NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siska yang Mulai Menyalahkan

Setelah pintu kontrakan ditutup rapat oleh Bagas, keheningan di luar justru terasa lebih mencekam. Ibu Melati masih berdiri mematung di ambang pintu, tangannya yang kurus mencengkeram kusen pintu kayu yang sudah lapuk itu hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah tumpukan kardus berisi pakaian bekas yang berserakan di tanah becek.

"Ini semua tidak mungkin terjadi," gumam Ibu Melati dengan suara yang nyaris seperti desisan ular. "Bagas, keluarlah! Katakan pada mereka bahwa kita punya hak atas barang-barang itu. Jangan hanya diam seperti orang mati di dalam sana!"

Siska, yang masih duduk bersimpuh di lantai tanah, mengusap air matanya dengan kasar. Ia menatap tumpukan pakaian itu dengan rasa jijik yang luar biasa. Baginya, pakaian-pakaian itu adalah simbol dari masa lalunya yang gemilang, dan sekarang, semuanya sudah menjadi sampah yang tidak diinginkan oleh siapa pun.

"Sudahlah, Bu," sahut Siska dengan nada getir. "Dia sudah menang. Laras sudah mengambil semuanya, bahkan harga diri kita pun ikut disita. Lihatlah, dia bahkan tidak sudi menginjakkan kaki di sini untuk melihat kita menderita secara langsung."

Bagas yang berada di dalam ruangan mendengar setiap kata yang dilontarkan oleh ibu dan adiknya. Ia duduk di atas kasur tipis yang bau apek, menatap dinding yang terkelupas. Kepalanya terasa sangat berat, seolah-olah beban seluruh dunia sedang menghimpit bahunya. Ia ingin berteriak, ingin memaki, namun suaranya seolah hilang tertelan oleh rasa malu yang teramat sangat.

"Aku lelah," bisik Bagas pelan kepada dirinya sendiri. "Aku hanya ingin semuanya berakhir."

Di luar, Ibu Melati mulai memunguti baju-baju yang tadi ia lempar ke tanah. Ia mengibaskan debu yang menempel dengan penuh kebencian. Setiap helai pakaian yang ia pegang mengingatkannya pada hari-hari ketika ia bisa berbelanja di butik mewah menggunakan kartu kredit Laras. Ia merindukan aroma parfum mahal, kenyamanan sofa kulit, dan pelayan yang selalu membungkuk hormat padanya.

"Anak tidak tahu diri itu," gumam Ibu Melati sambil melipat baju dengan tangan gemetar. "Setelah dia mendapatkan segalanya, dia membuang kita seperti sampah. Apakah dia pikir kita akan membiarkannya hidup tenang dengan pria lain?"

Siska mendongak, menatap ibunya dengan pandangan yang tajam. Ia berdiri dengan tertatih, tubuhnya terasa lemas karena seharian belum makan dengan layak. "Ibu masih berniat membalasnya? Lihat keadaan kita sekarang. Kita bahkan tidak punya cukup uang untuk makan besok pagi."

Ibu Melati menoleh, tatapan matanya terlihat dingin dan penuh dengan dendam. Ia tidak peduli dengan perut yang lapar, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara agar ia bisa kembali ke puncak kejayaannya. Ia merasa bahwa dunia ini tidak adil karena telah mengambil apa yang menurutnya adalah hak miliknya.

"Kita tidak akan menyerah begitu saja, Siska," ujar Ibu Melati dengan suara yang penuh penekanan. "Laras mungkin punya hukum di pihaknya sekarang, tapi dia tidak akan bisa mengontrol apa yang kita pikirkan. Kita akan mencari cara."

Bagas keluar dari kamar dengan wajah yang tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Ia menatap Ibu dan adiknya yang sedang sibuk meratapi nasib. Pemandangan itu membuatnya merasa semakin terpuruk. Ia tahu bahwa ibunya tidak akan pernah bisa menerima kenyataan ini, dan itu adalah siksaan yang lebih buruk daripada kehilangan rumah atau harta benda.

"Bu, tolong berhenti," kata Bagas dengan suara lelah. "Jangan lagi membahas Laras. Dia sudah bukan bagian dari keluarga kita. Jika Ibu terus begini, kita tidak akan pernah bisa tenang sedikit pun."

Ibu Melati memutar bola matanya dengan sinis. Ia menatap putranya dengan tatapan merendahkan. "Tentu saja kamu akan membela dia, bukan? Kamu selalu lemah, Bagas. Kamu biarkan dia menginjak-injak harga diri kita karena kamu takut kehilangan kenyamanan yang dia berikan selama ini."

