NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.9 Jejak yang telah lama hilang

​Pagi di Jakarta tidak pernah benar-benar menjanjikan sebuah awal yang baru bagi Sekar. Baginya, matahari yang merangkak naik di balik gedung-gedung tinggi Sudirman hanyalah lampu sorot yang memaksa dirinya untuk kembali memerankan sandiwara sebagai wanita yang tegar.

Apartemennya yang minimalis, didominasi warna putih dan abu-abu, kini terasa seperti sel isolasi.

Suara detak jam dinding seolah beradu dengan detak jantungnya yang tidak pernah tenang sejak malam konfrontasi dengan Rahman.

​Sekar berdiri di depan meja makan, menatap secarik kertas yang berisi draf surat pengunduran dirinya.

Namun, pandangannya justru terpaku pada sebuah kotak kayu kecil berwarna mahoni gelap yang terletak di sudut meja.

Kotak itu tampak asing di antara interior apartemen yang modern, seolah-olah ia berasal dari dimensi lain—dimensi masa lalu yang selama sepuluh tahun ini coba ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan jurnal medis dan jadwal operasi yang padat di Berlin.

​Dengan jari-jari yang masih terasa kaku karena kelelahan pasca-operasi Viona, Sekar meraih kotak itu. Permukaannya terasa dingin.

Ia menarik napas panjang, menghirup aroma kayu tua yang bercampur dengan sisa parfum antiseptik di tangannya. Saat tutup kotak itu terbuka, aroma samar bedak bayi yang sudah memudar selama satu dekade menyeruak keluar, memukul ulu hatinya dengan kekuatan yang melumpuhkan.

​Di dalam kotak itu, tersimpan sepasang sepatu bayi dari rajutan benang wol berwarna putih tulang. Sepatu itu sangat kecil, bahkan lebih kecil dari telapak tangan Sekar. Di sampingnya, ada selembar foto hasil ultrasonografi (USG) yang sudah menguning dan memudar, hanya menyisakan bayangan samar sebuah kehidupan yang pernah berdenyut di dalam rahimnya.

​Air mata Sekar jatuh tanpa suara, membasahi kain wol sepatu itu.

​"Maafkan Ibu..." bisiknya, suaranya pecah di kesunyian ruangan.

​Pikirannya terlempar kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Malam yang hujan, aroma tanah basah, dan pelukan Rahman yang terasa seperti satu-satunya perlindungan di dunia ini.

Saat itu, mereka hanyalah dua orang muda yang tersesat dalam cinta yang dilarang oleh status "saudara angkat". Cinta yang membuahkan benih yang seharusnya menjadi berkah, namun justru menjadi kutukan di tangan nyonya Wijaya.

​Sekar masih bisa merasakan rasa sakit saat ia dipaksa menaiki pesawat menuju Jerman dengan perut yang mulai membuncit secara sembunyi-sembunyi. Ia ingat bagaimana nyonya Wijaya menatapnya dengan pandangan paling menjijikkan yang pernah ia lihat.

​"Kamu hanyalah parasit, Sekar. Dan parasit tidak boleh memiliki keturunan dari keluarga Wijaya. Pergi ke Jerman, lahirkan noda itu, dan jangan pernah berpikir untuk membawanya kembali jika kamu ingin Rahman tetap memiliki masa depan," suara nyonya Wijaya terngiang kembali, tajam seperti pisau yang mengiris harga dirinya.

​Sekar membelai sepatu bayi itu dengan lembut. Sepuluh tahun lalu, di sebuah klinik kecil di pinggiran Berlin yang tertutup salju, ia melahirkan seorang bayi laki-laki.

Namun, ia hanya sempat memeluknya selama lima menit sebelum suster mengambilnya secara paksa. Ibu Wijaya mengatakan bayi itu lahir dengan kondisi jantung yang lemah dan meninggal satu jam kemudian.

Sejak saat itu, Sekar hidup seperti mayat berjalan, mendedikasikan seluruh hidupnya pada bedah jantung dan vaskular sebagai bentuk penebusan dosa atas kegagalannya menyelamatkan anaknya sendiri.

