NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Dengan rona merah di wajah yang tak bisa lagi disembunyikan, Sakti dan Rahma akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap. Keduanya mencoba bersikap senormal mungkin, meski jantung Rahma masih berdegup kencang akibat ucapan tentang cucu yang mereka dengar di ambang pintu tadi.

Melihat kedatangan putranya, Pak Wirahadi langsung menegakkan posisi duduknya.

"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu. Bagaimana, Sakti? Berkas pengajuan nikah kantor untuk Rahma sudah kamu serahkan ke Kolonel Yusuf? Kapan kira-kira sidang pernikahan kalian akan dimulai?" rentetan pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut sang ayah.

Sakti berdehem pelan untuk menetralkan suaranya, lalu mengangguk tegap.

"Siap, sudah Papah. Semua dokumen sudah lengkap dan diterima langsung oleh Kolonel Yusuf tadi siang. Beliau bilang, kalau tidak ada kendala, minggu-minggu ini juga proses dan sidang pernikahan dinas akan segera dimulai."

Mendengar penuturan Sakti, suasana di dalam ruangan seketika berubah menjadi sedikit tegang namun penuh haru. Rahma menautkan kedua jemarinya, menyadari bahwa gerbang menuju kehidupan barunya sebagai seorang istri prajurit sudah di depan mata.

Di tengah ketegangan itu, dokter spesialis yang merawat Pak Salim masuk ke dalam ruangan bersama seorang perawat. Setelah melakukan pemeriksaan akhir, dokter tersebut tersenyum ramah. "Kondisi Pak Salim sudah sangat stabil, grafiknya terus membaik. Jadi, hari ini Bapak sudah diperbolehkan untuk pulang dan lanjut rawat jalan di rumah saja."

Kabar itu sontak menjadi angin segar yang sangat dinantikan. Bu Rima langsung mengucap syukur berkali-kali sambil menggenggam tangan suaminya. Kebahagiaan yang berlipat ganda ini membuat wajah Pak Salim yang tadinya pucat kini tampak jauh lebih segar dan bercahaya.

Melihat sahabatnya sudah diizinkan pulang, Pak Wirahadi langsung menepuk bahu Pak Salim dengan penuh semangat. "Alhamdulillah! Ini waktu yang sangat tepat. Kalau begitu Salim, lusa setelah kondisimu benar-benar pulih di rumah, aku dan seluruh keluargaku akan datang secara resmi ke rumahmu untuk melamar Rahma."

Deg!

Mendengar kata melamar, Rahma merasa seluruh tubuhnya mendadak kaku dan tingkat ketegangannya melonjak drastis. Lamaran pernikahan merupakan sebuah momen sakral yang paling dinantikan dan diimpikan oleh setiap wanita di dunia, kini akan segera ia hadapi dalam waktu dua hari lagi.

Rahma melirik sekilas ke arah Sakti yang berdiri tegap di sampingnya dengan wajah yang kembali datar dan tenang. Di balik rasa gugupnya, ada secercah rasa perih yang menyelusup di hatinya Rahma. Ia tahu betul dan sadar sepenuhnya, bahwa pria gagah yang lusa akan datang melamarnya ini melakukan semua ini demi bakti pada orang tua, bukan karena cinta. Sakti bahkan belum bisa membuka hatinya dan masih terjebak di masa lalu.

Namun, saat ingatan Rahma kembali pada momen di mana Sakti mendekapnya erat dan menggoda dirinya tentang permen Jagoan Neon tadi malam, senyum tipis perlahan terukir di sudut bibirnya. Rasa sesak itu perlahan digantikan oleh seberkas harapan baru. Rahma meyakinkan dirinya sendiri bahwa pernikahan di atas kertas ini bukanlah akhir. Ia percaya, dengan waktu, ketulusan, dan kesabarannya kelak, pria yang ia kagumi sedari kecil itu perlahan-lahan akan meruntuhkan dinding esnya, melupakan masa lalunya, dan benar-benar membuka hati untuknya.

Proses administrasi kepulangan Pak Salim berjalan dengan lancar. Akhirnya, Pak Salim diperbolehkan pulang dengan diantarkan oleh Pak Wirahadi yang kebetulan membawa mobil pribadinya. Sementara itu, Sakti memohon izin untuk langsung kembali ke markas.

"Bapak, Ibu, maaf Sakti tidak bisa ikut mengantar sampai rumah. Masih banyak pekerjaan dinas yang harus saya selesaikan di markas," pamit Sakti dengan takzim. Ia bergegas menyalami orang tua Rahma, kedua orang tuanya sendiri, dan terakhir memberikan tatapan penuh arti kepada Rahma sebagai tanda pamit. Setelah itu, ia melangkah tegap menuju parkiran motornya.

