Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Muda yang Tidak Tahu Diri
Sha Nuo masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak pernah lepas dari Lan Suya dan pria yang datang bersamanya. Ia kemudian sedikit bergeser ke samping, bersembunyi di balik kerumunan orang yang sedang berlalu-lalang di jalan.
Ia sendiri tidak tahu mengapa harus bersembunyi. Tidak ada alasan baginya untuk takut terlihat oleh Lan Suya. Ia juga tidak melakukan sesuatu yang salah. Namun entah kenapa, Sha Nuo tidak ingin perempuan itu mengetahui bahwa dirinya sedang berada di sana.
Dari tempatnya berdiri, Sha Nuo dapat melihat Lan Suya berbicara dengan pria tersebut. Beberapa saat kemudian, pria itu mengatakan sesuatu yang membuat Lan Suya tertawa kecil.
Sha Nuo terdiam. Tatapannya menjadi semakin dalam.
Lan Suya kembali tertawa. Kali ini sedikit lebih lepas. Pria itu juga tersenyum dan melanjutkan pembicaraan mereka. Keduanya terlihat sangat akrab.
Sha Nuo tidak tahu siapa pria itu. Ia bahkan tidak tahu apa hubungan mereka. Namun melihat Lan Suya tertawa seperti itu bersama pria asing, entah kenapa membuat hatinya terasa tidak nyaman.
Tangannya kembali mengepal.
“...”
Sha Nuo segera mengalihkan pandangan. Lan Suya bukan kekasihnya. Mereka bahkan baru saling mengenal lebih dekat belum lama ini. Sha Nuo tidak memiliki hak untuk merasa tidak senang hanya karena melihat Lan Suya bersama pria lain.
Ia memahami hal itu dengan jelas. Namun memahami sesuatu dengan pikiran ternyata tidak selalu membuat hati menerimanya.
Sha Nuo kembali melirik. Kedua orang itu masih berbicara. Tidak lama kemudian, Lan Suya tersenyum lagi. Perasaan tidak senang di dalam dada Sha Nuo justru menjadi semakin kuat.
“Kenapa aku merasa seperti ini?”
Ia mengerutkan kening. Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban.
Mungkin karena wajah Lan Suya terlalu mirip dengan Ye Lian. Mungkin karena tanpa sadar ia mulai menganggap perempuan itu sebagai seseorang yang dekat dengannya. Atau mungkin ada alasan lain yang bahkan tidak ingin ia akui.
Sha Nuo menarik napas panjang.
“Aku terlalu banyak berpikir.”
Tidak lama kemudian, Lan Suya dan pria tersebut berjalan menuju kedai makan yang sejak tadi hendak didatanginya. Mereka masuk bersama.
Sha Nuo hanya berdiri di tempatnya. Beberapa detik berlalu dan ia masih menatap pintu kedai yang baru saja tertutup.
Kemudian ia menghela napas panjang.
“Sudahlah.”
Ia berbalik.
Hari ini seharusnya menjadi hari untuk bersantai. Ia tidak ingin merusak suasana hatinya sendiri hanya karena sesuatu yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Sha Nuo akhirnya memutuskan untuk mencari tempat makan lain. Ia berjalan menyusuri jalan utama Kota Weiyang.
Beberapa saat kemudian, ia menemukan sebuah kedai makan yang terlihat cukup ramai. Dari dalam bangunan terdengar suara percakapan para pelanggan. Aroma makanan juga keluar sampai ke jalan.
Sha Nuo berhenti.
“Lumayan ramai.”
Ia melirik ke dalam.
“Kalau ramai seperti ini, seharusnya makanannya cukup enak.”
Tanpa berpikir panjang, Sha Nuo masuk.
Di dalam, hampir sebagian besar meja telah terisi. Beberapa orang sedang makan dengan lahap, sementara para pelayan terus berjalan membawa nampan makanan dari satu meja ke meja lainnya.
Sha Nuo menemukan sebuah meja kosong di sudut ruangan. Ia langsung duduk.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampirinya.
“Tuan, apa yang ingin kau pesan?”
Sha Nuo menatap pelayan itu.
Ia sebenarnya tidak terlalu tahu makanan apa yang tersedia di tempat ini. Karena itu, setelah berpikir sebentar, ia berkata santai,
“Bawakan saja semuanya.”
Pelayan itu terdiam.
“Hah?”
Sha Nuo mengangguk.
“Semua makanan yang ada di kedai ini. Bawakan ke mejaku.”
Pelayan tersebut menatap Sha Nuo beberapa saat.
Ia tidak mengenal pria di hadapannya. Namun dari tubuh besar, aura seorang pendekar, serta dua pedang hitam yang tergantung di pinggangnya, pelayan itu bisa mengetahui bahwa pria ini bukan orang biasa.
Ia tidak berani bertanya terlalu banyak.
“Baik, Tuan. Aku akan segera menyiapkannya.”
Pelayan itu segera pergi.
Sha Nuo menyandarkan punggungnya pada kursi. Matanya menatap kosong ke arah meja.
Pikirannya kembali melayang pada kejadian sebelumnya. Lan Suya dan pria asing itu.
Tanpa sadar, wajah Sha Nuo kembali mengerut.
