujung gang, dan baru setelah lampu belakangnya benar-benar hilang dari pandangan, Alya menghela nafas panjang yang sejak tadi dia tahan. Punggungnya merosot pelan ke pintu kayu yang dingin, mencoba menata ulang detak jantungnya sendiri yang masih belum sepenuhnya kembali normal.
Kos itu sudah terlihat sepi. Hanya ada suara jangkrik dari halaman belakang dan dengung lampu neon di lorong yang menemaninya berdiri sendirian beberapa menit lebih lama sebelum akhirnya dia membuka pintu kamarnya. Melangkah masuk, dan menguncinya rapat-rapat dari dalam. Seolah dia bisa mengunci juga semua yang baru saja terjadi malam itu. Meski dia tahu betul, sesuatu yang sudah menyentuh sedalam ini tidak akan semudah itu ditinggalkan di balik pintu.
Di dalam kamarnya, ponselnya bergetar Pesan dari Bayu, terkirim beberapa menit lalu, mungkin saat dia masih di dalam mobil itu.
"Sayang, udah sampe kos? Kabarin ya. Hati-hati di jalan."
Alya menatap pesan itu lama. Jarinya melayang di atas layar, mencoba menyusun kata-kata untuk membalas. Tapi yang muncul di kepalanya hanya bayangan mata yang menyala di dalam mobil gelap, dan suara yang mengucapkan namanya sendiri seolah nama itu adalah sesuatu yang berharga. Bukan sekadar panggilan biasa.
"Udah sampe, Sayang. Aman," akhirnya dia hanya mengetik itu, tanpa satu kata pun tentang mobil hitam. Tanpa satu kata pun tentang genggaman tangan yang masih terasa hangat. Tanpa satu kata pun tentang nama yang baru saja dia ucapkan untuk pertama kalinya malam itu.
Balasan Bayu datang tak lama kemudian, disertai emoji hati yang selalu dia kirim setiap malam sebelum tidur. Kebiasaan kecil yang sudah bertahan sejak tahun pertama mereka pacaran. "Mimpi indah, Sayang. Besok telepon lagi, ya. Kangen suaramu." Alya membalasnya dengan emoji yang sama, lalu meletakkan ponselnya di meja. Berbaring menghadap langit-langit kamar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaan hangat yang masih membekas di pergelangan tangannya hanyalah efek kelelahan semata. Bukan sesuatu yang harus dia khawatirkan lebih jauh.
Tapi semakin dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semakin jelas dia menyadari bahwa malam ini adalah malam pertama sejak bertunangan dengan Bayu, dia tertidur sambil memikirkan suara orang lain.
Di lantai dua puluh dua, buku bersampul kulit hitam itu terbuka lagi malam itu. Untuk pertama kalinya, tulisan di dalamnya tidak lagi berupa pengamatan dingin dari kejauhan.
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈🅻🅾🆅🅴•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Aku mengucapkan namanya sendiri hari ini. Dia mengucapkan namaku balik. Aku tahu ini terlalu cepat. Aku tidak peduli.
Dia menyebut nama pria itu di depanku, membelanya seolah aku tidak berhak mendengar nama itu keluar dari mulutnya. Aku tersenyum saat itu, meski dia tidak melihatnya. Karena aku tahu sesuatu yang belum dia sadari sendiri. Semakin keras dia membela nama itu, semakin dekat waktunya nama itu tidak lagi punya tempat untuk dibela.
Ada batas yang selama ini kujaga rapi, dan malam ini aku melangkahinya dengan kesadaran penuh. Tidak ada penyesalan. Hanya perhitungan baru tentang berapa lama lagi aku sanggup berpura-pura ini cukup.
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈🅻🅾🆅🅴•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Dia menutup buku itu, menguncinya di laci yang sama, lalu duduk diam sejenak di kegelapan ruangannya sendiri. Jari-jarinya mengetuk meja tiga kali dengan ritme yang sudah lama menjadi kebiasaannya setiap kali sebuah keputusan besar baru saja mengambil bentuk yang lebih jelas di kepalanya.
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Ada suara yang hanya diperdengarkan pada satu orang seumur hidup, disimpan rapat dari dunia yang tidak berhak mendengarnya. Begitu suara itu akhirnya terdengar, yang berubah bukan hanya kata-katanya, melainkan seluruh jarak yang selama ini dikira aman untuk terus dijaga.