NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12.Kehebohan di rumah.

Pagi itu, kediaman Keluarga Zhang tampak begitu tenang. Sinar matahari pagi menyelinap lembut di antara dedaunan pohon tua di halaman depan, menyinari jalan setapak yang menuju gerbang utama. Nyonya Besar Zhang sudah berpakaian rapi, mengenakan pakaian upacara berwarna biru tua yang dihiasi bordir halus. Di sebelah kanannya berdiri Shi Yin, wajahnya berseri-seri, mengenakan gaun sutra berwarna merah muda lembut. Di sebelah kirinya berdiri Li Hua, mengenakan gaun sederhana namun anggun berwarna krem, senyumnya tenang.

"Sudah siap semuanya?" tanya Nyonya Besar lembut, menatap kedua putrinya bergantian.

"Siap, Ibu," jawab Shi Yin cepat, suaranya penuh percaya diri.

"Siap, Ibu," ucap Li Hua pelan, senyumnya tak berubah sedikit pun.

"Baiklah, mari kita berangkat," Nyonya Besar mengangguk, berjalan di antara keduanya menuju kereta kuda yang sudah menunggu di gerbang. Rombongan pun berangkat, meninggalkan kediaman yang perlahan menjadi sepi.

Tak lama setelah mereka hilang dari pandangan, sosok Li Yun melangkah masuk ke Aula Utama Keluarga Zhang. Langkahnya tegap, wajahnya serius, tidak ada sedikit pun keraguan. Tuan Besar Zhang sedang duduk di kursi kehormatan, membaca surat, namun segera meletakkan kertas itu saat melihat Pangeran Tang Liang berdiri di hadapannya.

"Pangeran?" Tuan Zhang berdiri terkejut. "Ada hal penting yang membawa Pangeran ke sini pagi-pagi sekali?"

Li Yun menatapnya lurus, suaranya tenang namun berat. "Aku datang untuk melaporkan sesuatu yang sangat penting, Tuan Zhang."

"Masuklah, silakan duduk," Tuan Zhang menunjuk kursi di hadapannya. "Apa yang terjadi? Apakah ada yang kurang di kediaman Pangeran?"

Li Yun tidak duduk. Ia berdiri tegak, menatap lurus ke mata pria itu. "Ada sesuatu yang hilang dari tempat tinggalku. Sesuatu yang bukan sekadar perhiasan, melainkan lambang identitas dan kehormatan keturunan Pangeran Negeri Tang Liang."

Wajah Tuan Zhang berubah tegang. "Apa benda itu?"

"Lencana giok emas milikku," jawab Li Yun mantap. "Gantungan giok ukiran naga yang selalu terpasang di pinggangku. Kemarin sore aku menyadari benda itu tidak ada lagi. Aku sudah mencari ke seluruh ruangan, tidak ada. Aku berniat melaporkan hal ini langsung kepada Kaisar Ye Lu."

Tuan Zhang tersentak bangkit dari kursinya. "Tidak! Pangeran, toga tunggu dulu!" Ia melangkah mendekat, wajahnya pucat pasi. "Melaporkan hal ini kepada Kaisar... itu akan menimbulkan kesalahpahaman yang besar, Pangeran. Seluruh keluarga saya akan dicurigai, bahkan bisa dihukum berat!"

"Itu bukan urusanku," jawab Li Yun dingin. "Benda itu hilang saat berada di bawah perlindungan Keluarga Zhang. Jika jatuh ke tangan yang salah, bisa disalahgunakan untuk hal apa pun. Aku harus memberi tahu Kaisar."

"Tunggu, Pangeran, kumohon!" Tuan Zhang menahan lengan Li Yun, suaranya terdengar cemas. "Jangan pergi dulu. Biarkan aku yang mencari benda itu. Aku akan memerintahkan semua pelayan untuk menggeledah seluruh kediaman. Jika benda itu ada di sini, pasti akan ditemukan! Tolong beri kami waktu, Pangeran."