Bagas menghela napas panjang. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan ibunya. Ia tahu bahwa apa pun yang ia katakan, ibunya selalu akan mencari celah untuk menyalahkannya. Ia berjalan menuju ke arah pintu dan menutupnya rapat-rapat, mengunci dirinya dari dunia luar yang semakin tidak bersahabat.

Malam semakin larut, namun suasana di kontrakan kecil itu tidak kunjung tenang. Suara jangkrik bersahutan dari balik tembok-tembok bangunan yang berhimpitan, seolah menertawakan penderitaan keluarga yang dulu pernah angkuh itu. Di dalam ruangan, Bagas mencoba memejamkan mata, namun bayangan wajah Laras yang dingin dan tegas selalu muncul di benaknya.

Laras yang dulu ia kenal sebagai wanita yang penurut, kini telah berubah menjadi sosok yang sangat ditakutinya. Ia ingat bagaimana tatapan mata Laras saat wanita itu menyerahkan surat cerai kepadanya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi air mata, yang ada hanyalah ketegasan seorang wanita yang akhirnya sadar akan nilainya sendiri.

Bagas membalikkan badannya, meringkuk di atas kasur yang tipis. Ia merasa kedinginan, meski udara malam itu sebenarnya cukup hangat. Rasa lapar mulai melilit perutnya, namun ia enggan keluar untuk mencari makanan. Ia tahu bahwa di luar sana, hanya ada tatapan menghina dari para tetangga yang mulai mengetahui kejatuhan mereka.

"Aku seharusnya tidak membiarkan ini terjadi," bisik Bagas, suaranya parau. "Seharusnya aku lebih menghargainya saat dia masih ada."

Namun, penyesalan itu datang terlambat. Laras sudah melangkah jauh ke depan, membangun hidup baru yang jauh lebih layak, sementara ia masih terjebak dalam lubang kehancuran yang ia gali sendiri. Di sudut lain ruangan, Siska masih terisak pelan sambil memandangi layar ponselnya yang mati. Ia tidak punya paket data, tidak punya teman yang bisa dihubungi, dan yang paling menyakitkan, ia tidak punya siapa pun yang bisa ia manfaatkan lagi.

Kehampaan itu terasa nyata, menyusup ke dalam setiap sela dinding kontrakan yang pengap. Tidak ada lagi kemewahan, tidak ada lagi pesta, hanya ada kesunyian yang mencekik. Mereka sadar bahwa malam ini adalah awal dari penderitaan yang lebih panjang lagi, sebuah realitas yang harus mereka jalani sebagai harga dari segala kesombongan yang pernah mereka pertontonkan.

Bagas menutup wajahnya dengan lengan, berusaha membendung air mata yang mulai jatuh. Ia merasa seperti seorang pecundang yang tidak memiliki tempat untuk kembali. Di luar sana, di bawah remang lampu jalan yang nyaris mati, kehidupan orang lain terus berjalan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Namun baginya, dunia telah berhenti berputar, meninggalkan ia dan keluarganya di tengah reruntuhan kehidupan yang mereka ciptakan sendiri.

Di kejauhan, suara mesin kendaraan terdengar samar, mungkin sebuah taksi yang membawa seseorang kembali ke rumah yang hangat. Bagas menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Ia tahu bahwa mulai besok, ia harus menghadapi kenyataan yang lebih pahit. Ia harus mencari kerja, harus berhadapan dengan dunia yang tidak lagi memandangnya sebagai pria sukses, melainkan sebagai seorang mantan narapidana kegagalan yang tidak memiliki masa depan.

Keluarga itu kini terisolasi dalam kemiskinan yang nyata. Ibu Melati telah terdiam, mungkin tertidur karena kelelahan, sementara Siska masih duduk melamun di lantai. Di ruangan yang sempit itu, impian-impian masa lalu mereka hancur berkeping-keping, digantikan oleh kenyataan pahit yang kini menjadi satu-satunya pendamping mereka. Karma itu tidak datang dengan suara gemuruh, melainkan dalam bentuk kesunyian malam yang abadi, mengingatkan mereka setiap detik bahwa tidak ada lagi jalan untuk kembali ke masa lalu yang mereka sia-siakan. Bagas memejamkan mata erat, mencoba melarikan diri ke dalam mimpi, di mana ia masih memiliki segalanya, sebelum esok pagi matahari kembali terbit dan memaksanya untuk menghadapi kehancuran yang sebenarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!