Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Harga Untuk Menjadi Penjaga
Kampung Krajan sudah kembali di peta. Di HP Kiai Jirji, Google Maps sudah ada lagi titik Dusun Krajan Ponorogo. Jembatan bambu yang tadi hilang setengah, sudah utuh lagi. Sinyal HP Pak Min yang tadi No Service, sekarang sudah 2 bar.
Tapi di titik masjid, di Google Maps ada tulisan kecil baru yang tidak ada sebelumnya, tulisan abu-abu: "Makam Penjaga Baru".
Semua warga lihat tulisan itu, mereka tidak mengerti.
Aku mengerti. Malik bilang, aku yang akan hilang dari peta manusia, bukan kampung.
Aku duduk di lantai masjid, darah dari telapak tangan masih menetes. Tongkat cendana masih menancap di bibir sumur tua belakang masjid, menyala merah darah, tutup sumur supaya kabut hitam tidak keluar lagi.
Ibu kandungku Mira, yang tadi setengah badan di retakan dua meter, sekarang badannya sudah keluar hampir Semuanya tinggal kaki kiri yang masih kejepit di retakan cahaya putih. Karena sumur sudah aku tutup pakai darah, gerbang dua dunia mulai ketutup, Ibu bisa keluar.
Tapi ibu menangis lihat tanganku berdarah terus.
"Arga, darahmu masih keluar terus, kenapa tidak berhenti? tanya ibuku.
Aku coba tutup lukaku pakai kain sarung, darah tetap keluar, menetes ke lantai masjid, setiap tetesan darah jatuh ke lantai masjid, lantai masjid yang kayu jadi putih bercahaya, seperti lantai masjid suci.
Malik yang luka dada bolong, sudah duduk bersandar di tiang masjid, dia lihat darahku menetes terus, dia bilang pelan, "Itu harganya... harga untuk menjadi penjaga... darah penjaga baru tidak akan berhenti sampai sumur benar-benar terkunci... dan untuk kunci sumur selamanya, penjaga harus tinggal di kampung ini selamanya... tidak bisa keluar dari batas kampung... kalau keluar, sumur kebuka lagi, kabut hitam naik lagi, kampung hilang lagi..."ucap Malik.
Aku diam. Aku ingat Bu Wiwik Ibu Angkat dan Rania adikku di Surabaya. Di video call tadi sebelum ritual, mereka selamat, tidur pulas. Kalau aku tidak bisa keluar dari Krajan selamanya, aku tidak bisa ketemu mereka lagi batinku.
Kiai Jirji buka kitab kulit kerbau halaman terakhir, halaman 199, judulnya "Harga Penjaga". Tulisan Mbah Suro Joyo tahun 1984: "Siapa yang tutup sumur dengan darahnya sendiri, dia akan jadi penjaga sah Krajan, dia tidak akan bisa mati seperti manusia, dia tidak akan bisa pergi dari batas kampung, dia akan hidup lebih lama dari manusia biasa, dia akan lihat warga kampung ganti generasi, dia akan jaga masjid tua tanpa karpet ini sampai masjid ini roboh, dan dia akan hilang dari ingatan manusia di luar kampung, pelan-pelan orang luar akan lupa namanya, fotonya akan blur, KTP-nya akan hilang dari Dukcapil, itulah harga."
Aku baca tulisan itu, tanganku gemetar.
Bu Lastri yang dari tadi peluk Sari anaknya, dia tanya, "Arga, maksudnya kau tidak bisa pulang ke Surabaya lagi? tanyanya.
Aku belum jawab, HP ku yang di lantai masjid berdering. Video call dari Bu Wiwik Ibu Angkat di Surabaya.
Aku angkat.
Di layar, Bu Wiwik bilang soal Rania, wajah Bu Wiwik panik, "Arga! Arga! Kamu di mana? Tadi kamu di rumah Surabaya tulis ayat pakai darah di cermin, terus kamu hilang! Ibu cari kamu keliling rumah tidak ada! Rania menangis cari Kak Arga! Kamu di mana? tanya ibu angkatku.
Aku jawab, "Bu, aku di Krajan, aku di masjid Krajan, aku selamatkan kampung..."
Bu Wiwik lihat belakangku masjid tua, dia menangis, "Krajan? Kampung yang kata Mbah Suro Joyo itu? Kamu janji cuma sehari! Sudah dua hari kamu tidak pulang! Pulang sekarang, ibu sudah masak untukmu.."ucap ibuku.
Belum selesai Bu Wiwik berbicara, layar video call blur. Wajah Bu Wiwik jadi blur, suaranya jadi kresek-kresek, seperti sinyal hilang, padahal sinyal HP ku 2 bar.
Rania teriak, "Kak Arga! Kak Arga jangan hilang!"
Lalu video call putus sendiri. Tulisannya "Call Ended".
Aku coba telepon balik Bu Wiwik, tidak bisa, nomor Bu Wiwik di kontak HP ku, namanya berubah jadi "Unknown Number", fotonya hilang.
Aku coba buka WhatsApp, chat Bu Wiwik yang tadi banyak, hilang semua, chat history kosong.
Aku buka galeri foto, foto aku sama Bu Wiwik dan Rania di Surabaya tahun lalu, foto aku jadi blur, wajahku di foto hilang, tinggal Bu Wiwik dan Rania saja.
Harga pertama sudah dibayar: aku mulai hilang dari ingatan dan data manusia di luar Krajan.
