NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH

"Lalu? Apa yang salah dengan kalimat itu, Amara?"

Amara bangkit berdiri dari kursinya dengan dada membumbung tinggi, mengabaikan rasa perih di selangkangannya yang sebenarnya belum sepenuhnya pulih. Matanya menatap Zain dengan pandangan benci yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Apa yang salah?" seru Amara dengan suara tertahan, menahan air mata kekecewaan yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa Kak Zain selalu berputar-putar dan bersikap tidak jelas seperti ini? Kenapa Kak Zain selalu memilih diam dan tidak pernah berani mengakui hubungan kita yang sebenarnya di depan orang lain?"

Zain mengerutkan dahi, matanya memicing tipis. "Amara, ini lingkungan kampus. Saya adalah seorang Profesor dan dosen di sini, sementara kamu adalah mahasiswa. Apakah perlu saya memperjelas status pernikahan kita di depan staf tata usaha seperti Bu Silvia?"

"Iya! Perlu!" tegas Amara memotong cepat, suaranya naik satu oktav. "Aku benci sikap Kak Zain yang acuh tak acuh ini! Kak Zain membiarkan orang lain mengatai aku wanita murahan, membiarkan orang lain mengira aku mahasiswi ganjen yang sedang menggoda dosennya! Dan Kak Zain cuma berdiri di sana, berlindung di balik kata profesionalisme yang menyebalkan itu! Bulshit!"

Zain mengepalkan tangannya di balik saku celananya. Pria itu menyalahartikan kemarahan Amara. Di dalam benak Zain, ia berpikir bahwa Amaralah yang sebenarnya merasa malu dan takut jika status pernikahan mereka terbongkar di lingkungan kampus. Zain mengira Amara tidak ingin teman-temannya tahu bahwa ia telah menikah dengan seorang dosen yang jauh lebih tua dan kaku.

"Bukan saya yang menginginkan kerahasiaan ini sejak awal, Amara," sahut Zain dengan nada suara yang teramat sangat dingin, sedingin es yang membeku di puncak gunung. "Bukankah dari sebelum kita menikah, kamu sendiri yang menegaskan bahwa kamu tidak ingin siapa pun di kampus ini tahu kalau kamu adalah istri saya? Kamu takut dihakimi, kamu takut kehilangan teman-temanmu. Saya hanya menuruti keinginanmu."

Amara terperanjat, matanya membelalak tak percaya mendengar jawaban Zain. "A-apa? Jadi Kak Zain melemparkan semua kesalahan ini padaku?"

"Saya tidak melemparkan kesalahan," potong Zain datar tanpa ekspresi. "Saya hanya menjaga batas agar kamu tidak merasa tertekan di kampus ini. Jika saya mengumumkan bahwa kamu adalah istri saya di depan Bu Silvia hari ini, besok seluruh fakultas akan membicarakanmu. Apakah itu yang kamu inginkan?"

Amara mengepalkan jemarinya kencang hingga berguncang hebat. Dada gadis itu terasa sesak dan menyengat. Pria di depannya ini benar-benar acuh dan buta. Zain sama sekali tidak tahu bahwa Bu Silvia menaruh rasa suka yang amat besar padanya. Zain tidak sadar bahwa tatapan Bu Silvia pada Amara tadi adalah tatapan kecemburuan seorang wanita yang ingin menyingkirkan saingannya. Dan yang paling menyakitkan, Zain sama sekali tidak mengerti betapa Amara terluka saat suaminya sendiri tidak bersedia berdiri pasang badan untuk melindunginya secara utuh.

"Kak Zain benar-benar tidak paham..." bisik Amara parau, air matanya menetes pelan membasahi pipinya. "Kak Zain tidak pernah paham dan tidak akan pernah mau paham. Egois!"

Zain terpaku melihat tetesan air mata itu. Tatapan matanya yang tadi dingin mendadak bergetar tipis, dadanya dihantam rasa panik yang dahsyat. Pria itu melangkah maju satu tapak, tangannya terulur hendak mengusap pipi istrinya.

Namun, sebelum jemari Zain sempat menyentuh kulitnya, Amara mendadak melangkah mundur menghindari sentuhan itu.

"Jangan sentuh aku! Menjijikan!" gertak Amara serak.

