melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cinta yang ditinggalkan demi nama keluarga
Angin pagi di taman kota lama berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun besar di atas bangku tempat Wulan dan Arman duduk.
Beberapa anak kecil berlari di kejauhan, tertawa tanpa beban.
Kontras dengan ketegangan yang terasa di antara mereka.
Wulan masih mencoba mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar.
“Ayahmu… mengancamnya?” tanyanya pelan.
Arman mengangguk.
“Ya. Aku ada di rumah malam itu ketika mereka bertengkar.”
Wulan menatapnya tajam, mencoba memastikan bahwa ini bukan sekadar alasan yang dibuat-buat.
“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?”
Arman terdiam sejenak.
“Karena aku baru tahu tentang kehamilanmu kemarin.”
Wulan langsung menegang.
“Bagaimana kamu tahu?”
Arman menghela napas pelan.
“Agung tidak terlalu pandai menyembunyikan sesuatu dari orang yang sudah mengenalnya seumur hidup.”
Wulan tidak berkata apa-apa.
Arman melanjutkan, “Semalam aku datang ke apartemennya. Aku melihat foto USG itu di meja kerjanya.”
Nama itu membuat Wulan merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.
“Dia masih menyimpannya?” bisiknya hampir tidak terdengar.
Arman mengangguk.
“Iya.”
Beberapa detik mereka hanya diam.
Burung kecil melompat di tanah dekat bangku, lalu terbang lagi.
Wulan menatap tangannya sendiri.
Pikirannya penuh.
Selama ini ia percaya Agung meninggalkannya karena ambisi.
Karena reputasi.
Karena dunia bisnis yang lebih penting daripada dirinya.
Namun sekarang… cerita itu terasa lebih rumit.
“Tapi dia tetap menolak,” kata Wulan akhirnya.
Nada suaranya getir.
Arman tidak menyangkalnya.
“Iya.”
“Jadi apa bedanya sekarang?”
Arman menatap lurus ke depan, ke arah danau kecil di tengah taman.
“Ayahku tidak tahu kamu hamil.”
Kalimat itu membuat Wulan merinding.
Arman melanjutkan pelan, “Kalau dia tahu… semuanya akan berubah.”
“Berubah bagaimana?”
Arman menoleh padanya.
“Ayahku sangat terobsesi dengan nama keluarga.”
Wulan menunggu.
“Jika dia tahu ada cucu yang lahir di luar pernikahan… itu akan menjadi skandal besar bagi keluarga kami.”
Wulan tertawa kecil.
Tawa yang pahit.
“Jadi akhirnya yang dipikirkan tetap reputasi.”
Arman tidak membantah.
“Itulah dunia tempat Agung dibesarkan.”
Beberapa detik kemudian Wulan berkata pelan, “Dan kamu?”
Arman tampak sedikit terkejut.
“Maksudmu?”
“Kamu juga bagian dari keluarga itu.”
Arman tersenyum tipis, tetapi senyumnya terasa lelah.
“Aku tidak pernah benar-benar cocok dengan aturan ayahku.”
Ia bersandar di bangku.
“Agung selalu menjadi anak yang sempurna di mata ayah. Dia pintar, disiplin, ambisius.”
Arman mengangkat bahu.
“Aku… tidak.”
Sunyi kembali turun.
Wulan menatap danau kecil itu.
Airnya tenang.
Namun pikirannya justru semakin bergejolak.
“Kenapa kamu memberitahuku semua ini?” tanyanya akhirnya.
Arman menatapnya serius.
“Karena aku melihat bagaimana kamu pergi malam itu.”
Wulan menegang.
“Aku tidak tahu kamu ada di sana.”
“Aku di lorong ketika kamu keluar.”
Arman menghela napas.
“Kamu terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.”
Kata-kata itu menembus pertahanan yang selama ini Wulan bangun.
Ia menunduk sedikit.
“Aku tidak kehilangan segalanya,” katanya pelan.
Tangannya kembali menyentuh perutnya.
“Aku masih punya anak ini.”
Arman memperhatikan gerakan itu dengan hati-hati.
“Apakah kamu benar-benar siap menghadapi semuanya?”
Wulan tidak langsung menjawab.
Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi.
Dunia di luar sana tidak akan mudah.
Ia sudah memikirkan semua kemungkinan buruk.
Tatapan orang.
Gosip.
Penghakiman.
Namun setelah semua rasa takut itu, satu hal tetap tidak berubah.
“Aku tidak akan menghilangkan anak ini,” katanya akhirnya dengan tegas.