*

*

Waktu berlalu begitu cepat, seolah tak memberi ruang bagi Rahma untuk meredakan gemuruh di dadanya. Tepat sore besok, selepas ashar, keluarga besar Sakti akan datang melamarnya secara resmi.

Sore ini, Rahma baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah setelah seharian penuh berkutat dengan jadwal kuliah yang padat. Rasa gugup seketika menyergapnya begitu melihat kesibukan di ruang tamu. Bu Rima sengaja mengundang para tetangga dekat dan tokoh masyarakat setempat untuk menghadiri acara lamaran besok sebagai bentuk penghormatan.

Berita tentang lamaran Rahma ini tentu saja langsung menyebar luas dan mengagetkan warga sekitar. Pasalnya, pria yang akan melamar Rahma adalah Sakti. Warga setempat masih ingat betul kalau dulu Sakti dan keluarganya pernah tinggal di lingkungan ini. Keluarga Pak Wirahadi sangat dihormati dan dikenal luar biasa dermawan oleh warga. Terlebih lagi, Pak Wirahadi adalah seorang perwira tinggi yang memiliki jabatan tak main-main di dunia militer. Semua tetangga sepakat menilai bahwa Rahma adalah wanita yang sangat beruntung karena akan menjadi menantu dari keluarga yang begitu terpandang dan baik hati.

Di dalam kamarnya yang sepi, Rahma berdiri mematung di depan cermin besar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, memperhatikan detail dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Apakah aku termasuk wanita yang cukup menarik atau tidak, ya?" gumam Rahma lirih, mendadak dirayapi rasa tidak percaya diri yang besar.

Ia menghembuskan napasnya berat. Pikirannya mendadak melayang memikirkan masa lalunya Sakti.

'Wanita yang sampai sekarang belum bisa dilupakan oleh Kak Sakti itu... pasti sosok yang sangat cantik, modis, dan luar biasa,'

batin Rahma. Perbandingan fiktif itu sukses membuat hatinya menciut, merasa dirinya terlalu polos dan biasa saja.

*

*

Keesokan harinya, momen yang dinantikan pun tiba. Di depan halaman rumah sederhana Pak Salim, sebuah tenda bernuansa putih telah berdiri rapi, dihiasi dekorasi bunga-bunga segar yang menebarkan aroma harum. Sederhana, namun terasa begitu anggun dan penuh makna. Sekitar pukul empat sore, para tetangga dan tokoh masyarakat sudah memenuhi kursi-kursi yang disediakan.

Di dalam kamar, Rahma telah selesai bersiap. Sore ini, ia mengenakan baju muslimah berwarna putih bersih dengan riasan wajah yang sangat natural. Penampilannya benar-benar berubah drastis. Ia terlihat jauh lebih dewasa, sangat anggun, dan kecantikan alaminya terpancar sempurna. Beberapa sanak saudara yang ikut membantu di kamar sampai berdecak kagum memujinya.

"Aduh, Neng Rahma... meuni geulis pisan! Pasti si Aa Sakti bakalan melotot lihat Neng Rahma yang cantik begini!" puji Bibi Farida, adik kandung Pak Salim, sambil merapikan sedikit jilbabnya Rahma.

Wajah Rahma merona merah. "Aih, Bibi bisa saja... Rahma biasa saja kok," sahutnya malu-malu.

"Eh, beneran Rahma! Kamu kan anaknya jarang sekali dandan. Nah, biasanya kalau perempuan jarang dandan itu, pas sekali dirias aura kecantikannya langsung keluar semua!" timpal Bibi Farida yang terus-menerus memuji sang keponakan. Rahma hanya bisa tersipu malu, menyembunyikan senyumnya.

Tak lama kemudian, deru suara mesin mobil terdengar berhenti di depan pagar. Dua mobil mewah berwarna hitam kinclong kini telah terparkir rapi. Pak Salim, Bu Rima, beserta perwakilan keluarga besar langsung berdiri tegap di ambang pintu untuk menyambut kehadiran calon besan dan menantu mereka.

Dari balik celah gorden jendela ruang tamu, Rahma diam-diam mengintip keluar. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat ketika matanya menangkap sosok pria bertubuh tinggi, tegap, dengan paras tampan rupawan yang sedang berjalan di apit oleh kedua orang tuanya. Sore ini, Sakti tidak memakai seragam lorengnya, melainkan mengenakan kemeja batik modern yang sangat pas melekat di tubuh atletisnya, dipadukan dengan celana bahan hitam.