Amara menyambar tas kainnya di atas meja, lalu berbalik dan berlari keluar dari ruangan kerja Zain tanpa menoleh lagi. Pintu kayu tebal itu terhempas membal balik, meninggalkan Zain yang berdiri mematung sendirian di tengah ruangan.

Zain perlahan menurunkan tangannya yang menggantung hampa di udara. Pria itu menatap kotak makanan yang belum tersentuh di atas meja kerjanya. Keheningan kembali melingkupi ruangan itu, namun kali ini rasa dingin yang tercipta jauh lebih menyiksa dari biasanya.

Zain mengepalkan jemarinya kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam kedalaman kepalanya yang biasanya penuh dengan kalkulasi rumus dan teori akademis yang rumit, sebuah gema suara batin yang teramat sangat lirih, bergetar, dan patah bergema dengan amat memilukan.

’Amara... Kenapa kamu menangis lagi? Kenapa setiap kali aku berusaha melindungimu dengan caraku sendiri, aku justru selalu berakhir menjadi orang yang paling menyakitimu?’

Zain meremas dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa, sementara di luar sana, langkah kaki Amara berlari menjauh menyusuri koridor kampus yang ramai, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata kekecewaan.

...****************...

"Kamu masih mau pura-pura tidak terjadi apa-apa saat matamu sendiri sudah bengkak begitu, Ra?"

Suara bisikan pelan itu terdengar dari bangku sebelah. Dinda, sahabat karib Amara, menatapnya dengan raut khawatir yang tak tertutupi. Di sekeliling mereka, suasana ruang kuliah lantai dua Fakultas Farmasi riuh oleh riuh rendah percakapan mahasiswa yang sedang bersiap menyambut dosen pengampu.

Amara hanya mematung di kursinya. Pandangannya lurus menatap papan tulis putih di depan kelas, hampa tanpa pijakan. Sepasang matanya yang sembab terasa panas dan amat berat, tetapi bulir air mata seolah telah mengering habis, tak lagi mampu menetes. Rasa sesak di dadanya mengkristal menjadi sebentuk nyeri yang membatu. Bahkan rasa lapar dari perutnya yang kosong sama sekali tak ia hiraukan, tertutup oleh rasa kecewa yang menumpuk.

"Aku tidak apa-apa, Dinda," jawab Amara datar, hampir tanpa intonasi. "Fokus saja pada kuliah hari ini."

Adinda menghela napas panjang, meremas jemari Amara sekilas sebelum akhirnya memilih bungkam. Ia tahu betul karakter sahabatnya. Jika Amara sudah mengunci rapat bibirnya, bertanya lebih jauh hanya akan melukai perasaannya.

Hingga bel tanda berakhirnya jam perkuliahan sore itu berdentang nyaring, Amara tetap bergeming dalam diamnya. Jam-jam yang berlalu terasa bagaikan siksaan panjang yang mengikis tenaganya. Saat mahasiswa lain berhamburan keluar kelas sembari bersenda gurau, Amara mengemas bukunya dengan gerakan lambat, lalu berjalan menyusuri koridor kampus menuju area parkiran gedung fakultas.

Langkahnya mendadak terhenti tepat di persimpangan koridor utama.

Di depan pintu ruang laboratorium kedokteran, berdiri sosok pria jangkung bertubuh tegap dalam balutan kemeja putih dan kacamata berbingkai tipis. Profesor Zain. Pria itu tengah berdiri berhadapan dengan seorang wanita muda berparas jelita yang mengenakan jas laboratorium bersih. Wanita itu adalah asisten dosen baru di laboratorium kedokteran, sosok anggun yang tampak amat serasi berada di sisi Zain.

Zain mengangguk pelan menyimak perkataan wanita itu, mengukir senyum tipis yang teramat jarang ia perlihatkan di depan umum.

Dari kejauhan, Amara berdiri membeku. Jemari tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Rasa perih menguar cepat, menusuk tepat ke pusat jantungnya.

Mungkin suatu hari nanti, hatiku benar-benar akan mati rasa, bisik Amara di dalam rongga dadanya yang hampa. Nikmati saja perasaan sakit ini sendirian, Amara. Tidak akan ada yang peduli.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
SENJA
laaah kok timbul tenggelam gitu suara bathinnya🤣
SENJA
perbuatan laki lu 🤣
SENJA
ishh isssh ketagihan🤣
SENJA
kejem amat ihhh ama bini 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!