​Namun, pembicaraan antara Tuan Wijaya dan Rahman yang ia dengar secara tidak sengaja di rumah sakit kemarin telah mengubah segalanya.

​"Memberikannya pada keluarga di luar negeri adalah hal terbaik yang pernah aku lakukan untukmu..."

​Kata-kata Tuan Wijaya itu terus berputar seperti badai di kepalanya. Jadi, bayinya tidak meninggal. Anaknya masih hidup.

Selama sepuluh tahun ini, ia telah dibohongi secara sistematis oleh orang-orang yang ia anggap sebagai keluarga.

​Sekar menutup kotak itu dengan hentakan kecil, seolah-olah sedang menutup luka yang baru saja terbuka kembali. Ia menyeka air matanya, mengganti gaun tidurnya dengan setelan kerja yang tajam—blazer hitam dan kemeja sutra putih.

Ia harus kembali ke rumah sakit, bukan untuk menyerahkan surat pengunduran diri, melainkan untuk memulai perang yang sesungguhnya.

​Setibanya di Rumah Sakit Wijaya, suasana terasa sangat berbeda. Kabar keberhasilan Sekar menyelamatkan Viona sudah menyebar, namun tidak dibarengi dengan pujian.

Justru ada kecanggungan yang menggantung di udara. Para staf medis berbisik di belakang punggungnya. Sekar tahu, Viona pasti sudah mulai menyebarkan racunnya.

​Sekar melangkah menuju ruang ICU. Melalui kaca transparan, ia melihat Viona yang mulai sadar, dikelilingi oleh peralatan medis yang canggih.

Di sampingnya, Rahman duduk dengan kepala tertunduk, tangannya masih menggenggam tangan Viona. Pemandangan itu kini tidak lagi menimbulkan rasa cemburu di hati Sekar, melainkan rasa mual yang mendalam.

​Rahman melihat keberadaan Sekar dan segera keluar dari ruangan.

​"Sekar, kamu datang?" tanya Rahman, suaranya parau. Ada gurat kelelahan yang nyata di wajahnya. "Viona menanyakanmu. Dia... dia ingin berterima kasih."

​Sekar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Benarkah? Atau dia hanya ingin memastikan bahwa orang yang menyelamatkannya masih bisa ia hancurkan?"

​Rahman menghela napas, mencoba mendekat namun Sekar mundur secara otomatis. "Tentang pembicaraan Ayah kemarin... aku ingin menjelaskannya padamu."

​"Apa yang ingin kamu jelaskan, Mas?" tanya Sekar dingin. "Bahwa anak kita masih hidup? Bahwa kalian membuangnya seperti sampah ke tangan orang asing di Berlin hanya untuk menjaga nama baik Wijaya?"

​Rahman terbelalak, wajahnya pucat pasi. "Kamu... kamu mendengarnya?"

​"Aku mendengar semuanya, Rahman. Setiap kata yang menghancurkan sisa-sisa rasa hormatku padamu," desis Sekar.

"Sepuluh tahun aku hidup dalam duka, mengira aku telah membunuh anakku sendiri karena tubuhku yang lemah. Ternyata, pembunuhnya adalah kalian. Kamu dan ibumu."

​"Sekar, aku tidak tahu kalau Ayah akan memberikan bayi itu ke keluarga lain! Ibu bilang padaku bayi itu meninggal, dan aku mempercayainya karena aku tidak punya pilihan!" Rahman mencoba membela diri, namun suaranya bergetar karena rasa bersalah.

​"Kamu selalu tidak punya pilihan, kan?" Sekar terkekeh pahit. "Pilihanmu selalu jatuh pada kenyamananmu sendiri. Kamu membiarkan aku dikirim ke Jerman sendirian, melahirkan sendirian, dan sekarang kamu membiarkan Viona mengancamku. Kamu pengecut, Rahman."

​Sekar meninggalkan Rahman yang mematung di lorong. Ia menuju ruangannya dan mengunci pintu dari dalam.

Ia tidak peduli jika ada pasien yang menunggunya. Saat ini, ia harus menemukan satu-satunya alasan yang membuatnya tetap ingin bernapas: anaknya.