Li Yun terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku tunggu di sini. Tapi jika dalam waktu singkat ini tidak ditemukan, aku tetap akan pergi ke istana."

"Terima kasih, Pangeran! Terima kasih!" Tuan Zhang segera berbalik, berteriak lantang memanggil para pelayan. "Semua orang berkumpul sekarang juga! Geledah setiap sudut kediaman! Kamar tamu, kamar keluarga, gudang, halaman — semuanya! Cari lencana giok emas milik Pangeran Li Yun! Siapa yang menemukannya akan diberi hadiah besar, siapa yang menyembunyikannya akan dihukum berat!"

Para pelayan yang berlarian berkumpul saling berpandangan, lalu segera menyebar ke segala arah. Wajah mereka penuh kecemasan. Mereka tahu betapa berbahayanya jika benda milik Pangeran itu benar-benar hilang di sini. Geledahan pun dilakukan secara menyeluruh — tidak ada satu ruangan pun yang terlewat. Kamar Tuan Muda Mo Chen digeledah, kamar tamu, ruang belajar, bahkan kamar pribadi Tuan Besar dan Nyonya Besar diperiksa. Setiap laci dibuka, setiap lemari disibakkan. Suara langkah kaki dan percakapan pelan terdengar di mana-mana.

Sementara itu, Qiao'er yang baru saja hendak berangkat menyusui tuannya ke kuil, mendengar keributan itu. Ia berhenti sejenak, lalu teringat pesan Li Hua sebelum berpisah tadi: "Jika ada kesempatan, periksalah kamar Shi Yin. Ambilkan gelang merah itu untukku."

Jantung gadis itu berdegup kencang. Ia melihat pelayan lain sibuk di bagian depan, lalu menyelinap perlahan menuju sayap timur — tempat kamar Shi Yin berada. Pintu kamar itu tidak terkunci. Qiao'er melangkah masuk, menutup pintu pelan di belakangnya. Ruangan itu harum, tertata rapi, namun ia tidak berlama-lama. Ia mencari di tempat tersembunyi di balik lemari pakaian, di bawah bantal, di laci meja rias... dan di sana, di laci paling bawah, terbungkus kain sutra, bukan hanya gelang giok merah milik Li Hua — melainkan juga lencana giok emas milik Pangeran Li Yun, tergeletak berdampingan.

Qiao'er menahan napas. Ia menyambar kedua benda itu, memeluknya erat di dada, lalu bergegas keluar dari kamar itu tanpa menoleh ke belakang.

Di Aula Utama, suasana masih tegang. Tuan Zhang mondar-mandir dengan wajah berkeringat dingin, sementara Li Yun berdiri diam di dekat jendela, menunggu dengan tenang.

Tiba-tiba Qiao'er muncul di ambang pintu, napasnya sedikit terengah, namun ia berusaha tetap tenang.

"Tuan Besar... Pangeran..." suaranya terdengar jelas.

Semua mata tertuju padanya. Qiao'er melangkah maju, mengulurkan kedua benda di tangannya.

"Saya menemukannya di kamar Nona Pertama," ucapnya pelan namun tegas. "Lencana giok emas ini milik pangeran."

Tuan Zhang menyambar lencana itu, memeriksanya dengan cermat. Wajahnya berubah lega sekaligus malu. "Benar... ini benar lencana Pangeran!" Ia segera berjalan mendekat, menyerahkan benda itu kepada Li Yun. "Maafkan kami, Pangeran! Sungguh memalukan... benda ini ternyata tersimpan di kamar putriku. Saya sungguh tidak tahu apa yang dipikirkannya..."

Li Yun menerima lencana itu, namun tidak langsung memasangkannya kembali. Ia menatap benda itu di tangannya, lalu menatap Tuan Zhang dengan tatapan tajam.

"Tersimpan?" suaranya rendah namun mengandung penekanan yang berat. "Tuan Zhang, aku tidak kehilangan benda ini. Benda ini dicuri. Dan aku yakin siapa pelakunya."

