NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tumbal Tanah Talas

Aris tidak membuang waktu. Dia mencabut kunci kontak mobilnya yang sudah mati total, lalu mengetuk kaca jendela mobil.

"Januar, keluar! Bawa senter cadangan dan tas logistik. Kita jalan kaki," perintah Aris.

Januar sempat ragu, namun melihat tatapan mata Aris yang tidak menerima bantahan, dia akhirnya keluar dari mobil sambil mendekap tas ransel kanvasnya.

Kedua detektif itu kini melewati papan pembatas. Begitu kaki mereka melewati batas Desa Talas, suasana mendadak berubah. Hujan deras yang tadinya mengguyur seolah meredup menjadi gerimis, namun kabut tebal langsung turun dari puncak Gunung Kelam, membatasi jarak pandang mereka hingga hanya dua meter ke depan.

Suara ketukan kayu misterius itu terdengar semakin dekat, berpindah-pindah dari balik pepohonan di sisi kiri dan kanan mereka.

"Aris... suara itu... mereka mengepung kita," bisik Januar, tangannya mengarahkan senter ke arah semak-semak.

Cahaya senter hanya mampu menembus pekatnya kabut tanpa menemukan apa pun.

"Jangan terdistraksi, Jan. Tetap fokus ke jalan di depanmu," jawab Aris.

Tangan kanannya kini sudah mendekap gagang pistol revolver di balik jaket kulitnya. Setelah berjalan sekitar lima belas menit menembus jalan setapak yang semakin menanjak dan licin, kabut di depan mereka perlahan menipis. Cahaya kuning dari senter National milik Aris menangkap siluet gerbang desa yang aneh.

Gerbang itu terbuat dari jalinan akar pohon besar yang dibentuk melengkung. Di bawah gerbang tersebut, berdiri tiga sosok manusia. Mereka mengenakan jubah hitam dari kain tenun kasar, wajah mereka tertutup topeng kayu berbentuk wajah menangis.

Salah satu dari mereka memegang obor bambu dengan api yang meliuk-liuk tertiup angin malam, sementara yang lain memegang sebilah tongkat kayu panjang, sumber suara ketukan yang mereka dengar sejak tadi. Ketiga warga desa misterius itu berdiri tegak, tidak bergerak sedikit pun, seolah sudah tahu bahwa kedua detektif itu akan datang malam ini.

"Berhenti di sana, orang kota," "Kalian melangkah di tanah yang salah. Bawa kembali besi tua kalian, atau kalian akan menjadi bagian dari tumbal tanah ini."

Aris menyorotkan senternya tepat ke arah dada pria bertopeng itu.

"Saya Detektif Aris dari kepolisian kota. Saya ke sini bukan untuk urusan tanah kalian. Saya ke sini untuk menjemput Nirmala Hadiningrat. Di mana anak itu?"

Mendengar nama Hadiningrat disebut, ketiga sosok bertopeng itu serentak menghentikan ketukan tongkat mereka. Suasana mendadak menjadi hening dan mencekam.

"Hadiningrat..." bisik pria bertopeng di tengah dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi geraman rendah. "Nama itu adalah kutukan bagi tanah ini. Berani sekali kau membawanya ke gerbang kami."

Januar perlahan mundur, tangannya semakin erat memegang tas logistik. Sementara Aris tetap bergeming, matanya menatap tajam ke balik lubang mata topeng kayu. Pria bertopeng yang memegang obor maju. Bau minyak tanah dan kemenyan menguar dari tubuhnya.

"Anak perempuan itu ada di dalam desa kami," ujarnya. "Tetapi dia bukan diculik. Dia hanya pulang untuk membayar hutang darah yang ditinggalkan leluhurnya."

"Saya tidak peduli dengan urusan takhayul atau masa lalu kalian," potong Aris, memosisikan tubuhnya agar siap mencabut revolver kapan saja. "Nirmala baru berusia tujuh tahun. Dia tidak punya urusan dengan kalian. Serahkan anak itu secara baik-baik, atau saya terpaksa menggunakan kekerasan."

Mendengar ancaman Aris, ketiga warga desa itu tidak tampak takut sama sekali. Sebaliknya, pria di tengah justru terkekeh suara tawa yang kering dan terdengar menyakitkan di telinga.

"Kekerasan orang kota tidak berlaku di sini, Detektif," sahutnya. "Jika kau memaksa masuk dengan senjatamu, anak itu akan mati sebelum matahari terbit. Darahnya akan mengalir ke akar-akar Talas."

Sebagai detektif berpengalaman, dia tahu kapan harus menekan dan kapan harus bernegosiasi. Keselamatan Nirmala adalah prioritas utama.

"Apa yang kalian inginkan?" tanya Aris.

Menurunkan sedikit arah sorot senter National miliknya. Pria bertopeng itu menancapkan obor bambunya ke tanah.

"Kami memberi kalian satu kesempatan. Masuklah ke Desa Talas tanpa senjata besi kalian. Tinggalkan pistol dan lencana kotamu di gerbang ini."

Dia menunjuk ke arah di balik gerbang akar, di mana beberapa titik cahaya obor dari rumah-rumah panggung kuno mulai terlihat.

"Temui Tetua kami di rumah pusaka tengah desa sebelum ayam berkokok pertama kali. Jika kau bisa mengungkap kebenaran tentang apa yang dilakukan keluarga Hadiningrat pada desa kami di masa lalu, kau boleh membawa anak itu pulang. Jika gagal, kalian berdua tidak akan pernah keluar dari hutan ini."

Januar langsung menyenggol lengan Aris.

"Aris, jangan gila! Menyerahkan pistol di tempat seperti ini sama saja dengan bunuh diri!"

Aris melihat ke potongan gaun tidur Nirmala yang masih terbayang di kepalanya. Jam terus berdetak, dan waktu mereka tidak banyak.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!