NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Kya ... dasinya mana, kok nggak ada?!" teriak Doni Wiratama pada istrinya, Kyara Nawasena.

"Bentar, Mas," sahut Kyara dari dalam kamar mandi.

"Cepetan Kya! Ini udah siang. Aku takut kesiangan! Nanti aku kena SP! Gajiku bulan ini bisa-bisa nanti dipotong," cerocos Doni dengan nada ketus dan penuh intimidasi.

Pintu kamar mandi terbuka, Kyara berlari tergopoh-gopoh ke arah lemari, membukanya dengan gerakan cepat. "Ini Mas, dasinya." Dia menyodorkan dasi berwarna merah marun itu kepada suaminya.

"Pasangin!" titah lelaki yang bekerja sebagai manajer keuangan di salah satu badan usaha milik negara di kota kembang tersebut.

Kyara tak banyak bicara, gegas melakukan apa yang diperintahkan suaminya. "Udah, Mas," katanya sambil merapikan dasi itu.

Tak ada ucapan terima kasih yang terucap, malah keluar perkataan tak mengenakan yang dilontarkan suaminya. "Minggir ih! Kamu bau asem!"

"Aku kan belum mandi, Mas," balas Kyara sambil memundurkan tubuh.

"Jorok!" dengus Doni sinis.

"Bukan jorok, Mas. Tapi belum keburu. Dari mulai bangun tidur ... aku langsung bebenah dan bergelut di dapur. Menyiapkan sarapan untuk kamu, Mama dan juga Dini. Belum lagi nyuci perabotan, dilanjut nyuci baju kali-"

"Udah! Udah! Kenapa kamu jadi curhat?!" bentak Doni. "Itu semua sudah menjadi tugasmu sebagai istri, jadi ... nggak usah ngeluh!" Doni berbalik, mengambil jas dan tas kerjanya. Lalu keluar dari kamar.

"Huuhhhh!" Kyara mengembuskan napas panjang yang terasa merontokkan tulang dan menyesakkan dadanya.

Dia kira, menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya akan membuat hidupnya bahagia, namun ternyata harapan itu jauh dari kenyataan yang ia alami sekarang.

Doni yang dulu saat masa pacaran begitu memanjakan, menyayangi dan menghujaninya dengan cinta ... kini sering membentak dan mengabaikannya.

Begitu pun mertua dan adik iparnya. Awal menikah, mereka berdua bersikap sangat baik pada Kyara, tapi makin ke sini ... kebaikan itu seolah menghilang tergerus waktu.

Yang ada, hanya teriakan, bentakan, omelan dan perintah-perintah yang tiada habisnya, seolah dirinya bukan seorang menantu, tapi seorang pembantu.

"KYARAAA!" Satu teriakan menggelegar itu sontak membuyarkan kecamuk batin Kyara. Wanita berdaster cokelat muda itu buru-buru keluar dari kamarnya.

"Iya, Ma!" Turun terburu-buru dia dari lantai dua.

"Kamu ngapain sih di kamar mulu?! Tuh cucian belum dikeringin," sembur Hesti sambil menunjuk-nunjuk wajah Kyara dengan jemarinya yang gendut-gendut.

"Aku habis BAB, Ma. Perutku agak mul-"

"Alah! Udah! Nggak usah banyak alasan!" potong Hesti dengan mata melotot. "Sana ke belakang! Selesaikan pekerjaanmu, sekalian beresin tuh meja makan. Mama mau mandi dulu. Mau ke rumah makan. Kamu juga, setelah pekerjaan rumah selesai, segera susul Mama ke sana. Jangan males-malesan, ngerti?!"

Setelah menarik napas panjang, Kyara menganggukkan kepala. "Iya, Ma." Dia bergegas ke dapur, "Hm, Mas Doni pergi tanpa berpamitan lagi ke aku ..." lirihnya sambil memandangi kursi tempat suaminya biasa duduk.

Kyara mulai membereskan meja makan yang setiap pagi selalu berantakan. Nasi goreng yang tadi ia masak tak bersisa sebiji pun. Selalu seperti itu, jika dia tak pintar-pintar sarapan terlebih dahulu sebelum suami dan keluarganya bangun, Kyara pasti akan kelaparan karena tak pernah kebagian.