Rahma tersenyum tipis melihat ketampanan pria itu, sembari menyentuh dadanya yang kian bergemuruh hebat.

'Bismillah...' bisiknya dalam hati.

Setelah rombongan keluarga pria dipersilakan masuk dan menempati tempat duduk yang disediakan, tibalah saatnya bagi calon mempelai wanita untuk keluar. Dengan langkah anggun yang perlahan, Rahma muncul dari dalam kamar, berjalan didampingi oleh Bibi Farida di sisi kirinya.

"Jangan tegang, Neng Rahma... Duh, ini tangannya sampai dingin dan berkeringat begini," bisik Bibi Farida pelan, merasakan getaran gugup dari jemari Rahma yang digandengnya.

Saat melangkah masuk ke ruang utama, kehadiran Rahma seketika menyita perhatian seluruh ruangan. Di seberang meja, Sakti yang awalnya bersikap tenang mendadak terpaku. Pandangan matanya terkunci pada sosok Rahma yang sedang berjalan menunduk.

Sakti menatap Rahma dengan rasa takjub yang tak bisa ia sembunyikan. Wanita yang selama ini selalu ia anggap polos tanpa riasan dan bertingkah seperti anak kecil, sore ini terlihat sangat berbeda. Anggun, bersahaja, dan seolah tidak ada celah bagi Sakti untuk menyebutnya bocah ingusan lagi.

Di sudut lain, Salma yang duduk di dekat ibunya sampai mengacungkan kedua jempolnya ke arah Rahma. "Good girl, Rahma... Kau sangat cantik!" puji Salma tanpa suara, namun gerakan bibirnya bisa tertangkap jelas oleh mata Rahma.

Sakti cukup lama memandangi Rahma tanpa berkedip, hingga beberapa detik kemudian ia tersadar dari keterpakuannya. Pria itu buru-buru berdehem kecil dan membuang pandangannya ke arah lain, mencoba menetralkan kegugupan mendadak yang menyerangnya.

'Kenapa hari ini Rahma sangat berbeda sekali? Dia terlihat jauh lebih dewasa... dan, dan juga cantik,' batin Sakti bergejolak, mendadak ada rasa hangat yang aneh menyelinap di dalam dada sang perwira.

Pihak keluarga pun mulai membuka acara, menandai dimulainya prosesi lamaran resmi yang akan mengubah status hubungan mereka untuk selamanya.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
yg sabar Sakti km mah ganas main sosor aj
duhhh malu bgt ketahuan sm Salma, mau ngilang aj kelobang semut saking malunya🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ketangkap basah 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
kalau udah ada rsa suka pasti bntr lgi cinta datang nih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali, tinggal menunggu waktu saja kak
total 1 replies
Nar Sih
cemburu mu lucuu sakti ,dan bikin rahma sedih karena sikap mu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bener kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
dewi rofiqoh
Benar tu sakti apa yang sama bilang, klo kamu gk segera ungkapkan rasamu pada rahma keburu diambil orang tu si rahma🤭🤭🤭
Ilfa Yarni
tau nih sakti klo suka bila g aja pake gengsian sgala liat Rahma akrab dgn laki2lain km cemburu hadeeh sakti
Uba Muhammad Al-varo
Sakti.......kena sama jebakan nya Salma,ayo jujur kamu sukakan, cintakan ke Rahma, jangan gengsi yang digedein /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
hahahaha dasar sakti gengsi setinggi la git udah tau suka sama Rahma malah tidak mau mengakuinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh Bun 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
masih pagi wes delok sakti ambek rahma nag kasor🥱🥱🥱😁
Anonim
Aku suka
Anonim
🤭🤭🤭🤭
depoll_poll aje 😉😉😉
astagfirullah..
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
depoll_poll aje 😉😉😉
cie cie yg sakit cemburu jugaa.. hahahaha
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi
Anonim
😍😍😍
Patrick Khan
cemburu kan kau sakti🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoolll🤣
total 1 replies
Patrick Khan
q aja pengen bisa pakai motor gede lo..tp punya siapa yoan 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apalagi aku kak, yg ada nyungsep 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
aku lupa cara ciuman 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weleh... masa iya lupa, kak 🤣🤣🤣
kocak nih 🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
gak usah cemburu sakti ,dr adnan cuma mau bicara sbntr dgn istri mu tentang wanita pujaan nya yg kebetulan profesor nya rahma di kmpus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😄
total 1 replies
Nar Sih
wah ..rahma hebat lho bisa bwa motor besar suami nya👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Anonim
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!