Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. RAHASIA
Ruang kerja Duke Alaric Ravens selalu sunyi.
Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang membuat siapa pun yang berdiri di dalamnya sadar bahwa setiap suara, setiap tarikan napas, dapat menjadi kesalahan. Rak buku menjulang tinggi, dipenuhi catatan militer, peta wilayah, dan laporan rahasia. Cahaya sore menembus jendela tinggi, jatuh tepat di atas meja kerja besar dari kayu gelap, tempat Alaric duduk dengan punggung tegak dan ekspresi tak terbaca.
Gideon berdiri di hadapannya.
"Yang Mulia," ucap Gideon tenang namun serius, "tentang pria bernama Cassian Verdan, aku ingin melaporkannya. Kalau ada yang janggal tentang pria itu."
Alaric tidak mengangkat kepala. Ia masih membaca dokumen di tangannya, tetapi jari-jarinya berhenti bergerak.
"Dia bukan sekadar pedagang, aku sangat yakin," lanjut Gideon.
Alaric menghela napas pelan, lalu menutup dokumen itu. Tatapannya terangkat, tajam dan dalam.
"Aku tahu," kata Alaric dengan wajah serius seolah ia juga memikirkan apa yang Gideon katakan. "Tangannya terlalu kasar untuk sekadar pedagang biasa. Telapaknya penuh kapalan, kapalan lama. Itu tangan orang yang terbiasa menggenggam pedang. Jelas kalau dia bukan sekedar pedagang atau pedagang hanya identitas palsu saja."
Gideon mengangguk. "Benar. Bahkan dari langkah kakinya saat aku mengantarnya ke ruang tamu, terlalu senyap, terlalu terkontrol. Setiap pijakannya diperhitungkan. Jelas dia pembunuh bayaran yang sangat profesional."
Alaric bersandar ke kursinya. "Aku juga sudah menduganya. Dia memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan seksama walau matanya tersenyum penuh canda. "
Keheningan jatuh sejenak, lebih berat dari sebelumnya.
"Yang membuatku heran," Gideon melanjutkan, "bagaimana Nyonya Duchess bisa mengenal seseorang seperti itu. Dari percakapan mereka, mereka tampak sangat akrab."
Alaric menyipitkan mata. Tidak senang dengan kata 'akrab' yang dimaksud oleh Gideon antara pria pedagang itu dengan Liora.
"Dan," Gideon menurunkan suaranya, "aku sempat mendengar pria itu memanggil Nyonya Duchess dengan sebutan Ketua."
Alaric membeku.
"Apa? Ketua? Kau tidak salah dengar?" suara Alaric rendah, nyaris berbahaya.
"Ya, dia menyebut Nyonya dengan sebutan Ketua," ulang Gideon mantap. "Beberapa kali. Dan yang aneh, Cassian hampir tidak menggunakan formalitas. Tidak ada 'Nyonya' atau 'Yang Mulia''. Namun nada bicaranya tetap penuh hormat."
"Kau yakin?" tanya Alaric.
"Anda yang paling tahu tentang pendengaranku setajam apa," jawab Gideon.
Alaric terdiam lama.
Pandangannya beralih ke jendela, ke arah taman, ke arah tempat Liora sering duduk tanpa menyadari berapa banyak rahasia yang mengitari dirinya.
"Sepertinya istriku," ucap Alaric perlahan, "menyimpan terlalu banyak rahasia."
Alaric terkekeh pendek, tanpa humor. Lalu melanjutkan, "Dia selalu tahu cara membuatku terkejut."
Gideon menimbang-nimbang sebelum bertanya, "Perlukah aku mencari tahu siapa pria itu sebenarnya dan hubungannya dengan Nyonya Duchess?"
Alaric mengangguk. "Lakukan."
"Baik," jawab Gideon.
"Namun," tambah Alaric cepat, "jangan sampai Liora tahu. Apalagi pria itu. Jika dia berani datang ke kediaman ini, artinya dia sadar akan diselidiki. Dia pasti akan sangat berhati-hati. Pastikan pria itu jangan sampai tahu kalau kau awasi."
Gideon mengangguk dalam. "Aku akan melakukannya sebaik mungkin."
Alaric berdiri. "Dan satu hal lagi, jangan ungkit masalah ini pada Liora. Biarkan dia sendiri yang memberitahukan jika dia ingin."
Gideon menatap majikannya, lalu menunduk hormat. "Baik, Yang Mulia."
Namun di dalam benak Gideon, satu pikiran telah mengeras:
Rahasia Nyonya Duchess jauh lebih besar dari yang terlihat.