“...”
Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan melihat ke sekeliling kedai. Namun beberapa saat kemudian, pikirannya kembali pada hal yang sama.
Sha Nuo menghela napas.
“Kenapa aku terus memikirkannya?”
Ia mengusap wajahnya.
Perasaannya hari ini memang aneh. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya membuat dirinya merasa tidak senang.
Saat sedang melamun, seseorang yang berjalan melewati belakang kursinya tiba-tiba menyenggol lengannya.
“Brak!”
Tubuh orang yang menabraknya itu justru sedikit terhuyung.
Sha Nuo hanya melirik sekilas. Ia tidak terlalu mempermasalahkannya.
Namun orang yang menyenggolnya justru berhenti. Seorang pemuda dengan pakaian mewah menatap Sha Nuo dengan wajah kesal.
“Kau!”
Sha Nuo mengangkat alis.
Pemuda itu menunjuk ke arahnya.
“Apakah kau tidak punya mata?”
Sha Nuo diam. Pemuda tersebut semakin marah.
“Kau mengganggu jalanku!”
Beberapa orang di sekitar mulai menoleh.
Sha Nuo masih tidak mengatakan apa-apa. Suasana hatinya sedang buruk. Ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan siapa pun.
Namun pemuda itu tampaknya tidak berniat berhenti.
“Berani sekali kau duduk sembarangan di sini!”
Ia mendekat beberapa langkah.
“Apa kau tidak tahu siapa aku?”
Sha Nuo menatapnya datar.
Pemuda itu mengangkat dagunya dengan angkuh.
“Aku adalah Tan Xuong dari Keluarga Tan!”
Begitu nama itu disebutkan, beberapa pelanggan di sekitar langsung berubah ekspresi.
“Keluarga Tan?”
“Dia Tan Xuong?”
“Benar. Tuan Muda Tan Xuong.”
“Kenapa dia sampai bertengkar dengan orang itu?”
Tan Xuong semakin sombong setelah menyadari orang-orang mengenal namanya.
“Keluarga Tan adalah salah satu keluarga bangsawan di Kota Weiyang. Kau seharusnya tahu siapa yang sedang kau ajak bicara!”
Sha Nuo hanya menatapnya. Tidak ada ketakutan di wajahnya dan tidak ada pula rasa hormat. Yang ada hanya rasa muak.
Ia sedang tidak memiliki suasana hati yang baik. Kemudian orang bodoh ini datang memancing masalah.
Tan Xuong masih terus berbicara.
“Kau seharusnya segera meminta maaf kepadaku!”
Sha Nuo tetap diam.
Tan Xuong membentak.
“Kenapa diam?”
“Apakah kau tuli?”
Beberapa orang di sekitar mulai merasa tegang. Mereka dapat melihat bahwa pria itu memang tidak mengenal siapa yang sedang dihadapinya.
Tan Xuong bahkan mengangkat tangannya dan menunjuk wajah Sha Nuo.
“Cepat minta maaf!”
Tatapan Sha Nuo akhirnya berubah. Ia mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Tan Xuong.
Untuk pertama kalinya sejak pemuda itu mulai memaki, Sha Nuo benar-benar menunjukkan rasa tidak sabar.
“Banyak sekali bicara.”
Tan Xuong terdiam sesaat.
“Apa?”
Sha Nuo berdiri. Tubuhnya yang lebih besar membuat Tan Xuong tanpa sadar mundur setengah langkah. Namun kesombongannya membuatnya kembali maju.
“Apa kau tahu siapa yang sedang kau...”
Tangan Sha Nuo bergerak.
“Bam!!!”
Dalam sekejap, tangan Sha Nuo mencengkeram wajah Tan Xuong. Tubuh pemuda itu terangkat dari lantai.
Mata Tan Xuong membelalak. Ia bahkan belum sempat bereaksi ketika Sha Nuo membantingnya dengan satu gerakan.
“Brakkk!!!”
Tubuh Tan Xuong menghantam lantai kayu dengan sangat keras.
Lantai langsung retak besar. Retakan menjalar ke segala arah dari tempat tubuhnya jatuh. Tan Xuong tidak bergerak lagi. Ia langsung kehilangan kesadaran.
Seluruh kedai mendadak sunyi. Tidak ada satu orang pun yang berani berbicara. Para pelanggan menatap Tan Xuong yang terbaring tidak berdaya.
Beberapa orang bahkan berdiri dengan wajah pucat. Tidak ada yang menyangka seseorang akan berani menghajar Tuan Muda Keluarga Tan secara terang-terangan di tempat umum. Terlebih lagi, hanya dengan satu serangan, Tan Xuong langsung dibuat tidak sadarkan diri.
Sha Nuo berdiri di samping tubuhnya. Ia menatap pemuda itu tanpa sedikit pun rasa iba. Kemudian ia menghela napas pelan.
“Suasana hatiku sedang buruk.”
Tatapan Sha Nuo menjadi dingin.
“Jangan memancingku.”
Setelah mengatakan itu, Sha Nuo kembali duduk di kursinya seolah tidak terjadi apa-apa. Para pelanggan di sekitar masih terpaku. Tidak seorang pun berani mendekatinya.
jgn buat penasaraan