Setelah selesai membereskan meja makan dan mencuci perabotan, Kyara melangkah ke belakang untuk mengeringkan pakaian.

Itulah rutinitas pagi yang sudah ia jalani selama sepuluh tahun ini, berbakti pada suami dan keluarganya. Lebih tepatnya kerja rodi, bukan berbakti.

"Ya ampun ..." Kyara mendesah berat ketika melihat di keranjang cucian yang tadi pagi sudah kosong, kini ada lagi cucian kotor. "Kenapa pekerjaanku tidak selesai-selesai," kesahnya dengan rasa lelah yang menggerayangi jiwa dan raga. Kyara ingin mengeluh, tapi pada siapa. Ibunya sudah tiada, sedangkan ayahnya ... sudah menikah lagi dan hidup bahagia bersama keluarga barunya.

Suami yang seharusnya mendengarkan keluh kesahnya dan menjadi sandaran hidupnya, malah dia lah yang membuat hidup Kyara penuh dengan rasa lelah dan derita.

Dengan gerakan pelan, Kyara berjongkok untuk mengambil cucian baru itu, namun belum sempat tangannya menggapai ... lengkingan mertuanya kembali menusuk telinga.

"KYARAAA! DI MANA KAMU?! CEPETAN KE SINI!"

"Astagfirullah!" Kyara sontak bangkit dan berlari untuk menghampiri ibu mertuanya. "Ada apa, Ma?"

"Pergi ke tempat Si Tati sekarang juga! Ambilin gamis Mama yang kemarin kamu anterin ke sana. Bilang ke Si Tati, suruh dia memotong gamis punya Mama duluan. Gamis itu mau Mama pakai nanti siang ke pesta pernikahannya anak Pak Lurah."

"Tapi aku mau jemur baj-"

"Pergi sekarang, Kyara!" Dengan suaranya yang melengking, Hesti menghardik menantunya. Memotong ucapan Kyara sampai tak terlengkapi. "Cepetan ih!" tambahnya sambil memelototkan mata.

"Iya, Ma. Aku ke atas dulu, mau ambil sweater." Kyara bersiap berbalik, tapi Hesti melarangnya.

"Aduh! Nggak usah dandan-dandan. Gitu aja, cepetan! Lagian kalau pun dandan ... wajah kamu tetep kayak gitu. Tua, kayak ibu-ibu!" cemooh Hesti mendelikkan mata.

Kyara mengeleng pelan, sebelum akhirnya melangkah menuju pintu depan dan keluar dari rumah bertingkat tiga itu.

Kyara menutupi kedua dadanya yang besar dengan sebelah tangan. Daster yang dipakainya terasa terlalu tipis jika dikenakan keluar rumah. Dia jadi tidak percaya diri dan malu kalau berpapasan dengan orang.

Di tengah ketakutan itu, malah ada yang menegurnya, membuat Kyara terlonjak dan nyaris bertabrakan dengan orang yang menyapanya tersebut.

"Teh Kya mau ke mana?"

"Astagfirullah ..." Kyara mendongak, menatap wajah keriput namun tetap terlihat cantik, menurutnya. "Eh ... Oma Amisha, saya mau ke rumahnya Ceu Tati. Mau ngambil baju Mama mertua saya," jawab Kyara sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.

"Ooh ... iya." Wanita berkerudung biru tua itu mengangguk.

"Oma sendiri mau ke mana?" Kyara melemparkan tanya balik pada tetangganya itu.

"Mau ke warung Bu Lalah. Mau ngambil pesenan ikan gurame sama udang. Cucu saya nanti siang mau ke sini," katanya memberitahu.

"Cucunya yang tinggal di Jakarta itu ya, Oma?" Oma Amisha menjawab pertanyaan Kyara dengan anggukkan. "Ya sudah Oma, kalau begitu saya duluan. Permis-"

"Tunggu Teh Kya!" Otomatis perkataan Kyara terpotong oleh ucapan Oma Amisha.

"Ada apa, Oma?"

Oma Amisha melepaskan kardigan rajut yang dipakainya. "Pakai ini, Teh. Bagian belakang daster kamu sobek," ucapnya seraya menyodorkan kardigan itu kepada Kyara.