Arman mengangguk pelan.
“Aku tidak menyuruhmu melakukan itu.”
“Lalu?”
Arman ragu sejenak sebelum berkata, “Aku hanya ingin kamu tahu kebenaran sebelum semuanya menjadi lebih rumit.”
Wulan menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Arman memandang ke arah jalan setapak taman.
Beberapa orang mulai berdatangan.
“Masalah ini tidak akan berhenti di antara kamu dan Agung.”
“Kenapa?”
Arman menarik napas panjang.
“Karena ayahku selalu mengetahui segalanya pada akhirnya.”
Wulan merasakan jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
“Jika dia tahu tentang kehamilanmu…”
Arman tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun Wulan bisa menebak sisanya.
“Apa yang akan dia lakukan?” tanya Wulan.
Arman terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Ayahku bukan tipe orang yang membiarkan sesuatu merusak nama keluarganya.”
“Jadi dia akan memaksaku pergi?”
“Mungkin.”
“Seperti dulu?”
Arman menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Mungkin lebih dari itu.”
Angin kembali berhembus.
Daun-daun bergesekan pelan.
Wulan merasakan rasa dingin merayap di punggungnya.
“Aku sudah kehilangan cukup banyak karena keluarga kalian,” katanya pelan.
Nada suaranya tidak marah.
Lebih seperti kelelahan.
Arman menunduk sebentar.
“Aku tahu.”
Kemudian ia menatap Wulan lagi.
“Itulah sebabnya aku datang.”
Wulan mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Arman berkata pelan, “Jika sesuatu terjadi nanti… kamu tidak akan sendirian.”
Kalimat itu membuat Wulan terdiam.
“Kenapa kamu mau membantuku?” tanyanya.
Arman tersenyum kecil.
“Karena anak itu tetap darah keluarga kami.”
Wulan tidak tahu harus menjawab apa.
Beberapa detik kemudian ia berdiri dari bangku.
“Aku harus kembali ke kedai.”
Arman ikut berdiri.
“Wulan.”
Ia berhenti melangkah.
“Apapun yang terjadi nanti… jangan percaya bahwa kamu sendirian menghadapi keluarga kami.”
Wulan menatapnya sebentar.
Lalu berkata pelan, “Masalahnya bukan hanya keluargamu.”
“Apa maksudmu?”
“Masalahnya juga Agung.”
Nama itu menggantung di udara.
“Dia yang menolakku,” lanjut Wulan. “Dia yang memilih pergi.”
Arman tidak menyangkalnya.
“Aku tidak bisa memaksa kakakku berubah.”
Wulan mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia menarik napas dalam.
“Tapi aku juga tidak akan memaksanya menjadi ayah jika dia tidak mau.”
Arman menatapnya lama.
“Aku hanya berharap suatu hari nanti dia menyadari apa yang dia tinggalkan.”
Wulan tidak menjawab.
Ia hanya menatap langit yang mulai sedikit cerah.
“Jika hari itu datang,” katanya pelan, “mungkin sudah terlambat.”
Mereka berjalan keluar dari taman bersama.
Namun di pikiran masing-masing, bayangan masa depan sudah mulai terbentuk.
Di tempat lain di kota yang sama, Agung sedang duduk di ruang rapat besar.
Beberapa direktur perusahaan berbicara tentang rencana ekspansi bisnis.
Grafik pertumbuhan ditampilkan di layar besar.
Semua orang terlihat puas.
Namun pikiran Agung tidak sepenuhnya di ruangan itu.
Ia teringat sesuatu yang aneh pagi tadi.
Ponselnya menunjukkan panggilan tidak terjawab dari Arman.
Beberapa kali.
Itu tidak biasa.
Arman jarang menghubunginya saat jam kerja.
Agung mengambil ponselnya di bawah meja dan mengetik pesan singkat.
Ada apa?
Pesan itu terkirim.
Beberapa detik kemudian balasan datang.
Agung membaca pesan itu.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ekspresinya berubah.
Pesan dari Arman hanya berisi satu kalimat.
Aku sudah bertemu Wulan.
Ruangan rapat masih penuh dengan suara diskusi.
Namun bagi Agung, semua suara itu tiba-tiba terasa jauh.
Ia menatap layar ponselnya.
Lalu membaca pesan berikutnya yang baru masuk.
Dan aku tahu tentang anak itu.
Jantung Agung berdegup lebih keras.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai,
situasi mulai keluar dari kendalinya.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.