Kiai Jirji lihat aku panik lihat HP, dia bilang, "Arga, itu baru awal, kalau kau tetap di sini jadi penjaga, dalam 7 hari, orang di Surabaya akan lupa sama kamu walaupun kamu pernah ada, KTP mu di Dukcapil Ponorogo dan Surabaya akan hilang, namamu hilang dari KK Bu Wiwik, seperti kamu tidak pernah lahir di Surabaya, kamu cuma akan ada di ingatan warga Krajan dan di buku penjaga masjid ini..."ucap Kiai Jirji.
Ibu Mira yang sudah keluar hampir sepenuhnya dari retakan, dia peluk aku dari belakang, kaki kirinya masih kejepit, dia menangis, "Maafkan Ibu, Arga, karena Ibu ditarik tahun 2009, kamu yang harus bayar harga jadi penjaga... Ibu tidak mau kamu hilang dari dunia..."ucap ibuku.
Aku peluk Ibu Mira balik, darahku yang menetes netes terus kena jilbab Ibu, jilbab Ibu jadi putih bercahaya.
Di luar masjid, tongkat cendana yang menancap di bibir sumur, cahayanya mulai redup, karena darahku yang tutup sumur mulai habis.
Malik teriak, "Arga! Cepat! Tancapkan darah lagi! Kalau cahaya tongkat padam, sumur kebuka lagi, kabut naik lagi, ritual kampung hilang mulai lagi!"
Aku lari lagi ke sumur belakang masjid.
Sumur tua yang sudah tertutup cahaya merah darah, sekarang cahayanya redup, dari dalam sumur terdengar suara Raja Iblis yang kalah , dia belum mati, dia di dalam sumur, dia ketawa, "Penjaga baru... darahmu habis... kau akan mati kehabisan darah... atau kau lepas dan kampung hilang... pilih!"
Aku lihat ke dalam sumur, peta gaib Krajan di dasar sumur yang tadi sudah tidak terbakar, sekarang mulai terbakar lagi sedikit, karena darahku kurang.
Aku tidak punya pilihan, aku sobek lagi telapak tangan kiri, yang kanan sudah sobek, sekarang dua tangan berdarah, aku teteskan dua tangan ke dalam sumur.
Darah keluar lebih banyak, kepalaku pusing berat, mataku berkunang-kunang.
Tapi peta di dasar sumur padam lagi apinya, cahaya merah di bibir sumur terang lagi.
Aku jatuh duduk di bibir sumur, napasku berat.
Dari dalam masjid, 40 warga keluar, lihat aku duduk berdarah di bibir sumur, mereka menangis, mereka sujud ke aku, bukan sujud menyembah, tapi sujud terima kasih.
Pak Min bilang, "Arga, kau sudah selamatkan kampung kami dari kehilang, tapi kamu bayar harga hilang dari dunia luar... kami tidak akan lupakan kamu..."
Sari kasih aku air putih.
Aku minum, tapi darah tetap menetes.
Malik jalan pelan dari masjid ke sumur, dada bolongnya masih, tapi dia sudah bisa jalan, dia cabut tongkat cendana dari bibir sumur, dia kasih ke aku.
"Arga, mulai malam ini, tongkat ini bukan tongkat Mbah Suro Joyo lagi, ini tongkatmu, tongkat penjaga baru, selama tongkat ini kamu pegang dan kamu di dalam batas kampung Krajan, sumur akan tetap tutup, kampung tidak akan hilang, tapi kamu... kamu tidak bisa keluar batas jembatan bambu lagi, kalau kamu keluar, tongkat ini patah, sumur kebuka..."ucap Malik.
Aku pegang tongkat cendana yang sekarang warnanya merah hitam, bukan coklat lagi, karena darahku.
Aku coba berdiri, jalan pelan ke jembatan bambu, mau coba keluar batas kampung.
Baru jalan sepuluh meter dari masjid, tongkat di tanganku panas, bergetar, mau patah, dan dari sumur belakang masjid keluar asap hitam lagi sedikit, seperti peringatan.
Aku mundur lagi masuk ke halaman masjid, tongkat dingin lagi, asap hitam hilang.
Benar, aku tidak bisa keluar Krajan selamanya.
Harga untuk menjadi penjaga sudah jelas:
Pertama: Darahku menetes terus namun pelan, tidak berhenti, jadi kunci sumur
Kedua: Aku tidak bisa keluar dari batas jembatan bambu Dusun Krajan, kalau keluar, sumur kebuka dan kampung hilang
Ketiga: Aku pelan-pelan hilang dari ingatan dan data manusia di luar Krajan, dalam tujuh hari Bu Wiwik dan Rania di Surabaya akan lupa aku
Ke Empat: Aku akan hidup lebih lama dari manusia biasa, jaga masjid tua tanpa karpet ini sampai roboh
Ke Lima: Namaku masuk peta gaib sumur dan di Google Maps muncul "Makam Penjaga Baru"
Aku duduk di lantai masjid, Ibu Mira yang akhirnya kaki kirinya lepas dari retakan, dia keluar ,peluk aku erat, dia sudah bebas dari sumur karena aku tutup sumur.
Ibu Mira bilang, "Arga, Ibu sudah bebas, tapi kamu yang gantikan Ibu di sini... Ibu janji tidak akan tinggalkan Krajan lagi, Ibu temani kamu jaga kampung ini..."
40 warga, 300 Jin Islam, Kiai Jirji, Malik yang sekarat, semua keliling aku, mereka janji akan ingat aku, walau dunia luar lupa.
Di HP ku yang sinyal 2 bar, foto terakhir aku sama Bu Wiwik dan Rania, wajahku sudah hilang total, tinggal background.
Aku hapus HP itu, tidak perlu lagi.
Aku pegang tongkat penjaga baru, aku tatap masjid tua tanpa karpet yang sekarang lantainya putih bercahaya karena darahku.
Aku bukan lagi Arga dari Surabaya. Aku Penjaga Kampung Jin.