​Ia meraih ponselnya dan menelepon Alvin. Pria itu menjawab pada nada dering kedua.

​"Aku tahu kamu akan menelepon, Dokter. Bagaimana rasanya menjadi pahlawan bagi wanita yang ingin membunuhmu?" suara Alvin terdengar mengejek dari seberang telepon.

​"Berhenti bermain-main, Alvin. Aku butuh bantuanmu. Dan kali ini, ini bukan soal keluarga Wijaya atau perusahaan mereka," kata Sekar, suaranya sangat rendah dan penuh ancaman.

​"Oh? Sesuatu yang lebih personal?"

​"Aku ingin kamu melacak rekam medis adopsi internasional dari Klinik Schwarzwald, Berlin, pada bulan Oktober sepuluh tahun yang lalu. Ada seorang bayi laki-laki yang diadopsi secara ilegal oleh yayasan yang berafiliasi dengan keluarga Wijaya."

​Ada jeda panjang di ujung telepon. Sekar bisa mendengar suara ketikan di papan ketik komputer Alvin.

​"Bayi laki-laki? Jadi rumor itu benar?" Alvin bertanya dengan nada yang kini berubah serius. "Kabar tentang anak haram di keluarga Wijaya itu bukan sekadar bumbu gosip?"

​"Itu anakku, Alvin. Dan jika kamu ingin data yang kamu inginkan, bantu aku menemukannya. Aku akan memberikan apa pun—termasuk kunci brankas pribadi Tuan Wijaya—jika kamu bisa membawaku pada anakku."

​"Menarik," gumam Alvin. "Tapi kamu harus tahu satu hal, Sekar. Jika kita menggali ini, tidak akan ada jalan kembali. Viona sudah mulai bergerak. Dia tidak hanya mengincar kariermu sekarang, dia juga sudah mulai mencium bau rahasia di Berlin ini."

​"Aku tidak takut pada Viona. Dia sudah berutang nyawa padaku, dan jika dia berani menyentuh rahasia anakku, aku sendiri yang akan mencabut nyawanya di meja operasi berikutnya."

​Tanpa sepengetahuan Sekar, di luar ruangannya, Suster Maya berdiri dengan wajah tegang. Ia baru saja akan mengantarkan laporan lab pasien saat ia mendengar suara Sekar yang meninggi dari dalam ruangan. Kata "adopsi", "anak", dan "Berlin" tertangkap oleh telinganya.

​Suster Maya adalah orang lama di rumah sakit ini. Ia telah bekerja untuk keluarga Wijaya sejak Rahman masih remaja.

Ia tahu banyak hal, namun selama ini ia memilih diam untuk menjaga pekerjaannya. Namun, melihat dr. Sekar yang begitu hancur, nuraninya mulai terusik.

​Namun, sebelum Suster Maya bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan, sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.

​"Suster Maya? Ada masalah?"

​Suster Maya berbalik dan melihat nyonya Wijaya berdiri di sana dengan senyum anggun yang tidak mencapai matanya. Di belakangnya, berdiri dua orang pengawal berbadan tegap.

​"T-tidak, Nyonya. Saya hanya... hanya ingin memberikan laporan pada Dokter Sekar," jawab Suster Maya terbata-bata.

​"Berikan padaku saja. Biarkan Dokter Sekar istirahat, dia pasti lelah setelah operasi panjang kemarin," kata nyonya Wijaya sambil mengambil map dari tangan Suster Maya.

Matanya menatap tajam ke arah pintu ruangan Sekar yang terkunci. "Dan Suster, ingatlah... apa yang didengar di lorong ini, sebaiknya tetap tinggal di lorong ini. Kamu tidak ingin kehilangan pensiunmu, kan?"

​Suster Maya mengangguk cepat dan segera pergi dengan langkah terburu-buru. Nyonya Wijaya menatap pintu itu dengan kebencian yang mendalam.

Ia tahu Sekar sedang mencoba menggali kuburannya sendiri, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan Sekar melarikan diri ke Jerman lagi.

​Malam harinya, Sekar masih berada di kantornya saat pintu terbuka tanpa diketuk. Rahman masuk dengan membawa sebuah tas kecil berisi makanan.