Di sisi lain kediaman Ravens, tepatnya di bangunan kesehatan, aroma herbal menguar lembut dari ruang pemeriksaan.
Liora duduk tenang di kursi empuk, lengan bajunya sedikit digulung. Aldren berdiri di hadapannya, ekspresinya serius namun lembut, jemarinya terampil memeriksa denyut nadi Liora.
"Racunnya masih ada seperti yang saya duga," ucap Aldren akhirnya. "Belum ada perubahan signifikan, meski teh herbal itu bekerja menahan penyebaran."
Liora menghela napas. "Seburuk itu ya racunnya di tubuhku?"
Aldren mengangguk. "Cukup buruk, Nyonya Duchess. Beruntung racun itu belum mencapai area jantung. Tapi jika dibiarkan, efeknya bisa fatal."
"Mungkin karena aku mengkonsumsinya untuk waktu lama, jadi racunnya cukup kuat," duga Liora.
"Benar. Karena Anda sudah mengkonsumsi racunnya selama bertahun-tahun, dan itu seperti menempel di organ-organ bahkan darah Anda," konfirmasi Aldren membenarkan dugaan Liora.
Liora mengerti. Mungkin jika ia tidak cukup bodoh percaya kalau Count, ayah Liora yang katanya memberikan teh itu, dan bertanya apakah benar Beliau mengirimkan teh itu untuk Liora, mungkin Liora tidak akan mengalami kegemukan ini.
Aldren mengangkat pandangan. "Apa Anda sudah mengikuti pola hidup dan makan yang saya terapkan?"
Sasa langsung maju satu langkah, matanya berbinar. "Tentu saja! Nyonya benar-benar melakukannya. Bahkan tidak menyentuh makanan manis sama sekali seminggu ini. Dan setiap pagi beliau berlari di taman."
Liora tertawa kecil, mengingat Sasa-lah yang menemani Liora setiap pagi saat olahraga.
Aldren mengernyit. "Berlari?"
Liora menoleh sedikit bersalah. "Iya," jawabnya.
Aldren menghela napas. "Untuk saat ini, sebisa mungkin Anda jangan olahraga dengan berlari. Dengan berat tubuh Anda sekarang, itu bisa mencederai lutut dan mengganggu pernapasan. Lebih baik berjalan santai, tiga puluh menit hingga satu jam. Nanti, setelah berat badan berkurang, durasinya bisa ditambah."
Liora mengangguk patuh. "Oh, seperti itu. Baiklah."
"Dan soal makan," lanjut Aldren, "Anda tidak boleh tidak makan hanya karena Anda sedang diet. Itu justru memperburuk keadaan, karena Anda butuh tenaga untuk beraktifitas. Anda butuh nutrisi, protein tinggi, daging, kacang-kacangan. Aku akan bicara langsung dengan koki soal ini nanti."
Liora tersenyum tulus. "Terima kasih, Aldren. Kau sangat membantuku."
Aldren tersenyum tipis. "Aku hanya menjalankan tugasku. Justru Anda luar biasa karena mau mengikuti semua arahan. Banyak orang menyerah di tengah jalan, terutama bangsawan dengan harga diri tinggi."
"Karena aku tahu," jawab Liora pelan, "kau membawaku ke arah yang benar. Jika bukan karena kau menyadari ada yang salah dengan tubuhku, maka selamanya aku akan terjebak dengan tubuh ini. Dan terburuknya ... kehilangan nyawa."
"Itu alasanku menjadi tabib, Nyonya. Walau aku tidak bisa menyelamatkan banyak orang, setidaknya aku bisa menyelamatkan orang-orang terdekatku," jawab Aldren dengan senyum indah di wajah.
Setelah pemeriksaan selesai, Liora dan Sasa berjalan kembali menuju kastil utama. Angin sore menyentuh wajah mereka, membawa rasa tenang yang singkat.
Namun ketenangan itu terhenti ketika kepala pelayan berlari kecil ke arah mereka, wajahnya tegang.
"Nyonya Duchess?!" panggil kepala pelayan sambil menyerahkan sebuah amplop merah dengan wajah sedikit panik. "Anda mendapatkan undangan dari istana," sambungnya.
Liora menatap amplop itu.
Segel kerajaan tertera jelas.
Dadanya terasa berat.
"Terima kasih," ucap Liora akhirnya.
Saat kepalanya terangkat, senyum tipis terpasang, namun di baliknya, Liora tahu apa yang akan ia hadapi.
Permaisuri.
Dan istana, bukan tempat yang ramah bagi seseorang dengan terlalu banyak rahasia.
besok tunjukkan kecantikan dan kuasa mu Liora