"Hah? Sobek?" Kyara langsung menoleh ke belakang ... dan benar saja, bagian pinggang daster yang melekat di tubuhnya terbuka cukup lebar, sehingga bagian pinggangnya terlihat.

"Nih pakai saja," ulang wanita bergamis biru tua itu.

Kyara mengambilnya dengan ragu-ragu serta malu-malu. "T-Terima kasih, Oma. Nanti setelah saya cuci, saya akan mengembalikan kardigannya."

"Iya." Oma Amisha mengangguk.

Setelah memasangkan kardigan itu di tubuhnya, Kyara melanjutkan langkahnya ke rumah penjahit langganan mertuanya.

Untung saja, baju mertuanya sudah selesai. Jadi dia tak perlu menunggu. Kyara berlari pontang-panting kembali ke rumah. Takut diomeli lagi oleh mertuanya.

"Mana siniin bajunya!" Baru juga Kyara membuka pintu, sang mertua sudah menengadahkan tangannya.

"Ini, Ma. Untung bajunya udah selesai. Jadi nggak perlu nunggu lama," kata Kyara sambil memberikan baju tersebut.

"Eh ... itu kardigan siapa yang kamu pakai?" tanya Hesti dengan mata menyipit.

Kyara meremas bagian depan kardigan itu, tersenyum kikuk. "Kardigan ini punya Oma Amisha, Ma. Tadi aku ketemu dia di depan rumahnya. Dia lihat daster bagian belakangku robek, jadi dia meminjamkan kardigannya untuk aku pakai."

"Oh ... si Oma juragan kosan itu ya?"

Kyara mengangguk.

"Jangan lupa dibalikin. Malu-maluin aja. Daster udah jelek kok masih dipake! Kayak nggak dikasih nafkah aja sama suami," celetuk Hesti sambil berlalu.

"Emang enggak. Uang gaji Mas Doni kan hampir setiap bulan selalu dipinjam sama Mama dan Dini. Aku cuma kebagian struk gajinya doang ..." ucap Kyara tanpa suara. Tadinya ia ingin mengatakan perkataan itu dengan lantang, tapi mertuanya keburu masuk kamar.

Kyara kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia berjongkok lagi, mengambil baju kotor yang tadi tertinggal. Lebih tepatnya baru dimasukkan ke keranjang. Dua celana jeans milik Dini dan satu jaket milik suaminya.

Seperti biasa, sebelum dimasukkan ke mesin cuci ... Kyara merogoh semua saku di dua celana jeans. Lalu beralih merogoh satu per satu saku di jaket milik suaminya. Ketika merogoh saku bagian kanan, Kyara menemukan selembar kertas.

Dia membuka kertas yang sudah dilipat-lipat itu, dan matanya langsung terbelalak. "Ini 'kan?"

1
falea sezi
bkin cerai lah lama amat g sat set kya menye menye agak. oon
falea sezi
harusnya semua isi ATM di kuras
falea sezi
muter. doank. sih. Thor hadehh. g sat sett. kelamaan. drama. doank
falea sezi
menye menye oon
stela aza
menjijikan
stela aza
males bgt kebanyakan drama
stela aza
Nora bgt biyunge Doni Karo Doni ,, melayat kaya mau kondangan
Ama Apr: haha orkay sombong adigung kk
total 1 replies
stela aza
Thor emang si Kya g punya kelebihan selain beres2 rumah ,,, kasian amat mau minggat dari rumah itu nunggu ngumpulin duit di kasi Doni 🤦
stela aza: kalau bisa karakter cewenya jgn cuma cantik doank Thor harus punya kelebihan yg bisa di banggakan 🤭
total 2 replies
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣 kaget ya...🙏🙏
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
I Love you,
nnk karma tunai bayar nya g nyicil loh🤣🤣
Ama Apr: hehehe
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤😤selingkuh dia😡😡
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
bertele tele tolol males
Ama Apr: skip aja kk
total 1 replies
falea sezi
ngadu ngadu percuma ambil tindakan. lah. goblok. je males. like. lahh g jelas
falea sezi
oon menye menye
Amy
jgn mau kyaa
Ama Apr: semoga kya nggak luluh
total 1 replies
CB-1
lanjut kaak💪
Ama Apr: siap kk, makasih🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!