​"Aku membawakanmu makan malam. Kamu belum makan sejak pagi," kata Rahman pelan.

​Sekar tidak menoleh dari layar komputernya. "Terima kasih, tapi aku tidak butuh amal dari keluarga Wijaya."

​"Ini bukan amal, Sekar. Ini dari aku," Rahman meletakkan makanan itu di meja. Ia menatap Sekar dengan pandangan yang penuh rasa rindu yang tertahan. "Kenapa kita harus berakhir seperti ini?"

​Sekar tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat hambar. "Berakhir? Kita sudah berakhir sepuluh tahun lalu, Rahman. Saat kamu membiarkan ibumu mencuri anakku, saat itulah cerita kita menjadi tragedi. Apa yang kita lakukan sekarang hanyalah mengumpulkan abu dari sisa-sisa kebakaran itu."

​"Aku akan membantumu mencari anak itu, Sekar. Aku bersumpah," kata Rahman, suaranya penuh dengan tekad yang putus asa.

​"Jangan berjanji sesuatu yang tidak bisa kamu tepati," balas Sekar tajam. "Sekarang pergilah. Temani tunanganmu yang malang itu. Dia pasti sedang merencanakan bagaimana cara menendangku keluar dari sini."

​Rahman berdiri diam selama beberapa saat, menatap punggung Sekar yang tegang.

Ia ingin memeluknya, ingin mengatakan bahwa ia mencintainya lebih dari apa pun, namun ia sadar bahwa ia telah kehilangan hak itu sejak lama.

​Saat Rahman keluar, ia berpapasan dengan Viona yang sedang didorong di atas kursi roda oleh seorang perawat di lorong menuju ruang fisioterapi. Wajah Viona masih pucat, namun matanya berkilat tajam.

​"Mas Rahman?" panggil Viona dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Kenapa kamu keluar dari ruang Dokter Sekar?"

​Rahman tersentak, mencoba memasang wajah tenang. "Hanya urusan rumah sakit, Viona. Ayo, aku antar kamu kembali ke kamar."

​Viona tersenyum manis, namun tangannya mencengkeram pegangan kursi roda hingga buku-buku jarinya memutih. Urusan rumah sakit, ya? Kita lihat seberapa lama kamu bisa berbohong, Rahman, batin Viona.

​Malam semakin larut, dan Sekar akhirnya mendapatkan sebuah email dari Alvin. Email itu berisi lampiran dokumen yang diproteksi kata sandi. Dengan tangan gemetar, Sekar memasukkan kata sandi yang diberikan Alvin melalui pesan singkat.

​Saat dokumen itu terbuka, sebuah nama muncul di kolom orang tua angkat: "The Von Hess Family, Hamburg."

​Di bawahnya, ada sebuah foto kecil seorang anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun. Anak itu memiliki rambut hitam yang tebal dan mata yang sangat mirip dengan mata Rahman—gelap, dalam, dan penuh rasa ingin tahu.

​Sekar menutup mulutnya dengan tangan, isakannya pecah di tengah kesunyian malam. Itu adalah anaknya. Anaknya ada di Hamburg, dibesarkan oleh orang asing, sementara ia selama ini berada di Berlin, hanya berjarak beberapa jam perjalanan kereta namun tidak pernah tahu.

​Namun, di bagian bawah dokumen itu, ada sebuah catatan tambahan dari Alvin:

"Hati-hati, Sekar. Keluarga Von Hess adalah pemegang saham utama di perusahaan farmasi Jerman yang bekerja sama dengan keluarga Wijaya. Adopsi ini bukan sekadar adopsi biasa. Ini adalah bagian dari transaksi bisnis. Anakmu adalah jaminan."

​Sekar menyadari bahwa ia baru saja membuka kotak pandora yang jauh lebih besar dari sekadar skandal keluarga. Ia terjebak dalam jaring laba-laba korporasi internasional yang tidak segan-segan melenyapkan siapa pun yang mengganggu kepentingan mereka.

​Ia menatap foto anak itu sekali lagi. "Tunggu mama, sayang. mama akan membawamu pulang, meski mama harus menghancurkan seluruh dunia ini."

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!