Tuan Zhang tertegun. "Pangeran... mungkin hanya salah paham. Mungkin Shi Yin tanpa sengaja mengambilnya dan lupa mengembalikannya..."

"Tanpa sengaja?" Li Yun melangkah maju, matanya menyala. "Lencana identitas Pangeran bukan mainan yang bisa diambil tanpa sengaja dan disembunyikan di laci paling bawah! Tindakan ini bisa dianggap sebagai pencurian, Tuan Zhang. Bisa dihukum berat menurut hukum Kerajaan Ye Lu."

Ia berbalik hendak melangkah keluar. "Aku akan melaporkan hal ini kepada Kaisar sekarang juga."

"Tidak!" Tuan Zhang menahan lengan Li Yun, wajahnya pucat. "Pangeran, kumohon! Jangan lakukan ini! Reputasi keluarga saya akan hancur, masa depan Shi Yin akan rusak seumur hidupnya!"

"Itu bukan urusanku," jawab Li Yun tegas. "Dia yang melakukannya, dia yang harus bertanggung jawab."

"Aku akan menghukumnya sendiri, Pangeran!" Tuan Zhang menegakkan tubuhnya, suaranya penuh keputusasaan. "Aku akan menghukum Shi Yin sesuai aturan keluarga! Tapi tolong... jangan laporkan hal ini kepada Kaisar."

Li Yun berhenti melangkah. Ia menatap Tuan Zhang lekat-lekat. "Tergantung hukuman apa yang akan kau berikan padanya."

Tuan Zhang menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Aku akan melaksanakan hukuman keluarga secara resmi. Sepuluh kali cambukan dengan rotan, di halaman depan, sebagai peringatan kepada semua orang di rumah ini."

Li Yun menggeleng pelan. "Terlalu sedikit, Tuan Zhang. Sepuluh kali untuk gadis yang berani mengambil milik orang lain, menyembunyikannya, dan bisa saja merencanakan hal yang lebih buruk? Itu tidak sebanding dengan kesalahannya."

"Lalu... apa yang Pangeran inginkan?" tanya Tuan Zhang pelan, suaranya terdengar berat.

"Duapuluh kali," jawab Li Yun tegas. "Duapuluh kali cambukan, di depan seluruh penghuni kediaman. Jika tidak, aku akan berangkat ke istana saat ini juga dan menceritakan kepada Kaisar bagaimana putri sulung Keluarga Zhang memperlakukan tamu yang dihormati di rumah ayahnya."

Tuan Zhang terdiam. Ia menatap Li Yun, lalu menunduk dalam. Hatinya terasa perih — Shi Yin adalah putri kesayangannya, ia tak tega melihatnya kesakitan. Namun ia tahu, jika hal ini sampai ke telinga Kaisar, konsekuensinya jauh lebih mengerikan. Seluruh keluarga bisa dicatat sebagai tidak setia, kehilangan kedudukan, bahkan dihukum mati.

"Baiklah..." ucap Tuan Zhang pelan, suaranya bergetar. "Duapuluh kali cambukan. Aku akan melaksanakannya segera setelah mereka pulang dari kuil."

Li Yun mengangguk pelan, memasangkan kembali lencana itu di pinggangnya. "Aku akan menyaksikannya sendiri, Tuan Zhang. Agar aku yakin janji ini ditepati."

"Silakan, Pangeran..." Tuan Zhang menunduk dalam, merasa malu sekaligus sedih.

Di sudut ruangan, Qiao'er tersenyum tipis, lalu perlahan mundur meninggalkan aula. Ia memegang gelang giok merah di tangannya, siap mengembalikannya kepada tuannya saat mereka pulang nanti. Rencana itu berjalan persis seperti yang diinginkan Li Hua. Tidak ada yang dituduh secara langsung, tidak ada pertengkaran terbuka — namun keadilan tetap ditegakkan. Dan Shi Yin akhirnya akan menerima pelajaran yang pantas ia terima.

 ​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!