Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : RUMAH GRATIS
"Sa, pulang kantor aku mau ke SPA langgananku dulu ya." Pamit Bintang melalui HP. Sengaja ia memilih merelaksasikan tubuhnya untuk mengalihkan pertanyaan yang selalu muncul di benaknya tentang ke mana perginya Angkasa siang ini.
"Oke, Tang. Ntar pas pulang aku bawakan martabak telur kesukaanmu ya. See U." Balas Angkasa cepat.Senyum tersembunyi di wajah Angkasa. Dengan perginya Bintang ke SPA, artinya dia tidak perlu membuat alasan kenapa tidak kembali ke kantor sore ini.
"Jadi gimana? Rencananya kamu mau tinggal di mana?" Tanya Angkasa pada Jingga yang sudah memasang seatbelt, duduk di sebelah pengemudi. Wajahnya masih pucat di balik kacamata hitam.
"Aku gak nyari kamu kalau udah punya plan, Ka," jawabnya masih terdengar putus asa.
"Gimana, mau nginap di hotel dulu?" tawar Angkasa.
"Aku kesini tidak untuk satu atau dua hari, Kassa," tegasnya sambil menoleh ke arah Angkasa yang mulai fokus menyetir.
"Oke, kamu mau ku carikan kos, rumah atau apartemen?" Angkasa memberi pilihan lagi.
"Apapun itu yang penting gratis," jawab Jingga tanpa malu. Ia memang kabur dengan dompet kosong.
"Hem... di rumahku aja gimana?" kekeh Angkasa menggoda.
"Amazing, Kassa," ada seulas senyum hangat akhirnya tersimpul di bibir Jingga. Baginya Angkasa tetap baik padanya dan itu sudah cukup.
"Gua cari mati itu namanya, Jing," tawa Angkasa pecah sendiri karena tawaran absurdnya.
"Kenapa harus yang gratis?" tanya Angkasa lagi.
"Gua kabur, Kassa. Kabur bukan pindah terencana," tegasnya pura-pura marah, tapi matanya berkaca-kaca.
"Ha... ha... Orang kabur mana ada punya uang banyak ya. Jangan bilang tiketmu hasil nyicil di pinjol," tebak Angkasa asal.
"Kok tahu?" Jingga melot.
"Ya.. aku kan tempe temannya tahu," receh memang obrolan itu, tapi mengalir, hangat, dan selalu berakhir dengan tawa kecil. Tawa yang sudah lama tidak Jingga rasakan. Obrolan itu membuat suasana mobil mencair.
Namun Angkasa masih penasaran.
"Bukannya kamu sudah punya anak sama Heru? Aku pernah lihat kamu post kehamilan," ungkit Angkasa hati-hati.
Jingga terdiam lama.
Senyumnya hilang.
"Hamil aja, gak jamin punya anak, Sa," jawabnya datar, menatap jalan.
"Gak punya gimana? Di medsosmu juga ada foto anak balita," kejar Angkasa. Tak terelakkan, Angkasa memang masih mengikuti perkembangan Jingga dari jauh.
"Itu anak Heru dengan perempuan lain. Bukan anakku," jawab Jingga getir. Benci banget Jingga kalau ingat Heru.
"Kok bisa?"
"Heru itu rekan bisnis papa. Lu tahu kan? Rekan bisnisnya, bukan anak rekan bisnis. Saat kami menikah dia bilang ke papa dia duda. Tapi nyatanya dua bulan setelah menikah, aku didatangi istri sahnya. Aku pernah merasakan dicap sebagai pelakor oleh orang yang tidak aku kenal."
"Terus...?"
"Dia pilih aku lalu menceraikan istrinya itu. Anak mereka sekarang sudah menikah bahkan sudah punya anak. Heru itu sudah jadi kakek, Ka," jelas Jingga, suaranya bergetar menahan marah.
Angkasa menggeleng tak percaya. "Ya Tuhan."
"Kurang lebih satu tahun rumah tanggaku dengan Heru damai. Setelah itu semuanya berubah. Dia kasar, Ka.. Bukan cuma kata-katanya, tangannya juga. Aku sering dirawat karena alasan yang memalukan. Aku seperti bukan istrinya, tapi... pelampiasannya saja. Aku capek, Kassa." Kalimat terakhir itu diucapkan Jingga dengan air mata yang akhirnya tumpah. Ia tidak sanggup melanjutkan detailnya. Cukup itu saja yang perlu Angkasa tahu.
Angkasa terdiam.
Tangannya mengepal di setir, bukan kelakuan Heru yang paling membuat Angkasa terpukul. Tapi alasan Heru ingin punya anak lagi yang menggelitiknya. Katanya rumah ramai kalau ada anak kecil, kerja juga makin semangat. Begitu kata Jingga menirukan Heru.
Apa memang punya anak seseru itu?
Sampai-sampai lelaki seperti Heru rela bermain-main dengan perempuan lain demi mendapatkan anak?
Apa memang sesemangat itu rasanya kerja jika punya anak di rumah yang menunggu?
Pikiran itu menampar Angkasa. Selama tiga tahun ini, ia dan Bintang sibuk mengejar karir dan program hamil yang selalu gagal. Mereka lupa, arti punya anak bukan soal ramai atau semangat kerja. Tapi soal cinta yang utuh.
"Jing, kamu aman sama aku. Aku carikan apartemen dekat kantor. Gratis. Anggap aja mess kantor. BAku gak mau kamu balik lagi ke Heru," kata Angkasa akhirnya, membelokkan mobil ke arah apartemen yang sudah ia pesan tadi lewat HP. Jingga mengangguk, menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Untuk pertama kalinya setelah 5 tahun, ia merasa aman.
Di sisi lain kota, Bintang selesai SPA dengan wajah segar. Ia tidak tahu, suaminya baru saja memberikan sebuah kunci apartemen kepada matan kekasihnya. Angkasa tidak sadar sedang membuat bumerang untuk dirinya sendiri.~~~~
Bersambung...
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......